
Soledat bergelayut mesra di lengan Galih. Meski risih dan tidak nyaman, Galih harus tetap melakukannya karena ini bagian dari rencana. Mereka berdua turun di lantai dansa dan ketika mereka berdua sudah dekat dengan Romero, Soledat sengaja menyenggol Lorena yang sedang mengalungkan lengannya di leher Romero terdorong dan terlepas dari leher Romero.
"Upss! Gak sengaja, habisnya jalannya terlalu sempit." Ujar Soledat dengan nada dan ekspresi yang dibuat-buat seolah mengejek dan ingin mengajak Lorena ribut.
"Hei Soledat! Memangnya kamu tidak punya mata?! Kamu sengaja melakukannya kan?!" Seru Lorena menuduh Soledat. Meskipun itu benar, tentu saja Soledat akan menyangkalnya.
"Kau yang tidak punya mata! Bukankah di sini cukup ramai orang dengan cahaya yang remang, mana aku tahu itu tadi kamu?!" Ujar Soledat tidak mau disalahkan meski benar kalau dia tadi sengaja.
"Kau bahkan tidak minta maaf padaku! Sudah pasti kami sengaja! Kamu pasti masih merasa kesal dan dendam padaku karena aku yang memenangkan hati tamu tampan itu." Seru Lorena yang merasa sangat kesal dengan sikap masa bodo Soledat.
Sementara para wanita itu beradu mulut, Romero yang sadar akan kehadiran Galih di sana langsung memberi kode dengan matanya. Galih sadar akan hal itu namun melewati Romero begitu saja tanpa melihat ke arahnya dan langsung mendekati Lorena.
"Maafkan sikap teman wanita saya saat ini saja, dia tidak sengaja menyenggol kamu karena tadi saya buru-buru mengajaknya ke sini." Ucap Galih menengahi para wanita itu.
"Astaga... Anda sangat tampan tuan. Bagaimana bisa anda datang dan meminta maaf untuk wanita sialan itu?" Lorena langsung menurunkan nada bicaranya dan bersikap gemulai ketika melihat Galih yang begitu menawan di hadapannya.
"Nah, kau lihat sendiri kan aku sedang menemani pria tampan ini? Jadi tidak ada alasan aku kesal lagi padamu karena priaku ini lebih tampan... Dan... Lepaskan tanganmu dari dia!" Ujar Soledat mengejek dan menepis tangan Lorena yang baru saja menggamit lengan Galih. Hal itu membuat Lorena kesal karena Soledat mendapatkan tangkapan yang lebih besar darinya. Meski Romero sangat tajir di matanya namun dia belum sempat mendaptkan apa-apa dari Romero karena lelaki itu masih belum mengajaknya masuk ke ruang VIP Kasino dan hanya mengajaknya minum serta berdansa saja.
"Maaf, sepertinya dia sudah mabuk setelah mengajakku berkeliling tempat ini. Ini tempat yang bagus tapi sayang sekali aignyalnya kurang bagus atau mungkin ponselku yang rusak padahal aku harus menelpon asistenku untuk menjemputku jika aku mabuk nanti." Kata Romero yang langsung dimengerti oleh Galih. Itu hanyalah kode saja.
__ADS_1
"Sayang... Aku belum mabuk, bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka dan bermain bersama?" Ucap Lorena manja.
"Sepertinya Soledat tidak suka berbagi jadi lebih baik kamu kembali ke pasanganmu saja. Ayo kita pergi Sol." Ujar Galih sambil berlalu pergi bersama Soledat yang sempat menjulurkan lidahnya ke arah Lorena. Hal itu sukses membuat Soledat kesal berkali-kali lipat.
"Sudahlah... Kita bersenang-senang saja sendiri, aku akan memberimu uang yang banyak nanti." Kata Romero untuk mengalihkan perhatian Lorena.
"Benarkah? Kau sudah janji lho..." Mata Lorena langsung berbinar setelah mendengar kata uang.
"Dasar wanita matre!" Batin Romero.
"Tentu saja, tapi ksmu harus menemaniku minum sampai puas malam ini." Ucap Romero sambil tersenyum smirk.
"Dasar wanita licik..." Gumam Romero sambil merogoh ke dalam saku jaketnya dan mengeluarkan beberapa uang dolar. Lorena langsung tersenyum puas dan langsung menyambar uang tersebut. Belum tahu saja kalau itu adalah uang palsu. Romero tersenyim miris melihat wanita di depannya yang tidak punya harga diri hanya karena uang.
"Terimakasih sayang.... Kau sangat baik sekali, ayo kita minum sampai mabuuukk!" Seru Lorena sambil menarik lengan Romero ke arah meja bar. Lorena memesan minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi untuknya dan untuk Romero.
"Lorena sayang... Sepertinya aku ingin pergi ke toilet, tapi aku tidak tahu dimana tempatnya." Kata Romero setelah gelas minuman pesanan Lorena mendarat di hadapannya.
"Oh, biar aku antar."
__ADS_1
"Tidak usah, kau tunggu saja di sini menunggu minuman kita. Kamu hanya perlu menunjukkan arahnya dari sini. Aku tak akan lama." Ujar Romero menolak tawaran Lorena.
"Baiklah... Kamu cukup berjalan ke arah sana lalu belok ke kanan dan..."
Romero tidak begitu menyimak penjelasan Lorena dan hanya menjawab "iya iya" saja. Dan disaat Lorena menjelaskan dimana letak toiletnya, Romero diam-diam memasukkan obat bius ke dalaminuman Lorena.
"Baiklah, aku tidak akan lama. Aku pergi dulu, aku sudah kebelet!" Ujar Romero yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke arah toilet yang sebenarnya dia sudah tau letaknya.
"Jangan lama-lama sayang... Nanti aku digoda lelaki lainnya...!!" Seru Lorena ketika Romero sudah menjauh darinya. Dan dia pun langsung meneguk minumannya sendiri. Lalu tidak butuh lama dia merasa sangat mabuk dan mengantuk.
Romero yang sudah di dalam toilet, sudah memastikan jika tidak ada orang di dalam sana. Lalu dia merogoh ke dalam saku jaketnya. Dia mengeluarkan headset yang sengaja diselipkan oleh Galih tadi saat melewatinya dan memasangkannya di telinganya.
"Gagak siap kembali berburu!"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...