Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 26 Merawat Elias


__ADS_3

Wangi segera melakukan tugasnya seperti biasanya, mengecek keadaan pasien-pasien yang berada dibawah tanggung jawabnya, memeriksanya lalu membuat laporan seperti biasanya. Sejak pagi tadi dia sudah wira-wiri ke sana-kemari hingga merasa lelah dan beristirahat sebentar di ruangannya. Di sana tidak hanya ada dirinya saja, melainkan beberapa dokter koleganya juga ada di ruangan itu berasama dengan kesibukan masing-masing.


"Kenapa muka kamu Van? Kelihatan kucel banget." Tanya Rohan pada Alvan yang juga teman sesama dokter yang merupakan satu angkatan dengan Wangi ketika lelaki itu masuk ke dalam ruangan.


"Aku capek banget baru selesai operasi, maunya tidur bentar di ruang istirahat kan lumayan nyium kasur bentar tapi gak jadi." Jawab Alvan dengan keluh kesahnya.


"Kenapa?" Tanya Rohan lagi yang merasa heran, mau tidur kok gak jadi?


"Ada Dokter Elias di sana lagi tidur, makanya aku langsung balik." Ungkap Alvan.


"Ya elahh... Ranjangnya kan gak cuma satu Van, cari ranjang lain napa?" Ujar Rohan.


"Ogah ah, ngeri! Ntar malah ditanya yang macam-macam." Sahut Alvan sambil bergidik ngeri membayangkan Elias dengan tatapan dinginnya itu.


"Eh tapi tumben-tumbennya ya Dokter Elias tidur di sana jam segini pula, kalau diingat-ingat sejak pagi tadi dia kan gak kelihatan sama sekali." Ujar Rohan lagi.


Wangi yang tanpa sengaja mendengar percakapan kedua temannya itu langsung mengingat sesuatu tentang pesan yang diucapkan oleh Dokter Sandy kepadanya pagi tadi.


"Mati aku! Aku lupa sama yang diomongin sama Dokter Sandy tadi pagi, tu orang gak kenapa-kenapa kan? Jangan-jangan pingsan lagi." Ujar Wangi dalam hatinya dengan perasaan yang sedikit was-was.


Tanpa pikir panjang dan tidak ingin terjadi apa-apa pada Elias, Wangi langsung bangkit dari tempat duduknya sembari menyambar stetoskop nya dan berlari ke luar ruangan.


"Astaga! Bikin kaget saja, itu anak kenapa ya?" Alvan langsung mengelus dadanya saking kagetnya ketika Wangi tiba-tiba berdiri hingga menimbulkan decitan pada kursinya lalu berlari begitu saja sehingga membuat teman-temannya bingung.


"Mana aku tahu? Aku juga tadi sama kagetnya kaya kamu." Jawab Rohan sambil mengedikkan bahunya.


Wangi segera berlari menuju ruang istirahat dokter yang jaraknya tidak begitu jauh dari ruangan para dokter.


Dia berhenti sejenak di depan pintu ketika dirinya telah sampai di sana. Dia mengatur napasnya yang kini sudah ngos-ngosan karena berlari secepat kilat sampai ke situ. Dia merapikan beberapa anak rambutnya dan bajunya yang sedikit berantakan karena sudah berlari-lari. Setelah dirasanya cukup rapi dan napasnya sudah kembali normal, Wangi dengan perlahan membuka pintu ruang istirahat tersebut lalu melangkahkan kakinya masuk dengan perlahan. Di dalam sana dia melihat seseorang tengah berbaring di salah satu bed yang ada di sana. Setelah Wangi mendekatinya ternyata benar, itu adalah Elias yang sedang tertidur dengan peluh yang terlihat jelas di dahinya, wajahnya pun terlihat pucat.

__ADS_1


Wangi segera mengambil tissue yang ada di atas meja ruangan tersebut dan mengelap peluh di dahi dan wajah Elias. Setelahnya dia mengukur suhu badan Elias dengan termometer yang dia bawa di dalam saku jasnya, dia juga memeriksa detak jantung Elias secara perlahan dengan stetoskop yang ia bawa tadi.


"37,45°C. Lumayan tinggi." Gumam Wangi.


Tidak lama kemudian terdengar ketukan dari luar dan Wangi segera bergegas membukannya.


"Permisi Dok, saya membawa pesanannya." Seorang OG datang membawa sebuah baskom berisi air hangat dan handuk kecil, dia juga membawakan semangkuk bubur dan sebotol air mineral.


"Makasih ya mbak, tolong taruh saja semuanya di meja." Pinta Wangi. Ternyata sebelumnya Wangi pergi ke bagian pantry dan memesan tadi yang dibawa OG untuk Elias.


OG itu kemudian pergi meninggalkan Wangi bersama Elias setelah meletakkan baskom air hangat dan semangkuk bubur di atas nakas.


