Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 95 Boss Gangster


__ADS_3

"Ah, capeknyaaa... " Keluh Wangi sambil meregangkan otot-otot tangan dan lehernya.


"Nih coklat hangatnya diminum dulu." Galih menyodorkan secangkir coklat hangat yang langsung diambil oleh Wangi.


"Makasih." Ucap Wangi lalu menyeruput coklat hangat yang ada di tangannya itu.


Saat ini hari sudah mulai gelap dan Wangi baru saja selesai memindahkan dan mencatat barang serta obat-obatan keperluan medis yang datang siang tadi. Sebenarnya itu tidak akan memakan waktu yang lama untuknya dan para medis lainnya melakukan itu, hanya saja mereka harus mengecek benar-benar keadaan barang setelah apa yang terjadi pada mobil box pengiriman. Untungnya tidak banyak yang rusak akibat peristiwa tadi. Dan saat ini Wangi tengah duduk di depan area Rumah Sakit bersama Galih yang menemaninya.


"Gimana keadaan dua orang yang kami selamatkan tadi?" Tanya Galih.


"Syukurnya mereka enggak apa-apa, hanya sedikit memar dibagian tertentu akibat benturan saat mereka berada di dalak mobil box dalam keadaan terikat, atau...ada perlawanan sebelumnya dari mereka sebelum disandera. Selebihnya mereka hanya trauma dan besok mereka sudah bisa pulang." Jawab Wangi menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Galih yang sesekali menyeruput coklat hangatnya.


"Sebenarnya bagaimana itu bisa terjadi sih?" Tanya Wangi penasaran.


"Menurut penjelasan mereka, waktu itu saat mereka dalam perjalanan menuju ke sini, mereka dihadang oleh dua orang bersenjata di jalan. Akhirnya mereka terpaksa menghentikan mobilnya dan kedua orang asing bersenjata itu merebut paksa mobil mereka. Agar tidak dicurigai, perampok itu merampas baju seragam relawan UNIFIL yang mereka kenakan sebagai kamuflase lalu menyandera mereka di dalam mobil box. Tapi naasnya di tengah perjalanan ketika perampok itu ingin memutar balik mobil kembali ke arah jalan kota, salah satu ban mobil pecah dan kehilangan keseimbangan sehingga menabrak pohon."


"Ah... Jadi begitu ceritanya, terus bagaimana dengan para penjahat itu?" Tanya Wangi sekali lagi.


"Itu sudah dibereskan oleh polisi setempat, karena bagaimanapun itu bukan kejahatan perang dan itu bukan wewenang kami untuk mengurusi pencuri di negara orang, jadi para penjahat itu kami serahkan pada polisi setempat meski salah seorang dari mereka mati karena kecelakaan." Terang Galih.


"Astaga! Salah satu penjahat itu tidak selamat?" Wangi terkejut tentang kenyataan yang terjadi mengenai musibah tadi siang.


"Iya, tapi itu bukan urusan kami lagi." Jawab Galih dan kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Lihat! Bukankah Bintang malam ini indah?" Ucap Galih seraya menengadahkan kepalanya ke langit. Wangi pun mengikutinya lalu tersenyum.


"Mungkin sekarang ini langit sedang menghibur rasa lelah kita." Kata Wangi ketika melihat Bintang-bintang berbinar cantik di langit sana sambil tersenyum.


"Wangi... Meski diawal aku terkejut karena kamu tiba-tiba datang ke sini, tapi aku juga bersyukur kamu sekarang berada dalam jangkauan mataku. Aku sungguh-sungguh merindukanmu." Ucap Galih dengan mata yang menatap lekat wajah cantik Wangi.


"Ehm... Tapi aku ke sini bukan untuk menemui kamu lho... Aku datang karena..."


"Misi kemanusian." Galih memotong ucapan Wangi.

__ADS_1


"Iya, aku tahu tapi tetap saja aku bersyukur bisa melihatmu lagi sedekat ini." Lanjut lelaki itu dengan mata yang semakin lekat menatap wajah Wangi, membuat dokter cantik itu semakin gugup dan salah tingkah.


"Hoaam... Sepertinya aku butuh tidur." Ujar Wangi tiba-tiba untuk menghindari tatapan Galih, rasanya dia ingin lari dari sana sekarang juga karena tidak dapat mengontrol ekspresi wajahnya dan juga jantungnya.


"Pfftt... Akan aku antar sampai depan asrama." Tawar Galih.


