Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 56 Terbongkar Sudah


__ADS_3

Pagi-pagi Elias berlari menuruni anak tangga Rumah Sakit dengan tergesa-gesa, raut wajahnya nampak begitu khawatir. Apakah ada code blue sepagi ini? Jawabannya tidak. Ini lebih dari sekedar code blue bagi Elias. Elias harus segera ke ruang perawatan dimana Dani dirawat di sana sebelum Wangi datang untuk memeriksanya. Dengan napas yang sudah ngos-ngosan akhirnya Elias sampai juga di depan pintu ruang perawatan tersebut. Elias menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, sembari mengatur napasnya dia membuka knop pintu dan ternyata dia sudah terlambat. Wangi sudah terlebih dahulu ada di sana.


"Jadi Dokter Elias adalah kak Eli yang pakai kacamata itu?" Tanya Wangi to the point ketika dia melihat Elias masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang pucat pasi.


Dua puluh menit yang lalu....


Elias tertidur di ruang kerjanya dalam posisi duduk. Dia begitu sangat lelah, kemarin adalah hari yang cukup melelahkan untuknya. Bukan hanya fisik tapi juga hati, ditambah tadi malam dia harus bertugas hingga pagi. Hingga akhirnya jam enam pagi ini dia tidak sengaja tertidur di kursi kerjanya. Dia akhirnya terbangun karena tepukan yang terasa di bahunya.


"El, Elias bangun! Kalau tidur mending di rumah sana." Elias membuka matanya dan melihat Sandy yang sudah ada di hadapannya.


"Ah San, kamu ternyata, sorry aku tidak sengaja ketiduran, jam berapa sekarang?" Tanya Elias yang masih setengah sadar sambil mengucek matanya.


"ini sudah jam 07.30 pagi, sebaiknya kamu pulang dan istirahat di rumah." Mendengar jawaban Sandy mata Elias langsung terbuka sempurna saking terkejutnya.


"Jam berapa kamu bilang?! Apa Dokter Wangi sudah datang?" Tanya Elias pada Sandy dengan wajah paniknya.


"Baru saja dia keluar untuk..." Ucapan Sandy terputus ketika Elias tiba-tiba berdiri dari duduknya.


"Ah sial!!" Seru Elias, dia langsung beranjak dari tempat duduknya secara tiba-tiba hingga terdengar suara decitan dari kursi kerjanya dan berlari ke luar seperti orang yang sedang terburu-buru akan sesuatu.


"Eh El...! Mau kemana?!" Teriakan Sandy padanya tidak Elias hiraukan sama sekali. Dalam pikiran Elias dia harus segera ke ruang perawatan Dani sebelum didahului oleh Wangi. Elias langsung berlari ke arah lift. Dia memencet tombol yang ada di samping pintu lift denga tidak sabarnya. Elias memencet tombol lift itu agar cepat terbuka namun sia-sia, lift tersebut pasti sedang dipakai oleh orang sehingga tidak mau terbuka. Tidak mau menunggu lift itu terbuka lebih lama lagi, Elias memilih untuk menuruni tangga dari lantai tiga ke lantai satu.


Dengan napas yang ngos-ngosan Elias menuruni anak tangga Rumah Sakit dengan setengah berlari. Wajahnya terlihat panik, berharap Wangi masih keliling memeriksa pasien lainnya selain Dani.


"Semoga Wangi belum bertemu dengan Dani, jika mereka bertemu semoga mereka berdua tidak mengingat satu sama lain. Ah sungguh sial! Ini karena aku terlalu lelah dan tanpa sengaja tertidur." Gerutu Elias dalam hatinya.


Dilain sisi Wangi ternyata sudah berada di ruang perawatan dimana saat ini dia sedang melakukan pemeriksaan rutin di pagi hari pada Dani. Awalnya semua berjalan normal seperti biasanya hingga Wangi yang merasa risih ketika Dani menatap wajahnya dengan dahi yang berkerut.

__ADS_1


"Maaf, ada yang ingin anda katakan atau anda merasa tidak nyaman dibagian tertentu pada tubuh anda saudara Dani?" Tanya Wangi dengan mempertahankan sikap sopannya pada pasien.


"Tidak Dok, hanya saja dokter mirip sekali dengan sesworang yang pernah saya kenal." Ujar Dani.


"Oh ya?" Sahut Wangi dengan perasaan yang sedikit aneh, karena dia sendiri juga merasa pernah melihat Dani entah dimana.


