
"Kamu?"
"Kamu?"
Elias dan si Koas baru saling bertatapan, mereka berdua sama-sama terkejut ketika melihat wajah satu sama lain. Mereka berdua tidak menyangka jika kejadian Elias yang hampir menabrak seorang wanita muda tadi malam akan berlanjut di UGD Rumah Sakit dimana Elias menyelesaikan tugas Residennya. Karena si Koas tersebut adalah wanita muda yang hampir tertabrak oleh Elias tadi malam.
"Kamu yang tadi malam kan? Kamu Koas baru di sini?" Tanya Elias dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
"Iya, masnya juga ternyata dokter di sini? Kebetulan banget." Ujar Koas baru itu dengan polosnya.
"Eh i iya, kebetulan ya?" Elias tiba-tiba mendadak kaku setelah mengetahui suatu kebetulan bak yang terjadi di sinetron-sinetron yang sering mamanya tonton.
"Ehm... Ya sudah kita bicarakan nanti, sekarang kita pantau keadaan pasien, saya akan periksa yang lainnya. Mungkin Dokter Alfa sebentar lagi akan datang, kamu tunggu saja di sini sambil mengamati Dokter Sandy dan para Dokter Residen yang lainnya bagaimana mereka menangani pasien, tak terkecuali dengan yang lainnya." Ucap Elias memberikan intruksi kepada Koas baru itu dengan teman-temannya.
"Baik Dok." Jawab para Koas baru yang ada di sana secara bersamaan.
Elias memijit ujung pangkal hidungnya dengan dahi berkerut. Kepalanya sedikit berdenyut, sebenarnya bukan karena pusing, hanya saja dia tidak menyangka sebuah kebetulan seperti ini terjadi dalam hidupnya. Baru tadi malam dirinya meminta maaf kepada seseorang karena kecerobohannya yang hampir saja menabrak orang tersebut namun paginya justru yang terjadi adalah sebaliknya, dirinya yang marah-harah dan orang itu yang minta maaf, sedikit aneh memang. Dan yang tersisa sekarang dari Elias adalah rasa canggung yang dibarengi oleh rasa malu. Ya...meski sekarang ini dirinyalah yang dalam posisi benar, tapi tetap saja keadaan saat ini membawa dirinya dalam suasana yang berubah menjadi awkward.
"Hai! Mikirin apa sih?" Tepukan Sandy di bahu Elias menyadarkan pikirannya yang sesaat berkelana.
"Ngagetin aja sih kamu!" Gertak Elias.
"Lha situ dipanggil-panggil dari tadi diam saja, ngelamunin apa sih kamu?" Sandy memicingkan mata curiga pada sahabatnya itu.
"Bukan apa-apa cuma agak pening aja, aku kan baru sembuh kemarin." Sahut Elias memberi alasan.
"Makanya jangan marah-marah mulu... Anak Koas baru masuk hari ini sudah kamu omelin." Sindir Sandy pada Elias.
Deg!!
Jantung Elias langsung mencelos, sindiran Sandy terhadapnya langsung kena sasaran seakan sahabat tengilnya itu tahu betul apa yang tengah terjadi pada dirinya saat itu dan saat ini.
"Nanti cepat tua, kalau kamu keriput Wangi bakalan ogah deket-deket kamu lagi haha..." Ejek Sandy kemudian.
"Ahh... Wangi lagi, kenapa semuanya kembali lagi pada Wangi?" Pikir Elias dalam hatinya.
__ADS_1
"Apaan sih?! Gak jelas!" Ujar Elias sengit, sementara Sandy justru masih terkikik geli melihat wajah Elias yang terlihat sebal dengan jelas.
Tidak lama kemudian Profesor Wigih dan Dokter Alfa datang bersamaan.
"Maaf saya tadi masih ada operasi dadakan bersama Profesor Wigih, untung saja kalian berdua bisa diandalkan." Ujar Dokter Alfa pada Elias dan Sandy seraya menepuk bahu mereka bergantian.
"Ini sudah menjadi kewajiban kami." Sahut Sandy.
"Tadinya satu jam yang lalu setelah operasi selesai saya mau langsung kemari karena khawatir dengan Koas-Koas saya, tapi kata Profesor Wigih semuanya bisa diatasi oleh Dokter Elias, jadi saya terimakasih banyak sudah menggantikan saya satu jam kebelakang untuk menjaga para Koas baru." Ucapan Dokter Alfa barusan langsung membuat mata Elias mendelik dan mulut yang menganga karena terkejut sementara Sandy pun juga merasakan keterkejutan yang sama. Sepertinya para dokter senior itu sedang mengerjai mereka.
"Jadi operasinya sudah selesai dari satu jam yang lalu Dok?" Tanya Elias seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Dokter Alfa.
"Ya benar, kenapa? Ada masalah?" Tanya Dokter Alfa balik.
"Ah tidak Dok." Jawab Elias seraya melirik tajam ke arah Profesor Wigih, namun Profesor Wigih pura-pura acuh dan tidak peduli dengan memalingkan wajahnya.
"Ehm... Bagaimana kondisi para pasien?" Profesor Wigih langsung mengalihkan pembicaraan seraya melangkah ke brankar para pasien.
