Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 98 Rahasia Yang Ada Di Kota


__ADS_3

Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu, tinggal satu bulan lagi Wangi dan para teman relawannya akan kembali ke tanah air dan akan digantikan oleh relawan yang lain.


"Aduh... Kayaknya persediaan pembalut aku mulai menipis nih." Celetuk Wangi.


"Sama nih, aku juga. Mana bentar lagi waktunya lagi." Sahut Anne.


Mereka kini sedang berada di kamar asramanya setelah seharian mereka bekerja dan sore itu mereka sedang mengecek barang-barang mereka sekalian nyicil buat ngepacking barang yang akan mereka bawa pulang bulan depan.


"Besok siang aja deh pas istirahat, aku akan ke kota minta anter sama Galih, siapa tahu dia lagi gak sibuk. Ntar kamu nitip aku saja." Ujar Wangi.


"Oke deh, tapi kalau dia gak bisa nganter gimana?" Tanya Anne.


"Ya cari orang lain yang bisa, siapa tahu ada yang lagi mau ke kota. Sebenarnya di desa dekat sini ada toko kelontong sih, tapi kurang lengkap, lagian ada barang lain yang mau aku cari." Jawab Wangi.


"Terserah kamu saja deh... Aku kan cuma nitip, beli dimana saja gak masalah, yang penting pembalutnya ada." Kata Anne.


"Beres..." Sahut Wangi sambil mengacungkan jempolnya.


"Kalau gitu aku mandi dulu ya... Gerah nih." Ujar Wangi dengan handuk yang sudah tersampir di pundaknya dan perlengkapan mandi yang sudah ada di tangannya.


"Ya sudah cepet, gantian." Sahut Anne.


"Kamar mandi kan banyak Ne..." Kata Wangi.


"Jam segini full, anak-anak pada mandi." Sahut Anne.


"Terserah deh..." Balas Wangi sambil nyelonong keluar dari kamar mereka.


Wangi yang hendak ke kamar mandi tidak sengaja melihat Galih dari kejauhan.


"Galih..!!" Teriak Wangi memanggil Galih.


Sontak Galih pun tengak-tengok mencari arah sumber suara.


"Galih...!! Di sini..!!" Teriak Wangi lagi. Dan di saat itu pula Galih melihat Wangi yang sedang melambai ke arahnya. Dengan senyum yang merekah Galih berlari kecil menghampiri Wangi.


"Sayang, mau mandi?" Tanya Galih ketika sudah berada di hadapan Wangi.


"He'em." Sahut Wangi seraya menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah mandi?" Tanya Wangi balik.


"Belum, habis ini. Kamu mandi dulu sana gih." Ujar Galih.


"Iya... Masih ngantri juga. Oh ya, besok siang kamu ada tugas gak? Atau waktu luang gitu." Tanya Wangi.


"Belum tahu ya... Kalau waktu sih ada, tapi yang namanya tugas dadakan mana ada yang tahu. Ada apa sih yang? Mau ngajak ngedate ya...hemm?" Jawab Galih seraya bertanya dengan sedikit bercanda.


"Iya." Jawab Wangi singkat.


"Serius?" Tanya Galih tak percaya jika pertanyaan candaannya tadi ternyata benar.


"Antara serius gak serius." Jawaban Wangi itu membuat Galih mengerutkan dahinya.


"Maksudnya apa nih? Jangan ambigu gitu dong yang..." Tanya Galih bingung maksud kekasihnya itu apa.


"Haha... Enggak... Sebenarnya aku tuh mau minta tolong sama kamu buat anterin aku ke kota, ada barang buat keperluan sehari-hari yang musti aku beli di mini market di sana." Jawab Wangi menjelaskan.


"Owh... Mau ke kota to? Bilang dong dari tadi, kirain mau ngajak kencan beneran, tapi bisa juga sih sekalian hehe..." Ujar Galih sambil terkekeh tengil.


"Yee...itu sih mau kamu." Kata Wangi meledek.


"Tapi kamu mau juga kan? Gimana kalau malam ini?" Ujar Galih tiba-tiba.


"Ha?! Malam ini? Emang kamu bisa? Gak papa nih keluar malam-malam gini? Aman?" Tanya Wangi memberondong.


"Satu-satu dong tanyanya... Nggak apa-apa, insya'allah aman, justru kalau malam gini kita lebih sering senggangnya dan boleh kok kalau ijin keluar selama ada keperluan. Mumpung aku gak ada jadwal tugas patroli malam." Kata Galih menerangkan.

