
Saat ini di ruang inap Galih...
"Memangnya aku harus ya melakukan ini? Jika orang lain melihat ini pasti mengira kita ini adalah pasangan yang aneh, hiiee... amit, amit..!" Keluh Romero yang menyuapi Galih di atas tempat tidur.
"Kau kan tahu sendiri jika Wangi tidak memperbolehkanku untuk menggunakan tangan kananku melakukan sesuatu untuk sementara ini, nanti jahitannya terbuka." Alasan Galih sambil membuka mulutnya dan Romero dengan sebalnya menyuapi Galih.
"Kamu kan masih punya tangan kiri Lih..." Sahut Romero.
"Aku kan nggak kidal Rom..." Balas Galih.
"Kenapa nggak minta Wangi saja sih yang nyuapin kamu?!" Tanya Romero kesal, padahal bisa saja kan Galih meminta Wangi yang notabenenya adalah kekasih dia untuk melakukan hal itu? Lebih romantis malahan, gak seperti dia yang terlihat aneh menyuapi seorang pria seusianya.
"Yaelah Rom... Aku kan lagi sakit, masa teman gitu...?" Sindir Galih yang membuat Romero enggan buat berdebat lagi.
"Iya, iya... Nih cepat habisin!" Sahut Romero yang menyuapkan kembali sesendok nasi dan lauknya ke dalam mulut Galih.
"Nah... Gitu dong, aaak... " Galih pun tersenyum kemenangan dan menyambut sesendok nasi dan lauk di hadapannya.
"Tolong minumnya dong Rom..." Pinta Galih.
"Yaelah, nih anak ngelunjak ya?! Padahal ambil sendiri pakai tangan kiri juga bisa. Nih..!" Gerutu Romero namun masih tetap mau mengambilkan minum untuk Galih.
"Makasih ya..." Ucap Galih sambil menaikkan alisnya dan tersenyum tengil pada Romero. Ahh... Sejak kapan Galih berubah tengil? Mungkin karena sedah terkontaminasi oleh virus Wangi.
"Kalau bukan teman, udah habis kamu..!" Gumam Romero yang masih bisa didengar oleh Galih, namun Galih hanya cuek sambil meringis saja.
Lalu tak berselang lama phonsel Romero terasa bergetar di saku celananya. Setelah dia lihat siapa yang menghubunginya, tak pikir panjang lagi langsung ia angkat.
"Hallo say...."
"Kamu dimana?!" Tanpa menunggu kata sapaan dari Romero, orang di seberang sana langsung memotongnya begitu saja.
__ADS_1
"Ini, lagi sama Galih di kamar inapny..." Jawab Romero dan..
Tuutt...tuuutt...
"Sa, sayang... Hallo sayang??" Ternyata panggilan tersebut ditutup begitu saja oleh si penelpon.
"Siapa? Zahara?" Tanya Galih.
"Iya, tapi habis itu ditutup begitu saja. Ada apa ya?" Tanya Romero pada Galih.
"Ya mana aku tahu? Aku kan bukan cenayang." Jawab Galih seperti biasanya, menjengkelkan di telinga Romero
"Ckk...!" Romero hanya berdecak kesal melihat muka tembok di depannya itu.
"Kok bisa ya Wangi kepincut sama cowok tembok kayak dia?" Batin Romero heran.
Dan lima menit kemudian terdengar suara pintu terbuka dengan cukup keras membuat Romero dan Galih terkejut dan langsung melihat ke sumber suara.
"Astaga sayang... Bikin kaget saja! Kalau jantungku copot gimana? Ntar gak ada yang deg-degan waktu lihat senyum kamu lho..." Ujar Romero yang sempat-sempatnya ngegombal ketika melihat Zahara di depan pintu.
"Ka, kamu tahu dari mana soal Soledat?" Bukannya menjawab, Romero malah menanyakan balik dengan pertanyaan lain.
"Erisha bilang jika wanita bernama Soledat dan seorang tentara dengan pakaian pelayan yang menyelamatkannya." Jawab Zahara dengan wajah yang ditekuk.
"Ohh itu..." Sahut Romero.
"Ohh itu..?? Jawab yang jelas! Apa hubungan kamu sama dia? Kenapa kemarin kamu tidak cerita apapun tentang dia? Kamu sengaja nyembunyiin biar ntar bisa ketemu sama dia lagi gitu? Aku dengar dia wanita penghibur, pasti cantik dan seksi." Tanya Zahara dengan nada super ketusnya.
"Nggak kok sayang... Cantikkan dan seksian kamu kemana-mana, suer..!!" Sahut Romero cepat sebelum Zahara lebih marah lagi. Sementara Galih yang cuma diam sebagai penonton saja langsung mencebikkan bibirnya sambil bereaksi muntah angin tanpa suara mendengar jawaban Romero.
"Hillihh... Cowok kalau kepepet pasti jawabnya gitu." Sindir Zahara tak percaya.
__ADS_1
"Beneran yang... Dia itu cuma ngebantu saja buat nunjikin arah ke tempat Erisha disekap karena dia sendiri juga ingin bebas dari tempat itu. Kalau gak percaya tanya saja sama Galih, dia yang ngirim Soledat ke aku." Ujar Romero sambil menunjuk ke arah Galih.
"Ehh... Kok aku dibawa-bawa?" Tanya Galih yang jadi ikut panik.
"Ya kan memang semuanya berawal dari kamu Lih, bantuin jelasin dong..." Sahut Romero sambil membuat ekspresi wajah ingin ditolong.
"Ya kan aku cuma ngirim buat ngebantu kamu, selebihnya aku gak tahu apa yang terjadi di sana saat kalian bersama. Aku kan sibuk ngehadapin Joshua." Pernyataan Galih barusan bukannya membantu Romero malah membuat lelaki itu mengumpati Galih dalam hati.
"Memang huasyeemm tenan nih anak..!!" Umpat Romero dalam hati. Sedangkan yang diumapi sedang menahan tawanya.
"Tuhh... Galih bilang, wanita itu memang dikirim buat ngebantu aku saja. Gak ada yang lain, sumpah!!" Romero masih berusaha membela dirinya sendiri sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebelah kanan membentuk tanda V.
"Awas kalau ada yang kamu sembunyikan lagi..!" Ancam Zahara.
"Iya sayang... Nggak ada kok." Sahut Romero dengan mengulas senyum leganya karena Zahara tidak jadi marah.
"Ughh... Bahu sama tanganku kok jadi pegel semua ya? Efek kecapekan kali ya kemarin?" Ujar Romero sambil memijat-mijat bahu dan tangannya sendiri.
"Efek karena gendong Lorena kali Rom..." Celetuk Galih tanpa dosa.
"Lorena...??!" Seru Zahara dengan mata yang melotot tajam ke Romero.
"Lho... Kalian semua ada di sini? Eh Ra, katanya mau bikin sambal rujak? Gak jadi ya??" Tepat setelah itu Wangi datang tanpa tahu keadaan sebelumnya.
"Jadi, sekarang juga aku mau buat!!" Jawab Zahara tanpa melepaskan tatapannya pada Romero.
"Mampus aku!! Romi, bertahanlah..." Batin Romero sambil menutupi 'Romi-nya' dengan bantal Galih.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...