
Kini Galih sudah berada di dalam ruang rawat inap papanya bersama mamanya yang juga berada di dalam sana, sedangkan pak Jalal menunggu di luar bersama Wangi. Selain penjenguk yang dibatasi hanya untuk dua orang, Wangi dan pak Jalal yang berstatus hanya orang luar tidak ingin mengganggu pertemuan keluarga tersebut.
Di dalam ruangan tersebut dua lelaki beda usia itu hanya saling diam. Galih yang menatap lekat ke arah papanya yang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit, sedangkan Ridwan hanya cuek menutup matanya seakan pura-pura tidur.
"Papa tidak usah pura-pura tidur, Galih tahu papa sudah bangun." Ujar Galih yang akhirnya membuka suaranya. Ada perasaan sedikit jengkel dari ucapan lelaki tampan itu. Sedangkan Ridwan yang mendengar ucapan sarkas anaknya akhirnya membuka matanya namun dirinya hanya melirik Galih sebentar lalu kembali mengabaikannya.
"Papa sudah merasa hebat? Sudah merasa kuat? Papa pikir Galih ini masih bocah yang percaya jika papa mengatakan kalau papa itu super hero?!"
Galih mendesah panjang dengan perasaan dongkol di hatinya.
"Huufff...."
"Kok bisa sih ma anak ini sampai di sini?" Alih-alih menghiraukan Galih, Ridwan justru mengalihkan pembicaraan ke istrinya.
Namun sebelum Ratna membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan suaminya, Galih segera memotongnya.
"Pa, Galih ini sedang bicara sama papa, lagian bukan mama atau siapapun yang membawa Galih ke sini. Jadi papa tidak usah mencari pembelaan apapun!" Ada penekanan di suara Galih menandakan dia sudah begitu emosi. Marah? Mungkin, namun semarah-marahnya Galih pada saat itu lebih besar rasa khawatirnya pada sosok papa yang terbaring lemah di hadapannya saat itu. Selebihnya terbersit rasa takut akan kehilangan orang yang dikasihinya untuk ke dua kali.
"Mama tadi tidak sengaja bertemu Galih di lobby ketika ingin menemui pak Jalal, ternyata Galih sedang menjemput Wangi, jadi ya... Mama terpaksa cerita yang sebenarnya pa." Ungkap Ratna pada suaminya.
"Ya sudahlah, lagian papa kan sudah baik-baik saja kan sekarang." Kata Ridwan yang masih tidak mau terlihat lemah di hadapan putranya.
"Jadi kalau tadi Galih tidak ketemu mama di bawah, mau sampai kapan papa merahasiakan penyakit papa? Sampai papa sembuh? Kalau seandainya operasi papa tadi gagal gimana?" Ucap Galih yang sudah tidak habis pikir dengan pikiran papanya itu.
"Kamu nyumpahin papa kamu Lih?!" Ujar Ridwan dengan melirik tajam ke arah Galih.
"Kita ini hanya manusia pa, segala hal bisa terjadi jika Tuhan menghendaki, tidak ada yang tahu kan? Apa papa ingin Galih merasakan penyesalan karena tidak tahu apa-apa? Galih sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menyesal seumur hidup dan sekarang papa mencoba untuk mengulangi memberi rasa itu? Galih kecewa sama papa." Ungkap Galih dengan perasaan yang sesak di dadanya.
"Lih... Sudah ya nak, papamu itu masih sakit jangan emosi dulu ya sayang... Papa juga, papa sudah salah mending diam saja, sudah tua masih saja tidak mau ngalah." Ujar Ratna melerai pertengkaran antara anak dan suaminya.
Mereka terdiam sejenak sampai suara Ridwan memecahkan kesunyian itu.
"Papa minta maaf, papa hanya tidak ingin kamu khawatir dan mengganggu pekerjaan kamu." Ungkap Ridwan yang akhirnya mengakui kesalahannya karena egonya itu.
"Tapi meski demikian papa gak boleh dong menyembunyikan semuanya dari Galih, apa papa sudah tidak menganggap Galih? Galih merasa sangat bodoh sekali karena mengetahuinya belakangan. Galih malu sebagai anak pa..." Galih mengusap wajahnya dan menghembuskan napasnya kasar, mencoba meredam rasa gemuruh di dadanya.
__ADS_1
"Maaf." Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan kembali oleh Ridwan. Ada rasa penyesalan di hatinya.
"Pa, Galih sayang sama papa, apa papa masih marah dengan Galih karena sudah menolak untuk meneruskan perusahaan dan bisnis papa?" Ujar Galih yang menerka-nerka isi hati papanya.
"Dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi karena papa punya rencana buat ngasih perusahaan papa ke menantu papa nanti." Ungkap Ridwan dengan tegas dan percaya diri. Ratna yang mendengar penuturan suaminya hanya mampu diam saja, tidak menanggapi apa-apa, terserah kini suaminya mau bilang apa, Ratna hanya menyimaknya saja.
"Terserah papa, lagian itu masih jauh, jangan berharap terlalu tinggi." Balas Galih yang tidak terlalu menanggapi serius perkataan papanya.
"Kita ini manusia yang hanya bisa berjuang dan berdo'a, selebihnya Tuhan yang mengaturnya. Kan kamu sendiri yang bilang seperti itu tadi." Ujar Ridwan membalikkan ucapan Galih tadi.
"Terserah papa saja." Akhirnya Galih lelah sendiri untuk berdebat dengan papanya.
