
"Sayang... Hari ini kamu mau ajak aku ke mana? Tumben-tumbennya ngajak kencan duluan, biasanya aku duluan yang ngajakin kamu." Ujar Wangi pada Galih setelah mereka berdua bertemu.
"Ya kan aku mikirin kamu, takutnya kalau kita jalan habis kamu kerja, kamunya malah jadi tambah capek." Jawab Galih.
"Lha terus sekarang kamu gak khawatir lagi kalau kali ini aku lagi capek banget?" Tanya Wangi sambil melirikkan matanya ke arah Galih yang sedang fokus menyetir.
"Kamu lagi capek banget ya sayang? Maaf aku seharusnya tanya dulu ke kamu, kalau gitu besok aja deh... Kita sekarang pulang saja." Sahut Galih dengan sedikit cemas dan merasa tidak enak pada Wangi, namun buru-buru Wangi langsung menepis ucapan Galih.
"Eh jangan..!! Siapa bilang aku capek dan siapa bilang aku gak mau jalan sama kamu sekarang ini?" Sahut Wangi buru-buru sebelum Galih benar-benar memutar balik arah mobilnya.
"Lha barusan kamu bilang..." Ucapan Galih menggantung.
"Tadi kan aku cuma tanya doang... Gak beneran juga, cuma bercanda sayang... Kamu sih jadi orang jangan serius mulu." Kata Wangi dengan Gemas melihat Galih yang apa-apa terkadang dianggap serius.
"Owhh... Kirain beneran, tapi kalau kamu benar-benar capek bilang ya..." Ujar Galih.
"Iya sayang..." Sahut Wangi sambil tersenyum ke arah Galih.
"Lalu sekarang kita mau kemana nih? Tadi kamu belum jawab lho..." Tanya Wangi kembali.
"Emm... Nanti kamu juga tahu." Jawab Galih yang enggan mengatakan tujuan mereka pada Wangi.
"Idihh... Pakai rahasia-rahasiaan lagi." Wangi langsung memicingkan matanya ke arah Galih sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Hahaa... Biar surprise aja." Sahut Galih sambil tertawa renyah melihat jawah penasaran Wangi.
"Kamu nggak ngajakin aku ke tempat aneh-aneh kan?" Tanya Wangi pura-pura curiga.
"Astagfirullah... Ya enggaklah, mana berani aku begitu, yang ada belum apa-apa sudah digorok sama pak Komandan." Jawab Galih dengan eajah seriusnya.
"Hahaa... Iya, iya aku percaya, ada bagusnya ya pacaran sama anak buah papa sendiri hehe..." Ujar Wangi menggoda Galih.
"Kamu ngeledek aku? Barusan kamu becandain aku to... Jahil kamu ya." Galih langsung mengacak-acak rambut Wangi dengan tangan kirinya yang sedang tidak memegang setir.
"Iihh... Galih! Rambut aku berantakan nih..." Seru Wangi sambil mamanyunkan bibirnya karena sebal rambutnya berantakan oleh tangan nakal Galih.
"Nggak apa-apa berantakan, tetap cantik kok, aku juga tetap sayang sama kamu meski rambut kamu berantakan gitu." Sahut Galih dengan sedikit ngegombal.
"Nggak lucu! Aku tambah sebal soalnya mau bales juga gak bisa, rambut kamu cepak gitu!" Gerutu Wangi dengan wajah cemberutnya, sedangkan Galih malah tambah ngakak mendengar gerutuan Wangi yang justru terdengar lucu di telinganya.
"Hahahhaa..." Tawa Galih terbahak.
"Ihh Galih...!" Seru Wangi dengan muka ditekuk.
__ADS_1
Sepanjang jalan mereka berdua berceloteh, Wangi begitu semangatnya menceritakan kegiatannya di Rumah Sakit dengan Galih yang anteng mendengarkannya hingga tanpa disadari akhirnya merekapun sampai di tujuan.
