
Dua hari telah berlalu, hubungan antara Wangi dan Elias berubah menjadi sedikit canggung namun baik Wangi ataupun Elias selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja seperti biasanya. Mungkin hanya Wita saja yang merasakan ada ketidaknyamanan antara keduanya ketika mereka bekerja bersama. Dan tentang pertanyaan Galih tentang pria mana yang menyukai kekasihnya, Wangi memilih tidak menjawabnya dengan alasan privasi dan menjaga agar Galih tidak terlalu waspada karena cemburu serta menghormati perasaan Elias yang sudah ditolak oleh Wangi. Meski demikian Galih sempat merayu Wangi untuk memberitahuinya namun Wangi hanya menjawab jika suatu saat Galih akan mengetahuinya sendiri secara alami dan Wangi meminta agar Galih bersikap biasa saja jika suatu saat mengetahui siapa orang itu karena bagaimanapun Elias adalah kolega Wangi baik di kampus ataupun di Rumah Sakit, Wangi tidak ingin hubungannya dengan Elias menjadi buruk dan mempengaruhi kinerjanya hanya karena masalah hati yang sudah mereka selesaikan secara baik-baik. Syukurlah Galih mengerti dan mau menerima penjelasan serta permintaan Wangi tersebut. Sementara itu Wangi juga masih memikirkan tentang Laras, bagaimana kabar temannya itu? Namun karena kesibukan Wangi yang begitu padat, dia belum sempat menghubungi teman sekolahnya itu. Galih sendiri juga belum ada kesempatan yang pas untuk berbicara dengan Josep mengenai hubungannya dengan Laras.
Saat ini Wangi sedang membuat laporan kerja di ruang kerja poli bedah umum. Terlihat matanya fokus dengan layar laptop dan kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya sementara tangannya tetap bergerak lincah di atas keyboard sampai tidak menyadari jika ponselnya yang berada di atas meja bergetar tanpa suara dering karena memang sengaja disilent. Hingga Lukman yang merasa terganggu oleh getaran ponsel Wangi angkat bicara.
"Wang, angkat tuh!" Seru Lukman yang duduk di sebelah Wangi.
"Hah? Apa?" Tanya Wangi sejenak dan kembali menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.
"Itu angkat!" Seru Lukman lagi sambil mengarahkan dagunya pada ponsel Wangi.
"Apanya yang diangkat? Ambigu banget sih omongan kamu." Sahut Wangi yang masih saja belum sadar jika ponselnya berdering berkali-kali.
"Tckk...Itu hape kamu getarannya sampai ke meja aku, angkat gih! Berisik tau?!" Ujar Lukman sambil memasang muka masam. Maklum beberapa hari ini dia terus begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk, jadinya membuat moodnya hari ini kurang bagus.
"Aduh sorry gak nyadar, makasih ya Luk." Sahut Wangi sambil memperlihatkan ringisannya, dia merasa tidak enak karena tidak sengaja mengganggu Lukman yang sama sibuknya dengannya.
Wangi segera meraih ponselnya dan benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dari papanya.
"Papa? Tumben papa telpon jam segini? Ada apa ya?" Gumam Wangi lirih. Akhirnya Wangi pun menghubungi balik no telpon papanya, dia takut jika ada sesuatu hal yang penting untuk dikatakan. Setelah dering ketiga telponya diangkat oleh papa Rendra.
"Assalamualaikum pa, papa barusan telpon ya? Maaf Wangi gak dengar." Sapa Wangi setelah telponnya terhubung dan mendengar suara 'Hallo' dari papanya.
"Wa'alaikumsalam... Kamu sedang sibuk? Maaf papa ganggu kamu sebentar." Jawab papa Rendra.
"Ya lumayan sih papa, lagi ngerjain laporan kinerja, memang ada yang penting ya? Soalnya tumben saja papa telpon jam segini." Ujar Wangi seraya menanyakan perihal keperluan papanya.
__ADS_1
"Ini kan jam makan siang, jadi papa rasa kamu sedang istirahat makanya papa berani telpon kamu. Ada yang mau papa katakan sama kamu." Jawab papanya.
"Ehh masa sih ini sudah jam makan siang?" Sahut Wangi sembari melirik pada jam tangannya. Dan benar saja waktu sudah menunjukkan pukul. 13.45 WIB. Wangi pun langsung tepok jidat karena tanpa sadar dia sudah melewatkan jam makan siangnya.
