Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 103 Introgasi


__ADS_3

Pasca operasi pasien yang bernama Ali dua hari yang lalu keadaannya semakin membaik dan dia sudah dipindahkan ke kamar inap karena sudah melewati masa kritis, meski masih lemas tapi dia sudah sadar total.


"Dok bagaimana keadaan pasien saat ini? Apakah memungkinkan untuk kami mintai keterangan perihal masalahbyang terjadi padanya?" Tanya Galih pada Elias di tempat kerjanya.


"Dia sudah sadar total, meskipun masih lemas dia sudah dapat diajak bicara." Jawab Elias.


"Jadi, apakah kami bisa menemuinya?" Tanya Galih lagi yang pada waktu itu juga bersama Romero.


"Bisa, tapi jangan terlalu dipaksakan karena melihat kondisi psikisnya yang mungkin belum stabil. Jadi saya mohon agar kalian hati-hati dan kalian harus segera berhenti ketika dia sudah tidak sanggup lagi untuk berbicara." Jawab Elias menegaskan.


"Baik, akan kami ingat. Terimakasih." Jawab Romero.


"Ah, kenapa kalian tidak menanyakannya pada kekasih kalian masing-masing sih? Tumben nanyanya ke aku. Bicara formal dengan kalian di tempat kerja seperti ini canggung banget tahu!" Ujar Elias yang sedikit kesal dengan tingkah Romereo yang teman SMPnya dulu dan juga Galih yang merupakan teman sekaligus pacar Wangi adik angkatnya.


"Wangi tidak dapat dihubungi." Kata Galih.


"Oh iya, dia sedang mengoperasi pasien usus buntu." Sahut Elias.


"Zahara juga telponnya gak diangkat." Romero menimpali.


"Hmm... Itu handphone Zahara bukan? Dari tadi bunyi terus." Kata Elias sambil menunjuk sebuah handphone yang tergeletak di atas meja. Romero pun langsung melihatnya dan mengambilnya.


"Iya, benar ini milik Zahara tapi orangnya dimana?" Tanya Romero sambil mengamati handphone milik Zahara yang dia pegang.


"Sepertinya dia lagi ke toilet deh... Tadi lari gitu saja keluar ruangan, mules kali." Sahut Elias.


"Hadewhh..." Tepik jidat deh Romero.


"Kalian langsung ke ruang inap saja, di sana ada Lukman kok di ruang jaga." Ujar Elias.


"Oke deh, makasih ya El. Yuk!" Ucap Romero yang bergegas mengajak Galih menemui pasien Ali.


Dan benar saja, ketika mereka hendak menuju ruang inap pasien di ruang jaga dokter yang terletak di depan ruang inap ada Lukman dan beberapa perawat yang sedang bertugas jaga.


"Kalian kenapa ada di sini?" Tanya Lukman ketika melihat Galih dan Romero mendekatinya.


"Kami perlu sedikit bantuan Dokter." Kata Romero.


"Bantuan? Apa itu?" Tanya Lukman kembali.


"Kami dengar dari Dokter Elias jika pasien bernama Ali sudah dapat sadar total dan sudah bisa ditemui." Kata Galih.


"Kami ingin minta ijin untuk menemuinya, ada hal penting tentang penyelidikan kasus yang melibatkannya. Dokter Elias sudah mengijinkannya dan kami harap Dokter Lukman juga dapat bekerjasama dengan kami." Tambah Romero menerangkan.


"Tentu, lagian saya tidak mau menghambat penyelidikan tapi dengan syarat kalian jangan terlalu berlebihan untuk sementara ini karena pasien baru saja mengalami kejadian yang mengerikan, ini demi kesehatan jiwanya." Kata Lukman mengingatkan.

__ADS_1


"Tentu, hal yang sama juga dikatakan oleh Dokter Elias tadi." Jawab Galih.


"Kalau begitu akan saya antar." Ujar Lukman.


"Terimakasih." , "Terimakasih."


Sahut Galih yang hampir bersamaan dengan Romero.


Lukman pun memandu Galih dan Romero ke ruang inap pasian. Saat itu di sana hanya ada satu pasien yang menempati ruangan tersebut. Sebenarnya ada dua, tapi salah seorang pasien sedang melakukan operasi bersama Wangi sebagai dokternya. Dan pasien yang ada saat itu adalah Ali. Matanya terlihat terpejam ketika mereka bertiga masuk, namun kemudian terbuka ketika dirinya menyadari jika ada seseorang yang mendekati tempat tidurnya.


