Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 129 Kondangan


__ADS_3

Dua minggu setelah kepulangan Wangi dari Lebanon, ada undangan pernikahan yang datang Riko. Akhirnya sahabat kental Wangi itu mantap menikahi kekasihnya Mayang.


"Tak kusangka Ko, akhirnya kamu nikah juga setelah sekian lama pacaran sampai lumutan sama Mayang." Ujar Wangi ketika mendapatkan undangan pernikahan pagi itu dari Riko yang sengaja menyempatkan mengantarnya sendiri sebelum berangkat ke Rumah Sakit.


"Lumutan? Kamu pikir ikan pembersih kaca?!" Sungut Riko sementara Wangi malah terkikik geli.


"Hihihi... Bercanda Ko, masak calon pengantin ngambekan..? Btw, selamat ya Ko... Semoga nanti acaranya lancar dan langgeng terus sama Mayang." Ucap Wangi tulus.


"Iya, makasih ya Wang... Kamu juga semoga cepet nyusul, jangan nyusul ke Lebanon lagi tapi nyusul nikah kayak aku." Ujar Riko yang juga mendo'akan Wangi.


"Amin... Nyusul nikah sih pasti, tapi kan nunggu partner aku pulang dulu." Jawab Wangi.


"Ciee... Partner, dulunya ogah-ogah... Kemarin sampai rela nyusulin ke Lebanon. Kebukti kan omangan aku dulu, kalau kamu bakalan bucin setelah jadian sama Galih." Kata Riko sambil meledek Wangi.


"Ckk, ngeledek aja terus... Udah sana berangkat! Ntar malah telat lagi kamu, kasihan bumil yang nunggu lahiran bisa-bisa mbrojol duluan kelamaan nungguin kamu!" Usir Wangi agar Riko cepet-cepet pergi dari rumahnya sebelum bikin ricuh di sana.


"Kamu sendiri nggak ke Rumah Sakit?" Tanya Riko yang masih betah duduk di teras rumah Wangi meski sudah diusir oleh pemilik rumah.


"Ntar jadwalku agak siangan. Udah cepet pedgi sana..!" Usir Wangi lagi.


"Iya, iya... Yaelahh... Punya teman gini amat! Pokoknya jangan sampai gak datang ya!" Ujar Riko seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, iya... Aku pasti datang. Takut banget aku gak datang bawa angpau." Sahut Wangi seraya bercanda.


"Jangan bikin alasan jones karena gak ada pasangan datang! Ntar aku suruh si Bram buat nemenin kamu." Ancam Riko sebelum keluar dari pagar rumah Wangi. Bram itu Dokter Obgyn sama seperti Riko yang baru saja pindah ke Rumah Sakit Universitas satu tahun yang lalu. Dia naksir Wangi setelah melihatnya yang cantik saat makan di kantin Rumah Sakit bareng Riko. Tapi sayang, Bram itu bukan tipe Wangi. Lelaki itu terlalu gemulai untuk ukuran lelaki meski dirinya itu lelaki normal pada umumnya.


"Dasar kampret..! Sudah cepetan pergi sana!" Seru Wangi mengusir, dia jadi kesal sendiri dengan kebawelan dan keusilan mulut Riko. Setelah Riko pergi dengan sepeda motornya, Wangi lekas masuk kembali ke dalam rumahnya sambil mententeng undangan pernikahan Riko dan membawanya ke dalam kamar.


"Acaranya satu minggu lagi. Aku datang sama siapa ya? Yang lainnya sudah pasti datang dengan gandengan mereka masing-masing. Sama mama papa kali ya? Mereka kan juga dapat undangan sendiri. Yah... Mau gimana lagi? Yang mau diajak kondangan masih di luar jangkauan sih..." Gumam Wangi bermonolog sambil melihat undangan pernikahan Riko dan Mayang.


...****************...


Satu minggu kemudian di acara resepsi pernikahan Riko dan Mayang...


Akhirnya Wangi yang tidak punya pasangan ke kondangan datang bersama papa dan mamanya yang juga teman dari orang tua Riko. Di sana dia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang juga teman sesama dokter di Rumah Sakit yang sama dengan dirinya dan Riko. Siapa lagi kalau bukan Erika dan Wulan yang membawa suami kereka masing-masing. Sebagai info saja jika Erika dan Dokter Sandy telah menikah dua bulan yang lalu sebelum Wangi kembali ke Indonesia. Sedangkan Elias datang bersama Wita.


"Ya ampun Wul... Perut sudah besar begini, bentar lagi juga brojol kok nekat datang sih? Gak capek kamu? Duduk, duduk sini... Jangan berdiri, ntar kamu capek lagi." Ujar Wangi yang heran dengan dengan bumil satu itu yang masih aja lincah di waktu lahiran yang sudah dekat.

__ADS_1


"Tadinya sudah aku bilang gitu Wang.. Biar aku saja yang datang, dia di rumah saja bi Uti tapi gak mau. Katanya pengen lihat pengantinnya." Kata Jarno sambil memapah istrinya ke tempat duduk.


"Gak tau nih, bawaannya pengen kesini aja lihat pengantinnya. Anak aku mungkin pengen lihat yang cantik-cantik kali ya..." Sahut Wulan samnil mengelus-elus perutnya yang sudah besar.


