Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 121 Bertemu Soledat Lagi


__ADS_3

"Mereka ada apa sih? Kok Zahara kelihatan marah banget sama Romero?" Tanya Wangi setelah Zahara dan Romero keluar daei kamar inap Galih. Dia tidak tahu awal dari permasalahan yang terjadi sebelun dia datang dan merasa bingung saja.


"Terus Lorena itu siapa?... Haahh, apa mungkin Romero selingkuh dengan yang namanya Lorena itu?!" Tebak Wangi sambil menutup mulutnya seakan tak percaya jika seandainya itu benar terjadi


"Pfftt.. Huahahaha...." Galih sudah tidak bisa menahan tawanya lagi dan langsung tertawa terbahak-bahak.


"Lho..? Kok kamu malah ketawa? Itu kasihan lho Zahara jika Romero beneran selingkuh. Kalau aku jadi Zahara, sudah gak usah pikir panjang langsung aku sunatin lagi..!" Ujar Wangi yang jadi ikutan emosi.


"Kamu gak gitu kan??" Tanya Wangi kemudia.


"Ya enggaklah... Tadi itu aku cuma sedikit ngerjain Romero saja. Sini aku ceritain, tapi kamu jangan salah paham dan dengerin ceritaku sampai selesai, okey?" Kata Galih sambil menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong dengan tangan kirinya yang tak terluka agar Wangi duduk di sampingnya. Wangi pun mengangguk setuju sembari duduk di sebelah Galih, lalu mengalirlah cerita Galih saat dirinya berada di Lamona. Apapun yang terjadi di tempat Kasino tersebut Galih menceritakannya tanpa terlewat satupun. Sesuai janji, Wangi pun hanya diam menyimak cerita Galih dan sesekali manggut-manggut tanda dia mengerti.


"Begitulah ceritanya, kamu nggak marah kan sanyang?" Tanya Galih setelah ceritanya selesai.


"Ya nggaklah, namanya juga tugas, lagian Soledat kan ikut andil membantu membebaskan Erisha. Dia juga kan terpakasa kerja di sana karena telah diancam, dia juga korban. Untungnya dia dan Erisah bisa keluar dari bahaya tersebut. Lalu, perempuan yang bernama Lorena itu gimana sekarang nasibnya?" Tanya Wangi, untungnya Wangi lebih bijaksana daripada Zahara dan Galih beruntung akan hal itu. Mungkin karena Galih menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Lagian Wangi tahu pasti jika kekasihnya itu bukanlah tipe lelaki yang mudah dirayu wanita.


"Dia ikut ditangkap oleh kawanan mafia lainnya, karena dia salah satu pengedar narkoba di sana." Jawab Galih.

__ADS_1


"Astaga... Gitu amat ya mencari kesenangan. Kok aku kasihan ya..." Kata Wangi.


"Kok malah kasihan? Dia penjahat lho sayang." Ujar Galih yang merasa heran dengan Wangi. Orang jahat kok dikasihani.


"Aku kasihan aja... Kenapa dia rela menghancurkan hidupnya sendiri demi mendapatkan kesenangan dan uang tanpa memikirkan dampak ke depannya. Orang seperti itu patut dikasihani karena memiliki pikiran yang pendek. Padahal masih banyak pekerjaan yang bisa dia lakukan tanpa harus merusak atau menyakiti orang lain, apalagi merusak masa depannyasendiri." Galih mengangguk mengerti apa yang dimaksud Wangi. Wangi bukannya membela tindak kejahatan Lorena, tapi sebagai sesama perempuan ia hanya menyayangkan hal itu.


"Nggak semua perempuan punya pemikiran yang sama dengan kamu sayang... Banyak diantara mereka yang ingin hidup enak tanpa bekerja terlalu keras meski itu harus menyakiti orang lain." Ujar Galih.


"Iya juga sih... Aku harus banyak-banyak bersyukur diberikan otak yang cerdas sama Tuhan dan menggunakan kecerdasanku untuk membantu orang lain yang membutuhkan." Sahut Wangi.


"Nah, itu kamu ngerti." Balas Galih sambil menoel hidung mancung Wangi dan mereka berdua tertawa bersama.


"Apa yang telah terjadi?" Tanya Galih pada Wangi.


"Entahlah... Akan aku cari tahu dulu." Sahut Wangi sambil berjalan ke arah ruang IGD dan kebetulan ia bertemu dengan Lukman di depan pintu IGD.


"Luk, apa yang telah terjadi?" Tanya Wangi pada Lukman yang baru saja akan membuka pintu ruang IGD.

__ADS_1


"Ah, ada pasien gawat darurat yang baru saja sampai. Seorang anak perempuan seusia Erisha bahkan mungkin lebih muda dari itu." Jawab Lukman.


"Memangnya dia kenapa?" Tanya Wangi lagi.


"Dia demam tinggi dan kejang-kejang. Dia datang bersama kakak perempuannya yang sedang menangis di dalam. Itu kakak anak itu." Jawab Lukman sambil membuka pintu IGD dan menunjuk ke arah perempuan yang menangis sesenggukkan menunggu saudaranya yang sedang mendapat tindakan penyelamatan dari tim Dokter.


"Soledat..??" Panggil Galih dari arah belakang Wangi, ternyata lelaki itu mengikuti Wangi ke ruang IGD.


"Mister Mark..??" Sahut Soledat yang ternyata mendengar suara panggilan Galih. Sedangkan Wangi dan Lukman spontan memandang Galih dan Soledat secara bersamaan.


"Mister... Mark?" Lukman membeo.


"Dia... Soledat?" Tanya Wangi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2