Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 114 Erisha dan Soledat Bebas


__ADS_3

Dengan wajah ketakutan yang begitu waspada, Erisha melirik ke arah Romero yang berdiri di samping Soledat, karena tidak biasanya wanita seksi itu mengajak orang lain saat datang menemuinya. Soledat yang menyadarinya pun mengerti...


"Tenang saja... Dia yang akan membantumu, membantu kita." Ucap Soledat lembut sambil melirik ke arah Romero.


"Aku teman kakakmu, Ali." Ucap Romero lirih.


"Sung..guh... Kalian akan membawaku ke kakakku?" Tanya Erisha lirih dengan nada yang terbata. Air matanya luruh tanpa suara, ada sedikit rasa lega di hatinya. Paling tidak masih ada seseorang yang memperhatikannya. Dan mungkin benar-benar menolongnya. Itu yang gadis muda itu pikirkan.


"Tapi kamu harus tenang dan ikuti semua yang aku katakan." Pinta Romero yang langsung diangguki oleh Erisha.


Tanpa membuang waktu lagi, Romero menyibak kain putih yang menutupi bawah stroller yang ia bawa. Erisha pun terkejut dengan apa yang dia lihat. Hampir saja dia memekik saking terkejutnya namun segera mungkin Soledat membungkam mulut Erisha dengan tangannya agar gadis itu diam.


"Sstt...!!" Soledat memberi kode dan Erisha mengangguk mengerti, lalu Soledat melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Eriaha.


"Turunlah!" Perintah Romero agar Erisha turun dari tempat tidurnya.


Setelah Erisha turun, Romero langaung memindahkan Lorena di atas tempat tidur dan membaringkannya.


"Sekarang kamu masuklah ke dalam sana." Perintah Romero lagi agar Erisha masuk ke dalam box besar si bawah stroller tadi yang sudah kosong.


"Mungkin ini akan kurang nyaman, tapi ini jalan satu-satunya agar kamu bisa keluar tanpa ketahuan." Terang Romero. Erisha melihat ke arah Soledat, tatapan matanya seakan menyiratkan tanya 'Apakah tidak apa-apa?' Dan Soledat yang mengertipun mengangguk sambil tersenyum. Meski di sana adalah tempat yang menakutkan dengan orang-orang kasar namun Soledat selalu memperlakukannya dengan baik. Oleh sebab itu bagi Erisha hanya Soledat lah yang masih bisa dipercaya diantara orang-orang jahat uang menyekapnya itu.


"Cepat!" Kata Romero dan tanpa ragu lagi Erisha masuk ke dalam box tersebut. Setelahnya Soledat dan Romero keluar dari kamar tersebut bersama dengan Erisha yang mereka sembunyikan di bawah stroller makanan. Lalu bagaimana dengan kedua penjaga tadi? Apakah mereka curiga dengan gelagat Romero dan Soledat? Oh, tentu saja tidak! Karena sekarang dua penjaga tersebut telah tergeletak di lantai setelah menyantap makanan dan minuman yang sangat istimewa dari Soledat tadi.


"Cepat sekali mereka tidurnya." Ujar Soledat sambil tersenyum. Kemudian dengan cepat Romero melucuti senjata dan pistol yang mereka bawa, lalu secara bergantian Romero memasukkan keduanya di dalam kamar bekas Erisha disekap lalu menguncinya dari dalam. Jadi kini penghuni kamar tersebut telah berganti menjadi tiga orang yang sedang tertidur pulas. Soledat sudah membayangkan bagaimana wajah terkejutnya Lorena karena berada di kamar yang sama dengan dua orang penjaga yang selalu dipandangnya sebelah mata. Pasti lucu banget!

__ADS_1


"Pfftt.. hihihi..." Soledat slcekikikan sendiri membayangkan wajah kesal Lorena yang lucu nantinya membuat Romero mengernyitkan dahinya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Romero.


"Gak papa sih... Cuma ngebayangin gimana lucunya wajah kesal Lorena saat dia sadar nanti hahaha..." Jawab Soledat yang diakhiri tawa yang begitu puas. Terus terang bagi Soledat, Lorena itu adalah wanita yang sangat menyebalkan. Dia dan dirinya mempunyai posisi yang sama di tempat itu, bahkan Soledat lebih duluan datang ke tempat itu. Cuma bedanya Soledat bekerja di sana karena terpaksa demi keselamatan dan biaya pengobatan adiknya. Sedangkan Lorena dia datang sendiri secara suka rela karena ingin hidup enak tanpa harus bekerja keras dan sekaligus mendapat kesenangan. Intinya Lorena itu murni wanita sun**l.