Wangi mengambil handuk kecil yang dibawa OG tadi dan merendamnya di dalam air hangat sebentar lalu memerasnya dan ia gunakan untuk mengkompres kepala Elias. Mungkin karena merasa terganggu oleh sesuatu yang menyentuh kepalanya, Elias akhirnya terbangun dan langsung menyentuh kompresan yang ada di kepalanya.


"Ekh... Apa ini?" Ucap Elias masih setengah sadar.


"Aghh... Wangi? Ah maksud saya Dokter Wangi." Elias langsung mengoreksi ucapannya yang tidak sengaja menyebut nama Wangi dengan santai sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


"Iya Dok, ini saya. Maaf saya tidak sengaja membangunkan Dokter, tapi untungnya Dokter langsung terbangun karena sudah waktunya makan siang. Saya sudah pesankan bubur buat Dokter Elias, nih Dokter makan dulu, habis itu langsung diminum obatnya." Ucapa Wangi sembari berdiri mengambilkan bubur untuk Elias makan. Sementara Elias hanya bisa mengernyitkan dahinya menatap Wangi sambil mendengarkan ocehan Wangi yang terdengar seperti dirinya berbicara kepada seorang pasien.


"Kenapa Dokter Wangi bisa ada di sini?" Alih-alih menerima semangkuk bubur yang disodorkan Wangi untuknya, Elias justru menanyakan kenapa Wangi bisa ada di situ bersamanya.


"Karena saat ini saya sedang bertugas merawat seorang pasien." Jawab Wangi.


"Pasien? Maksutnya saya?" Elias menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk jarinya.


"Siapa lagi? Di sini yang sedang sakit hanya ada anda Dokter Elias." Ujar Wangi.


"Tapi..." Wangi langsung memotong ucapan Elias.

__ADS_1


"Sudah, pasien jangan banyak protes, harus nurut sama dokternya jika pengen cepat sembuh, sekarang anda habiskan buburnya dan minum obatnya." Perintah Wangi dengan menaruh meja lipat yang diatasnya sudah ada bubur, air minum dan obat di depan Elias yang sedang duduk di atas bed-nya.


"Saya tidak menerima bantahan!" Lanjut Wangi ketika Elias hendak membuka lagi mulutnya untuk berbicara. Entah mengapa disaat sakit begini dirinya tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Wangi. Di satu sisi dia malu karena kepergok sedang dalam keadaan lemah, namun di sisi lain dirinya juga senang karena Wangi begitu perhatian untuk mau merawatnya. Elias memilih menyerah karena kepalanya begitu pening, badannya lemas dan merasa lapar juga. Mungkin menuruti Wangi tanpa perdebatan saat ini adalah pilihan yang tepat untuknya. Elias pun meraih sendok di hadapannya dan menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.


"Huek... Gak enak, pahit!" Elias mengernyit ketika merasakan pahit di dalam mulutnya ketika mengunyah makanannya.


"Ckck... Kalau seperti ini anda terlihat sangat normal Dokter Elias." Celetuk Wangi sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


Elias hanya melirik Wangi sekilas dan melanjutkan lagi makannya, mau tidak mau dia harus menelan makanannya meskipun terasa pahit di mulut. Elias tidak boleh membiarkan perutnya kosong karena harus meminum obatnya. Terlebih lagi dia tidak ingin merasa malu di hadapan Wangi hanya karena mengeluh pahit di mulutnya seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.


Dengan ditunggui oleh Wangi akhirnya Elias dapat menghabiskan semangkuk bubur yang terasa pahit di mulutnya itu dan meminum obat yang diberikan oleh Wangi untuknya.


"Nah sekarang sudah beres semuanya, saya akan balik lagi bekerja. Dokter Elias istirahat saja atau pindah ke kamar pasien? Kalau mau saya akan infus Dokter." Kata Wangi menawarakan untuk pindah ke ruang rawat inap.


"Jangan berlebihan, saya hanya demam biasa karena kecapekan, saya akan istirahat sebentar kemudian pulang, saya bisa pasang infus sendiri di rumah jika memang dibutuhkan." Ucap Elias sambil merebahkan kembali tubuhnya.


"Okey, kalau begitu saya pamit dulu ya Dok, semoga cepat sembuh." Ucap Wangi lalu membalikkan badannya hendak melangkah keluar dari ruangan tersebut, namun suara Elias menghentikannya.


"Terimakasih."


Wangi membalikkan lagi badannya mengarah ke Elias.


"Terimakasih sudah mau merawat saya." Ucap Elias lagi.


"Ya, sama-sama." Jawab Wangi seraya tersenyum canggung kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Ya Tuhan... Bagaimana bisa aku mengabaikan perasaanku jika kamu seperti ini Wangi?" Gumam Elias sambil menutupi matanya dengan sebelah lengannya ketika pintu ruangan itu telah tertutup kembali.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2