
Keesokan harinya...
Sore itu Galih tengah bersiap-siap untuk bertemu Wangi, seperti biasanya dia akan menjemput kekasih cantiknya itu. Tapi untuk hari ini dia tidak akan menjemput Wangi di Rumah Sakit seperti biasanya. Sesuai yang direncanakan kemarin, hari ini dia dan Wangi akan membantu Wulan untuk bertemu dengan Jarno.
"Jar, kamu baru selesai mandi?" Tanya Galih yang baru saja melihat Jarno masuk dengan handuk yang dikalungkan di lehernya.
"Iya, kenapa?" Jawab Jarno dengan pertanyaan.
"Cepet siap-siap gih! Pakai baju yang rapi sana sekalian pakai minyak wangi." Perintah Galih yang membuat Jarno melongo karna kurang paham dengan perintah ambigu Galih.
"Haa?? Kenapa segitunya? Seperti orang ngajak kencan saja, pfftt..." Ujar Jarno dengan kekehan kecilnya.
"Emang, hari ini kamu akan aku ajak kencan." Sahut Galih yang membuat Jarno jadi bergidik ngeri mendengarnya.
"Ihh... Aku masih normal ya Lih, kamu habis ditolak sama perempuan ya bisa edan kayak gini." Jarno berujar sambil mengusap-usap lengan tangannya yang mendadak merinding.
"Sembarangan! Meski aku jadi perempuan aku akan mikir seribu kali buat berkencan sama kamu." Ucap Galih dengan menatap malas wajah Jarno.
"Lha terus itu tadi apa?" Tanya Jarno yang semakin bingung oleh Galih.
"Ikut aku pergi ngopi." Jawab Galih sekenanya.
"Yaelah... Pergi ngopi saja musti dandan segala, paling juga ngopinya di warungnya bu Win." Ujar Jarno sambil geleng-geleng kepala.
"Sembarangan! Kita ngopinya agak jauhan, sekalian ikut aku mencari sesuatu, tapi sstt..!! Jangan bilang-bilang yang lainnya, yang ada mereka pada ikut semua." Ucap Galih setengah berbisik.
"Kemana? kok mencurigakan gitu." Tanya Jarno dengan tatapan curiganya.
"Sudah jangan banyak tanya, yang jelas hari ini aku perlu bantuan kamu, nanti kamu bakal tahu sendiri. Sudah sana cepat ganti baju gih!" Ujar Galih yang masih enggan menjawab rasa penasaran Jarno. Ya tentu saja Galih harus merahasiakan dulu rencananya itu kalau tidak mau Jarno kabur dan merusak rencana yang sudah dia susun bersama Wangi.
"Iya, iya ini juga lagi pakai baju." Sahut Jarno sambil memakai kaos berwarna putih yang akan dia padukan dengan jaket jeans dan celana jeans hitam panjang.
"Jangan lupa pakai parfumnya!" Galih kembali mengingatkan Jarno.
"Iya, iya ini juga lagi dipakai." Jawab Jarno sambil menyemprotkan parfum miliknya.
"Ini anak aneh kelakuannya hari ini." Gumam Jarno sambil menatap Galih yang sedang duduk sambil mengotak atik phonselnya.
"Sudah selesai Jar? Yuk berangkat sekarang." Ajak Galih yang terlihat kurang sabar. Maklum dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Galih.
"Sebentar, aku ambil dompet dulu." Jawab Jarno.
"Yuk!" Tak lama kemudian Jarno menghampiri Galih yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka setelah Jarno sudah selesai dengan semuanya. Mereka berdua pun segera pergi menuju tempat dimana mobil Wangi diparkir. Dan mereka berdua hanya menjawab ada keperluan sebentar jika ada kawan mereka bertanya saat berpapasan di jalan.
Jarno kembali merasa heran karena Galih menggunakan mobil yang Jarno ketahui milik sang Komandan hanya untuk membeli kopi.
"Lih, kok bawa mobilnya pak Komandan? Memangnya tidak apa-apa?" Tanya Jarno yang sedikit was-was takut-takut jika dia akan ikut kena masalah hanya gara-gara mengikuti Galih dengan membawa mobil Komandannya.
"Tidak apa-apa." Jawab Galih yang hendak masuk ke dalam mobil, namun lagi-lagi Jarno mencegahnya dan kembali bertanya.
