Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 102 Bahaya Mengintai


__ADS_3

"Joshua Franklin? Dia kan anggota pasukan khusus militer AS." Ujar Galih.


"Kamu mengenalnya?" Tanya Komandan yang juga ingin ditanyakan Romero.


"Dulu beberapa anggota militer AS pernah datang ke Batalyon saya di Yogya dalam rangka latihan persahabatan dan dia salah satunya. Dan itu sudah lama sekali, hampir sepuluh tahun yang lalu, waktu itu saya selesai cuti setelah pulang tugas dari Papua. Setelah dia kembali ke negaranya kamipun masih berkomunikasi dan dia mengatakan jika masuk di dalam tim khusus di kemiliterannya. Kemudian lambat laun kami putus kontak dan saya tidak tahu kabarnya sama sekali." Terang Galih.


"Saya juga sempat mengenalnya sekilas, dia pernah bertugas di sini, pasukan perdamaian dari AS sama seperti kita." Kata Romero.


"Dia pernah menjadi pasukan perdamaian PBB seperti kita? Kok aku belum pernah bertemu dengannya?" Tanya Galih hampir tak percaya.


"Kapan kamu terakhir ketemu dia?" Tanya Komandan.


"Sudah lama sekali Komandan, sekitar duabtahun yang lalu ketika saya pertama kali bertugas menjaga perbatasan di sini. Kami bertemu cuma dua kali, itupun kebetulan saat pasukan dari pihak mereka juga dalam patroli. Setelah saya tidak pernah bertemu dengan Joshua lagi." Jawab Romero memberikan keterangannya.


"Dan mungkin karena jadwal siff kamu tidak sama dengannya, makanya kamu tidak bertemu dengannya Lih." Lanjut Romero.


"Jadi begitu... Ini suatu kebetulan yang tak terduga." Gumam Komandan.


"Memang apa yang dia lakukan sampai menjadi buronan militer Komandan?" Tanya Galih penasaran.


"Dia menghilang dua tahun yang lalu ketika bertugas di sini. Awalnya pihak kesatuannya mengira dia diculik atau terbunuh disuatu tempat oleh musuh saat bertugas sampai pihak militer AS menyatakan dia meninggal namun tidak ditemukan mayatnya. Hingga sebuah kabar dari intelejen AS mengabarkan jika ada mafia narkoba yang memasuki Lebanon, dan pimpinannya adalah Joshua Franklin. Nama kelompok yang dipimpinnya adalah Scorpion." Kata Komandan yang begitu mengejutkan Galih dan Romero.


"Ini sungguh mengejutkan. Saya tidak habis pikir Josh melakukan hal seperti ini. Karena setahu saya Josh memiliki pribadi yang baik, dia bahkan sangat bangga dan senang ketika dia bilang berhasil masuk dalam pasukan khusus karena itu adalah impian dia. Apa yang membuat dirinya berubah haluan dan mengkhianati kesatuannya seperti ini?" Galih sungguh tidak habis pikir, orang yang dulu pernah menjadi temannya kini menjadi buronan di negaranya.


"Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran otak manusia. Keinginan dan tujuan manusia bisa kapan saja berubah dalam sekali jentikan jari." Kata Sang Komandan.


"Dan kemungkinan gangster yang beroperasi di wilayah pinggiran kota Lebanon adalah orang yang sama dengan orang yang dicari oleh pihak militer AS, yaitu Joshua Franklin." Lanjut Komandan.


"Kemungkinan besar itu benar karena sebagian besar info ini mengarah padanya, hanya saja tidak ada orang yang tahu bagaimana wajah si boss gangster itu." Ucap Romero.


"Ada, kemungkinan ada satu orang yang tahu. Pasien itu. Dia sempat bekerja di bar Kasino itu dan saat ini adik perempuannya menjadi sandera di sana. Oh ya, bar Kasino tersebut bernama Lamona." Ucap Galih setelah mengingat bahwa ada saksi mata dalam kasus yang baru saja mereka terima.


"Lalu lebih baik kita segera menanyakannya pada pasien tersebut." Kata si Komandan.


"Tapi pasien tersebut masih dalam keadaan tidak sadarkan diri di UGD, dan sebelum kami datang kemari dokter di sana mengatakan jika ada keadaan darurat yang terjadi pada pasien tersebut." Kata Galih.

__ADS_1


"Semoga itu bukan masalah serius. Karena kita hampir saja mendapatkan titik terang." Kata Komandan.


"Serka Galih dan Serka Romero, untuk sementara kalian berdua saya tugaskan untuk memantau kesehatan pasien yang menjadi saksi kunci kita dalam kasus ini. Cari informasi sebanyak-banyaknya sebanyak yang diketahui oleh saksi." Titah Sang Komandan.


"Siap, Komandan!" Seru Galih dan Romero bersamaan dengan tegas.