"Nama dokter adalah Dokter Wangi kan?" Tanya Dani sambil membaca nama tag di jas putih milik Wangi.


"Benar." Jawab Wangi sambil menganggukkan kepalanya.


Dani tersenyum yang membuat Wangi bertanya-tanya kenapa Dani tiba-tibq tersenyum?


"Apa Dokter pernah bersekolah di SMA Harapan?" Tanya Dani kemudian.


"Dari mana anda tahu kalau saya pernah bersekolah di sana?" Tanya Wangi yang semakin penasaran dan semakin yakin jika dia dan Dani pernah bertemu satu sama lain.


"Karena Dokter pernah menendang saya ketika anda sedang membela Elias, saya tidak menyangka jika saya akan bertemu dengan kalian berdua yang sama-sama sudah menjadi dokter." Ungkap Dani yang masih belum dimengerti oleh Wangi.


"Iya, kita bertiga dulu satu sekolah, saya, Elias dan juga anda Dok. Ah dulu Eli masih terlihat culun dengan kacamata bulatnya. Jangan bilang kalian berdua tidak ingat satu sama lain?" Mendengar penjelasan dari Dani membuat Wangi memutar kembali memory ingatannya di masa lalu, merangkainya kembali bak potongan puzzle dan Wangi langsung terkejut setelah berhasil mengingatnya kembali.


"Spongebob?!" Seru Wangi setelah mengingat suatu kejadian dimana dia pertama kalinya bertemu dengan Dani.


"Ya ampun... Itu sangat memalukan, kenapa yang pertama Dokter ingat adalah hal itu?" Ujar Dani yang terlihat sangat malu mengingat kejadian itu.


Sedetik kemudian pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan wajah Elias dengan sedikit cucuran keringat. Wanjahnya semakin terkejut setelah matanya bertemu dengan mata Wangi.


"Jadi Dokter Elias adalah kak Eli yang pakai kacamata itu?" Ucapan Wangi langsung terdengar seperti petir di pagi hari dan jantung Elias seakan berhenti berdetak.

__ADS_1


"Akhirnya terbongkar sudah." Batin Elias dengan pasrah.


...****************...


Saat ini Elias dan Wangi tengan berada di atas rooftop Rumah Sakit. Mereka saling diam sejenak hingga Wangi membuka suaranya.


"Kenapa Dokter Elias tidak jujur kepada saya jika Dokter adalah kak Eli senior saya waktu SMA?" Tanya Wangi tanpa basa-basi.


Elias sempat bingung akan menjawab apa dan mulai dari mana?


"Karena saya rasa kamu sudah lupa akan saya, kamu saja tidak mengingat saya waktu pertama kalinya kita bertemu di kampus." Jawab Elias dengan alasannya.


"Tentu saja saya tidak mengenal Dokter jika Dokter Elias yang dulu dan yang sekarang jauh sekali perubahannya, lagian Dokter Elias kan bisa mengingatkan saya seperti yang kak Dani lakukan tadi." Ujar Wangi yang terlihat sangat kesal.


"Maaf, waktu itu saya terlalu senang bertemu dengan kamu hingga saya tidak dapat berterus terang." Ucap Elias dengan kalimat ambigunya dan itu membuat Wangi semakit tidak mengerti dengan jalan pikirkan oleh Elias.


"Tunggu Dok... Maksud Dokter apa ya? Kenapa Dokter Elias tidak bisa berterus terang pada saya?" Tanya Wangi lagi.


"Karena malu dan takut." Sahut Elias yang masih terdengar ambigu di telinga Wangi.


"Malu? Dengan penampilan Dokter yang sekarang ini apa yang perlu dipermalukan? Dan takut? Dokter Elias takut apa?" Tanya Wangi yang semakin menuntut penjelasan.


"Saya malu jika saya tidak sebanding dengan yang kamu harapkan dan saya takut jika kamu menjauh dari saya jika saya mengatakan yang sebenarnya padamu."


Wangi terdiam, mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Elias padanya. Sekilas Wnagi merasa seperti mendengar ungkapan suka kepada seseorang. Ahh... Dia jadi teringat Galih ketika menembaknya waktu itu.


"Jangan bilang Dokter Elias...." Ucapan Wangi tertahan.

__ADS_1


"Iya, saya menyukai kamu Wangi Prameswari."


Bersambung...


__ADS_2