Romero hanya geleng-geleng kepala dana membiarkan saja Soledat yang masih terbahak-bahak. Terserah asal kowe bahagia.


Romero dan Soledat berjalan cepat namun tetap memasang wajah santai seakan tidak terjadi apa-apa. Tujuan mereka adalah tempat laundry yang tidak dijaga ketat oleh penjaga. Paling hanya seorang pekerja wanita setengah baya yang sedang bekerja saat ini. Dan benar saja, di sana hanya ada nyonya Barbara yang sedang menyeterika baju. Dia akan pulang jika sudah jam delapan malam.


"Hallo nyonya Barbara... Kamu terlihat sibuk sekali." Sapa Soledat dengan senyum yang santai.


"Oh Soledat, ada hal apa yang membuatmu datang kemari?" Tanya nyonya Barbara setelah tahu siapa yang datang.


"Ah, karena ini..." Soledat memperlihatkan gaunnya yang sudah terkena tumpahan wine sehingga meninggalkan bekas noda merah di gaunnya. Tadi sebelumnya Soledat dengan sengaja menumpahkan sendiri wine ke gaunnya.


"Trimakasih nyonya Barabar, tidak usah buru-buru...! Santai saja...!!" Teriak Soledat ketika nyonya Barbara sudah maauk ke ruang wardrobe.


Lalu dengan cepat Romero yang tadinya sembunyi di balik tembok ruang laundry keluar dan menuju ke belakang yang terhubung dengan ruang laundry. Sementara itu Soledat langsung mengunci nyonya Barbara di ruang wardrobe. Bukan apa-apa, hanya saja itu akan lebih aman untuk wanita setengah baya itu ketika ada keributan nanti, karena bagaimanapun nyonya Barbara asalah wanita baik yang harus mencari nafkah untuk menghidupi anak-ankanya yang masih sekolah karena tidak ada suami yang membantunya. Suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan. Untungnya ruang wardrobe itu lubang anginnya sehingga udara tetap bisa masuk.


"Maaf nyonyo Barbara, nanti aku akan memgeluarkanmu dari sana setelah semuanya aman." Gumam Soledat yang saat itu belum disadari oleh nyonya Barbar jika dirinya telah dikunci dari luar.


Soledat menyambar baju apa saja yang ada di sana dan dengan cepat dia mengganti pakaiannya. Kemudian dia langsung menyusul Romero dan Erisha yang sudah ada di luar. Saat ini Erisha sudah keluar dari persembunyiannya dan mereka bertiga berjalan melewati jalan yang begitu kecil yang hanya bisa dilewati dua orang saja. Jalan menuju kampung yang biasa dilewati nyonya Barbara ketika pulang pergi bekerja. Tetnyata di sana sudah ada tim penyelamat khusus yang menunggu mereka.


"Sekarang kalian aman. Kalian berdua pergilah bersama mereka." Kata Romero.

__ADS_1


Soledat yang melihat para pria berseragam militer sangat terkejut.


"Jadi kamu ternyata... Hahh!" Soledat tidak mampu berkata apa-apa dan membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya.


"Tahu begini aku tidak usah repot-repot mengunci nyonya Soledat di ruang wardrobe. Lebih baik aku mengajaknya keluar juga dari sana. Kasihan anak-anaknya pasti menunggunya di rumah." Lanjut Soledat.


"Tenang saja, aku akan menyuruhnya segera keluar dari sana." Ujar Romero.


"Kau mau mau kembali lagi? Sendirian? Itu bebahaya!" Ujar Soledat khawatir.


"Temanku masih di dalam sana, lagian bantuan akan segera datang. Bukankah kamu sudah melihat siapa kami sebenarnya?" Balas Romero. Kemudian Soledat melirik para tentara yang ada di samping mereka.


"Ah... Tentu saja. Aku hanya... Masih belum percaya dengan yang terjadi saat ini." Kata Soledat sambil tersenyum antara lega dan khawatir.


"Apakah kakakku juga aman sekarang?" Tanya Erisha.


"Tentu, kamu bisa bertemu dengannya jika pergi bersma mereka. Jangan takut, karena mereka semua orang baik." Jawab Romero yang disertau helaan napaa lega dari Erisha.


"Tolong bawa mereka ke tempat yang aman, yang lainnya ikuti aku!" Perintah Romero pada rekannya.


"Siap!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2