Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 128 Kembali Pulang


__ADS_3

Bandara Udara Internasional Adisutjipto kini terlihat begitu ramai, walau memang biasanya begitu ramai tapi kali ini pengunjung di sana jauh lebih banyak dan lebih ramai lagi.


"Pa, mbak Wangi beneran datang sekarang?" Tanya Dino yang kini berada di pintu penjemput kedatangan penumpang bersama mama papanya.


Kini Kedua orang tua Wangi dan adiknya Dino bersama semua keluarga para relawan yang dikirim ke Lebanon enam bulan yang lalu tengah berkumpul di Bandara untuk menyambut kepulangan sanak saudara mereka yang akan datang setelah menyelesaikan tugasnya sebagai relawan di Lebanon. Mangkanya siang itu di Bandara Adisutjipto sangatlah ramai.


"Ya benerlah, maka dari itu kita berada di sini sekarang." Jawab papa Rendra.


"Tapi kok lama banget sih datangnya?" Keluh Dino yang sudah mulai bosan menunggu.


"Ya mungkin saja lagi macet di jalan." Sahut Papa Rendra sekenanya.


"Emang di udara pesawat bisa macet ya pa?" Tanya Dino dengan polosnya.


"Bisa aja, mungkin di udara barengan ada burung yang lagi karnaval jadinya macet." Jawab papa Rendra lagi yang bikin mama Rina yang mendengarnya geleng-geleng kepala.


"Ada ya yang kayak gitu pa?" Tanya Dino lagi.


"Ya diada-adain ajalah... Sudah kamu jangan banyak tanya, tunggu saja mbakmu nanti pasti datang." Sahut papa Rendra yang mulai capek ngejawab Dino yang gak akan berhenti bertanya.


"Ihh, papa... Emangnya Dino bakalan percaya sama omongan papa? Mana ada burung karnaval..?" Cibir Dino dengan gaya bersedekap seperti orang dewasa saja.


"Kalau sudah tahu ngapain tanya No...?" Ujar papa Rendra yang kadang kesel sendiri dengan tingkah laku anak bungsunya itu yang suka usil.


"Sudah, sudah... Kalian ini ribut saja dari tadi. Papa juga, sudah ngerti Dino suka mancing-mancing tetep aja diladeni." Uajar mama Rina menengahi.


"Lha... Kok jadi papa yang kena marah?" Tanya papa Rendra bingung sendiri, sementara Dino hanya terkekeh geli melihat papanya yang kena marah mamanya.


"Hihihi..." Tawa Dino puas.

__ADS_1


"Dino, kamu juga jangan suka usil...!" Kata mama Rina mengingatkan putranya.


"Yah mama... Kan cuma bercanda." Sahut Dino sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah menunggu kurang lebih empat puluh lima menit pesawat yang ditunggupun tiba. Satu persatu mereka yang ada di dalam pesawat pun turun.


"Hmm... Udara kampung halaman..." Ucap Lukman sambil menghirup udara sedalam-dalamnya dengan mata tertutup ketika dia keluar dari dalam pesawat.


"Kampung halaman? Bukannya kamu asli Jawa Timur Luk..?" Celetuk Wangi.


"Anggap saja begitu, sama-sama Jawa juga, sama-sama berada di tanah air Indonesia." Sahut Lukman.


"Sak karepmulah Luk... Yuk Ra, An, gak sabar aku buat pulang ketemu sama mama papa dan adikku. Kangen aku sama mereka." Ujar Wangi sambil geleng-geleng kepala dan langsung menggamit tangan Zahara dan Anne untuk segera pergi dari sana meninggalkan Lukman.


"Lha malah ditinggal... Eh, senior bareng jalannya dong...!" Seru Lukman ketika Elias dengan cueknya berjalan melewatinya.


Setelah menunggu di bagian bagasi untuk mengambil barang, Wangi dan teman-teman lainnya yang sudah mengambil barang-barangnya segera menuju ke pintu keluar kedatangan. Dan di sanalah para sanak saudara mereka sudah menunggu dengan didampingi oleh pejabat setempat yang bertanggungjawab atas penyambutan kedatangan mereka. Di sana juga sudah terpasang sepanduk dengan tulisan "Selamat Datang Kembali Para Relawan Kemanusiaan".


"Mama... Papa...!" Seru Wangi ketika melihat kedua orang tua dan adiknya melambaikan tangan mereka. Wangi pun bergegas menghampiri mereka sambil menyeret kopernya.


"Ya ampun nduk... Kamu kok jadi kurus begini? Pasti gak cocok sama makanan di sana." Ujar mamanya sambil memeluk Wangi yang ia rasa semakin berkurang berat badannya.


"Di sana kan gak ada yang ngalahin enaknya masakan mama." Sahut Wangi yang masih memeluk mamanya.


"Ya sudah, habis ini pulang ke rumah, mama sudah masakin semua masakan kesukaan kamu." Ujar mamanya.


"Papa dipeluk juga dong... Papa kan juga kangen." Kata papa Rendra yang sudah kangen dengan anak gadisnya itu.


"Wangi juga kangen sama papa..." Ujar Wangi yang kemudian gantian merentangkan tangannya ke arah papanya. Mereka pun saling berpelukan.

__ADS_1


"Ehm... Nggak ada yang kangen nih sama Dino?" Celetuk Dino yang merasa tidak terlihat di mata Wangi.


"Uluh, uluhh... Ada yang ngambek nih, sini mbak peluk." Goda Wangi sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Dino.


"Gak usah peluk-peluk, Dino kan sudah gede." Sahut Dino dengan gaya sok dewasanya.


"Owh... Ya udah, berarti oleh-olehnya buat mama dan papa semuanya." Goda Wangi sekali lagi. Dan benar saja, itu ampuh untuk Dino.


"Eh jangan....!" Sahut Dino cepat sambil memeluk erat tubuh Wangi dan membuat papa mamanya serta Wangi tergelak.


"Dino juga kangen sama mbak Wangi..." Gumam Dino yang masih bisa didengar oleh Wangi.


"Kangen berantem sama mbak ya?" Tanya Wangi yang langsung diangguki oleh Dino.


"Yaelah No... Jujur banget jawabannya." Ujar Wangi sambil mengusap-usap rambut Dino gemas sehingga membuat rambut adiknya itu sedikit berantakan. Orang tua mereka pun cuma senyum-senyum saja melihat interaksi kedua putra putrinya itu.


"Eh bentar, bentar... Kamu beli cincin baru di sana nduk?" Tanya mamanya ketika melihat cincin yang tidak pernah ia lihat melingkar indah di jari manis putrinya.


"Oh, ini... Ini dari Galih ma hehe..." Jawab Wangi sambil meringis.


"Mbak Wangi dilamar mas Galih di sana?" Celetuk Dino.


"Dilamar..??!" Seru mama papanya bersamaan.


"Hadweeh... Nih anak kalau ngomong suka bener." Gumam Wangi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2