Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 42 Gara-gara Pakaian


__ADS_3

Setelah pembicaraan tenatang undangan makan siang tiga hari yang lalu, Wangi dan seluruh keluarganya siang ini bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ridwan sesuai undangan yang mereka berikan.


"Ma...sudah siap belum?" Seru si papa Rendra yang sudah menunggu di ruang tamu bersama Dino.


"Bentar pa, mama ambil tas dulu." Seru mama Rina menjawab dari dalam kamarnya.


Setelah mengambil tasnya, mama Rina keluar dari kamarmya dengan dress sebawah lutut warna ungu muda berlengan tiga perempat, sangat anggun diusianya yang sudah tidak muda lagi.


"Sudah pa, yuk!" Ajak mama Rina.


"Lho... Si Wangi-nya mana ma?" Tanya papa Rendra sambil celingak-celinguk mencari putri sulungnya yang tidak terlihat.


"Lha... Tadi kan dia sudah keluar dari kamarnya." Ujar mama Rina.


"Mana? Dari tadi papa di sini cuma sama Dino saja." Kata papa Rendra menegaskan.


"Ah gak mungkin, di kamarnya dan di belakang juga tidak ada kok... Pa, Wangi tidak mungkin kabur kan?" Ujar mama Rina menerka-nerka.


"Huusst! Mama jangan bercanda ahh, enggak lucu kan kalau tokoh utama acara ini kabur duluan?"


"Wang... Wangi... Kamu dimana nak?" Panggilan mama Rina tersebut tidak ada jawaban.


"Mbak Wangi ada di teras rumah tuh..." Tiba-tiba Dino menyeletuk.


"Masa? Kok tadi papa gak lihat keluarnya?" Tanya papa Rendra tidak percaya.


"Tadi pas papa masuk ke kamar ambil kunci mobil, mbak Wangi keluar ke teras rumah." Jawab Dino dengan santainya sambil mengotak atik Hp miliknya.


"Kamu ini kok gak bilang dari tadi ke papa?" Ujar papa Rendra yang sedikit geram dengan si bungsu.


"Coba mama saja yang lihat." Ujar mama Rina.


Ketika mama Rina berjalan keluar menuju teras rumahnya, ternyata benar jika Wangi sudah berada di sana duduk anteng sambil mensecroll phonsel miliknya.


"Ni anak mama cariin ternyata ada di sini, kenapa dipanggil-panggil dari tadi gak nyahut sih?" Tegur mama Rina namun Wangi hanya menatap mamanya dengan dahi yang mengerut.


"Haa?? Mama ngomong apa?" Tanya Wangi yang seolah tidak mendengar teguran mamanya.


"Kamu itu lho bikin orang bingung nyariin kamu! Ternyata sudah ada di sini." Ucap mama Rina mengulang tegurannya pada Wangi.


"Mama bicara apa? Wangi gak dengar." Kata Wangi dengan setengah berseru seperti orang budek saja.


"Huuhh..." Mama Rina menghela napasnya kemudian menghampiri Wangi.


"Ini ni yang bikin kuping kamu budek!" Seru mama Rina geram sambil mencopot earphone yang terpasang di telinga Wangi.

__ADS_1


"Hehe... Lupa ma." Sahut Wangi dengan ringisan di bibirnya.


"Maaf ma, tadi mama bicara apa?" Tanya Wangi sekali lagi.


"Semuanya sudah siap, yuk kita berangkat!" Ajak mamanya.


"Oh gitu, ya sudah yuk ma..." Wangi pun beranjak dari duduknya namun sekejap berikutnya mama Rina tiba-tiba kembali mengomeli Wangi.


"Tunggu, tunggu... Ini apa-apaan pakaian kamu Wangi?" Seru mama Rina setelah melihat penampilan putri sulungnya itu.


