Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 89 Sstt..!! Diam!


__ADS_3

Wangi menyeduh teh di pantry Rumah Sakit setelah panggilan video callnya dengan Wulan selesai dan akan membawanya kembali ke ruang staff dokter. Hari sebentar lagi sore tapi udara hari ini sudah mulai agak dingin. Itulah mengapa Wangi membuat secangkir teh untuk menghangatkan tubuhnya. Saat Wangi sudah sampai di depan pintu ruangannya, tiba-tiba Myta menghampirinya dengan terburu-buru.


"Dokter Wangi, saya baru saja mendapat kabar akan ada pasien darurat yang datang bersama ambulan kita yang tadi berpatroli di rumah-rumah penduduk." Ujar Myta memberi tahu.


"Baik, siapkan keperluannya di ruang UGD. Saya akan bersiap menunggu kedatangan mereka di depan." Kata Wangi.


"Baik Dok, di depan sudah ada Roy dan juga Dokter Lukman, suster Anne dan Maya juga sudah standby di UGD." Jawab Myta.


"Okey, saya pergi dulu." Sahut Wangi yang kemudian masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu untuk meletakkan cangkir tehnya dan mengambil stetoskop-nya sebelum pergi ke luar untuk menyambut datangnya ambulan.


"Luk gimana?" Tanya Wangi ketika sudah berada di depan Rumah Sakit dan bertemu Lukman dan Roy.


"Ada dua pasien yang sedang kritis, mereka terkena malaria. Sebenarnya ada empat tapi yang dua tidak terlalu parah, hanya gejala saja. Untungnya mereka langsung ditangani oleh Dokter Rio dan Dokter Elias yang kebetulan sedang tugas keliling, jadi dua pasien yang lainnya masih bisa dirawat di rumah saja." Terang Lukman dan Wangi langsung mengangguk-angguk mengerti.


"Ah, itu mereka datang!" Seru Roy.


Agak kejauhan terlihat mobil ambulan milik Rumah Sakit Indobatt yang dibarengi oleh suara sirine dan dua mobil khusus milik UNIFIL yang mengawal mereka. Perlahan mobil tersebut semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depan Rumah Sakit dimana Lukman, Wangi, Roy dan dua orang perawat lainnya menunggu.


Pintu bagian belakang terbuka, seorang perawat bernama Faisal keluar terlebih dahulu. Roy dan dua orang perawat lainnya langsung sigap membantu mengeluarka dua orang pasien dari dalam ambulan dan memindahkan ke atas brankar yang telah disiapkan. Lalu yang terakhir Dokter Rio bersama Elias pun mengikuti dari belakang.


"Dok, saya dengar mereka terkena malaria?" Tanya Wangi.


"Iya, sudah tiga hari panas mereka tidak turun-turun, awalnya keluarganya mengira hanya panas biasa dan mengobatinya seadanya. Untungnya dua keluarga yang lainnya masih tergolong gejala." Terang Dokter Rio sambil berjalan menuju UGD.


"Mereka semua satu keluarga Dok?" Tanya Wangi.


"Dua orang yang dibawa kesini bukanlah saudara, tapi pasien yang perempuan tadi salah satu keluarganya mengalami gejala malaria namun masih bisa diatasi dan cukup dirawat di rumah saja." Jawab Dokter Ria.


Kedua pasien tersebut ternyata laki-laki dan perempuan. Keduanya langsung dipasang selang infus di tangannya.

__ADS_1


"Si perempuan sempat mual dan muntah-muntah juga pusing, sedangkan yang laki-laki dia merasakan sakit kepala yang luar biasa, mual dan sempat berhalusinasi. Tadi saya sudah suntikkan antibiotik untuk menghentikan pertumbuhan bakteri tapi untuk antiparasitik_nya belum karena tidak ada persediaan di mobil." Ujar Dokter Rio.


"Dok ini antiparasitik yang diminta." Kata suster Maya yang datang membawa obat.


"Ah iya, terimakasih." Kata Dokter Rio yang langsung menerimanya dan menyuntikkannya kepada salah satu pasien.


"Biar satunya saya yang lakukan." Ujar Wangi yang mengambil satu obat yang tersisa di nampan obat yang di bawa Maya tadi.


"Terimaksih Dok." Ucap Dokter Rio.