"Kamu pasti lupa makan siang kan? Papa kan sudah bilang jangan sampai telat meski sedang sibuk sempatkan sedikit waktu untuk memakan sesuatu meski tidak harus nasi. Nanti kalau mag kamu kambuh yang repot kamu sendiri." Omelan papa Rendra membuat Wangi menghela napasnya, meski sudah dewasa orang tuanya masih saja mengomelinya jika kelupaan atau sengaja menunda waktu makannya dan Wangi tidak bisa membantah sama sekali karena apa yang mama dan papanya katakan memang ada benarnya.
"Iya pa... Habis ini Wangi langsung makan siang, oh ya papa tadi mau bicara apa sama Wangi? Sepertinya penting sekali." Tanya Wangi sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan agar si papa tidak mengomelinya lagi, karena kalau jika sudah mengomel papanya itu tidak jauh beda dengan sang mama, panjangnya minta ampun.
"Ah! Hampir saja papa lupa tadi mau bicara apa, gini sayang...Om Ridwan dan istrinya mengundang kita makan malam, katanya sekaligus ada yang akan mereka bicarakan dengan kita sekeluarga." Kata papa Rendra.
"Makan malam pa? Kapan? Kok Galih tidak bicara apa-apa masalah ini?" Tanya Wangi seraya mengerutkan dahinya.
"Galih katanya juga belum dikasih tahu soalnya memang mendadak, mungkin nanti papa yang kasih tahu karena saat ini Galih lagi sibuk kegiatan di Batalyon dan acaranya besok malam, kamu bisa kan?" Papa Rendra menjelaskan dan bertanya kesediaan Wangi untuk medatangi undangan kedua orang tua Galih.
"Owh gitu ya pa... Bisa kok pa, besok kan Wangi lepas dinas karena hari ini ada tugas jaga, tapi siangnya Wangi musti ke kampus dulu, mungkin gak lama, paling sebelum magrib sudah pulang." Jawab Wangi.
"Iya pa, makasih ya pa..." Balas Wangi.
"Sama-sama, ya sudah papa tutup dulu ya telponnya... Jangan lupa makannya! Assalamu'alaikum." Sahut papa Rendra seraya mengingatkan kembali Wangi untuk jangan lupa makan siang.
"Iya pa... Wa'alaikumsalam..." Jawab Wangi sebelum perbincangan telepon mereka berakhir.
Wangi melirik meja di sampingnya, hanya ada Lukman yang masih sibuk dengan laptop dan berkas-berkas yang lumayan berantakan di atas mejanya. Wangi berpikir mungkin teman seangkatannya itu tidak jauh beda dengan dirinya. Melihat wajah kusut dengan kantong mata yang terlihat jelas, kemungkinan Lukman juga meninggalkan makan siangnya karena yang Wangi tahu sedari tadi di ruangan itu yang tidak beranjak dari tempat duduknya hanya dirinya dan Lukman saja.
"Luk, kamu tidak istirahat dulu? Gak makan siang dulu?" Tanya Wangi pada teman sejawatnya itu.
__ADS_1
"Nanggung Wang, bentar lagi kelar, kamu aja sana istirahat dulu, aku cukup ini saja dulu sementara." Jawab Lukman sambil menunjukkan satu bungkus sanwich yang sudah kosong.
"Hahh... Ternyata cuma aku saja yang memang lupa buat mengganjal perut." Gumamnya dalam hati.
"Ya sudah, aku keluar dulu ya." Pamit Wangi seraya membereskan berkas-berkas di atas mejanya dan menutup kembali laptopnya.
"Hmm..." Lukman hanya menjawab dengan dehaman dengan mata yang tetap fokus pada layar laptopnya.
Wangi beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai satu. Sesampainya di lantai satu dia tidak sengaja melihat Laras yang baru saja memasuki lobby Rumah Sakit.
"Itu kan Laras? Kok dia ada di sini?" Gumam Wangi.
"Laras!" Seru Wangi seraya melambaikan tangannya pada Laras.
"Wangi?" Sahut Laras.
Wangi pun segera menghampiri Laras dengan setengah berlari.
"Laras, kamu kok ada di sini? Ada perlu apa?" Tanya Wangi pada teman sekolahnya itu.
"Aku ingin bertemu dengan seseorang." Jawab Laras.
"Seseorang? Siapa?" Tanya Wangi penasaran dan ada sedikit was-was dengan jawaban Laras nanti.
"Dokter Wulan." Jawab Laras dan Wangi pun hanya dapat menghela napas panjangnya.
__ADS_1
"Hahh... Sudah kuduga." Batin Wangi dalam hatinya.
Bersambung....