
Di ruang inap Ridwan, Ridwan sedang berbincang-bincang dengan Ratna istrinya. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu sembari Ratna mengupas buah pir untuk suaminya. Semakin hari terlihat kondisi Ridwan semakin membaik.
"Pa, mau sampai kapan papa menyembunyikan fakta sebenarnya pada Galih?" Tanya Ratna pada suaminya.
"Sabar sebentarlah ma... Tunggu papa pulang dari Rumah Sakit, nanti kita akan adakan pertemuan keluarga dengan Rendra, lagian Rendra sudah menyetujuinya." Jawab Ridwan.
"Tapi ingat pa, papa nanti harus mengatakannya dengan hati-hati pada Galih, papa tahu sendiri kan bagaimana perangai anak kita itu." Kata Ratna mengingatkan.
"Tentu saja ma, mama tidak perlu khawatir soal itu." Ujar suaminya.
Selang beberapa saat perbincangan mereka berdua terhenti karena terdengar sebuah suara ketukan dari arah pintu. Setelah dipersilahkan masuk oleh Ratna, ternyata yang datang adalah Wangi. Melihata siapa yang datang ke kamarnya, membuat Ridwan langsung tersenyum sumringah, begitu pula Ratna juga terlihat senang akan kehadiran Wangi.
"Astaga... Siapa ini yang datang? Ternyata dokter cantik toh." Ujar Ridwan yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya itu.
"Ah, om Ridwan bisa saja, bagaimana keadaan om hari ini?" Ujar Wangi menanggapi Ridwan dengan sedikit merasa malu akan pujian sahabat papanya itu.
"Berkat perhatian kamu sekarang keadaan om jauh lebih baik dari kemarin." Lagi-lagi pujian Ridawan itu membuat Wangi merasa salah tingkah, dia tidak menyangka sahabat papanya itu ternyata orang yang suka memuji berlebihan sehingga membuat orang yang dipujinya merasa malu sendiri.
"Dari tadi suami tante ini nanyain Dokter Wangi terus, katanya dia lebih bersemangat jika Dokter yang merawatnya." Ucapan Ratna itu malah membuat Wangi merasa tidak nyaman, bukan berarti dia tidak suka jika pasiennya merasa nyaman akan perawatannya, namun entah mengapa setelah mendengar apa yang dikatakan Dino tadi pagi membuat dirinya kurang nyaman, terlebih dengan pujian-pujian barusan yang dilontarkan oleh kedua orang tua Galih tersebut.
"Saya turut senang jika om merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan Rumah Sakit kami." Wangi sengaja memberikan jawaban secara formal selayaknya seorang dokter terhadap pasiennya. Dia tidak ingin memberikan ruang khusus terhadap pasiennya meski itu adalah orang yang dikenal baik oleh orang tuanya. Bukannya apa-apa, hanya saja Wangi tidak ingin menimbulkan prasangka dari orang-orang sekitarnya di lingkungan tempat kerjanya.
"Iya tentu saja kami sangat puas, terimakasih." Sembari tersenyum Ratna menanggapinya sambil melirik ke arah suaminya. Sepertinya Ratna sadar jika Wangi merasa kurang nyaman akan ucapan suami dan dirinya.
"Sama-sama tante." Balas Wangi dengan tersenyum pula.
"Sebentar om, maaf saya cek dulu kesehatannya." Ucap Wangi meminta ijin yang langsung diiyakan oleh Ridwan dan istrinya.
Setelah memeriksa dan memberitahu keadaan Ridwan saat ini yang semakin baik saja, Wangi mengedarkan matanya ke penjuru ruangan tersebut seakan mencari-cari sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa Dok? Dokter mencari sesuatu?" Tanya Ratna yang melihat Wangi yang memandangi ke arah sekitar kamar inap suaminya.
"Ahh bukan apa-apa tante, hanya saja saya tidak melihat Galih dari tadi, soalnya tadi dia bilang ingin menunggu papanya di sini seharian." Jawab Wangi sedikit canggung.
"Ohh... Kalau Galih tadi sebelum Dokter Wangi kesini, dia keluar buat beli bubur sumsum, ini papanya katanya ingin makan bubur sumsum yang ada kuah juruh gula merahnya, maklum mulut papanya masih terasa pahit dan kurang berselera dengan makanan di Rumah Sakit." Terang Ratna.
