Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 32. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Waktu sudah semakin sore, sebentar lagi jam pulang kerjapun akan berdenting. Terlihat Wangi masih berkutat pada laptopnya. Terlihat dia sedang sibuk mengerjakan laporan para pasien dan mengerjakan beberapa tugas dari kampusnya. Hingga jam pulang kerjapun tiba Wangi masih saja sibuk dengan laptopnya. Elias yang sejak tadi juga sibuk dengan pekerjaannya menghentikan jari-jari tangannya yang menari di atas keyboard laptonya dan melirik ke arah jam tangan yang dipakainya, waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 WIB. Itu sudah lewat lima belas menit untuk jam pulang kerja sesuai jadwal mereka. Beberapa kolega mereka sudah mulai mengemas barang-barangnya karena mereka bersiap untuk pulang. Elias mengalihkan pandangannya ke arah Wangi dan melihat dokter cantik itu masih tidak bergeser dari tempat duduknya, ia masih fokus pada layar laptopnya seakan tidak berminat untuk segera pulang. Sejenak Elias tidak menghiraukannya, dia memilih mengemasi barang bawaannya untuk ia simpan di dalam tas kerjanya. Setelah selesai dari itu semua Elias masih tidak melihat tanda-tanda Wangi akan mengemas barangnya ataupun tanda-tanda perempuan itu akan pulang. Kemudian Elias menghampirinya.


"Dokter Wangi, tidak akan pulang sekarang?" Tanya Elias sambil mengamati apa yang dikerjakan junior tersayangnya itu.


Mendengar Elias menyebut namanya, Wangi spontan menghentikan jari-jarinya yang bergerak lincah diatas keyboard lalu mendongak menyamping menatap Elias yang berdiri di samping kirinya.


"Maksud Dokter Elias apa ya?" Dengan bodohnya Wangi menanyakan balik pada Elias. Mungkin karena terlalu fokus dengan pekerjaannya Wangi jadi tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Elias.


"Sudah waktunya pulang, kamu tidak akan pulang sekarang?" Elias mengulangi pertanyaan, kini dengan lebih jelas lagi sehingga Wangi langsung menangkap apa maksud pertanyaan Elias.


"Aah... Maaf saya sedikit kurang fokus pada pertanyaan Dokter, saya hari ini ada jadwal tugas jaga." Jawab Wangi yang ternyata malam ini adalah jadwal dia untuk tugas dokter jaga.


Elias mengangguk memahami, dia sendiri lupa bahwa hari ini Wangi giliran untuk piket dokter jaga padahal dia selalu hapal jadwal kerja Wangi selama di Rumah Sakit.


"Oh saya tidak ingat, saya kira bukan hari ini." Ujar Elias sedikit merutuki kebodohannya.


"Ehm... Kalau begitu saya pulang duluan, kamu baik-baik kerjanya." Pamit Elias dengan kekakuannya.


"Oh iya Dok silahkan, saya akan ingat pesan Dokter." Balas Wangi dengan ringisan kecilnya.


Setelah itu Elias berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Wangi dengan dua orang dokter lainnya yang kebetulan juga mendapat jadwal tugas jaga yang sama dengan Wangi.


"Menurutmu ada yang beda gak sih dari Dokter Elias akhir-akhir ini?" Tanya Lukman pada Farel teman dokter satu angkatan dengan Wangi.


"Emm... Sedikit lebih lunak dari biasanya sih kalau aku lihat, menurut kamu gimana Wang?" Wangi yang tadinya sibuk dengan laptopnya dan hanya samar-samar mendengar obrolan mereka berdua sedikit merasa terkejut karena namanya disebut oleh Farel.


"Lho kenapa kalian tanya aku?" Wangi balik bertanya.


"Kan perubahan Dokter Elias lebih terlihat jika dia bersamamu Wang." Ujar Farel lagi.

__ADS_1


"Ahh jangan dilebih-lebihkan deh..." Wangi mencoba menepis ucapan Farel meski dia sendiri memang merasakan perubahan Elias seperti kata kedua temannya barusan.


"Bukan dilebih-lebihkan, tapi apa yang kami lihat memang seperti itu." Lukman menimpali.


"Tuh kan... Bukan cuma aku saja lho yang bilang, Lukman saja ngerasa, kok kamunya yang gak peka?" Sambung Farel.


"Ah sudahlah gak usah dipikirin, malah bagus kan dia gak sering marah-marah killer lagi sama kita, dah aku mau lanjutin kerjaan." Sahut Wangi tidak ingin ambil pusing oleh presepsi teman-temannya dan kembali lagi sibuk dengan berkas-berkas kerjanya.


"Dasar kamu Wang jadi cewek gak peka sama sekali." Rutuk Farel yang tidak dihiraukan oleh Wangi sementara Lukman hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


Hari semakin larut, waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB tiba-tiba Wangi merasakan melilit di perutnya. Waktu itu dia baru saja berkeliling memeriksa beberapa pasien dan setelah selesai Wangi langsung kembali ke ruangannya sebentar lalu berencana untuk membeli makan malam untuk dirinya sendiri, namun belum sempat dia mengambil dompet dalam tasnya Wangi merasakan perutnya saat ini begitu sakit. Buru-buru dia mengurungkan niatnya untuk mengambil dompet, Wangi langsung keluar lagi dari ruangan dan langsung menuju ke toilet. Betapa kagetnya dia ketika sudah berada di dalam toilet.


