
Keesokan paginya di Rumah Sakit Universitas ruang inap VIP tempat Ridwan dirawat.
"Selamat ya om, akhirnya bisa pulang juga ke rumah." Ucap Wangi yang berada di sana, selain sebagai salah satu dokter yang bertugas merawat, juga karena keluarga Ridwan adalah teman baik keluarganya dan juga orang tua dari Galih yang merupakan sopir pribadinya, Wangi berkewajiban memberi salam perpisahan sebagai pasien dan memberi selamat untuk kesembuhan Ridwan sebagai bentuk sopan santun.
"Terimakasih Dokter Wangi, ini semua karena perawatan yang di berikan dokter-dokter di sini sangat baik dan memuaskan." Balas Ridwan seraya memuji.
"Ini semua sudah menjadi tanggung jawab kami selaku para medis." Ucap Dokter Slamet selaku dokter utama yang bertanggung jawab atas perawatan Ridwan. Setelah pengecekan terakhir yang dilakukan oleh Dokter Slamet, Ridwan dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang saat itu juga.
"Sekali lagi kami sangat berterimakasih Dok." Ucap Ratna pada Dokter Slamet mewakili suaminya.
"Sama-sama, semoga bapak Ridwan tidak kembali lagi kesini sebagai pasien." Ucap Dokter Slamet.
"Amin..." Jawab semua orang mengamini.
"Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya periksa." Pamit Dokter Slamet. Wangi yang hendak mengikuti Dokter Slamet untuk keluar langsung dicegah oleh Ratna.
"Maaf sebentar Dokter Wangi..." Ujar Ratna yang langsung meraih tangan Wangi agar perempuan itu berhenti.
"Ah iya ada apa ya tante?" Tanya Wangi yang sedikit terkejut karena Ratna yang tiba-tiba memanggilnya.
"Begini Dok, apa boleh sesekali saya menghubungi Dokter untuk berkonsultasi mengenai kesehatan suami saya?" Tanya Ratna pada Wangi yang sebenarnya itu hanya alasan untuk dirinya bisa lebih dekat dengan Wangi. Sebuah trik agar Wangi lebih dekat dengan keluarganya, terlebih agar Galih lebih sering lagi berinteraksi dengan Wangi di luar jam kerjanya. Boleh dibilang ini trik licik emak-emak yang ngebet dapat mantu hehe...
"Tentu saja boleh jika memang saya bisa membantu." Jawab Wangi tanpa ada pikiran apapun.
"Lain kali jika ada waktu Dokter Wangi juga boleh kok untuk main ke rumah kami, iya kan pa?" Ujar Ratna menawarkan Wangi untuk berkunjung ke rumahnya.
"Iya pasti bolehlah..." Jawab Ridwan.
"Baik tante, om jika saya ada tugas di Jakarta insya'allah saya akan mampir." Balas Wangi dengan sopan.
__ADS_1
"Ngapain harus ke Jakarta? Sementara ini kami akan tinggal di Yogya, jadi sering-seringlah mampir jika ada waktu, mas Rendra dan jeng Rina pasti tidak keberatan." Wah... Kalau sudah membawa-bawa nama orang tua pasti ada maksud lain kan? Tapi dasarnya Wangi itu cuek bebek dan tidak suka mikir yang ribet-ribet jadi dia tidak terlalu menghiraukannya.
"Lho... Tante dan om pindah ke Yogya?" Tanya Wangi.
"Nggak kok, mereka cuma sementara saja tinggal di sini." Sahut Galih yang datang dari balik pintu, dia memang dari tadi berada di luar ruang inap papanya menunggu dokter yang sedang memeriksa di dalam. Lalu ketika Dokter Slamet keluar barulah dia masuk dan cukup untuk mendengar segala macam alasan yang diucapkan mamanya pada Wangi, jadi dia sengaja berhenti berdiri di depan pintu.
"Galih..." Ucap Wangi lirih.
"Sudah deh ma... Jangan tahan Wangi terlalu lama, dia kan harus kerja, kasihan pasiennya sudah pada nunggu." Untung saja Galih yang sudah menyadari kemana arah pembicaraan mamanya itu lekas menghentikannya.
"Ya ampun... Tante minta maaf, habisnya saya suka ngobrol dengan Dokter Wangi yang cantik ini." Ah si mama masih ngegas terus usahanya membuat Wangi jadi malu sendiri karena pujian Ratna.
"Hmm... Kalau begitu saya mau lanjut bertugas, semoga om dan tante sehat selalu, permisi..." Pamit Wangi.
"Amin... Terimakasih." Ucap semunya, Wangi hanya tersenyum dan mengangguk lalu melangkah untuk keluar ruangan dan berhenti sejenak di dekat pintu dimana Galih sedang berdiri di sana.