__ADS_1


"Oke deh kalau gitu, aku mandi dulu trus siap-siap." Ucap Wangi menyetujui ajakan Galih ke kota malam ini.


"Ya sudah, aku juga mau mandi, nanti kita keluar habis magrib saja biar gak kemalaman pas baliknya." Kata Galih.


"Siap ndan! Laksanaken!" Sahut Wangi dengan meniru posisi hormat.


"Haha... iya, iya sana gih!" Balas Galih sambil mengusap-usap kepala Wangi.


Setelah itu Wangi kembali ke niat awalnya yaitu menuju kamar mandi untuk mandi. Dan Galih kembali ke asramanya.


.


.


Sesuai janji, sehabis sholat magrib Galih menjemput Wangi di asramanya.


"Sudah siap?" Tanya Galih yang melihat Wangi keluar dari asrama relawan dengan tas selempang kecil di bahunya.


"Sudah, yuk!" Jawab Wangi sambil menggamit lengan Galih. Sekarang hubungan Wangi dan Galih sudah terang-terangan. Semua orang di sana sudah tahu jika mereka berdua adalah sepasang kekasih yang hampir saja tunangan tapi terpaksa berpisah karena tugas Galih yang harus pergi ke Lebanon. Jadi pemandangan kedekatan mereka berduapun sudah biasa terlihat di sana.


Mereka berjalan ke arah parkiran mobil dan di sana sudah ada Romero dan juga Zahara.


"Lho... Kok ada mereka berdua?" Tanya Wangi sedikit bingung, karena yang dia tahu dia hanya pergi berdua saja dengan Galih.


"Hai Wang... Kami juga ikut ke kota." Sapa Zahara yang juga bilang dia dan Romero akan ikut.


"Berempat lebih bagus daripada berdua, karena kalau ada apa-apa di jalan paling tidak yang lain bisa membantu." Ucap Galih.


"Iya sih, benar juga... Tapi, sekalian kalian mau pacaran kan?" Ledek Wangi.


"Ya kan apa salahnya? Masa cuma kalian saja yang boleh jalan berduaan." Sahut Romero.


"Iri nih ceritanya?" Galih pun ikut meledek.


"Terserah deh, anggap saja begitu, buruan cabut! Keburu malam." Ujar Zahara menengahi dan merekapun bergegas masuk ke dalam mobil dan keluar markas menuju ke kota yang berjarak kurang lebih satu jaman.


Wangi dan Zahara pun turun dari mobil yang diikuti oleh Galih dan Romero.


"Kalian ikut turun juga?" Tanya Wangi.


"Iya dong... Nanti kalau ada yang godain kalian gimana?" Sahut Romero.


"Idihh... Cowokmu tuh suka gombal." Cibir Wangi.


"Gak apa-apa Wang, lumayan ada yang bawain barang belanjaan kita..." Ujar Zahara.


"Emang sih... Wajah Romero wajah-wajah kacung." Ledek Galih.


"Pfft... Udah ah, keburu malem, masuk yuk!" Wangi langsung menarik tangan Galih untuk masuk ke dalam toko.


Disaat mereka asik berbelanja, tiba-tiba ada keributan kecil di depan mini market tersebut. Terlihat ada sekawanan lelaki yang tengah menghajar seorang laki-laki lainnya.


"Ada apa?" Tanya Wangi.


"Entahlah... Sepertinya ada perkelahian." Jawab Galih.


Kemudian salah seorang pegawai di mini market tersebut berbicara dengan bahasa Lebanon, yang kurang lebih seperti ini...


"Ah, mereka berulah lagi." Kata pria pegawai di sana.


"Berulah lagi?" Galih membeokan pertanyaan pada pegawai itu.


"Beberapa bulan terakhir ini sering terjadi keributan seperti itu. Orang yang dipukuli itu pasti sedang tidak bisa membayar hutangnya di Kasino." Ucap pegawai itu memberi informasi.


"Kasino? Di tempat seperti ini ada Kasino?" Tanya Romero tak percaya.


"Sstt!! Sebenarnya ini rahasia. Kau tahu ada jalan masuk kecil di ujung sana? Di dalam sanalah tempatnya, mereka menyamarkan tempat itu seperti bar kopi biasa, tapi di sana juga menjual minuman keras dan tempat untuk berjudi." Ucap si pegawai lelaki itu.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu itu?" Tanya Galih.


"Setiap orang yang keluar dari sana selalu dalam keadaan mabuk, mereka terkadang masuk ke dalam mini market ini dan membuat sedikit keributan dengan berteriak-teriak karena sudah kalah bertaruh." Terang pegawai itu kembali.