"Beneran tidak apa-apa? Kita hanya pergi ngopi saja lho... Masak musti bawa mobil? Mobil Komandan pula." Tanya Jarna yang masih mode was-was.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini sekalian mau isi bensin juga." Jawab Galih masih dalam sikap santainya. Namun sekali lagi Jarno menghentikannya ketika ia hendak masuk ke dalam mibil.
"Seriusan gak papa? Ini mobil Komandan lho... Ini kan katanya hanya buat antar jemput anaknya, kalau kita kena masalah gimana?" Mendengar Jarno yang tiba-tiba panik sendiri membuat bibir Galih berdecak.
"Ckk... Aku sudah ijin, ini tadi yang nyuruh juga Komandan, jadi kamu gak usah khawatir gitu." Uajar Galih setengah geram.
"Ngomong dong dari tadi... Tiwas aku gemeteran gini." Sahut Jarno dengan logat Jawanya yang kental.
"Makanya nurut saja gak usah banyak tanya, cepet masuk! Nanti Komandan kelamaan nunggunya." Ujar Galih yang membuat Jarno kembali membelalakkan matanya.
"Apa? Pak Komandan iku ngopi bareng kita juga?" Galih segera masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Jarno dan hanya bergumam dalam hati, "Iya, Komandan Wangi yang nunggu haha." Tawa Galih dalam hati. Galih segera melajukan mobilnya setelah Jarno masuk dengan banyak pertanyaan yang memberondong Galih dan Galih hanya menjawab sekenanya saja sehingga membuat Jarno tambah frustasi.
"Lhaa... Ini kan di Mall. Kita ngopi di Mall Lih?" Tanya Jarno setelah mobil yang mereka kendarai memasuki parkiran Mall.
"Iya." Jawab Galih singkat.
"Wahh... Ternyata seleranya Komandan ngopinya di Mall to..." Celetuk Jarno sambil manggut-manggut sendiri.
"Beda dengan selera kita yang cuma ngopi di warung kopi saja." Tambahnya lagi.
"Ya sudah mending kita cepatan turun." Ujar Galih setelah memarkir mobilnya. Kali ini Jarno tidak banyak bicara lagi dan langsung mengikuti Galih yang turun dari mobil.
"Kita langsung naik ke food cort saja di lantai atas." Kata Galih yang diangguki Jarno begitu saja.
Setelah berada di food cort Galih terlihat celingak-celinguk mencari tempat janjian mereka.
"Kita janjiannya di food cort sebelah mana?" Tanya Jarno setelah melihat Galih yang bingung mencari tempat yang dimaksudkan.
"Katanya di sebelah sana, kita lihat ke sana saja dulu." Jarno mengangguk dan mengikuti langkah Galih. Tidak lama kemudian mereka menemukan tempat janjian yang dimaksud.
"Beneran di sini tempatnya Lih? Nggak salah kan? Ini lebih ke cafe anak muda ketimbang seleranya bapak-bapak." Jarno kembali dibuat heran, apa segaul itu Komandan mereka sehingga memilih tempat yang kekinian buat acara ngopi mereka.
"Benar kok gak salah, tunggu saja sebentar lagi orang yang kita tunggu datang." Jawab Galih, namun Jarno tetap merasa ada yang janggal sehingga muncul pemikiran-pemikiran konyol di benaknya.
"Jangan-jangan pak Komandan sedang berada dalam fase puber kedua, biasanya orang seumuran Komandan mulai kepingin melakukan hal-hal yang sering dilakukan anak muda. Masa sih Komandan Rendra mengalami itu sekarang?" Jarno bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
Tidak lama kemudian dua orang perempuan cantik datang menghampiri mereka berdua.
"Hai... Sudah lama nunggunya?" Tanya salah seorang perempuan yang ternyata adalah Wangi yang datang bersama Wulan.
"Eh sayang, kamu sudah datang? Duduk gih sini." Jarno yang tadinya bingung karena ada dua orang perempuan menghampiri meja mereka ditambah bingung lagi setelah melihat reaksi Galih menanggapi salah seorang perempuan itu yang tak lain adalah Wangi.
"Sayang??" Tanya Jarno membeo sambil melotot ke arah Galih.
"Dia pacar aku." Jawab Galih santai tanpa dosa.
"Hallo perkenalkan nama saya Wangi dan ini teman saya Wulan." Ucap Wangi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya ke arah Jarno.
"Ah iya, saya Jarno teman satu kompinya Galih." Ucap Jarno seraya membalas uluran tangan Wangi dan bergantian bersalaman dengan Wulun. Sesaat pandangan Jarno berhenti saat matanya bersirobok dengan mata Wulan.
