
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya hubungan Galih dan Wangi semakin dekat hingga gosib-gosib tentang Wangi yang sudah tidak jomblo lagi pun telah menyebar dikalangan para dokter sejawatnya. Tapi gosib-gosib itu tidak akan sedap jika tanpa ada Elias didalamnya.
Wangi baru saja memindai sidik jarinya untuk absensi di mesin fingerprint pagi ini dengan senyum secerah mentari. Ketika asyik melangkahkan kakinya menuju ruang dokter, tiba-tiba dia mendengar namanya disebut-sebut oleh beberapa orang. Wangi pun menghentikan langkahnya dan mengintip di balik tembok, ternyata mereka adalah para staff Rumah Sakit yang diketahuinya merupakan fans beratnya Dokter Elias. Wangi akhirnya tidak jadi melanjutkan jalannya karena jika dia terus berjalan pasti melewati para staff tersebut. Akhirnya karena sedikit penasaran tentang yang mereka bicarakan, Wangi pun memilih menguping pembicaraan mereka meski itu kurang sopan. Tapi bagaimana lagi? Lha wong namanya sudah disebut-sebut, ya sekalian cari tahu saja apa yang para staff itu bicarakan.
"Ra, kamu serius kalau Dokter Wangi itu sudah punya kekasih?" Tanya seorang perawat kepada perawat yang dipanggilnya Ra.
"Serius Min... Masa kalian masih belum lihat sih jika pacarnya Dokter Wangi selalu mengantar jemputnya setiap hari?" Jawab perawat Ra.
"Kalau itu kan belum jelas, mungkin saja itu saudaranya." Ujar perawat bernama Min yang masih ragu dengan kata-kata perawat Ra.
"Nih kalau gak percaya tanya saja sama Olga, dia yang merawat pasien VIPnya Dokter Slamet." Ujar perawat Ra sambil menepuk pundak perawat yang bernama Olga de sebelahnya.
"Lha... Apa hubungannya dengan pasien VIP Dokter Slamet?" Tanya perawat Min yang terlihat kebingungan.
"Jelasin saja Ga!" Sahut perawat Ra.
"Gini lho... Kamu tahu gak siapa pasien VIP tersebut?" Tanya perawat Olga yang mendapat gelengan kepala dari perawat Min.
"Pasien tersebut adalah salah satu donatur terbesar di Rumah Sakit kita ini, dan yang mengejutkannya lagi cowok yang kita duga pacarnya Dokter Wangi itu adalah putra tunggal pasien sekaligus donatur terbesar di sini." Perawat Min yang mendengar informasi itu langsung membungkam mulutnya sendiri sambil menahan suara pekikannya.
"Gila! Yang benar Ga? Kamu gak bercanda kan?" Tanya perawat Min memastikannya bahwa itu bukanlah candaan semata.
"Ya seriuslah... Aku kan yang setiap hari ikut ngerawat beliau, makanya tahu soalnya aku selalu diwanti-wanti sama Dokter Slamet dan pimpinan Rumah Sakit buat hati-hati ngerawat beliau karena beliau adalah donatur terbesar kita." Ungkap perawat Olga dengan yakinnya.
"Waahh... Dokter Wangi ketiban durian runtuh dong dapat anak konglomerat." Sahut perawat Min.
Sementara Wangi yang masih mengendap-endap di balik tembok hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ngedumel sendiri mendengar obrolan unfaedah ketiga perawat tersebut.
"Yang benar saja aku ketiban durian runtuh, yang ada kepalaku bisa benjol. Masih mending benjol, kalau sampai gagar otak terus lupa ingatan, lupa sama Galih kan gak lucu? Ngasal aja mereka ngomongnya! Kejatuhan mangga depan rumah saja sakitnya minta ampun, apalagi durian?" Wangi jadi ngomel sendiri di balik tembok sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
"Siapa yang kejatuhan durian?" Tiba-tiba ada yang bertanya di belakang punggung Wangi.
"Tau ahh! Tanya saja mereka!" Jawab Wangi yang sepertinya tidak menyadari jika ada orang yang berbicara di belakangnya dan asal nyahut saja sambil menunjuk ke arah ketiga perawat tersebut dengan dagunya.
"Kamu lagi nguping mereka ya Wan?" Tanya orang di belakangnya.
__ADS_1
"Eh siapa yang..." Wangi terbelalak kaget, sepertinya ia baru sadar jika ada orang yang berdiri di belakangnya dan diapun perlahan berbalik badan.
"Huuhh... Syukur deh itu kamu Ko, bikin kaget saja!" Ternyata orang yang bertanya di belakang Wangi adalah Riko, hampir saja jantung Wangi copot saking terkejutnya. Karena nggak lucu kan jika Dokter Wangi Prameswari yang banyak dibicarakan banyak orang ternyata ketahuan suka ngintip dan menguping pembicaraan orang?
"Habisnya kamu kamu mengendap-endap di balik tembok kaya main kucing-kucingan gitu. Ada apa sih?" Tanya Riko penasaran.
"Sstt...! Diem dulu!!" Gertak Wangi dengan suara setengah berbisik dan kembalik mengintip dan menguping acara gosib ketiga perawat tadi.
"Kamu nguping apa sih?" Riko masih saja banyak tanya, membuat Wangi jadi geram sendiri.