"Silahkan kembali ke tempat!" Kata Komandan menyuruh mereka berdua keluar dari ruangan Komandan.


"Siap, laksanakan!" Jawab mereka berdua.


...****************...


Sementara itu di ruang operasi, keempat dokter yaitu Zahara, Elias, Wangi dan Lukman ditambah Dokter Muara sebagai dokter anastesia tengah melakukan operasi pada pasien bernama Ali. Saksi kunci dari kejahatan para gangster Scorpion.


Mereka sudah berhasil membedah perut pasien Ali dan Elias saat ini berusaha mengeluarkan benda yang ada di dalam perut Ali. Namun ketia ia sudah berhasil mengambil salah satu benda yang ada di dalam perut Ali, Elias mengerutkan keningnya karena benda tersebut ternyata tidak sekeras yang dia kira, misalnya kerikil atau batu?


"Apa ini?" Tanya Elias bingung.


"Kita belum bisa memastikan karena bercampur dengan kotoran juga. Sebaiknya kita ambil sisanya dulu dan segera menyelesaikan operasi ini." Zahara mengingatkan kembarannya itu dan yang lainnya pun setuju.


"Kalian pasti sudah dapat menduganya sendiri kan barang atau benda apa yang ada di depan kita ini." Ucap Elias dengan mata yang masih menatap ke arah benda yang ada di atas meja.


"Narkotika." Sahut Zahara.


"Gila! Lelaki itu sungguh gila! Bagaimana bisa dia memikirkan untuk menelan lima bungkus narkoba dalam plastik untuk bersarang di dalam perutnya?!" Seru Lukman tak habis pikir dengan pikiran pasiennya itu.


"Kurasa dia punya alasan sendiri kenapa melakukan hal ini." Ujar Wangi.


"Tentu saja dia harus punya alasan untuk melakukan hal gila seperti ini. Dia pemakai narkoba, mungkin dia tidak ingin ada orang lain di sekitarnya jika dia pecandu makanya dia menelannya untuk menyembunyikan barang laknat itu." Tebak Lukman dengan spekulasinya sendiri.


"Dia masih belum pecandu, kadar narkotika di dalam darahnya masih sangatlah rendah jika dibilang sebagai pecandu. Kamu sendiri kan yang memeriksanya, apa kau lupa Luk?" Sindir Elias.


"Tapi tetap saja dia tak waras! Memangnya dia bisa mengeluarkannya lagi dengan mudah benda ini dari perutnya? Dia pikir hanya dengan memuntahkannya atau mengeluarkannya lewat BAB itu mudah?" Lukman masih saja berceloteh.


"Kalau kau ingin tahu sekali alasannya lebih baik tunggu dia sampai sadar dan tanyakan langsung padanya! Sekarang ini kita harus melaporkannya pada Komandan Pasukan mengenai kasus ini. Karena ini bukan kasus main-main." Ucap Wangi dengan mimik wajah yang serius.

__ADS_1


"Aku setuju." Sahut Zahara.


Setelah itu mereka berempat keluar dari ruang operasi dengan membawa baki kecil berisikan lima bungkus narkoba yang tadi mereka temukan di dalam perut Ali.


Sungguh waktu yang tepat, saat mereka keluar di luar pintu ruang operasi sudah ada Romero dan Galih, jadi mereka tidak usah repot-repot melaporkannya secara langsung pada Komandan. Di sana juga ada Dokter Gibran dan Dokter Rio yang sudah penasaran dengan hasil operasi.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Dokter Gibran.


"Kami sudah berhasil mengeluarkan semua benda yang ada di dalam tubuh pasien Ali." Jawab Zahara.


"Dan tepat sekali kalian berdua ada di sini jadi kami tidak perlu lagi datang ke markas kalian untuk bertemu Komandan." Ucap Elias kemudian.


"Kami berudua juga ada perlu terkait informasi pasien, makanya kami datang ke sini. Tapi apa ada hal penting yang perlu kalian sampaikan hingga harus bertemu Komandan kami?" Tanya Galih.


"Ini." Wangi memperlihatkan benda di atas baki yang dia bawa.


"Apa itu?" Tanya Galih yang kurang tahu benda apa itu.


"Ini benda asing yang kami keluarkan dari perut pasien Ali. Ini adalah jenis narkotika" Jawab Wangi.


"Apa?! Narkotika?!" Seru Romero yang terkejut.


"Iya, dan saya rasa kami butuh pengamanan." Ucap Wangi.


"Kalian butuh pengamanan?" Tanya Romero.


"Bukan untuk kami, tapi untuk pasien bernama Ali itu. Karena feeling saya dia telah terlibat dalam hal besar yang berbahaya." Sahut Zahara.


"Benar, berbahaya." Gumam Galih lirih.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2