
POV Galih
Akhirnya di sinilah aku sekarang ini, di sebuah mini market yang tidak jauh dari Rumah Sakit. Ini semua karena permintaan darurat dari Wangi.
Lima belas menit yang lalu....
Aku baru saja tiba di Rumah Sakit dan hendak menuju ruang inap dimana papaku sedang dirawat. Kebetulan malam ini tidak ada kegiatan yang penting di asrama tempatku tinggal dan mengabdi, jadi waktu luang ini aku gunakan untuk menunggu papaku yang kini dalam masa penyembuhan pasca operasi sekaligus menemani mamaku yang selalu sendiri merawat papaku selama di Rumah Sakit. Namun belum ada lima menit aku masuk ke dalam Rumah Sakit tiba-tiba phonselku berdering dan ketika kulihat ternyata itu panggilan telpon dari Wangi. Tumben-tumbennya dia menghubungiku dijam segini kalau bukan ada hal penting yang mendesak. Akhirnya akupun mengangkatnya.
"Hallo Wangi...." Sapaku ketika sudah tersambung dengannya.
"Hallo Galih... Bisa tolong bantu saya, pleasss.... Urgent nih!" Suara Wangi terdengar sangat cemas ketika menjawab sapaanku.
"Tolong apa ya? Kalau saya bisa tentu akan saya bantu." Jawabku.
"I itu... Saya sedang berada di Rumah Sakit emm... Lebih tepatnya sedang berada di toilet Rumah Sakit khusus dokter di lantai dua. Saya... Butuh bantuan kamu agar saya bisa keluar dari toilet ini dengan tenang." Perkataannya yang terdengar gugup dan cemas membuatku ikut merasakan kecemasannya juga, apalagi dia bilang sedang berada di toilet dan tidak dapat keluar dari sana. Tentu saja pikiranku jadi tidak enak.
"Apa? Kamu sekarang ada di toilet dan tidak bisa keluar? Apa pintunya sedang macet atau ada yang menguncinya dari luar?" Tanyaku, tentu saja itu yang dapat aku pikirkan ketika dia bilang tidak dapat keluar dari dalam toilet. Namun apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan Wangi saat ini. Dan apa yang aku dengar darinya benar-benar diluar pikiran sehatku saat Wangi mengutarakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Bu bukan! Saya tidak terkunci atau sedang dikunci seseorang, hanya saja saat saya masuk ke dalam toilet saya jadi tidak bisa keluar dengan rasa nyaman. Itu saya... Emmm gimana ya bilangnya?" Ucapan Wangi yang bertele-tele semakin membuatku penasaran apa yang terjadi padanya.
"Tidak apa-apa bilang saja, mungkin saya bisa bantu." Kataku dengan cepat dan percaya diri.
"Itu... Saya saat ini sedang kedatangan tamu yang tidak diundang dan saya tidak membawa persiapan apapun untuk menghadapinya." Aku jadi semakin bingung jika Wangi berkata ambigu seperti itu.
"Tamu tak diundang? Maksudnya apa ya? Saya kurang paham, tolong lebih jelas lagi." Pintaku.
"Saya sedang datang bulan." Katanya dengan nada sedikit cepat yang membuatku langsung gagal fokus.
"Ya? Apa?!"
__ADS_1
"Saya tiba-tiba datang bulan tapi saya tidak membawa pembalut di tas saya, jadi..." Ucapan Wangi tertahan.
"Jadi?" Tanyaku yang entah mengapa membuat perasaanku tidak enak.
"Jadi... Saya minta tolong sama kamu untuk membelikan saya pembalut wanita, saya tahu kamu saat ini ada di Rumah Sakit soalnya tante Ratna yang bilang saat saya memeriksa om Ridwan tadi, katanya kamu mau menginap di Rumah Sakit hari ini. Jadi saya mohon kamu untuk bantu saya sekarang ya, ya??" Pintanya yang terdengar sedang putus asa itu membuatku langsung tepok jidat. Kenapa mama harus laporan segala ke Wangi? Ya mau bagaimana lagi? Aku kan juga tidak tega untuk menolak orang yang sedang membutuhkan bantuanku, apalagi orang itu mungkin akan ada dalam masa depanku nanti. Ahh... apa yang aku pikirkan? Pikirkan saja jika hal itu terjadi pada mamaku sendiri. Lagian itu adalah kodrat perempuan yang tidak dapat ia hindari, kasihan kan jika tidak ada seorangpun yang mampu membantunya.
"Lih... Bagaimana?" Suara cemas Wangi membuatku tersentak karena melamun sesaat.
"Ah i iya, saya akan belikan untukmu sekarang, kamu tunggu saja sebentar di sana."
Terdengar helaan napas lega dari seberang sana.
"Terimakasih ya Lih..." Ucapnya yang terdengar lega.
"Iya sama-sama, aku tutup dulu ya... Kamu tunggu saja senentar." Ujarku.
"Iya."
.
.