"Ali..." Sapa Galih.


"Kalian siapa?" Tanya Ali dalam bahasanya.


"Kami tentara yang bertugas di sini. Namaku Galih dan dia temanku Romero. Kamu tidak perlu takut pada kami, karena kamu aman di sini." Ucap Galih yang menenangkan Ali yang terlihat sangat waspada.


"Erisha! Toling selamatkan Erisha adikku! Aku mohon..." Ali memohon dengan bibir yang bergetar dan air mata yang menetes dari kedua mata coklatnya.


"Tenanglah Ali... Bicaralah pelan-pelan dan ceritakan apa yang menimpamu waktu itu." Kata Romero.


"Anda harus mengontrol emosi anda karena tidak baik untuk kesehatan anda saat ini." Tambah Lukman mengingatkannya sebagai dokter yang bertanggungjawab.


Ali kemudian menghela napas panjang dan mengangguk patuh, untungnya dia mau mendengarkan nasehat Lukman dan kemudia mulai bercerita.


"Setiap hari aku dan adikku pergi ke kota untuk berjualan dan mengirim beberapa pesanan buah atau sayuran kepada pelanggan di sana. Suatu hari aku mendengar ada sebuah restaurant yang sedang membutuhkan karyawan dan membayar gaji yang lumayan besar. Aku tertarik. Terus terang aku ingin merubah hidupku ke hidup yabg lebih baik agar untuk membahagiakan adikku satu-satunya keluarga yang aku miliki, agar dia tidak perlu bekerja keras lagi. Akupun mendatangi tempat itu. Dari luar tempat itu tampak seperti restaurant dan kedai kopi biasa, namun ada ruangan lagi di dalamnya yang membuatku terkejut. Di ruang terdalam adalah tempat orang-orang berjudi dengan bau alkohol yang menyengat." Cerita Ali.


"Benar." Jawab Ali.


"Lalu kenapa kamu tidak lekas pergi dari sana dan mengurungkan niatmu untuk bekerja di sana?" Tanya Romero.


"Itulah yang aku pikirkan dan aku sudah akan membatalkan lamaran kerjaku. Tapi... Aku tidak bisa." Kata Ali dengan wajah murungnya.


"Kenapa? Apa karena gajinya yang besar?" Tanya Romero.


"Bukan, itu karena mereka licik. Sebelum aku dibawa ke ruang Kasino mereka sudah membuatku menandatangi kontrak kerja yang bodohnya tidak aku baca dengan sungguh-sungguh sbelum menandatanganinya. Kontrak kerja yang mengatakan adanya denda sebesar lima juta pound jika mengundurkan diri sebelum kontrak selesai, mereka bahkan mengancam akan menyakiti keluargaku." Terang Ali dengan wajah yang begitu kasihan.


"Mereka sungguh keterlaluan, itu sudah merupakan kejahatan!" Ujar Romero geram.


"Lalu bagaimana dengan narkotika? Dokter menemukan adanya narkotika di dalam darahmu meski itu tidak banyak." Tanya Galih.


"Itu... Karena tidak ada pilihan lain aku harus bekerja di sana dan melarang Erisha untuk berdagang di kota untuk sementara waktu. Setelah satu minggu bos di sana menyuruhku lewat bawahannya untuk mengirimkan sebuah paket, ternyata paket itu adalah narkoba. Lalu kedua kalinya mereka menyuruhku melakukan hal yang sama namun aku tidak mau, aku takut jika tertangkap polisi. Lalu aku bilang kalau aku akan berhenti dan berusaha untuk membayar dendanya, namun mereka tidak terima dan mulai memukulku. Mereka membaku pada Boss, di sana Boss menyuruh anak buahnya menyuntikkan sesuatu kedalam tubuhku. Lalu Boss mengatakan jika sekarang aku sudah benar-benar bagian dari kelompoknya, dia yakin jika setelah itu aku tidak akan bisa keluar dari kelompoknya tanpa ijin darinya. Dan yang membuatku terkejut adalah mereka sudah membawa adikku Erisha sebagai sandera. Akhirnya dengan terpaksa aku mematuhinya lagi, namun setelah aku selesai melakukan apa yang mereka suruh Erisha tidak kembali. Katanya Erisha akan berguna suatu hari nanti. Aku sangat marah, aku telah dibohongi bahkan setelah aku merengek memohonpun mereka tetap tidak mau mengembalikan Erisha dan justru memukuliku. Aku yang marah mencuri beberapa bungkus sabu dan menelannya tanpa sepengetahuan mereka. Aku tetap tidak putus asa dan kembali memohon untuk mengembalikan adikku, tapi itu sia-sia mereka justru menghajarku tanpa ampun hingga aku tidak sadar sampai di sini." Itulah cerita lengkap dari Ali. Wajah Ali begitu sedih hingga air matanya menggenang di pelupuk matanya.