"Prof..." Panggilan dari Elias tidak dihiraukan oleh Profesor Wigih.
"Profesor Wigih..." Profesor Wigih tetap tidak menghiraukannya dan justru mengalihkan panggilan dari Elias dengan tetap terlihat fokus dengan para pasien kecelakaan tadi.
"Awas saja nanti aku kerjai balik." Gerutu Elias dalam hati.
"Baik Prof." Elias menghela napas sembari mengiyakan perintah Profesor Wigih.
"Oh iya Dokter Elias, saya minta bantuan sekali lagi, tolong bawa ketiga Koas baru yang ada di sini agar mereka bisa belajar secara langsung." Ujar Dokter Alfa sebelum Elias dan salah seorang perawat lelaki akan membawa pasien keluar ruang UGD.
"Baik Dok." Jawab Elias tanpa ekspresi, hari ini hatinya dibuat dongkol oleh profesornya dan sekarang Dokter Alfa ikutan juga.
"Sabar...." Gumam Elias dalam hati.
Setelahnya dia dan ketiga Koas baru beserta salah satu perawat lelaki membawa pasien korban kecelakaan itu ke ruang rotgen. Sesampainya disana Elias langsung menyerahkan pasien tersebut pada petugas bagian rontgen dan memberikan intruksi kepada para Koas untuk melihat, mengamati dan mencatat bagian yang dianggap penting sambil menunggu hasil rontgen.
Elias melirik ke arah Koas perempuan yang hampir dia tabrak tadi malam. Terlihat perempuan itu fokus mencatat diatas note book kecilnya. Elias melirik dan sempat membaca apa yang perempuan itu tulis.
__ADS_1
Elias tersenyum tipis ketika membaca apa yang dicatat perempuan Koas tersebut. Meskipun jaraknya tidak terlalu dekat namun tulisannya cukup jelas untuk dibaca oleh Elias, apalagi tulisannya rapi begitu.
"Jeli juga dia." Gumam Elias dalam hati sambil tersenyum tipis.
Tanpa disadari Koas perempuan itu tiba-tiba menengok ke samping tempat Elias berdiri. Sontak mata mereka berdua beradu yang membuat Elias terkejut.
"Ada apa Dok?" Dengan lugunya si Koas perempuan justru bertanya pada Elias.
"Tidak, bukan apa-apa." Jawab Elias seraya mengalihkan pandangannya ke depan.
"Oh... Kirain?"
"Kirain apa?" Elias langsung memotong perkataan calon dokter muda itu.
"Eng..enggak Dok, kirain tadi Dokter ngelihatin saya." Sahutnya dengan ringisan yang mempertontonkan gigi gingsulnya.
"Anda terlalu percaya diri." Elias langsung menyanggahnya dengan kata-kata untuk menutupi kebenaran bahwa dia memang benar sedang mengamati si Koas baru yang entah mengapa membuat dirinya seakan penasaran dengan wanita disebelahnya saat ini itu.
"Hehe lebih baik PD ketimbang minder Dok." Jawabnya dengan ringisan polosnya.
"Ni cewek bisa ngejawab juga, gak heran sih kemarin saja aku dapat kuliah subuh darinya gegara hampir nabrak dia doang." Batin Elias sambil mengerutkan keningnya menatap perempuan Koas itu.
"Itu salah satu selogan hidup saya Dok." Ujar Koas itu lagi.
"Selogan yang aneh, nama kamu siapa? Kenapa tidak ada nama tag di jas kamu?" Akhirnya Elias menanyakan nama Koas baru itu.
"Nama saya Perwita Sekar Arum, Dokter bisa memanggil saya Wita. Tag nama saya ketinggalan di loker belum sempat saya pasang karena terburu-buru lari ke UGD." Jawab Koas baru tersebut yang ternyata bernama Wita itu.
"Ceroboh! habis ini kamu ambil, tanpa nama tag itu dokter pengawas akan kesulitan memberi nilai pada kamu, rekan yang lainnya juga kesulitan jika ingin memanggil nama kamu, kamu pikir semua orang di sini mengenal kamu semua?" Ucap Elias dengan nada datar namun syarat akan penekanan membuat Wita seketika membatu dan merubah wajahnya menjadi lebih serius, dia sadar jika saat ini Elias sedang dalam suasana yang kurang bagus, terlebih dirinya melakukan kesalahan di hari pertamanya masuk sebagai Koas.
"Baik Dok." Jawab Wita seraya menundukkan wajahnya.
"Percaya diri itu bagus, namun jika berlebihan itu akan menjadi boomerang bagimu." Setelah mengatakan itu Elias mendekati petugas di bagian rontgen yang sepertinya sudah selesai mencetak hasil pemeriksaan.
Wita menatap punggung Elias yang melangkah jauh di depannya, dia menerka-nerka apakah hari-harinya sebagai Koas di Rumah Sakit Universitas ini akan menjadi sulit atau justru akan menjadi lebih menantang karena ada Elias di sini? Tapi satu hal yang pasti dia tahu, menghadapi Elias yang merupakan Dokter Residen di sana lebih rumit dibanding menghadapi para dokter pengajar saat ini.
__ADS_1
"Hmm... Laki-laki yang menarik." Gumam Wita lirih dengan senyum smirk-nya.
Bersambung....