Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 123 Tentang Mariam


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu setelah kejadian waktu itu. Erisha dan Ali sudah kembali ke desanya, mereka memutuskan untuk kembali bertani dan berkebun lalu menjual hasil panen sayuran atau buah-buahan ke markas Indobbat sebagai stock bahan makanan mereka. Ali ataupun Erisha masih trauma untuk datang ke kota menjual hasil panennya. Terlebih Erisha, pengalaman mengerikan itu masih membekas erat di benaknya. Jadi untuk sementara mereka menjualnya si daerah pinggiran kota selain di markas Indobbat. Untuk Soledat, untungnya masih ada sisa uang yang cukup untuk dia membuka kedai kopi yang sesungguhnya di dekat rumahnya agar dia tetap masih bisa mengawasi dan menjaga adiknya. Sementara Mariam, perempuan yang ditemukan hampir sekarat karena over dosis obat halusinogen kini masih di Rumah Sakit Indobatt. Bukan karena dia belum sembuh total, dia memang masih memerlukan beberapa perawatan tapi dia sendiri tidak ingin kembali ke rumahnya. Kedua orang tuanya sudah meninggal ketika dia beranjak remaja. Paman dan bibinya yang serakah menguasai harta orang tuanya setelah mereka meninggal dengan dalih kalau Mariam belum cukup umur untuk mengurus harta warisannya dan berlagak menjadi walinya hingga dia dewasa. Namun yang terjadi sebaliknya, paman dan bibinya hanya bisa menghambur-hamburkan uang peninggalan orang tua Mariam serta memperlakukan Mariam dengan kasar jika tidak melakukan yang mereka inginkan. Sedikit demi sedikit harata warisan tersebut habis karena pamannya tidak pandai berbisnis dan hanya bisa menghabiskan uang saja. Bahkan lahan perkebunan yang luasnya berhektar-hektar pun habis terjual untuk membayar hutang pamannya dan untuk memuaskan hasrat berjudinya. Tidak hanya itu, rumah peninggalan orang tua Mariam pun ikut dijual pamannya dan mau tidak Mariam ikut tinggal di rumah pamannya yang tidak sebagus rumah miliknya. Di sana dia diperlakukan dengan sangat kasar layaknya seorang pembantu. Setiap hari dia harus mengurus rumah mulai dari menyapu, mengepel, memasak dan mencuci sementara keluarga pamannya hanya bisa bersenang-senang dengan uang sisa penjualan aset peninggalan orang tua Mariam. Hingga uang itu habis, pamannya yang gila judi itu sampai hati menjual Mariam ke Lamona. Namun satu yang pamannya tidak tahu, orang tua Mariam meninggalkan satu warisan lagi, sebuah villa kecil di pinggiran kota dengan halaman luas yang cukup untuk berkebun. Itu adalah tempat rahasia yang sengaja ayah Mariam tinggalkan untuk berjaga-jaga apabila hal seperti itu terjadi. Ayah Mariam tahu jika saudaranya itu sangatlah tamak, dirinya takut bila suatu hari nanti dirinya pergi meninggalkan Mariam sendiri, saudaranya akan mengganggu anaknya karena istrinya sudah meninggal terlebih dahulu maka tidak ada yang Mariam punya selain pamannya. Oleh sebab itu hanya Mariam lah yang tahu soal villa rahasia tersebut.


"Pagi Mariam..." Sapa Wangi pagi itu.


"Pagi Dokter Wangi." Balas Mariam dengan tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu hari ini? Apakah kamu terkadang masih terasa pusing? Jangan terlalu dipaksakan bekerja, kamu bisa melakukannya pelan-pelan." Kata Wangi.


"Saya semakin merasa membaik dan saya merasa jauh lebih sehat. Saya suka melakukan pekerjaan ini, membantu merawat seseorang yang sedang sakit itu menyenangkan. Pikiran saya juga tidak menjadi kosong. Jika saya hanya berdiam saja, pikiran saya jadi kosong dan kemana-mana." Ungkapnya.


Ya, Mariam memutuskan untuk tetap di Rumah Sakit Indobbat untuk membantu para perawat dan dokter di sana merawat pasien. Itu salah satu bentuk rehabilitasi untuk dirinya setelah meminum obat halusinogen yang sangat banyak dengan terpaksa. Dia juga masih enggan untuk tinggal di villa peninggalan ayahnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, mungkin hanya seorang pengurus villa yang datang dua minggu sekali untuk membersihkannya dan merawat kebunnya di sana. Untungnya almarhum ayahnya sudah membayar di muka pengurus itu dengan uang yang cukup banyak dan pembagian hasil kebun yang orang itu rawat sebelum sang ayah meninggal. Mariam juga masih punya dana rahasia yaitu tabungan hasil penjualan panen di kebun villa tersebut yang dikirim sang penjaga villa ke rekening pribadinya. Untungnya buku rekening itu di simpan di villa tersebut sehingga pamannya tidak bisa menemukannya.


"Aku senang kamu jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi Mariam, apa kamu yakin masih tetap mau tinggal di sini? Ah, bukan maksudku untuk menyuruhmu pergi tapi... Apa kamu tidak memiliki mimpi apapun untuk kamu raih? Kamu masih muda sayang..." Tanya Wangi dengan hati-hati.