"Astaga! Pakai acara datang bulan lagi, gimana nih? Aku gak bawa pembalut, mana gak ada perempuan di jadwal sift aku." Wangi saat ini ternyata sedang kedatangan tamu yang tak diundang.


"Kok bodoh banget sih aku sampai lupa jadwal datang bulan sendiri, lupa bawa pembalut lagi, coba ada Erika pasti gak kebingungan begini." Wangi baru ingat bahwa dirinya sedang tidak membawa pembalut, terlebih sahabatnya Erika yang tidak berada satu tim dengannya secara tidak langsung jadwal kerja mereka berbeda, ketika Wangi bertugas di Rumah Sakit, Erika mendapat jadwan untuk offline di kampus begitu sebaliknya kecuali hari-hari tertentu saja jadwal mereka sama.


"Kenapa cewek yang ikut di tim Elias hanya ada tiga orang termasuk aku sih?! Sedangkan cewek-cewek yang lain lebih milih ke timnya Dokter Sandy, mana saat ini mereka pada beda jadwal piket lagi." Wangi menggerutu sendiri di dalam toilet dan kembali merutuki nasibnya yang sedang sial. Ya... Sebagai info saja, sebenarnya bukannya gak ada perempuan yang ingin masuk ke tim Elias tapi memang laki-laki itu membatasi perempuan untuk masuk ke timnya, hanya beberapa saja termasuk Wangi, terlebih perempuan di prodi spesialis bedah umum tidaklah banyak dibandingkan dengan laki-laki.


"Hallo Koko, aku butuh bantuan nih... Kamu masih di Rumah Sakit kan sekarang?" Ternyata Wangi menghubungi Riko sahabat sedari oroknya. Ya siapa lagi yang ada di pikiran Wangi kalau bukan sahabat baiknya itu.


"Busyett dah! Belum juga apa-apa udah teriak nih bocah, kupingku bisa bolong tau Wang." Gerutu Riko di seberang sana.


"Lha emang kuping kamu selama ini tidak bolong Ko? Pantesan suka budek kalau diajak ngomong." Sahut Wangi setengah mengejak.


"Sialan! Emang ya mulut kamu suka bikin sakit hati." Ujar Riko sok didramatisir.


"Udah deh gak usah lebay, sekarang lagi urgent nih, aku butuh bantuan kamu." Ujar Wangi setelah ingat tujuannya menelpon Riko.


"Sudah aku duga kamu pasti ada maunya telpon malam-malam begini, ada apa sih?" Tanya Riko yang merasakan perasaan tidak enak.

__ADS_1


"Ko aku lagi datang bulan nih." Kata Wangi.


"Trus hungannya sama aku apa?" Tanya Riko merasa curiga.


"Aku lagi piket jaga nih, trus aku lupa nggak bawa pembalut, tolong beliin dong Ko... Kamu lagi tugas jaga kan?" Jawab Wangi sembari mengutarakan maksud hatinya.


"Pertama, aku gak lagi tugas jaga dan kedua, emang aku lelaki apaan beli begituan? Ogah!" Tolak Riko mentah-mentah.


"Idiihh... Sok suci padahal situ Dokter Obgyn yang suka lihat yang begituan, masa beli pembalut saja malu." Ejek Wangi pada kebodohan Riko.


"Ya bedalah itukan tugas, pokoknya kan sudah aku bilang aku lagi di rumah Wang... Banyak tugas yang harus diselesaikan juga. Sorry gak bisa bantu." Kata Riko yang kembali menolak permintaan Wangi.


"Yaahh gimana dong? Mana gak ada cewek yang satu sift sama aku." Keluh Wangi yang merasa mulai putus asa.


"Kan ada suster perempuan di sana Wang, minta merekalah kan bisa." Kata Riko kemudian.


"Nah itu dia masalahnya Ko, aku sudah keburu di dalam toilet, tadi juga sebelum telpon kamu aku sudah hubungi nomor di ruang perawat tapi gak ada yang angkat." Keluh Wangi lagi.


"Wahh apes banget kamu Wang, mau gimana lagi aku tidak bisa bantu, maaf ya Wang..." Ucap Riko merasa menyesal karena tidak dapat membantu Wangi.


"Ya udah deh gak apa-apa." Setelah mengatakan itu Wangi langsung menutup telponnya.


"Duhhh... Gimana nih? Mereka pada kemana sih?" Wangi semakin panik saja ketika dia mencoba lagi menelpon di bagian perawat namun lagi-lagi tidak ada yang mengangkatnya.


Disaat rasa bingung dan paniknya serasa sudah diujung tanduk barulah Wangi sadar ada satu orang lagi yang mungkin tidak bisa menolak permintaannya. Galih. Ya, mungkin Galih benar-benar dewa penolongnya saat ini. Namun Wangi sedikit malu untuk meminta tolong masalah ini tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada cara lain. Tidak ingin berpikir terlalu lama Wangi langsung mencari kontak nama Galih dan menelpon lelaki itu.


Tidak lama kemudian sambungan telponnya diterima.


"Hallo Galih... Bisa tolong bantu saya, pleasss.... Urgent nih!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2