
"Galih sayang... Kamu bukan cenayang kan?" Wangi bertanya takutnya Galih benar-benar punya kekuatan buat meramal seperti tokoh-tokoh novel yang pernah Wangi baca dulu waktu maaih sekolah.
"Haa?? Seriusan ada? Padahal aku cuma asal ngomong saja lho sayang... Terus??" Galih sedikit terkejut dan tidak menyangka jika tebakan dia yang asal itu benar adanya.
"Ya aku tolaklah, aku kan sudah punya kamu." Jawab Wangi tanpa ragu sedikitpun.
"Terus apa masalahnya?" Tanya Galih.
"Masalahnya kami bakalan canggung saat ketemu nanti karena kami adalah kolega yang hampir setiap hari bekerja bareng. Aku harus bagaimana?"
"Ya... Aku mengerti jika situasinya seperti itu pasti akan sedikit mengganggu tapi aku harap kamu tidak terlalu memikirkan hal terseut, aku yakin kalian sudah menyelesaikannya dengan baik jadi bersikaplah senormal mungkin jika kalian bertemu karena itu akan menjadikan semuanya lebih baik dan aku yakin semuanya akan baik-baik saja sehingga hubungan kalian dapat terjalin seperti semula. Ingatlah Wangi dalam berkerja kamu harus selalu bersikap profesional, jangan sampai karena masalah itu memuat pekerjaan kamu terganggu dan merugikan orang lain di sekitar kamu." Layaknya seorang kekasih yang baik yang suatu hari nanti akan menjadi imam untuk Wangi, Galih dengan pikiran dewasanya menasehati dan memberi saran yang terbaik untuk masalah yang dihadapi oleh Wangi, kekasihnya tercinta.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak marah?" Tanya Wangi yang sedikit khawatir jika Galih akan terganggu dan merasa cemburu akan pengakuan cinta Elias padanya. Tapi alih-alih marah atau cemburu Elias justru memberikan nasehat bahkan saran untuk rasa gelisahnya.
"Kenapa aku harus marah? Aku yakin dan percaya sama kamu jika apa yang menjadi keputusan kamu tidak akan mungkin merusak hunungan kita." Jawab Galih sambil menggenggam lembut tangan Wangi.
"Seyakin itu kamu sama aku?" Tanya Wangi untuk meyakinkan perasaan Galih yang sesungguhnya padanya dan dengan sedikit salah tingkah Galih menjawabnya.
"Ehm... Aku sih percaya dengan kamu sayang tapi aku tidak percaya dengan lelaki itu, aku tahu kamu sedah menolaknya dan dia sudah menerima keputusan atas jawaban yang kamu berikan tapi perasaan tersebut tidak akan semudah itu untuk menghilang begitu saja ketika kamu mengatakan 'Tidak' kepadanaya." Jawab Galih.
"Jadi... Kamu cemburu nih intinya?" Tanya Wangi tanpa basa-basi lagi sambil mengulum senyumnya.
"Ya wajarlah, lelaki mana yang tidak cemburu jika kekasihnya dicintai juga oleh lelaki lain, hanya saja aku tidak ingin menjadi lelaki yang egois dalam menjadi hubungan ini, selama kamu jujur dan selalu terbuka padaku itu menandakan kalau kamu juga menaruh kepercayaan yang sama padaku dan aku yakin hubungan kita akan baik-baik saja selama kita saling memahami satu sama lain." Ungkap Galih pada Wangi sepenuh hatinya.
__ADS_1
"Kalau cemburu berarti kamu sayang dong sama aku?" Wangi kembali bertanya dan apakah kali ini Galih akan memberikan jawaban yang membuat hati Wangi berbunga-bunga lagi?
"Tentu saja aku sayang sama kamu, kamu wanita pertama yang mampu menggerakkan hatiku kembali setelah sekian lama mati rasa dan kamulah yang mengembalikan warna dalam hidup aku yang gelap serta sepi selama ini, tapi..." Wangi langsung memotong ucapan setelah mendengar jawaban Galih dengan menutup mulut Galih dengan telapak tangannya.
"Sstt... Jangan diteruskan, itu saja sudah cukup bagiku, aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan, seperti katamu tadi perasaan seseorang itu tidak akan mudah menghilang begitu saja. Aku tahu kamu masih belum mencintaiku dan aku akan menunggu saat itu tiba. Jadi tidak apa-apa begini saja sudah cukup." Ucap Wangi dengan perasaan hati yang sulit untuk diungkapkan. Sedikit sesak dan perih.