"Memangnya kenapa dengan pakaian Wangi? Ada yang salah?" Tanya Wangi heran dengan reaksi mamanya ketika melihat penampilannya sekarang ini. Menurut Wangi tidak ada yang salah dengan pakaiannya saat ini. Celana jeans dengan atasan T-shirt warna putih yang dipadukan dengan jaket model baseball warna coksu. Dan itu cukup sopan untuknya yang hanya datang untuk sekedar makan siang saja.


"Kamu pikir sekarang ini kamu mau pergi main ke rumah teman kamu?" Mama Rina tidak habis pikir dengan selera berpakaian putrinya yang jauh dari kesan feminim.


"Lha... Kan kita memang mau ke rumah Galih ma, Wangi sudah menganggap Galih sebagai teman kok, jadi gak salah kan?" Langsung deh mama Rina tepok jidat.


"Duhh... Ini mungkin salah mama deh yang gak pernah ngajarin kamu buat belajar dandan." Ujar mamanya lebih kepada dirinya sendiri.


"Mama ngomong apa sih? Gak jelas gitu." Wangi jadi bingung sendiri dengan sikap mamanya.


"Udah jangan dipikirin, sekarang mending kamu ganti pakaian yang lainnya daripada nanti Galih lari duluan pas lihat kamu." Mama Rina langsung menyuruh Wangi buat mengganti pakaiannya.


"Apa yang salah sih ma? Pakaian Wangi masih sopan kok, lagian ngapain juga Galih sampai lari segala?" Wangi masih tidak mengerti dengan perkataan mamanya yang ambigu itu. Buat apa coba dia harus mengganti pakaiannya?


"Pokoknya ganti yang lebih feminim dari ini." Titah mamanya.


"Ada apa sih ribut-ribut dari tadi? Dari dalam sampai kedengeran lho... Lagian sudah jam segini nanti kita bisa terlambat sampai rumah Ridwan." Sang papa akhirnya keluar dari dalam rumah karena mendengar keributan di teras rumahnya.


"Ini lho pa Wangi... Coba lihat pakaiannya, masa mau ketemu calon mer... Ehm maksud mama masa hadirin undangan acara syukuran bajunya seperti ini?" Seloroh mamanya yang hampir saja keceplosan bicara sambil menunjuk ke arah Wangi yang berdiri di sampingnya.


Papa Rendra akhirnya memindai penampilan putri kesayangannya itu dari atas ke bawah dan langsung geleng-geleng kepala.


"Ckck... Wangi, memangnya kamu ini preman yang mangkal di terminal bus? Cepat ganti baju sana!" Perintah papanya yang semakin membuat Wangi tidak habis pikir dengan orang tuanya yang mempeributkan masalah pakaian yang dipakainya.


"Lha... Papa kok malah ikut-ikutan mama sih?" Protesnya.


"Jelas dong... Papa sama mama kan sehati, sudah yuk buruan ganti bajunya! Mama yang bakalan pilihin buat kamu." Sahut mamanya sambil menarik tangan Wangi untuk dibawanya ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.


"Nggak perlu ma, Wangi bisa sendiri." Tolak Wangi sambil mencoba melepas tangan mamanya yang menggenggamnya.


"Mama nggak percaya sama kamu!" Sahut mama Rina tegas.


"Tapi ma..."


"Sudah jangan cerewet! Tidak ada waktu lagi." Ujar mama Rina yang tidak membiarkan Wangi untuk protes lagi dan lekas menyeretnya ke kamar untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Singkat cerita sekarang keluarga Rendra telah tiba di kediaman keluarga Ridwan Admaja setelah perdebatan panjang mengenai pakaian yang Wangi kenakan tadi.


"Assalamu'alaikum..." Ucap keluarga Rendra ketika tiba di depan pintu kediaman Ridwan dan langsung disambut hangat oleh keluarga Ridwan. Meski Ridwan masih berada di atas kursi roda namun kesehatannya berangsur membaik dan cukup sehat untuk menjalankan rencananya selama ini.