"Sstt..." Wangi hanya melotot ke arah Riko sambil meletakkan ujung jari telunjuknya di depan bibirnya.
Akhirnya mau gak mau karena penasaran, Riko jadi ikutan ngintip dan nguping bersama Wangi.
"Terus kalau Dokter Wangi sudah punya pacar bagaimana dengan nasibnya Dokter Elias?" Pertanyaan yang keluar dari mulut perawat Olga langsung membuat Wangi membulatkan matanya.
"Lhaa... Kok jadi Dokter Elias dibawa-bawa juga sih?" Wangi jadi heran sendiri dengan berita pergosiban di kalangan staff Rumah Sakit ini.
"Kamu itu gak peka atau pura-pura gak peka sih Wang?" Riko justru paling heran dengan sikap cuek Wangi yang gak ketulungan itu sampai tidak peka sama sekali dengan nasib hati orang lain, dalam hal ini adalah Elias.
"Lho kok aku jadi aku lagi sih?" Gerutu Wangi yang semakin dibuat bingung dengan situasi ini.
"Iya, Dokter Elias pasti sangat sedih gara-gara patah hati. Padahal selama ini mereka berdua kemana-mana selalu bersama." Kata perawat Ra yang menyayangkan nasib Elias yang kurang beruntung karena patah hati.
"Mending Dokter Elias sama aku saja..." Celetuk perawat Min.
"Inget Min... Jangan lupa sama yang ada di dalam perut kamu." Kata perawat Olga mengingatkan perawat Min.
"Maksud aku mending Dokter Elias jadi calon mantuku saja hehe..." Sahut perawat Min yang ternyata sedang hamil muda sambil mengelus-elus perut buncitnya.
"Yang ada Dokter Elias keburu keriput nunggu anakmu lahir sampai dewasa." Ujar perawat Ra sambil tepok jidat dengan keinginan aneh bu mil itu.
"Hahh?!! Mereka kebangetan benget ngehalunya ya." Wangi semakin dibuat terkejut dengan apa yang barusan ia dengarkan tersebut. Sementara Riko hanya bisa cekikikan mendemgar dan melihat wajah heran Wangi.
"Sialan... Teman jadi bahan gosib malah diketawain." Lagi-lagi Wangi jadi ngedumel, pagi ini sudah berapa kali dia ngomel sendiri.
__ADS_1
"Itu mungkin saja gosib tapi bisa saja semua yang mereka bicarakan ada benarnya, kamu saja yang kurang peka." Sahut Riko.
"Masa sih?" Tanya Wangi yang kurang yakin.
"Cari tahu saja sendiri." Jawab Riko yang malah tidak membantu sama sekali.
"Ihh... Teman masa gitu?" Ujar Wangi yang merasa sebal dengan Riko.
"Terserah... Yang jelas aku mau ke ruanganku dulu, sudah telat gara-gara ikutan kamu nguping." Ujar Riko masa bodoh.
"Lha salah sendiri mau..." Sahut Wangi.
"Ya udah aku pergi dulu." Pamit Riko.
"Eiitt... Tungguin, aku barengan!" Seru Wangi yang langsung mengikuti Riko dan berjalan melewati ketiga perawat yang bergosib tadi. Ketiga perawat tersebut langsung terdiam dan hanya mengangguk tersenyum kaku menyapa Wangi serta Riko yang melewati mereka. Namu setelah Wangi dan Riko berjalan agak menjauh mereka kembali berceloteh.
"Eh itu kan Dokter Riko, residen dari spesialis Obgyn? Kok kelihatan akrab gitu dengan Dokter Wangi." Ucap perawat Min.
"Kamu tahu dari mana Min?" Tanya perawat Olga.
"Ya tahulah, soalnya aku pernah diperiksa olehnya waktu periksa kandungan. Terlebih dia itu dokter idola ibu-ibu hamil karena parasnya yang ganteng." Jawab perawat Min.
"Wahh... Enak betul ya jadi Dokter Wangi dikelilingi orang-oramg ganteng." Ujar perawat Ra.
"Tapi karena Dokter Wangi sudah ada yang punya, bisa dong... Kita-kita yang jomblo ini daftar jadi jodohnya Dokter Elias?" Ujar perawat Olga sambil senyum-senyum sendiri.
"Ehm..!! Kalian tidak bekerja?" Karena asyiknya bergosib tanpa mereka sadari ada yang datang menegur mereka.
"Ehh Dokter Elias..." Sahut mereka bersamaan dengan raut yang terkejut.
"Kalian kalau mengobrol jangan di tengah jalan, banyak orang lewat jadi susah." Tegur Elias yang bisa juga diartikan "Kalau ngegosib jangan di tengah jalan, nanti banyak yang dengar." Karena sebenarnya Elias tanpa senhaja juga mendengar mereka bergosib di belakangnya.
"I iya Dok, ini kami mau lanjut kerja." Ucap salah satu dari mereka dan yang lainnya cuma mengangguk.
"Baiklah kalau gitu saya pergi dulu dan tolong hati-hati kalau bicara." Elias langsung meninggalkan ketiga perawat tersebut setelah memperingatkan mereka.
__ADS_1
"Ya ampun... Kita ketahuan bergosib ya guys?" Seru perawat Ra.
Bersambung....