"Oh begitu ya... Om yang sabar dulu ya? Merasakan hambar pada makanan untuk orang yang sedang sakit itu wajar, makanan di sini sudah standar kesehatan dan disesuaikan dengan keadaan pasien, tidak apa-apa beli di luar asal bersih dan sehat, dan juga makanan di sini wajib dimakan ya om..." Terang Wangi dengan sabar meski di luar dia sedikit bar-bar namun dia akan berubah seratus delapan puluh derajat jika menyangkut pasiennya.
"Haha... Tentu saja saya harus mengikuti peraturan, jika tidak istri dan anak saya pasti sudah mengomeli." Kata Ridwan sambil bercanda.
"Ah dimana-mana orang lebih takut dengan istri atau anaknya dibandingkan dengan dokternya." Gerutu Wangi dalam hati.
"Mungkin sebentar lagi Galih juga kembali, katanya belinya tidak jauh dari sini." Ungkap Ratna pada Wangi.
"Iya tante tapi sepertinya say..."
"Wangi..." Gumam Galih begitu saja secara alami.
"Hai..." Sapa Wangi sembari mengangkat tangannya.
"Hai... Sudah dari tadi?" Balas Galih dengan pertanyaannya.
"Iya, cuma cek rutin saja dan hasilnya bagus, ini saya sudah mau balik." Jawab Wangi yang ingin segera keluar dari ruangan tersebut, entah mengapa sekembalinya Galih membuat dirinya merasa kurang nyaman dan...salah tingkah?
"Lho... Kok sudah mau balik? Baru saja Galih datang, kita makan kue sama-sama sebentar, kebetulan Galih juga beli kue-kue basah juga. Iya kan Galih?" Tutur Ratna namun sayang sekali ajakan baiknya itu harus ditolak Wangi.
"Maaf tante bukannya saya tidak sopan, Dokter dilarang makan bersama dengan pasiennya ketika sedang bertugas untuk menghindari hal-hal tertentu menyangkut kode etik. Jadi sekali lagi saya minta maaf harus menolaknya." Tolak Wangi secara sopan dan menjelaskan keadaannya saat itu agar tiadak timbul kesalah pahaman antara mereka.
"Ma, benar kata Wangi, di sini Wangi sedang bertugas jadi mama jangan ganggu dong." Kata Galih menengahi, meski ada rasa sedikit kecewa namun Ratna mengerti bahwa dirinya juga salah, tidak seharusnya dia menyusahkan Wangi saat ini.
__ADS_1
"Maafin tante ya? Tante terlalu bersemangat." Ucap Ratna merasa menyesal.
"Tidak apa-apa tante." Jawab Wangi dengan tersenyum.
"Sudah-sudah, nanti kalau aku sudah sembuh kita kan bisa makan bersama dan mengundang Rendra beserta keluarganya, bukan begitu Dokter Wangi?" Kata Ridwan yang membuat istrinya kembali sumringah namun justru membuat Wangi semakin tidak enak hati.
"I iya om, yang penting om sembuh dulu." Jawab Wangi sekenanya saja agar tidak berlarut-larut karena dia sudah merasa suhu di ruangan tersebut semakin naik dan membuatnya gerah.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya om, tante, Galih." Pamit Wangi yang ingin segera melangkah pergi.
"Iya, selamat bekerja ya... Terimakasih sudah melihat om." Ujar Ridwan.
"Sama-sama om, mari..." Jawab Wangi segera undur diri.
Akhirnya Wangi bisa pergi juga dari kamar inap Ridwan yang sudah membuat dirinya dag dig dug ser seakan menghadapi mertua untuk pertama kalinya. Hahh mertua??
Belum selangkah dia melangkahkan kakinya setelah menutup pintu ruangan tadi, sebuah notifikasi pesan masuk ke phonselnya. Setelah dia buka ternyata itu dari Galih.
"Maaf jika orang tuaku tadi membuatmu merasa tidak nyaman, dan hubungi saya jika kamu akan pulang nanti."
Pesan dari Galih yang baru saja dia baca itu entah mengapa membuat hati Wangi semakin berdebar dan membuat hatinya menghangat.
"Kok aku semakin gerah ya? AC nya bocor kali ya?" Gumam Wangi bermonolog dan akhirnya dia segera bergegas pergi dari lorong depan ruang kamar VIP tersebut.
Dilain sisi Galih tersenyum tipis ketika menerima balasan dari Wangi.
"Iya... Saya ngerti bawel...."
Bersambung....
__ADS_1