"Wa'alaikumsalam... Akhirnya kalian sampai juga di kediaman kami." Ucap Ridwan menyambut kedatangan sahabatnya beserta keluarganya.


"Mas Ridwan nggak sabar dari tadi nungguin kalian, mari silahkan masuk... Kita ngobrolnya di dalam saja." Sambung Ratna yang berdiri dibelakang kursi roda suaminya untuk mempersilahkan tamu-tamunya masuk.


Merekapun masuk dan berkumpul di ruang tamu.


"Silahkan duduk senyaman kalian, anggap rumah sendiri." Ucap Ridwan mempersilahkan para tamunya.


"Duhh...Dokter Wangi hari ini cantik sekali... Setiap harinya memang sudah cantik tapi hari ini terlihat tambah cantik ya pa?" Puji Ratna yang terpesona dengan penampilan cantik Wangi siang ini membuat Wangi jadi sedikit malu.


"Tante bisa saja..." Balas Wangi malu-malu.


"Iya dong... Coba kalau saya punya anak perempuan seperti anak kamu ini Ren, pasti hidup saya lebih tenang." Ucap Ridwan menanggapi ucapan istrinya yang ditujukan langsung pada Rendra sahabat baiknya dari dulu seakan memberi signyal jika dirinya benar-benar menginginkan Wangi sebagai jodoh anaknya.


"Salah sendiri bikin anaknya cuma satu." Balas Rendra seraya menggoda Ridwan dengan candaannya.


"Kamu itu mentang-mentang punya jagoan juga, jelas aku yang kalah." Sahut Ridwan seolah bersikap merajuk namun itu hanya candaan saja.


"Hahaa...." Akhirnya pecah sudah gelak tawa mereka.


"Ngomong-ngomong ini toh yang namanya Dino?" Tanya Ridwan ketika melihat anak lelaki Rendra.


"Iya om, salam kenal..." Jawab Dino sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan langsung disambut oleh Ridwan dengan senang hati. Dino pun bersalaman dengan mencium punggunng Ridwan dan Ratna bergantian sebagai bentuk rasa sopannya pada yang lebih tua.


"Duuh... Sopannya anak kamu Ren, ganteng lagi." Ucap Ridwan.


"Jelas dong... Lihat dulu siapa papanya." Sahut Rendra membanggakan diri.


"PeDe kamu, Dino ganteng karena nurun mamanya." Balas Ridwan yang langsung disambut gelak tawa oleh semuanya.


Tidak lama kemudian mbok Yem pembantu rumah tangga Ridwan keluar seraya membawa nampan berisi minuman.


"Ngomong-ngomong Galih dimana? Kok tidak kelihatan sedari tadi." Tanya Rendra yang tidak melihat kehadiran Galih diantara mereka.


"Ada, tadi juga baru datang sebelum kalian datang terus mandi, mungkin masih bersiap di kamarnya. Mbok, tolong beri tahu Galih untuk segera turun, sudah ditungguin." Jawab Ratna seraya menyuruh mbok Yem buat memanggil Galih.


"Baik nyah." Jawab mbok Yem, namun belum sempat mbok Yem pergi memanggil Galih, lelaki itu sudah datang terlebih dahulu.


"Maaf terlambat om, tante..." Sapa Galih seraya menyalami Ridwan dan Ratna secara bergantian. Kemudian dia berhenti ketika langkahnya tepat pada giliran Wangi di depannya. Galih seakan tersihir ketika melihat penampilan cantik Wangi saat ini. Dokter cantik yang biasa dia lihat dengan penampilan kasual dibalik jas dokternya kini terlihat berbeda dengan rok sepanjang betis warna coksu yang dipadukan atasan kemeja lengan pendek warna pastel dengan renda di bagian tengah kancingnya. Sederhana namun terlihat anggung mempesona.


"Ehm..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2