"Mungkin sekarang mereka sudah sadar jika permen mereka ada yang hilang." Ucap Romero sarkas. Dia yang mendengar cerita Ali jadi ikut kesal sendiri.


"Apakah semua anggota kelompok itu mempunyai tato kalajengking yang sama?" Tanya Galih.

__ADS_1


"Iya, benar dan untungnya mereka belum sempat menato lenganku karena aksi melawanku pada saat itu." Terang Ali.


"Dan apakah Boss yang kamu maksud tadi adalah orang ini?" Tanya Galih sambil memperlihatkan foto Joshua pada Ali.


"Be, benar! Benar orang itu!" Seperti melihat hantu, bibir Ali bergetar dan menjawab terbata ketika meihat foto Joshua yang diperlihatkan Galih padanya. Sepertinya Ali benar-benar memiliki trauma yang lumayan membuat dia takut. Galih dan Romero pun saling bertukar pandang dan mengangguk. Mereka sudah memastikan jika informasi yang mereka terima dari Komandan adalah benar.


"Kamu masih ingat siapa orang yang menerima barang haram yang kamu kirim itu?" Tanya Galih.


"Tentu, karena orang itu adalah orang yang cukup berpengaruh dalam lolosnya kelompok itu dari mata hukum." Jawab Ali.


"Apa itu salah satu opsir polisi di wilayah sana? Apakah orang ini?" Tanya Galih sambil menunjukkan satu foto lagi dan Ali pun langsung membenarkannya.


"Benar! Betul orang itu!" Jawab Ali dengan kepala yang mengangguk.


"Terimakasih Ali, informasimu sangat membantu. Kalau begitu kamu istirahat lagi, semoga cepat sembuh." Ucap Romero yang mengakhiri sesi introgasi saat itu.


"Ta, tapi bagaimana dengan adikku? Apakah dia akan selamat?" Tanya Ali sebelum Galih dan Romero pergi.


"Kamu tenang saja dan cukup berdo'a yang terbaik untuk keselamatan adikmu, kami akan berusaha membebaskannya." Ucap Romero berusaha menenangkan Ali yang sangat khawatir akan keselamatan adik perempuannya.


"Terimakasih, tentu aku akan mendo'akan untuk adikku dan juga kalian yang membantu kami. Terimakasih." Ucap Ali tulus dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Galih dan Romero mengangguk dengan tersenyum lalu meninggalkan ruangan itu uang diikuti oleh Lukman.


"Terimakasih Dokter Lukman, sudah membantu kami. Kami harap pembicaraan tadi cukup kita saja yang tahu." Ucap Galih sambil meminta Lukman untuk merahasiakan apa yang dia dengar tadi.


"Tentu saja, itu sudah kewajiban saya menjaga rahasia pasien." Kata Lukman.


Galih dan Romero pun berpamitan, tapi ketika mereka hendak pergi sebuah brankar dengan pasien di atasnya datang dengan didorong oleh dua orang perawat laki-laki. Di belakangnya ada Wangi yang berjalan ke arah yang sama dengan brankar yang didorong tadi. Rupanya dia baru saja selesai operasi.


"Lho... Kalian kok ada di sini?" Tanya Wangi.


"Ini... Galih katanya kangen sama kamu." Jawab Romero dengan seringai jahinya.


"Ngaco!" Sahut Galih dengan mata yang mendelik ke arah Romero.


"Oh jadi gitu... Cuma ngaco doang?!" Ujar Wangi sambil bersedekap dengan tatapan membunuh ke arah Galih.


"Ah... Salah lagi..." Gumam Galih lemes.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2