"Sudah tugas saya juga." Sahut Wangi sambil tersenyum.


"Oh ya, Dokter Elias tadi kemana ya?" Tanya Wangi yang tidak melihat Elias setelah tadi mengantar pasiennya.


"Dokter Elias kembali ke rumah penduduk yang terjangkit malaria bersama perawat Faisal untuk mengantar obat katanya." Jawab Anne.


"Di duga mereka tergigit nyamuk atau serangga setelah pulang dari ladang. Kedua orang ini tetap pergi ke ladang meski merasa sudah tidak enak badan waktu itu dan akhirnya merekalah yang terkena paling parah. Di daerah mereka warga sering mengalaminya. Satu minggu sekali biasanya kami membagikan antiparasitik untuk warga, tapi sudah hampir satu bulan ini kami tidak membagikannya." Ungkap Dokter Rio.


"Kenapa?" Tanya Wangi.


"Persedian antibiotik dan antiparasitik kami menipis, hanya cukup untuk persediaan kami di sini saja karena pengiriman obat yang seharusnya datang awal bulan lalu belum datang dari pihak UNIFIL, untungnya waktu kalian datang kemarin ada sumbangan obat dari Indonesia yang datang bersama kalian jadi ada beberapa obat yang bisa kami bagi untuk warga yang membutuhkan tadi." Terang Dokter Rio memberi penjelasan.


"Kenapa mereka terlambat mengirimkan obat?" Tanya Wangi lagi.


"Entahlah... Mereka tidak menjelaskannya, hanya bilang ada sedikit kendala dan akan ada keterlambatan tapi katanya itu tidak akan lama." Jawab Dokter Rio.


"Ya semoga saja kita tidak harus menunggu satu bulan lagi untuk mendapatkan stock obat." Lanjut Dokter Rio sambil tersenyum.


"Amin... Semoga saja ya Dok." Sahut Wangi yang membalasnya dengan senyuman pula.

__ADS_1


"Kalau begitu kita tunggu perkembangannya sampai besok pagi, jika sudah stabil kita pindahkan ke ruang inap." Ujar Dokter Rio.


"Baik Dok, saya akan di sini sampai pagi untuk mengobserfasinya." Ucap Lukman.


"Memang tidak apa-apa Dokter Lukman ikut jaga malam? Para relawan tidak wajib dalam tugas jaga medis lho.." Tanya Dokter Rio.


"Tidak apa-apa, tidak wajib bukan berarti tidak boleh kan? Saya kan laki-laki, jadi tidak masalah, lagian saya sedikit bosan karena kalau di Indonesia saya tidak bisa sesantai di sini." Ucap Lukman.


"Baiklah kalau itu maunya Dokter Lukman, saya sih senang-senang saja ada temannya hehe..." Dokter Rio menimpali sembari tertawa.


"Kalau begitu saya keluar dulu nemuin keluarga pasien, tadi mereka mengikuti kami dari belakang." Ucap Dokter Rio kemudian.


Setelah Dokter Rio keluar dari ruang UGD, Wangi pun ikut keluar meninggalkan Lukman bersama Anne, Maya dan Roy yang berjaga di ruang UGD.


"Haahh... Mau kembali ke ruang staff dokter tapi teh aku pasti sudah dingin. Mending cari angin dulu di luar sebentar. Oh ya, tadi mobil patroli yang ikut ngawal ambulan, mobilnya Galih bukan ya? Solanya aku gak merhatiin karena terlalu fokus pada pasien." Gumam Wangi dalam hatinya sambil mengingat-ingat apa tadi ada Galih yang keluar dari mobil khusus patroli?


Wangi akan pergi ke tempat pohon besar yang waktu itu pernah ia datangi ketika sedang penat. Dan ketika dia sudah mau sampai, ternyata sudah ada Zahara yang berdiri di sana, di bawah pohon besar itu. Wangi tersenyum dan hendak berteriak memanggil nama Zahara namun tiba-tiba ada yang membungkam mulutnya dari belakang sebelum suaranya keluar.


"Za... Hmm..hmmm...!!" Wangi terkejut dan meronta-ronta ingin melepaskan bungkaman tersebut, tapi itu terlalu kuat.


"Sstt...!! Diam!"


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2