"Eh, btw...kok Lukman dari tadi gak kelihatan ya? Jangan-jangan lagi asyik ngabisin makanan di meja prasmanan, haha..." Tanya Erika sambil menduga-duga.


"Bukan di meja prasmanan... Tuh lihat!" Tunjuk Elias.


"Ya elah monyeeett... Ternyata mojok sama Anne to? Ckck..." Umpat Wangi sambil geleng-geleng kepala.


"Biarinlah kak... Kasihan Dokter Lukman sudah lama ngejar-ngejar suster Anne tapi gak dapet-dapet. Siapa tahu kali ini suster Anne bisa luluh." Kata Wita.


"Aku gak tahu jurus apa yang dia pakai sampai gak mempan gitu sama Anne, padahal dari di Lebanon dia sudah mepet Anne terus. Salah jurus kali dia ya...?" Ujar Wangi yang kasihan juga melihat teman sejawatnya itu yang berusaha keras untuk mendapatkan hati sang pujaan hati.


"Itu Anne nya yang kelewat jual mahal, padahal dia sendiri sering juga curi-curi pandang ke Lukman. Ntar kalau Lukman sudah capek ngejar, baru deh nangis..." Seloroh Sandy.


"Eh, kamu sampai mengamati segitunya ya yang?" Tanya Erika pada Sandy.


"Ya gimana gak tahu? Lha wong Anne kan sekarang asisten perawat aku." Jawab Sandy.


Mereka semua asyik ngobrol sambil menikmati makanan yang tersaji di acara tersebut sampai seseorang datang dan dengan beraninya melahap makanan yang akan Wangi masukkan ke dalam mulutnya. Wangi sempat terkejut namun dia lebih terkejut lagi siapa biang pelakunya. Bahkan teman-temannya yang lain pun juga terkejut.


"Ga..lih...?" Wangi sampai tergagap menyebut nama orang tersebut yang ternyata Galih.


"Hai sayang... Aku merindukanmu." Ucap Galih sambil tersenyum sangat manis ke arah Wangi.


"Kok kamu ada di sini? Bukannya dua bulan lagi baliknya?" Tanya Wangi yang masih terlihat shock melihat Galih yang seharusnya masih ada di Lebanon justru kini ada di hadapannya sedang tersenyum padanya.


"Jadi kamu lebih suka aku ada di Lebanon daripada di sini nemenin kamu? Ya sudah, aku balik aja..."


"Eh, jangan...!!" Sahut Wangi cepat yang berdiri meletakkan piringnya lalu langsung memeluk Galih tanpa peduli pada orang-orang sekitarnya. Galih langsung tersenyum dan memeluk sayang kekasih yang dirindukannya.


"Ehm...."


Dehaman Elias langsung menyadarkan dua sejoli yang dilanda rindu itu, sementara yang lainnya terkikik geli melihat Wangi dan Galih yang salah tingkah.


"Ciee... yang lain pada ngontrak, pfftt..." Ledek Wulan sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


"Selamat datang kembali sob..." Sambut Jarno sambil menyalami Galih ala-ala lelaki.


"Makasih ya No..." Balas Galih.


"Kok kamu pulang gak omong-omong sih Lih?" Tanya Wangi yang masih ingin mendengar penjelasan Galih.


"Sebenarnya kami pulang ke tanah air bukannya dua bulan lagi tapi dua minggu setelah kalian pulang kemarin. Aku cuma ingin bikin kejutan saja buat kamu." Jawab Galih sambil menggenggam erat tangan Wangi.


"Ihh... Jahil banget sih kamu!" Ujar Wangi sambil mencubit mesra pinggang Galih yang tidak terasa sakit sama sekali malah terasa geli saja.


"Ehh, kita kasih ucapan dulu yuk ke Riko mumpung lagi sepi, habis itu kita pulang. Kasihan bumil kalau lama-lama di sini." Ucap Erika.


"Ya udah yuk!" Sahut Wangi yang sisetujuinyang lainnya.


Mereka pun naik ke atas panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat buat Riko dan Mayang yang saat itu terlihat sangat cantik. Mereka menhucapkan selamat satu persatu hingga tiba giliran Wulan.


"Ya ampun... Mayang kamu kelihatan cantik banget deh... Moga anak aku nanti juga cantik seperti kamu." Ucap Wulan sambil mengelus-elus perut buncitnya.


"Makasih Wul, aku do'ain nanti lahiran kamu lancar, debay dan mamanya sehat." Balas Mayang.


"Amin..." Semua yang di sana mengaminin.


"Ko selamat ya... Gak nyangka cowok tengil kayak kamu bisa dapetin Mayang yang kalem ini. Tapi.... kok perut aku tiba-tiba mules banget ya lihat wajah kamu? Aduhh... Mas, perut aku sakit banget! Kayaknya aku mau lahiran deh... Duhh..." Ujar Wulan yang tangannya malah meremas tangan Riko yang tasi dia salami.


"Ya ampun Wul... Kalau mau lahiran jangan pas di nikahan aku dong..." Keluh Riko sambil meringis merasakan tangannya yang nyeri diremas oleh Wulan.


"Anak aku maunya kamu yang bantu ngelahirin." Jawab Wulan tanpa dosa.


"Dari dulu kamu memang reseh Wul..." Sahut Riko yang justru diketawain sama yang lainnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2