Wangi terbelalak melihat suasana yang ada di luar sana dari dalam mobilnya setelah Galih menghentikan mobil di sebuah area yang begitu ramai.
"Sayang, tujuan kita ke sini?" Tanya Wangi dengan nada dan wajah herannya.
"Iya." Jawab Galih singkat.
"Nggak salah? Ini kan pasar malam?" Tanya Wangi sekali lagi dengan nada yang sama herannya.
"Enggak sayang... Aku memang mengajak kamu kencak di pasar malam." Jawab Galih dengan gamblangnya.
"Hahh?! Serius?? Kita bukan anak kecil lagi lho yang..." Wangi melongo sambil menanyakan sekali lagi siapa tahu Galih memang salah pilih tempat untuk tujuan kencan mereka.
"Siapa bilang yang datang ke sini cuma anak kecil saja? Banyak juga orang dewasa yang datang, justru di sini itu banyak sekali pilihan makanan sampai jajanan pasar juga ada, di sini itu salah satu street food yang banyak di buru orang-orang, mau beli aksesoris, baju sampai wahana bermain juga ada. Nggak kalah sama tempat wisata yang lagi kekinian." Kata Galih menerangkannya pada Wangi.
"Ya aku tahu itu, hanya saja aku sudah lama tidak ke pasar malam jadinya aku sedikit malu." Ujar Wangi.
"Dan yang pasti di sini juga banyak orang-orang yang berkencan dengan pasangannya seperti kita." Kata Galih setengah berbisik dengan menaik turunkan kedua alisnya dan senyum jahil si bibirnya.
"Apaan sih yang... Jangan-jangan kamu dulu sering ke tempat seperti ini dengan pacar kamu dulu." Ujar Wangi dengan sewot.
Galih menggeleng...
"Justru ini yang pertama kali sama kamu, dulu pernah sih pas masih bocah, itupun kalau gak sama orang tua ya rame-rame sama teman-teman." Jawab Galih.
Galih kembali menggeleng...
"Dulu Sinar selalu ingin mengajak aku datang ke pasar malam tapi aku selalu tidak bisa dan cuma bisa berjanji tanpa bisa menepatinya. Yah... Itu salah satu penyesalanku sih..." Jawab Galih dengan air muka yang berubah sedih setelah teringat janjinya dengan Sinar yang tidak pernah bisa ia tepati.
"Maaf sudah mengingatkanmu, kamu jangan sedih, mbak Sinar pasti ngerti kok... Dia kan baik." Ucap Wangi menghibur Galih sambil menggenggam erat jemari lelaki itu.
"Iya aku ngerti, kamu juga baik, maka dari itu aku tidak mau menyakiti dan membuat kamu sedih suatu hari nanti." Sahut Galih sembari tersenyum lembut, namun entah mengapa juga ada kesedihan di matanya.
"Hari ini kamu aneh deh..." Ujar Wangi bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apaan sih? Ya sudah yuk turun!" Ajak Galih yang langsung melepas seat belt nya dan bergegas turun untuk membukakan pintu mobil untuk Wangi yang kini sudah menjadi kebiasaannya.
Setelah turun mereka berjalan bergandengan memasuki area pasar malam yang riuh oleh pengunjung. Tua, muda, anak-anak tumpah jadi satu di sana. Dan benar saja kata Galih, di sana ada juga beberapa pasangan muda mudi yang asik memadu kasih berjalan beriringan bergandengan tangan seperti mereka berdua.
"Sayang kamu ingin beli apa? Banyak jajanan di sini, kamu nggak papa kan beli jajanan di tempat seperti ini?" Tanya Galih.
"Kok nanyanya gitu? Kita kan sering makan di warung pinggir jalan." Sahut Wangi.
__ADS_1
"Ya siapa tahu kamu terpaksa karena aku yang ajak." Ujar Galih.
