
Romero kembali lagi ke tempat Kasino dengan membawa bala bantuan melewati jalan yang tadi ia gunakan keluar berasama Soledat dan Erisha.
"Tunggu sebentar!" Ucap Romero pada rekan-rekannya. Ia lalu menuju ke ruang wardrobe dan membuka kuncinya. Di dalam dia menemukan nyonya Barbara dengan wajah pucat karena panik dan ketakutan. Romero yang melihatnya pun tidak tinggal diam.
"Tenang nyonya, kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin menyelamatkanmu. Lebih baik anda keluar sekarang juga dan pulang menuju jalan yang di sana." Ucap Romero sambil menunjuk jalan yang tadi dia lalui bersama rekan-rekannya.
"Anda tahu kan?" Tanya Romero.
"Iy, iya... Itu jalan menuju rumahku." Jawabnya terbata.
"Aku tahu anda pasti bingung, tapi saya tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Lebih baik anda keluar secepatnya dari ini, di ujung gang depan jalan itu ada Soledat yang sudah menunggu anda, dia akan menjelaskan semuanya." Terang Romero.
"Sol... Soledat?" Nyonya Barbara sangat terkejut karena Romero menyebut nama salah satu penghibur di tempat itu yang tadi telah menguncinya di dalam wardrobe.
"Cepat anda pergi sekarang!" Perintah Romero tegas dan tanpa satu katapun nyonya Barbara langsung keluar dari sana setelah menyambar tas miliknya.
"Ayo!" Romero kembali memberi aba-aba dan mereka kembali bergerak.
Sementara itu di ruang VIP Kasino Galih masih berhadapan dengan Joshua di meja Kasino. Permainan demi permainan mereka lalui. Untuk sementara ini poinnya seri. Mereka berdua sama-sama kuat. Mereka menang dan kalah secara bergantian disetiap permainan.
"Ah... Kenapa Soledat lama sekali hanya untuk mengambil sebotol anggur? Mungkinkah dia meninggalkanmu karena tidak yakin jika kamu akan menang dariku, hmm??" Ujar Joshua dengan senyum smirknya berusaha mengecoh pertahanan Galih.
"Hmm..." Galih membalasnya dengan seringaian, lalu berkata..."Atau mungkin saja dia mabuk di tempat lain setelah menyicipi anggur yang dia ambil."
"Hahaha... Jika begitu maka kamu tidak akan bisa menyicipi anggur berkualitas tinggi di tempat ini." Sahut Joshua sambil tertawa.
"Tak masalah... Karena setelah aku menang nanti, aku akan keluar dan meminum anggur yang lebih berkualitas daripada yang ada di sini." Balas Galih dengan santainya.
"Waw...waw...waw... Anda sangat percaya diri sekali tuan Mark? Padahal setengah dari uang anda sudah ada di tangunku." Ucap Joshua sambil bertepuk tangan.
"Setengah dari uangmu juga ada di tanganku jika kau lupa." Balas Galih memperingatkan Joshua.
"Hahaha... Anda memang tidak mau kalah ya?! Aku suka itu!" Ujar Joshua yang kembali tertawa. Sepertinya suasan hatinya saat ini sedang bagus. Tapi entah nanti?
__ADS_1
Galih pun menyeringai...
"Sebentar lagi pesta yang sesungguhnya dimulai." Batin Galih dan dalam hati dia mulai menghitung mundur..
"Lima..."
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..!!"
Buumm!!!
"Suara apa itu?!" Joshua langsung terperanjat dari tempat duduknya karena suara ledakan kecil dan suara teriakan orang-orang di luar sana.
"Pesta..??" Tanya Joshua bingung. Namun belum sempat dia mendengar jawaban dari Galih, pintu ruangan di sana terbuka dengan keras dan seorang laki-laki yang kemungkinan anak buah Joshua berteriak.
"Boss gawat!! Ada serangan!!" Teriak lelaki itu.
"Whaatt??!! Serangan?!! Tapi tuan Mark bilang..." Joshua menghentikan ucapannya setelah sadar bila ada yang salah di sana. Dia langsung menengok kembali ke arah Galih. Namun di sana Galih sudah mengenakan masker di hidungnya dengan kaca mata transparan yang melindungi matanya sambil memegang suatu benda di tangannya.
"Kaaauuu....?!!!" Pekik Joshua dengan wajah merah padam.
"Happy party.... " Ucap Galih tersenyum di balik maskernya dan langsung melemparkan benda di tangannya ke lantai.
Buuusstt...
Benda itu mengeluarkan asap yang membuat mereka terbatuk-batuk karena sesak dan mata perih sehingga penglihatan mereka terganggu.
"Uhuk..uhukk..!! Ce uhuk!! Cepat tangkap Mark!!" Teriak Joshua sambil terbatuk.
__ADS_1
"Tapi.. Uhukk..!! Kami tidak bisa uhukk... melihat!" Ujar anak buah Joshua.
"Benar! Uhukk.. Mata kami uhukk..! Perih... Arrgghh!!" Terdengar teriakan di akhir ucapan anak buah Joshua. Mereka memekik kesakitan seakan ada yang memukuli mereka.
"Hei kalian... Uhukk!! Apa yang kalian lakukan??! Uhuk, uhukk..." Joshua berteriak bertanya pada anak buahnya namun tidak ada jawaban hingga sebuah pukulan ia rasakan di punggungnya yang membuatnya jatuh tersungkur.
"Arrgghh...!!" Teriak Joshua ketika merasakan nyeri akibat pukulan di punggungnya.
"Sialan! Siapa yang..."
Bugh!!
Kini tendangan yang dia rasakan di bagian perutnya ketika dia hendak mengarahkan pistol yang ia keluarkan dari balik jasnya ke arah Galih. Dan pistol itu akhirnya terlempar terlepas dari tangan Joshua. Galih pun segera mengamankan pistol tersebut.
"Aarrgghh..." Teriaknya.
Setelah beberapa saat asap-asap menyesakkan itu perlahan menghilang dan pandangan mereka mulai kembali meski masih mengabur. Setelahnya terlihat para anak buah Joshua yang ada di sana kini telah terikat semua. Joshua pun melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Kepala Joshua mendongak dan menatap ke arah Galih yang kini tanpa aksesoris apapun di wajah maupun kepalanya.
"Galih...??" Gumam Joshua terkejut.
"Sekarang permainanmu sudah selesai Joshua. Waktunya kembali ke rumah." Kata Galih sambil menatap ke arah Joshua yang masih terkejut.
"Amankan dia!!" Perintah Galih pada rekannya yang ada di sana lalu berbalik begitu saja san hal itu memberikan kesempatan pada Joshua untuk menyerangnya. Galih tidak tahu jika Joshua menyimpan sebilah belati di kakinya.
"Galih, awaasss...!!" Teriak Romero.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1