"Terimakasih, saya pergi dulu." Balas Wangi.
"Iya." Sahut Galih sambil menunjukkan senyum tipisnya dan Wangi pun meninggalkan ruangan itu.
Dalam hati Wangi bertanya-tanya setelah keluar dari sana, "Apa Galih beberapa hari ini lebih sering tersenyum ya? Bahkan kemarin dia sampai ngakak gitu. Untung ganteng, orang ganteng mah bebas... Masa bodohlah! Ngapain aku pikirkan coba?" Kemudian Wangi langsung mempercepat langkahnya, dia harus bergegas mengecek pasien lainnya mengingat waktunya sangat mepet karena terlalu lama ditahan oleh mamanya Galih, untung saja Galih datang tepat pada waktunya untuk menghentikan ocehan Ratna yang lama-lama jadi ngelantur.
Disatu sisi, Wita berlari di koridor Rumah Sakit dengan wajah yang gusar bak dikejar anjing galak, bahkan beberapa kali dia hampir saja menabrak orang yang dia lewati, hingga....
Brakk!
Wita benar-benar menabrak seseorang hingga bawaan yang dibawa orang tersebut jatuh semua ke lantai.
"Ya Tuhan... Maaf, maaf saya tidak sengaja, saya akan bantu bereskan ini semua." Ucap Wita panik tanpa melihat siapa orang yang ia tabrak dan langsung berjongkok memunguti alat-alat medis dan beberapa obat yang berjatuhan.
__ADS_1
"Jadi, lari-lari di koridor Rumah Sakit ini ternasuk tidak sengaja?" Ujar Elias sarkas dengan wajah merah marahnya. Ya, ternyata orang yang ditabrak Wita itu adalah Elias.
Wita menengadahkan wajahnya melihat siapa lawan bicaranya. Dan sesuai dugaan Wita langsung terkejut melihat Elias yang berdiri di hadapannya.
"Duhh... Kok dia lagi sih?" Batin Wita.
"Dokter Elias? Maaf Dok, saya tadi buru-buru dan sedikit ceroboh." Kata Wita meminta maaf.
"Ini Rumah Sakit dilarang berlarian tanpa alasan, jika buru-buru anda bisa berjalan dengan cepat, sebenarnya kenapa anda begitu cemas hingga harus berlari begitu? Apa ada hal darurat menyangkut pasien atau...." Elias menjeda ucapannya dan memindai penampilan Wita saat ini yang masih menggunakan membawa tas ransel di punggungnya tanpa memakai jas kerjanya.
"Jangan bilang anda sudah terlambat masuk?" Ucapan Elias itu langsung tepat sasaran membuat Wita tidak mampu untuk mengelak, karena memang benar jika saat ini dirinya sedang terlambat, begadang semalaman mengerjakan tugas kampusnya membuat Wita telat bangun pagi ini.
"Maaf Dok, saya tidak akan terlambat lagi." Ucap Wita menyesali keteledorannya.
"Saya tidak pantas menerima permintaan maaf anda mengenai keterlambatan karena anda bukan tanggung jawab saya, lebih baik itu anda ucapkan untuk dokter pembimbing anda. Tapi saya akan memaafkan anda yang sudah menabrak saya." Kata Elias yang kemudian ikut memungut beberapa barang bawaannya yang masih tercecer di lantai.
"Terimakasih Dok, ini biar saya saja yang beresin." Ucap Wita segera.
"Ini sudah tidak bisa dipakai karena sudah tidak steril, mending kamu segera bergegas menemui kelompok kamu, saya juga sedang terburu-buru karena pasien saya sudah menunggu, nanti tambah repot kalau kamu ikutan juga." Ujar Elias yang masih sedikit sarkas dengan kata-katanya. Disatu sisi dia mengerti keadaan Wita saat ini namun disisi lain dirinya juga merasa dongkol karena waktunya terbuang karena kecerobohan Koas baru itu.
"Tapi Dok..."
"Saya tidak suka dibantah! Permisi." Elias langsung melangkah pergi dengan nampan berisi peralatan medis meninggalkan Wita yang masih terbengong setelah ucapannya dipotong oleh Elias.
"Busyeett... Jadi Koas gini amat ya cobaannya, untung situ ganteng." Gerutu Wita lirih.
"Astaga!! Aku beneran terlambat ini!" Wita pun bergegas meninggalkan tempatnya berdiri dengan terburu-buru, kali ini dia tidak berlari dan hanya mempercepat langkahnya saja, kejadian menabrak Elias cukup sekali saja, jangan ada dua kali meski hampir saja menjadi yang ke dua kalinya, karena yang pertama cuma hampir ketabrak dan tidak sampai ketabrak.
Bersambung....
__ADS_1