"Ya enggaklah, sebelum sama kamu aku juga sering jajan pinggir jalan. Buat aku asal tempat dan makanannya bersih serta sehat itu sudah cukup." Terang Galih.
"Syukur deh... Nah, sekarang kamu ingin beli apa?" Tanya galih sekali lagi.
"Di pasar malam kalau nggak beli gulali atau permen kapas berarti gak afdol, kita beli itu saja yuk..!" Ajak Wangi antusias.
"Kamu itu yang, ternyata seleranya sama kayak seleranya bocah, pfftt..." Galih langsung terkekeh setelah mendengar permintaan Wangi.
"Biarin! Soalnya aku ngerasa kekurangan glukosa jadi pengen makan yang manis-manis." Ujar Wangi yang cuek bebek mau dibilang bocahpun gak peduli asal bisa menikmati permen kapas yang manis bersama orang terkasih. Dia membayangkannya seperti di drama-drama Korea yang selalu dia tonton.
"Hahaa..." Galih pun hanya tertawa saja. Melihat Wangi yang cemberut, Galih langsung menarik tangan Wangi untuk mendekati penjual arum manis alias permen kapas dan Wangi pun langsung tersenyum.
"Sayang kamu lapar gak? Di sana ada penjual nasi goreng areng, mumpung belum ramai kamu mau?" Galih menawarkannya pada Wangi dan Wangi seakan tergiur mencium wanginya nasi goreng yang dimasak menggunakan areng atau arang langsung menganggukkan kepalanya.
"Boleh, kebetulan perutku sudah lapar." Kebetulan sudah mendekati jam makan malam membuat Wangi yang seharian bekerja jadi mudah cepat lapar.
Merekapun memesan nasi goreng dan mie goreng jawa yang merupakan handalan kedai nasi goreng itu dan menikmatinya dengan lahap sambil berbincang-bincang ringan yang diselipi dengan canda.
Setelah perut kenyang Wangi dan Galih kembali berjalan-jalan melihat-lihat seraya menikmati keramaian pasar malam tersebut. Hingga Galih tiba-tiba berhenti ketika melihat biang lala yang berputar tak jauh di depannya. Kepalanya mendongak ke atas melihat biang lala yang berputar pelan.
"Sayang, kita naik itu yuk?!" Seru Galih sambil menunjuk ke arah biang lala.
"Biang lala?? Kamu mau kita naik itu yang?? Serius?" Tanya Wangi yang sedikit heran melihat Galih yang tiba-tiba mengajaknya untuk naik biang lala.
"Iya, serius." Jawab Galih tegas.
"Aneh saja, tadi kamu yang ngatain aku kayak bocah, sekarang siapa yang kayak bocah coba?" Ledek Wangi sambil tersenyum smirk.
"Lihat itu, bukan hanya anak kecil yang naik, orang dewasa juga ada." Tunjuk Galih pada orang dewasa yang akan menaiki biang lala.
"Iya, iya... Pfftt... Aku nurut saja deh..." Wangi pun sambil menahan tawa pasrah digandeng Galih ke arah loket karcis untuk naik biang lala. Dan akhirnya mereka jadi juga menaiki biang lala. Ketika sudah di atas Wangi yang tadinya ogah-ogahan justru takjub saat melihat pemandangan kota dari atas biang lala dengan wajah yang tersenyum sumringah. Tapi tiba-tiba Galih menghentikan senyumnya.
"Sayang... Satu minggu lagi aku berangkat ke Lebanon, sebaiknya kita batalkan pertunangan kita." Senyum ceria Wangi seketika menghilang ketika kalimat maut itu terlontar dari bibir Galih.
"A apa?!!"
Bersambung...
...****************...
**Hai hai haiii... Apa kabar para readersku yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong? Semoga kalian sehat selalu dimanapun kalian berada dan terimakasih sudah menunggu kabar Galih dan Wangi. Kali ini aku mau promosi novel baru aku yang berjudul "Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel"
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya gaesss.... Terimakasih... 😄**