"Sepertinya saya pernah melihat kamu tapi dimana ya? Ah maaf jika saya salah orang." Tanya Jarno dengan hati-hati, takut kalau dia dibilang sok tau atau malah sok kenal.
__ADS_1
"Iya memang, kamu pernah menolong saya disaat mobil saya sedang mogok di jalan." Jawab Wulan dengan senyum malu-malunya.
"Erhmm..." Dehaman Galih menyadarkan mereka.
Jarno langsung melirik tajam ke arah Galih, dirinya merasa sedang dibohongi oleh Galih.
"Saya awalnya curiga sama kamu kenapa Komandan memilih tempat anak muda buat janjian ngopi seperti ini. Ternya kamu yang janjian sama pacar kamu." Galih pura-pura tidak menanggapi ocehan Jarno dan memilih membolak balik buku menu di atas meja, sementara Wangi dan Wulan hanya terkikik geli melihat Jarno sudah kena prank mereka.
"Sayang, kamu mau pesan apa?" Galih malah mengajak Wangi untuk memilih menu makanan.
"Ckk... Bocah edan!" Umpat Jarno dan Wulan yang melihatnya masih terkikik geli.
"Emm... Mas Jarno mending milih menu juga." Ujar Wulan yang berusaha menarik perhatian Jarno.
"Ah iya, kamu juga." Akhirnya Jarno memilih menu pesanan dengan Wulan dalam buku yang sama.
"Pepet terus Wul... Keluarkan jurus Uler Keketmu, biar gatel-gatel itu Jarno." Seru Wangi dalam hati sambil terkekeh sendiri.
Setelah memesan makan dan minum mereka berempat terlibat obrolan ringan.
"Oh ya, kalian berdua bagaiman bisa kenal? Saya baru tahu jika Galih sekarang punya pacar." Tanya Jarno yang sedikit penasaran.
"Dari papa saya, soalnya setiap hari Galih disuruh papa saya untuk antar jemput saya baik kerja maupun ke kampus." Jawab Wangi.
"Tunggu, tunggu... Bukannya kamu setiap hari ditugaskan Komandan Rendra buat antar jemput anaknya?" Tanya Jarno pada Galih.
"Ya memang." Jawab Galih santai.
"Jangan bilang Galih bukan antar jemput anak lelaki Komandan melainkan anak gadisnya Komandan dan itu... Kamu??" Tunjuk Jarno dengan wajah penuh tanya dan Wangi pun hanya tersenyum mengangguk membenarkannya.
"Wah wah wahh... Hebat kamu Lih sudah berani pacari putri Komandan, bisa gempar dunia persilatan Batalyon kita jika mengetahui hal ini." Ungkap Jarno sambil bertepuk tangan.
"Wulan, kamu bukan putri Komandan juga kan?" Tanya Jarno yang jaga-jaga jika dia bakal kena prank lagi.
"Bukan, hanya saja salah satu teman kalian kebetulan adalah kakak sepupu saya." Jawab Wulan.
"Ha?! Siapa?" Jarno kembali dibuat terkejut.
"Josep." Jawab Wulan.
"Josep yang mirip orang Korea itu?" Wulan mengangguk karena tidak salah jika Josep mirip oppa Korea karena dia berdarah campuran Indo Korea.
"Kalau diperhatikan kalian memang agak mirip sih... Ternyata dunia ini sempit ya haha..." Jarno tertawa karena telah mengalami beberapa hal yang datang secara kebetulan. Apalagi Jarno tidak menyangka jika Wangi adalah gadis yang dia jumpai bersama Galih di warung bu Win yang pernah menembak Galih.
"Kamu juga suka kan sama cewek-cewek Korea, itu Wulan juga mirip sama cewek-cewek Korea yang sering kamu dengar lagunya." Ungkap Galih yang langsung mendapat pelototan tajam dari Jarno.
"Apa?? Kamu juga pernah bilang andai kata Josep itu perempuan pasti audah kamu pacari." Jarno langsung menendang kaki Galih yang berada di bawah meja. Bukannya Galih yang mengaduh tapi justru Wulan yang mengaduh sambil meringis.
"Kenapa Wul?" Tanya Wangi terkejut.
"Ada yang nendang aku tiba-tiba." Jawab Wulan sambil meringis merasakan kakinya berdenyut.
__ADS_1
"Mati aku! Salah sasaran." Batin Jarno kalang kabut. Galih yang melihat gelagat Jarno hanya mampu menahan tawanya.
Bersambung....