Lalu di sinilah aku saat ini, berdiri di depan tumpukan pembalut wanita dengan berbagai merek dan ukuran yang ada di mini market ini. Aku memindai barang pesanan Wangi itu dari rak barang bagian atas sampai ke rak paling bawah dengan mataku namun tidak ada satupun pembalut yang aku mengerti seperti apa yang diinginkan Wangi. Apalagi ada beberapa orang pengunjung wanita di sekitarku yang melirik atau mencuri-curi pandang ke arahku dengan mengulum senyum. Ya kurang lebih aku tahu yang ada di dalam pikiran mereka pada lelaki yang berdiri tepat di depan rak pembalut wanita sepertiku ini. Terus terang ini sangat mengganguku, pandangan mereka yang mengarah padaku membuatku merasa agak risih, namun sebisa mungkin aku abaikan selama mereka tidak menggangguku secara langsung. Kalau begini daripada berlama-lama mending aku telpon Wangi untuk menanyakannya. Dan setelah dering kedua telponku langsung ia angkat.
"Hallo Galih, kamu sudah dapat barangnya?" Itu yang langsung aku dengar setelah telponku terhubung dengannya.
"Belum, saya bingung harus ambil yang mana? Karena ternyata disini ada berbagai banyak merek dan ukuran." Jawabku.
"Oh ya ampuuun... Maaf saya lupa ngasih tahu ke kamu, itu saya biasa pakai yang..." Setelah Wangi menyebutkan merek dan ukurannya aku langsung mengambilnya dan membawanya ke meja kasir.
__ADS_1
Ah sungguh sial karena aku harus mengantre dulu di kasir karena mini market ini lumayan ramai. Maklum hanya mini markat ini yang dekat dari Rumah Sakit jadi banyak sekali pengunjung atau pegawai Rumah Sakit yang memilih mini market ini untuk belanja mereka. Dan sialnya lagi di antrean ini hanya aku yang lelaki, tentu saja membuatku sedikit canggung. Disaat berdiri mengantre seperti ini tiba-tiba seorang ibu-ibu yang berada tepat di belakangku mengajakku berbicara.
"Mas, itu beli buat istrinya ya?" Tanya ibu-ibu itu dengan santainya padaku.
"Hahh? Maaf bu?" Tanyaku balik, mungkin saja tadi aku salah dengar.
"Itu... Mas sedang beliin pembalut buat istrinya? Wah... Saya salut lho sama masnya, biasanya laki-laki suka ogah jika dimintai tolong buat membelikan barang keperluan wanita seperti itu, alasannya malu, suami saya saja yang sudah tua sampai sekarang masih saja malu dan tidak mau jika saya ajak beli dalemannya wanita apalagi pembalut." Ucap ibu-ibu setengah baya itu sambil terkekeh sendiri sementara aku yang mendengarnya hanya bisa meringis mengiyakannya saja daripada lebih malu lagi.
"Maka dari itu saat lihat masnya tadi di rak pembalut wanita saya kagum, masnya ini memang suami siaga, coba suami saya seperti masnya yang tidak malu buat beliin saya pembalut." ibu-ibu itu masih saja mengoceh padahal sudah aku abaikan secara halus, terlebih suaranya yang lumayan keras itu membuat pengunjung lainnya bisa mendengarnya bahkan beberapa dari mereka langsung mengarahkan pandangan ke arah ibu-ibu itu yang sok akrab denganku.
"Maaf, ibunya masih pakai pembalut? Soalnya ibu saya sudah tidak pakai seperti ini lagi." Balasku yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sedikit usil. Dan karena ucapanku itu membuat pengunjung lain yang mendengarnya langsung terkekeh atau sengaja menahan tawanya. Alhasil ibu itu langsung melengos dengan menutup rapat mulutnya. Walau mungkin sedikit jahil tapi itu sukses membuatku menghela napas lega. Kemudian tanpa terasa kini bagianku untuk membayar ke kasir dan setelahnya aku langsung kembali lagi ke Rumah Sakit untuk memberikan barang luar biasa ini kepada Wangi.
POV Galih off
.
.
Galih langsung menuju ke lantai dua Rumah Sakit untuk menemui Wangi yang kini masih mengurung diri di dalam toilet. Setelah Galih tiba di sana dia langsung menghentikan langkahnya dan berdiri diantara dua pintu toilet. Toilet Pria dan Toilet Wanita.
"Aduh gimana ini? Masa aku harus masuk ke toilet wanita sih?" Gumamnya pada diri sendiri.
Galih pun langsung menelpon Wangi yang langsung diangkat di dering pertama.
"Hallo Wang, saya sudah di depan pintu toilet tapi saya kan tidak mungkin masuk ke dalam toilet perempuan." Ujarnya pada Wangi.
"Kalau di sana sepi udah masuk saja... Bentar doang, saya sudah tidak bisa nunggu lagi nih." Sahut Wangi sekenanya tanpa pikir panjang.
"Hahh?!"
__ADS_1
Bersambung....