"Kenapa hatiku terasa sesak dan sedikit kecewa dengan ucapan Galih? Padahal itu bukanlah suatu kesalahan jika dia berkata demikian, mungkin karena perasaan cinta ini mulai tumbuh." Ungkap Wangi dalam hatinya.
Tiba-tiba Galih meraih tangan Wangi yang menyentuh bibirnya dan mengecupnya, sontak membuat Wangi terkejut. Dia tidak menyangka jika Galuh yang selalu kaki dimata orang lain dapat melakukan hal itu padanya.
"Galih... " Seru Wangi dengan suara lirih sambil menengok kiri kanan karena malu jika adegan tersebut menjadi tontonan orang lain.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, kenapa kamu membungkam mulutku padahal aku belum selesai bicara, jadi kecupan di tangan ini adalah hukuman." Ucap Galih dengan senyum tertahannya yang melihat wajah lucu Wangi ketika mengerucutkan bibirnya karena salah tingkah dan malu.
"Tapi kan malu Lih jika ada yang lihat." Ujar Wangi.
"Mancing-mancing gimana?" Tanya Wangi kurang mengerti.
"Sayang... Kamu tidak tahu selama ini aku sudah menahan untuk tidak mencium kamu di tempat yang aku inginkan, tapi hari ini kamu malah mancing-mancing aku pakai pegang bibir segala, karena aku tidak boleh asal cium jadi aku cuma bisa cium tangan kamu yang nakal saja." Ujar Galih yang langsung membuat mata Wangi melotot seperti hendak keluar.
"Galiihh...!! Sejak kapan kamu jadi genit kaya gini? Pasti belajar dari Riko nih, awas saja itu anak!" Seru Wangi sambil mencubit pinggang Galih yang membuat lelaki itu meringis kesakitan karena kali ini Wangi mencubitnya lumayan keras.
"Aduuhh sakit yang... Kamu kok hobby nyubit sih? Lagian genit dengan calon istri tidak apa-apa, itu kata Riko." Sahut Galih sambil sambil mengusap-usap pinggangnya yang maaih terasa nyut-nyutan.
__ADS_1
"Fix!! Bergaul dengan Riko itu adalah toksin buat kamu." Ujar Wangi yang geregetan dengan Riko sahabat sablengnya.
"Tapi dia kan sahabat kamu." Ujar Galih menimpali.
"Justru karena dia sahabat aku, aku tahu betul segila apa dia." Sahut Wangi.
"Sudahlah sayang... Jangan salahkan Riko karena aku yang meminta bantuan padanya agar kamu bisa cepat mencintai aku, biar kita sama-sama saling mencintai dan bukan aku saja." Ungkapan Galih barusan kembali membuat jantung Wangi berdesir hebat, hampir saja dia tidak dapat bernapas dengan benar karena menahan napasnya sendiri.
"Galih kamu..." Ucapan Wangi terhenti saat melihat senyum hangat Galih.
"Iya sayang... Yang kamu pikirkan benar, entah mulai sejak kapan aku mencintaimu." Pengakuan Galih sontak membuat air mata Wangi mengalir begitu saja tanpa permisi dan jantungnya kembali berdegub kencang, ada rasa bahagia yang membuncah di hatinya.
"Kamu serius kan? Kamu gak bohong kan?" Tanya Wangi yang mulai terisak lirih.
"Heii... Kok malah nangis sih? Aku serius sayang, aku bukan orang yang suka bercanda mengenai hal seperti ini." Wangi langsung menghambur kedalam pelukan Galih setelah endengar jawaban dari orang terkasihnya itu.
"Sayang, Wangi... Kamu tidak apa-apa kan? Jangan nangis dong, aku buat kesalahan ya?" Tanya Galih sambil memeluk dan mengusap-usap punggung Wangi. Dia mencoba menenangkan kekasihnya itu. Mendengar pertanyaan Galih Wangi hanya menggelengkan kepalanya dalam dekapan Galih.
"Lalu kenapa?" Tanya Galih terlihat mulai khawatir.
Wangi melepas pelukannya dan menatap lurus ke wajah Galih.
"Galih... Kita nikahnya gak perlu nunggu aku lulus ya? Karena aku juga sudah cinta sama kamu." Dan Galih pun tersenyum.
__ADS_1
"Apapun buat kamu." Jawab Galih.
Bersambung....