Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 67 Keputusan Galih dan Wangi


__ADS_3

Galih dan Wangi terkejut mendengar tentang rencana pertunangan mereka. Pasalnya Galih dan Wangi belum memikirkan mengarah untuk ke sana meskipun mereka berdua menjalani hubungan dengan serius dan akan melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius lagi. Tapi itu kan masih dua tahun lagi? Paling tidak itu yang mereka pikirkan saat ini. Mereka pikir tidak perlu mengadakan acara pertunangan segala karena hubungan mereka berdua sudah mendapat restu dari kedua orang tua dan sudah pasti akan dibawa ke pelaminan nantinya. Namun baik Wangi maupun Galih tidak menyangka pikiran kedua orang tua mereka tidak sesimpel pikiran mereka. Kedua orang tua mereka menginginkan acara pertunangan untuk mempertegas hubungan diantara mereka berdua. Kalau orang Jawa bilang untuk tanda pengikat hubungan agar tidak diganggu oleh pihak ketiga, karena mereka sudah ada yang punya.


"Pa, om... Apa ini tidak terlalu buru-buru? Kami baru saja menjalin hubungan, masih belajar mengenal satu sama lain." Ucap Galih yang diangguki juga oleh Wangi karena dalam hal ini Wangi sependapat dengan Galih.


"Iya om, ini terlalu cepat buat kami, apalagi saya masih dua tahun lagi menyelesaikan study." Wangi ikut mengutarakan keberatannya.


"Justru lebih cepat lebih baik agar hubungan kalian lebih jelas dan lebih kuat, agar Wangi juga tidak ada yang mengganggu. Lagian hanya tunangan saja, bukan menikah." Ujar Ridwan mencoba memberikan pengertian kepada keduanya.


"Iya, kalau soal menikah kalian bisa menunggu dua tahun lagi setelah Wangi selesai study spesialisnya kan tidak apa-apa, atau kalau kalian merasa terlalu lama, dipercepat juga tidak apa-apa." Sahut Rendra melanjutkan apa yang ingin Ridwan juga katakan.


"Bagaimana menurut kalian? Kalian setuju kan?" Tanya Ridwan mengharapkan jawaban yang sama dengan apa yang dia harapkan. Sementara para mama saling harap-harap cemas dengan jawaban kedua putra dan putri mereka.


"Emm... Boleh kami meminta waktu untuk bicara sendiri berdua saja?" Galih meminta ijin untuk bicara berdua saja dengan Wangi mengenai hat tersebut.


"Baiklah, kalian bicara saja dulu, kami akan tunggu di sini." Jawab Ridwan memberi ruang mereka berdua untuk membicarakannya sendiri. Karena bagaimanapun ini menyangkut masa depan mereka sendiri, bukan orang lain.


Setelah mendapat ijin untuk bicara berdua saja, Galih mengajak Wangi naik ke lantai dua rumahnya dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya dengan pintu yang tetap dibiarkan terbuka.


"Ini... Kamar kamu?" Tanya Wangi sambil melihat-lihat sekeliling kamar Galih yang tidak terlalu memiliki banyak barang di sana, hanya sebuah ranjang ukuran queen size, satu almari dan sebuah meja serta sebuah kursi dengan nuansa kamar berwarna putih abu-abu. Khas Galih banget.


"Iya, ini kamar aku sebulan ini." Jawab Galih yang memang baru menempati kamarnya satu bulan terakhir ini, maklum orang tuanya baru pindah di rumah itu satu bulan yang lalu.


"Tidak terlalu banya barang." Gumam Wangi dengan mata yang masih melihat-lihat.


"Itu karena kami baru saja pindah, lagian aku juga jarang menempati kamar ini karena lebih sering tinggal di asrama. Lagipula papa dan mama belum tentu akan menetap di sini selamanya." Wangi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan Galih. Kemudian Galih duduk di pinggiran ranjang tempat tidurnya.

__ADS_1


"Sayang, duduk dulu sini gih!" Ujar Galih sambil menepuk-nepuk ranjang agar Wangi duduk di sebelahnya dan Wangi pun tanpa bicara menuruti keinginan Galih.


"Sayang... Tentang apa yang dibicarakan oleh papa aku tadi bagaimana menurut kamu?" Tanya Galih seraya menggenggam jemari Wangi.


"Menurut kamu sendiri gimana?" Tanya Wangi balik dengan wajah yang bisa dibilang rada bingung.