"Jadi, aku harap kalian jangan pernah pergi ke sana karena sangat berbahaya, mereka bisa menyiksa orang dengan kejam seperti tadi jika tidak bisa membayar hutang taruhan." Katanya lagi.


"Oh ya, satu lagi! Jika kalian melihat orang dengan tato kalajengking di lengannya, lebih baik kalian menghindarinya!" Kata pegawai itu sekali lagi.


"Kenapa?" Tanya Galih.


"Itu salah satu dari kelompok mereka." Jawab si pegawai.


"Kalajengking? Itu kan tato yang sama yang pernah aku lihat di tangan pencuri mobil box pengiriman beberapa bulan lalu..." Batin Galih.


"Lalu bagaimana dengan kepolisian setempat?" Tanya Galih.


"Entahlah... Aku juga heran karena sekalipun mereka tidak pernah berurusan dengan polisi." Jawab pegawai itu.


"Ini aneh..." Batin Galih lagi.


"Terimakasih infonya. Kami sudah selesai dan ingin membayar." Ucap Romero langsung memotong pembicaraan tersebut dan tidak ingin terlalu lama di sana. Bahaya.


"Kalian sudah tidak ada lagi yang harus dibeli kan? Jangan sampai ada barang yang tertinggal dan harus kembali ke sini." Tanya Romero pada Wangi dan Zahara dengan raut wajah yang berubah serius.


"Gak ada, ini sudah semuanya." Jawab Zahara.


"Galih, kita harus segera cabut dari sini." Ucap Romero seraya berbisik pada Galih dan Galih yang mengerti maksud Romero pun langsung mengangguk. Para wanita yang tidak mengerti apa-apa hanya dapat menurut saja meski merekapun juga penasaran, sebenarnya apa yang terjadi?


Setelah menyelesaikan urusan mereka di mini market tersebut, mereka langsung kembali ke dalam mobil. Romero yang kini menyetir langsung menancapkan gas mobilnya kembali ke markas mereka. Di dalam perjalanan terasa hening tidak ada pembicaraan apapun hingga akhirnya sampai ke markas Indobatt dengan selamat.


"Sebenarnya apa sih yang terjadi? Setelah keluar dari mini market tadi kalian hanya diam saja tanpa bicara sepatah katapun." Tanya Zahara yang sudah mulai kesal dengan keheningan itu.


Saat itu mereka masih di dalam mobil dan belum keluar dari sana.


"Kalian berdua mengerti apa yang pegawai toko tadi bicarakan?" Tanya Galih.


"Aku kurang paham karena dia tidak memakai bahasa Inggris dengan benar dan campur-campur dengan bahasanya sendiri." Jawab Wangi.


"Aku hanya menangkap soal tato kalajengking dan Kasino?" Jawab Zahara.


"Benar, kata pegawai tadi bilang jika ada kelompok yang meresahkan dengan tanda tato kalajengking di lengan tangannya. Mereka membuka Kasino dan bar minuman keras dengan kedok kedai kopi. Kelompok tersebut tak segan-segan menyakiti orang lain yang secara langaung membuat masalah dengan mereka, seperti soal judi yang tidak bisa dibayar." Terang Galih.


"Jadi... Pengroyokan yang kita lihat tadi tentang itu?" Tanya Wangi.


"Lalu, kenapa kalian berdua jadi tegang begitu? Itu kan bukan urusan kalian?" Tanya Zahara.


"Karena aku melihat tato kalajengking yang disebut pegawai tadi ada di lengan pencuri mobil box pengiriman beberapa bulan lalu." Jawab Galih.


"Hah??! Aku kira kamu melihatnya di tangan salah satu bawahan opsir polisi itu." Celetuk Romero.


"Bawahan opsir polisi juga punya tanda tato itu?" Tanya Galih.


"Iya, aku tidak sengaja melihatnya ketika dia mengangkat mayat pelaku tersebut ke dalam mobilnya. Aku kira itu tato biasa. Jadi..."


"Mereka sudah berkomplot dengan kepolisian di sana atau salah satu polisi di sana sedang bermain api." Ucap Galih memotong ucapan Romero.


"Aku minta untuk masalah ini jangan sampai menyebar dulu, tolong rahasiakan apa yang kita tahu untuk sementara. Cukup kita berempat saja yang tahu. Karena kita belum tahu seberbahaya apa masalah ini. Ini masalah intern negara mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan tugas kenegaraan kita." Kata Galih dan mereka semuapun setuju.


Tapi mereka tidak tahu jika sesuatu yang mereka hindari mungkin saja akan mendekat sendiri ke arah mereka.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2