Mariam tersenyum, lalu menjawab...


"Dulu mimpiku adalah hidup berdua bersama ayahku sambil berkebun dengan tenang setelah ibuku meninggal. Aku ingin hidup tenang bersama ayahku dan bersama anak serta suamiku jika kelak aku berkeluarga. Sesederhana itu... Aku hanya ingin hidup bahagia dan damai. Tapi setelah ayahku meninggal karena kecelakaan, hidupku berubah. Rasa aman dan bahagia yang aku rasakan hilang begitu saja. Apalagi pamanku..." Mariam menghentikan ucapannya dan Wangi pun langsung sigap dan menggenggam tangan Mariam.


"Sudahlah jangan diteruskan. Maafkan aku karena kembali membuatmu mengingat hal yang menyakitkan." Kata Wangi yang merasa tidak enak hati namun Mariam langsung menggeleng dan tersenyum.


"Tapi aku bersyukur setelah melewati semua hal buruk itu. Aku bisa berada di sini, bertemu dengan banyak orang-orang baik dan bisa membantu orang yang yang sedang kesusahan. Aku merasa tidak sendiri lagi dan aku merasa berguna di sini. Aku sungguh-sungguh berterimakasih, entah apa jadinya diriku jika tidak bertemu dengan kalian." Ucap Mariam dengan tulus.

__ADS_1


"Ah... Bagaimana jika kamu sesekali mengajakku berlibur ke villamu barang satu hari saja? Aku dengar anggur dan buah tin di sana sebentar lagi akan panen?" Ujar Wangi sambil mengerlingkan sebelah matanya sembari tersenyum untuk mencairkan suasan.


"Tentu saja! Aku senang bisa ke sana bersama anda Dokter, kita bisa ajak yang lainnya juga. Jika saya sendirian maka saya hanya bisa menangis merindukan ayah dan ibu saya." Kata Mariam dengan wajah berbinar.


"Baiklah, kamu sudah setuju. Bagaimana kalau kita ke sana sebelum aku dan kawan-kawanku kembali ke tanah airku?" Seketika wajah Mariam langsung muram.


"Apa kalian akan kembali ke Indonesia?" Tanya Mariam dengan wajah sedihnya.


Wangi mengangguk sambil mengelus kepala Mariam yang jauh lebih muda darinya.


"Jangan bersedih... Meski jauh, kamu masih bisa menelponku atau mengirim surat untukku. Aku akan meninggalkan nomor telpon dan alamatku nanti. Setelah aku dan yang lainnya kembali, akan ada orang baru yang akan menggantikan kami. Kamu akan mendapat teman baru, akan lebih banyak orang yang akan kamu kenal maka banyak pula apa yang akan kamu pelajari, Mariam." Kata Wangi dengan lembut.


"Tidak bisakah anda tinggal lebih lama lagi?" Tanya Mariam dengan wajah memohon. Bagi Mariam, Wangi salah satu dari orang-orang di sana yang dekat dengannya. Jadi, dia akan begitu sedih bila suatu hari Wangi meninggalkannya.


"Maaf... Ini sudah peraturan. Ah... Apa kamu sangat begitu ingin menjadi perawat atau bahkan Dokter sekalipun?" Tanya Wangi ketika mengingat sesuatu.


"Aku ingin...tapi apa aku bisa?" Jawab Mariam ragu-ragu.


"Kenapa tidak? Katanya kamu termasuk murid yang pandai di sekolahmu dulu, kamu juga sudah menyelesaikan sekolah menengah atas dengan nilai yang bagus. Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliah saja? Sekarang sudah tidak ada orang yang mengganggumu. Pamanmu dan sepupumu Lorena sudah dipenjara, dan bibimu meninggal karena serangan jantung. Kini tidak ada yang menghalangimu lagi Mariam..." Kata Wangi. Ya, mirisnya gadis baik itu adalah sepupu Lorena yang merupakan anak buah Joshua.


"Tapi..."

__ADS_1


"Kamu bisa berkuliah di Indonesia." Ujar Wangi memotong ucapan Mariam yang langsung membuat mata Mariam terbelalak.


"Bagaimana bisa?" Tanya Mariam.


"Dengan beasiswa. Kamu ak yang pintar, kamu bisa mengajukan beasiswa ke universitas di Indonesi yang bisa menerima mahasiswa dari Lebanon. Kurasa di tempat aku berkuliah dulu bisa..." Jawab Wangi sambil tersenyum.


"Benarkah??" Tanya Mariam tak percaya.


"Aku akan mencari informasinya, tugasmu sekarang hanya belajar karena ujian masukknya sangat sulit. Tapi aku yakin kamu bisa karena kamu anak yang pintar. Itupun kalau kamu mau..."


"Aku mau..!!" Seru Mariam dengan cepat menjawab kata-kata Wangi.


Wangi tersenyum dan kembali mengelus kepala Mariam seperti seorang kakak kepada adiknya.


"Kamu bisa belajar pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru. Kamu harus benar-benar sehat dulu dan bersiaplah untuk belajar. Jika sudah siap, katakan padaku aku akan membantumu." Mariam langsung mengangguk mengeri.


"Terimakasih Dokter Wangi..." Ucap Mariam seraya memeluk Wangi dengan bibir tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2