
"Ehm..." Galih langsung tersentak dan kembali menemukan kesadarannya ketika suara dehaman papa Rendra membuyarkan sesuatu yang ada dipikirannya.
"Saya tahu kalau putri saya cantik, tapi natapnya jangan lama-lama, bukan mahkromnya." Kata Rendra setengah berbisik pada Galih, membuat Galih jadi salah tingkah sendiri. Tapi justru membuat yang lainnya tertawa dan Wangi pun menjadi malu.
"Pfftt...haha... Ya sudah, karena sudah ngumpul semuanya sebaiknya kita langsung saja menuju meja makan." Ucap Ridwan untuk segera mencairkan suasana.
"Ide bagus! Lagian makanannya sudah siap dari tadi." Sahut Ratna menimpali ucapan suaminya.
"Gak apa-apa jeng, santai saja." Balas Rina.
"Eitt... Membuat tamu kelaparan itu kan tidak baik jeng, lagian ini sudah jamnya makan siang, yuk mari...langsung saja ke meja makan." Sahut Ratna lagi dan akhirnya merekapun menuju meja makan untuk makan siang.
"Silahkan nikmati makan siangnya, semoga sesuai dengan selera kalian semua." Ucap Ridwan mempersilahkan tamunya.
"Ah kamu itu Wan, nggak perlu merendah begitu sama kami, makanan di meja makan saja banyak banget macamnya sampai bingung milihnya." Balas Rendra yang melihat banyak banget menu makanan yang tersaji di meja makan, mulai dari rendang, sate, tumis kangkung, capjay sayur, bakmi goreng sampai rawon dan sambal terasi pun ada.
"Iya lho jeng Ratna, ini itu banyak banget dan terlihay enak-enak semuanya, pasti jeng Ratna repit banget untuk menyiapkan ini semua, jadi ngerepotin ini." Kata Rina yang ikut menanggapi menu makanan yang begitu banyak macamnya itu.
"Enggak repot sama sekali kok, justru saya malah senang jika bisa makan bersama dengan kalian seperti ini, lagian ada mbok Yem yang bantu masak dan nyiapin semuanya." Tutur Ratna yang merasa sangat antusias dengan acara makan siang hari ini.
"Ya sudah tidak perlu menunggu lama lagi, silahkan nikmati makanannya, jangan sungkan lho ya..." Ucap Ridwan mempersilahkan.
"Tentu saja om... Ntar bakal Dino makan semua deh, soalnya makanannya favorite Dino semua." Seloroh Dino dengan polosnya.
"Wahh...Ini dia baru jagoan, makan yang banyak biar cepat besar dan bisa jadi tentara yang hebat seperti papamu itu." Ridwan langsung menyambut ucapan polos Dino dengan rasa yang takjub. Melihat Dino yang ceria dan tidak malu-malu pada orang yang pertama kali dia temui mengingatkan Ridwan pada Galih ketika putranya itu madih seusia Dino. Galih kecil adalah anak yang aktif, ceria dan cerdas namun penurut. Tidak seperti sekarang ini yang jadi lebih pendiam dan cuek setelah kepergian mantan kekasihnya, Sinar. Maka dari itu, Ridwan dan istrinya Ratna ingin sekali mengembalikan keceriaan di wajah putra satu-satunya tersebut melalui Wangi. Mereka berharap dipertemuan keluarga ini, mereka akan mendapat kabar baik sesuai dengan yang mereka harapkan.
Disisi lain Wangi sedikit bingung, karena tamu yang datang hanyalah keluarganya saja, tidak ada orang lain lagi selain mereka.
__ADS_1
"Kok aneh ya? Bukannya ini acara syukuran pindah rumah ya? Kok gak ada orang lain yang hadir selain aku dan keluargaku sih? Ah...atau mungkin tidak ada yang keluarga Galih kenal selain papa dan mama ya? Mereka kan bukan asli orang sini." Wangi bertanya-tanya dalam hati dengan situasi yang sedikit janggal ini, namun pertanyaan-pertanyaan itu langsung ditepis dari pikirannya. Dia tidak ingin ambil pusing untuk menerka-nerka dan menduga-duga suatu hal yang bukan menjadi urusannya.