"Kalau aku sih terserah kamu maunya gimana? Aku ngikut saja." Jawab Galih.


"Kok pasrah gitu ngikut keputusan aku?" Wangi sedikit heran, ini Galih kok seperti suami yang ngikut apa saja kata istri?


"Ya kan tunangan sekarang atau nanti atau enggak sama sekali ujung-ujungnya sama saja, hasil akhirnya kamu juga bakalan nikah sama aku." Wangi langsung melongo mendengar jawaban Galih yang sesimpel itu dan seyakin itu.


"Memang kamu yakin nantinya bakalan nikah sama aku? Bisa jadi ntar kamu nikahnya bukan sama aku." Ujar Wangi yang penasaran kira-kira apa jawaban Galih untuk pertanyaannya barusan.


"Ahh Gombal!" Seru Wangi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Serius sayang... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup aku tanpa dirimu, kamu tahu sendiri jika aku buka tipe orang yang asal membuka hati." Ucap Galih meyakinkan Wangi jika hanya Wangi lah perempuan satu-satunya yang dia harapkan untuk mendampingi dan menjadi teman seumur hidupnya.


"Memangnya kamu tidak mau menikah denganku?" Lanjut Galih dengan memasang wajah sedihnya.


"Ya ampun... Muka kamu jangan di gemes-gemesin deh yang, aku tuh lemah tau kalau lihat wajah cool kamu berubah jadi imut gini..." Ucap Wangi yang malah gemes melihat ekspresi wajah Galih dan mencubit gemas kedua pipinya.


"Dan siapa bilang aku tidak mau menikah sama kamu? Dari awal kan aku sudah nyerah dengan pesona kamu." Lanjut Wangi dengan kedua tangan yang masih memegang wajah Galih.


"Terus keputusan kamu mengenai acara pertunangan kita bagaimana?" Tanya Galih kembali.

__ADS_1


"Ya sebenarnya itu tidak masalah sih jika itu membuat kedua orang tua kita lebih tenang dengan hubungan ini. Tapi yang jadi masalahnya susah menentukan harinya. Kamu tahu sendiri kan jadwa kuliah dan juga kerjaan aku di Rumah Sakit padat banget. Aku hanya mendapat hari libur setelah jadwal tugas malamku, itupun jika tidak ada hal darurat di Rumah Sakit." Terang Wangi pada Galih.


"Apa tidak dapat mengambil ijin?" Tanya Galih dan Wangi menggeleng pelan.


"Ijin satu hari saja dapat merubah jadwal kerja dokter lainnya yang akan menggantikan tugasku dan itu mempengaruhi pekerjaanku juga sekembalinya dari ijin." Ungkap Wangi dengan wajah yang memelas.


"Kecuali..." Wangi menjeda ucapannya.


"Kecuali apa?" Tanya Galih penasaran.


"Kecuali acara tersebut diadakan dengan sederhana hanya keluarga inti dan saudara dekat saja sebagai saksi di hari aku lepas dinas seusai tugas jaga malamku." Jawab Wangi memberikan sarannya.


"Memangnya kamu tidak lelah selesai pulang tugas langsung melangsungkan acara pertunangan kita?" Tanya Galih yang merasa sedikit khawatir jika Wangi tidak akan sempat untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Tidak masalah jika acaranya sangat sederhana seperti acara makan malan ini. Aku bisa istirahat sebentar sampai siang dan acaranya diadakan sore agar tidak selesai terlalu malam. Bagaimana menurutmu sayang?" Kata Wangi mengungkapkan pendapatnya.


"Kalau kamu tidak masalah akan hal itu ya tidak apa-apa, kita bicarakan seperti itu saja pada orang tua kita." Jawab Galih setuju dengan usulan Wangi.


"Tapi untuk menikah aku maunya tetap pada rencana awal yaitu setelah aku lulus menyandang Spesialis Bedah Umum." Pinta Wangi yang juga langsung disetujui oleh Galih.


"Tentu saja apapun keinginan kamu sayang..." Sahut Galih sambil merengkuh tubuh Wangi dan menahannya dalam pelukannya. Wangi pun menyambut pelukan hangat Galih dengan senyum di bibirnya. Dan Galih mengecup lembut ujung kepala Wangi dengan posisi tetap saling memeluk satu sama lain.


Setelah itu merekapun turun dan menemui orang tua mereka lalu mengatakan apa yang menjadi keputusan mereka berdua. Dan mereka bersyukur orang tua mereka setuju dengan keputusan yang mereka ambil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2