"Ng...nggak, gak perlu! Aku bisa sendiri." Sahut Wangi yang bergegas bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi meninggalkan Galih. Namun masih satu langkah Galih langsung menyusulnya dan menautkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Wangi secara tiba-tiba. Sontak Wangi terkejut dan spontan melihat ke arah tangannya yang sekarang bertaut dengan tangan Galih dengan mulut setengah terbuka.


"Aku tidak ingin ada yang menggoda pacarku di jalan." Ujar Galih dengan senyum tengilnya.


"Cihh, kita kan sudah putus." Ledek Wangi.


"Kupikir kita sudah tersambung lagi kemarin." Sahut Galih dengan percaya dirinya.


"Hahh, dasar pria menyebalkan!"


"Tapi kamu suka kan?" Goda Galih.


"Sialnya begitu." Sahut Wangi dengan wajah kesalnya yang sontak membuat Galih menebar tawa kemenangan.


"Jangan tertawa!" Sentak Wangi sebal dan juga malu.


"Pfftt.."


"Aku bilang jangan tertawa! Dasar pria jahat!" Gertak Wangi lagi dengan memasang wajah kesalnya yang justru terlihat menggemaskan.


"Iya, iya aku sudah gak ketawa kok..." Sahut Galih yang kini hanya bisa tersenyum melihat wajah wanita yang selalu ada di hatinya itu.


Dan begitulah mereka berjalan bergandengan tangan hingga berpisah di depan asrama relawan.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain yang entah di mana itu. Di sana hanya terlihat seperti bangunan tua yang sudah usang. Terdapat sekawanan orang dengan wajah-wajah garang. Salah satu orang di sana berpakaian rapi dengan jas berwarna hitam tengah duduk di kursi seorang diri dengan segelas wine di tangannya sementara orang-orang lainnya berdiri di belakanganya, seolah memberitahu jika dialah pemimpinnya. Dan seorang lagi nampak tidak asing, dia adalah opsir polisi yang menangani kasus pembegalan mobil box pengiriman milik UNIFIL. Lalu, apa sebenarnya yang mereka lakukan? Dan ada hubungan apa antara opsir polisi tersebut dengan segerombolan pria berwajah garang itu?


"Incompetent!!" Teriak pria berjas hitam itu sambil melemparkan gelas wine-nya tepat di depan si opsir polisi itu.


"Apakah kau sebodoh itu tidak bisa menyingkirkan gangguan kecil seperti itu hah?!!" Kata-kata sarkas itu ditunjukkan pada opsir polisi tersebut.


"Maaf, itu tidak akan terjadi jika orang-orang yang anda kirim adalah orang yang cakap padahal saya sudah membukakan jalan untuk mereka sesuai rencana." Ujar opsir itu membela diri. Dia tidak ingin disalahkan atas kebodohan anak buah orang itu, sementara posisi dia sebagai opsir polisi bisa dicopot kapan saja jika dia ketahuan oleh atasannya. Kalau bukan karena uang yang akan dia terima cukup besar, dia tidak akan mau melakukan perintah seorang gangster.


"Jadi maksudmu kamu menyalahkanku?" Tanya si boss gangster dengan nada penekanan yang terdengar mengancam.


"Bu, bukan itu maksud saya! Maksud saya jika mereka bisa mengendalikan mobilnya dengan baik, maka kecelakaan itu tidak akan terjadi. Dan walaupun kecelakaan itu terjadi seharusnya salah satu dari mereka masih bisa membawa mobil box itu meski keadaannya sedikit rusak. Hanya saja sebelum itu terjadi mereka sudah tertangkap terlebih dahulu oleh pasukan militer perdamaian." Ungkap opsir itu menjelaskan.


"Pasukan militer perdamaian? Dari negara mana?" Tanya si boss gangster.


"Indonesia." Jawab si opsir.


"****!!" Umpat boss gangster itu sambil berdiri dari duduknya dan langsung mendekat ke arah opsir itu lalu mencengkeram rahang opsir tersebut.


"Arghh...! Suara erangan kesakitan opsir tersebut karena tenaga si boss yang mencengkeram rahangnya ternyata begitu kuat.


"Rencana merampas obat-obatan kali ini gagal, tapi jika rencana selanjutnya gagal lagi, maka kau tak akan lolos lagi dariku!" Ancam boss gangster tersebut pada si opsir.


"Of.. Of course Boss!" Jawabnya dengan menahan sakit di rahangnya.


Setelah mendengar jawaban si opsir, orang yang dipanggil Boss itu langsung melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


"Prepare everything tomorrow!" Perintah si Boss.


"Yes, Boss!!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2