
Keesokan harinya di Rumah Sakit Indobbat...
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Wangi yang kini sedang memeriksa keadaan Erisha.
"Lebih baik daripada kemarin, terimakasih..." Ucapnya seraya tersenyum lembut.
"Sudah kewajiban kami membantu yang membutuhkan. Aku akan memeriksa suhu tubuhmu dulu." Balas Wangi diiringi senyuman sambil memeriksa suhu tubuh Erisha dengan termometer.
"Syukurlah demammu sudah turun, tapi kamu masih harus tetap istirahat, tubuhmu belum pulih benar karena kau mengalami kekurangan gizi. Jadi kamu harus memakan semua makanan bergizi yang kami siapkan dan jangan sampai melewatkan obatmu. Kami akan mengawasimu nona pasien!" Ujar Wangi memberi wejangan dan dibalas dengan tawa oleh Erisha.
"Pfftt..."
"Hng..?? Kau malah tertawa?" Tanya Wangi seraya memiringkan kepalanya dengan dahi yang berkerut.
"Pfft... Haha... Maaf, maaf.. Hanya saja, aku sudah lama sekali tidak mendengar omelan seperti ini. Dulu ibu kami sering mengomeli kami dari hal-hal kecil sampai hal besar. Bukan mengomeli karena kami nakal tapi mengomel untuk memperingatkan atau memberi tahu akan sesuatu yang boleh dan tidak boleh kami lakukan. Tadi itu Dokter mengingatkan saya pada ibu saya." Ucap Erisha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh dear... I'm so sorry, kamu pasti sangat merindukan ibumu." Ucap Wangi seraya memeluk Erisha.
"Tidak apa-apa, saya senang Dokter melakukan hal itu. Saya jadi merasa diperhatikan." Sahut Erisha yang membalas pelukan Wangi.
"Kalau begitu kamu bisa menganggapku sebagai kakakmu." Kata Wangi dalam pelukannya.
"Kakak? Saya suka itu. Saya selalu ingin memiliki seorang kakak perempuan." Balas Erisha yang semakin melebarkan senyumnya meski air matanya terus mengalir karena haru.
"Kalau begitu panggil aku kakak dan bicaralah dengan santai padaku." Pinta Wangi sambil mengurai pelukannya dan menatap wajah cantik yang pucat di hadapannya.
Erisha tersenyum dan berkata... "Kakak..."
"Ah... Kamu hobby sekali ya memungut adik perempuan?" Tiba-tiba Elias datang dari arah pintu masuk.
"Enak aja pungut... Emang kucing!" Sahut Wangu sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Dulu Wita kamu ambil sebagai adik, sekarang di sini Erisha... Apa namanya kalau bukan suka mungut adik?" Elias sengaja menjahili Wangi, dia kan paling suka melihat Wangi kesal. Itu sudah menjadi hiburannya dari dulu.
"Habisnya... Wita sekarang sudah direbut sama senior reseh, jadi jarang main sama aku. Ya aku angkat adik cewek lagi dong..." Sindir Wangi.
"Nyindir nih...?! Tanya Elias.
"Emang situ ngerasa? Ya maaf kalau ngerasa.." Sahut Wangi dengan sewot, namun bukannya marah, Elias justru tertawa sambil mengusap-usap kepala Wangi.
"Iihh... Rambutku berantakan nih kak!" Ujar Wangi kesal sambil merapikan kembali rambutnya. Sedangkan Erisha yang melihat interaksi antara Wangi dan Elias hanya terbengong melihatnya. Dia tidak mengerti apa yang diperdebatkan oleh kedua Dokter tersebut karena mereka berbicara dengan bahasa Indonesia, hanya saja Erisha merasa keduanya memiliki hubungan yang baik.
"Astaga... Kalian berdua kayak bocah saja, berantem di depan pasien. Noh lihat...! Erisha sampai bingung sama tingkah laku kalian." Ujar Zahara yang baru saja keluar dari bilik sebelah setelah memeriksa pasien wanita yang OD kemarin.
"Kita cuma bercanda kali..." Elak Elias yang membuat Zahara memutar bola matanya jengah. Saudara kembarnya itu selain terkenal bermulut pedas juga biangnya jahil.
"Ugh... Maaf ya Er, pasti kamu bingung dengan omongan kami. Jangan dipikirkan karena bukan hal penting." Untungnya Erisha mengerti dan mengangguk.
"Oh ya, bagaimana dengan kak Ali? Apakah hari ini saya boleh menemuinya?" Tanya Erisha penuh harap. Tadi malam Erisha sudah menemui Ali di kamar inapnya, namun tidak bisa lama-lama karena Erisha mengalami demam tinggi dan hampir pingsan lagi.
"Sungguh..??" Elias mengangguk seraya tersenyum membenarkan ucapannya pada Erisha dan gadis itu terlihat sangat bahagia.
"Kalian Dokter-dokter yang baik. Terimakasih banyak sudah merawatku dan kak Ali selama ini. Terimakasih..." Erisha tak henti-hentinya berterimakasih dan mengulas senyum di bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh ya, apakah kemarin seorang wanita bernama Soledat ikut datang bersamaku?" Tanya Erisha yang teringat akan Soledat.
"Soledat..??" Tanya Wangi membeo.
"Wanita yang bekerja di tempat itu. Dia datang menyelamatkanku bersama tentara yang menyamar sebagai pelayan. Aku tidak melihatnya lagi karena aku pingsan setelah berhasil keluar dari sana." Terang Erisha dengan polosnya.
"Tentara berpakaian pelayan? Bukankah itu Romero? Kemarin dia kembali dari tugas dengan pakaian pelayan. Kak Elias juga melihat itu kan?" Kata Wangi sambil memastikan kebenarnya pada Elias dan Elias pun mengangguk.
"Maaf, tapi kami tidak melihatnya datang ke sini bersamamu." Kata Elias kemudian. Dan tanpa mereka sadari ada yang meremas tirai ruangan tersebut dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Soledat..?! Aku tidak mendengar nama itu kemarin dari Romero. Pantas saja tiba-tiba dia merasa 'itunya' ngilu. Awas kamu ya... Aku bakalan bikinin rujak!" Gumam Zahara geram.
"Aku pergi dulu ya..!" Pamit Zahara kemudian.
"Mau kemana?" Tanya Wangi.
"Mau bikin sambal rujak..!!" Seru Zahara sambil melangkah pergi.
"Tumben dia mau bikin rujak gak ajak-ajak?" Ujar Wangi heran.
"Dia kan gak suka rujak, apa seleranya sudah berubah ya..?" Elias menimpali dengan rasa heran.
Sementara itu di tempat lain...
"Hachiimm...!!" Romero tiba-tiba bersin.
"Kenapa kamu Rom? Kena flu?" Tanya Galih.
"Gak tahu, tiba-tiba ngerasa dingin saja." Sahut Romero.
"Masuk angin kali..." Ujar Galih.
"Tapi kok merinding juga ya...?" Timpal Romero sambil mengusap-usap lengannya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1