"Sudah cukup! Kalian ini sama-sama keras kepalanya. Lih, mending kamu balik sekarang, kasihan Wangi nungguin dari tadi. Dia itu pasti capek banget lho... Dari tadi dia itu sudah merawat papa kamu." Perintah Ratna mengingatkan putranya.
"Apa? Wangi nunggu Galih di luar?" Tanya Ridwan yang setengah terkejut.
"Iya, tadi dia mau pulang sama Galih tapi malah ketemu mama sama pak Jalal di lobby." Terang mama Ratna.
"Gimana sih masa calon mantu papa dibikin nunggu di luar!" Gumam Ridwan dengan sedikit menggerutu lirih.
"Bukan apa-apa, sudah sana cepat antar Wangi pulang, kasihan sudah nungguin dari tadi." Ujar Ridwan setengah mengusir Galih untuk cepat-cepat pulang.
"Iya iya... Galih pamit dulu, kalau ada apa-apa segera hubungi Galih ya ma." Ucap Galih sembari pamit pada kedua orang tuanya.
"Iya, lagian ada pak Jalal juga di sini, kamu tidak usah khawatir. Kamu nyetirnya yang hati-hati, salam buat Wangi." Pesan mamanya.
"Iya ma, Galih pergi dulu. Assalamu'alaikum." Pamitnya sekali lagi.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab kedua orang tuanya.
Galih keluar dari ruang rawat inap papanya dan mendapati Wangi yang tengah duduk di kursi tunggu depan kamar inap tersebut. Matanya terpejam seperti orang yang sedang tertidur dalam keadaan duduk, sehingga dia tidak menyadari bahwa Galih sudah keluar dari dalam sana. Di sana juga ada pak Jalal yang sama menunggunya dengan Wangi. Namun pak Jalal langsung menyadari saat Galih keluar dari ruang inap bossnya dan langsung berdiri menghampiri Galih.
"Mas Galih sudah selesai? Bapak gimana?" Tanya pak Jalal.
"Papa sudah baikan, lebih baik pak Jalal langsung masuk saja, sudah ditungguin mama papa di dalam." Jawab Galih dan matanya kembali mengarah ke arah Wangi yang masih tertidur. Pak Jalal yang menyadari kemana arah pandang mata Galih langsung membuka suaranya kembali.
__ADS_1
"Sepertinya bu Dokter cantik itu kelelahan saat menunggu mas Galih di dalam." Ujar pak Jalal dengan senyum di bibirnya.
"Sepertinya begitu." Galih membenarkan.
"Kalau begitu saya masuk dulu mas." Pamit pak Jalal.
Galih mengangguk.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya pak." Pesan Galih pada sekretaris papanya tersebut.
"Baik mas." Jawab pak Jalal sambil mengangguk dan berjalan masuk ke dalam ruang inap bossnya setelah mengetuk pintu.
Kemudian Galih berjalan menghampiri Wangi yang masih tertidur dalam duduknya. Galih tidak langsung membangunkan dokter cantik yang sudah dia kawal beberapa hari itu. Galih justru ikut duduk di sebelah Wangi. Matanya mengamati wajah Wangi yang sedang tertidur pulas. Entah mengapa dia tiba-tiba tertarik mengamati wajah perempuan cantik yang tertidur di sampingnya itu. Cantik? Iya, tanpa sadar dalam hatinya Galih mengakui kecantikan alami Wangi. Dia mengamati wajah Wangi mulai dari alis perempuan itu yang tertata rapi alami, bulu matanya yang lebat dan lentik, kulit wajah yang bersih mulus tanpa jerawat satupun dan terakhir bibir tipisnya yang dipoles dengan lipstik berwarna nude terlihat alami di bibirnya.
"Cantik." Gumam Galih dalam hatinya.
"Ahh! Apa sih yang aku pikirkan?" Galih langsung tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Dan setelah itu tanpa sengaja seuntai rambut Wangi jatuh menutupi wajah gadis ayu itu.
Tangan Galih bergerak spontan dan tanpa sadar berusaha menyibak rambut Wangi yang menutupi wajahnya. Namun baru saja ujung jari Galih menyentuh rambut Wangi, perempuan itu sudah bangun dan membuka matanya. Karena terkejut Galih langsung menarik tangannya kembali dan langsung berdiri dari duduknya.
"Lho... Galih, kamu sudah selesai?" Tanya Wangi setelah membuka matanya dan melihat Galih di hadapannya.
"Kamu sudah bangun? Maaf, kamu pasti capek ya nunggu saya dari tadi. Kita pulang sekarang?" Ucap Galih salah tingkah.
"Ahh, tadi saya ketiduran ya? Kenapa tidak bangunin saya?" Tanya Wangi.
"Saya baru keluar kok, tadi mau bangunin kamu tapi kamu sudah bangun duluan." Galih menyanggahnya.
"Ohh... Ya sudah yuk pulang." Wangi langsung bangkit dari duduknya dan mengajak Galih untuk segera pulang, Wangi sudah ingin cepat-cepat sampai ke rumahnya dan merebahkan diri di kasur kesayangannya. Dokter muda itu sudah benar-benar merasa lelah.
"Iya." Jawab Galih sambil mengikuti Wangi yang berjalan di depannya.
"Ya ampun... Apa sih yang baru saja aku pikirkan?" Gumam Galih dalam hatinya seraya mengusap kasar wajahnya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1