Dilain pihak, Galih tidak kalah bimbangnya. Dari pihak yang sudah tahu apa maksud dari acara makan siang ini, dirinya cukup gugup meski sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini. Tapi kenyataan dan angan-angan tidak selalu sinkron. Hanya saja Galih berharap permasalahan ini nanti bisa berakhir dengan kesepakatan yang baik bagi kedua belah keluarga. Dan apapun nanti keputusan akhirnya, Galih tidak ingin hubungan pertemanan antara dirinya dan Wangi menjadi renggang. Terus terang meski dirinya masih belum bisa sepenuhnya membuka hati, namun kehadiran Wangi dikehidupannya membawa warna sendiri untuk hari-harinya saat ini.
Mereka menikmati makan siang dengan sesekali berbincang membicarakan tenatang masa lalu mereka dan kemudian akan diselingi gelak tawa jika membicarakan tentang sesuatu yang menggembirakan tentang kekinyolan di masa muda mereka.
"Dokter Wangi, bagaimana masakannya? Kalau ada yang kurang pas dilidah, kasih tahu tante." Ucap Ratna pada Wangi.
"Sudah pas tante, lezat malahan dan...jangan panggil saya dokter jika diluar jam kerja saya, saya merasa canggung, panggil Wangi saja tante, om..." Ucap Wangi.
"Memang boleh ya?" Tanya Ratna.
"Tentu saja boleh tante, kan Wangi yang minta." Jawab Wangi.
"Kalau gitu mulai sekarang tante akan panggil nak Wangi saja ya?" Tanya Ratna meminta persetujuan Wangi.
"Nah... Kalau gini kan jadi terlihat lebih akrab, bukan begitu kan pa?" Rina menanggapi jawaban putrinya.
"Iya, benar ma... Lagian kita ini kan bukan orang lain, sudah seperti saudara sendiri." Sahut Rendra yang diangguki oleh Ridwan dan Ratna istrinya.
Dan setelah beberapa saat kemudian merekapun telah selesai makan siang dan kembali lagi ke ruang tamu keluarga.
"Sekarang kita santai-santai dulu sekarang ya..." Ucap Ridwan.
"Iya, sekalian ada yang ingin Ridwan sampaikan pada kita di sini." Timpal Rendra.
"Terutama kepada kalian berdua, Galih dan Wangi." Tambah Rendra sambil menatap Galih dan Wangi secara bergantian.
__ADS_1
Entah mengapa Wangi merasa atmosfir di ruangan ber-AC ini menjadi sedikit lebih gerah. "Katanya pembicaraan santai, kok tiba-tiba jadi serius begini sih?" Gumam Wangi dalam hati.
"Sebenarnya ada apa ya pa? Om? Kok mendadak jadi serius begini?" Wangi mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada para orang tua.
"Kamu siap kan Galih dengan apa yang akan kamu dengar kali ini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Wangi, Rendra justru menanyakan kesiapan Galih. Dan Galih pun mengangguk mengerti tentang apa yang dimaksud Rendra, dia harus memberi jawaban dari apa yang diminta Rendra pada malam itu di depan mini market dekat asramanya.
"Iya om." Jawab Galih dengan mantap.
"Sebenarnya apa sih pa? Ma?" Tanya Wangi lagi dengan perasaan yang mendadak tidak enak.
"Begini..."
"Biar aku saja yang bicara Ren, lagian ini awalnya adalah permentaanku padamu, jadi biar aku yang mengatakannya pada mereka berdua." Potong Ridwan ketika Rendra ingin membuka suaranya.
"Okey, terserah kamu." Ujar Rendra mempersilahkan Ridwan untuk bicara.
"Begini nak Wangi, ada sebuah janji dimasa lalu antara saya dan papa kamu. Itu terjadi ketika Galih masih sangat kecil dan kamu masih berada di dalam kandungan mama kamu." Ridwan menjeda ucapannya.
"Janji apa itu om?" Tanya Wangi penasaran.
"Janji jika kamu lahir nanti kami akan menikahkanmu dengan Galih ketika kalian berdua dewasa kelak."
Jederr!!
Ucapan Ridwan barusan terdengar seperti petir di siang bolong. Wangi terkejut dan tak mampu berkata apapun untuk beberapa saat.
"A ap apa?!!"
__ADS_1
Berasambung...