Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 66 Pengumuman Di Makan Malam


__ADS_3

Setelah perbincangan kecil di ruang tamu, Ratna mempersilahkan tamunya untuk bergeser ke ruang makan. Di sana sudah tertata rapi beraneka macam hidangan dan buah yang sudah disiapkan oleh mbok Yem di meja makan.


"Ini sudah semuanya kan mbok?" Tanya Ratna pada mbok Yem asisten rumah tangganya.


"Sudah nyah..." Jawab mbok Yem.


"Ya sudah terimakasih ya mbok." Balas Ratna yang diangguki mbok Yem yang kemudian berlalu dari ruang makan.


"Monggo silahkan duduk, silahkan dinikmati, maaf seadanya... Semoga sesuai di lidah mas Rendra, jeng Rina, Wangi juga Dino." Ucap Ratna yang mempersilahkan para tamunya di meja makan. Mereka pun menepati kursi yang tersedia di meja makan tersebut dibarengi dengan Ridwan yang juga duduk dibantu oleh Galih.


"Jeng Ratna bisa aja... Ini itu bukannya seadanya tapi memang diada-adain, macam-macam gini masakannya, apa kita nggak malah ngerepotin?" Ucap Rina menanggapi ucapan Ratna setelah melihat aneka menu yang ada di atas meja makan mereka.


"Enggak repot sama sekali, justru saya tambah senang kita bisa ngumpul makan malam seperti ini, lagian ada mbok Yem yang bantuin." Sahut Ratna yang mengungkapkan rasa senangnya, dari kemarin dia memang sudah menyiapkan sendiri itu semua dengan antusias karena tidak ingin mengecewakan tamu pentingnya malam ini.


"Kalau begitu terimakasih banyak sudah dijamu sedemikian rupa, nanti kapan-kapan gantian kalian yang datang ke kediaman kami ya?" Balas Rina sembari berharap ada kunjungan balik dari keluarga Admaja.


"Tentu saja jeng... Kami pasti berkunjung balik, iya kan pa?" Jawab Ratna yang terlihat antusias.


"Iya itu pastilah... Seharusnya memang kami yang harus ke rumahmu Ren, hanya saja aku masih belum diperbolehkan kemana-mana dulu oleh dokter." Ungkap Ridwan yang terlihat menyesal belum dapat berkunjung balik ke kediaman Rendra, sedangkan sahabatnya itu sudah dua kali menerima undangannya. Apa mau dikata karena alasan kesehatan Ridwan harus mematuhi perintah istirahat total di rumah.


"Iya aku mengerti keadaanmu, Wangi juga sudah memberitahukannya jika dalam satu bulan ini kamu tidak dianjurkan keluar rumah dulu dan harus istirahat total di rumah." Ucap Rendra memaklumi keadaan Ridwan.


"Insya'allah pada pemeriksaan selanjutnya jika hasilnya bagus om sudah bisa beraktifitas di luar ruangan, tapi syaratnya tidak boleh berlebihan dan terlalu capek." Ungkap Wangi menambahkan informasi selaku dokter yang ikut memantau kesehatan Ridwan pasca operasi hingga saat ini.


"Alhamdulillah... Akhirnya... Dengar itu pa kata calon mantu kita." Ratna mengucap syukur mendengar kata-kata Wangi, raut kebahagiaan terpancar begitu ketara di wajah ibunda Galih itu.


"Iya ma, papa juga senang mendengarnya. Ya sudah kita makan dulu, kok malah keterusan ngobrolnya." Sahut Ridwan sembari mempersilahkan kembali para tamunya untuk makan.


"Ya ampun... Maaf lho ya, monggo dinikmati makanannya." Ratna langsung menimpali seraya menyodorkan centong nasi pada Rina untuk mengambil nasi duluan.


"Iya gak papa jeng, terimakasih." Sahut Rina sambil menerima centong nasi dari tangan Ratna dan mulai mengambilkan nasi untuk suaminya dan juga Dino.


Semuanya sudah mengambil nasi dan juga lauk, tinggal Wangi dan Galih yang belum. Ketika Wangi hendak mengambil centong nasi, Galih mendahuluinya dan justru mengambilkan nasi untuknya.


"Segini cukup?" Tanya Galih ketika menaruh nasi di atas piring Wangi.

__ADS_1


"Iya, cukup." Jawab Wangi.


"Ini sambal goreng daging buatan mamaku paling enak, mau coba?" Galih menawarkannya pada Wangi terlebih dahulu sebelum menaruh menu andalan mamanya itu di atas piring nasi Wangi.


"Boleh." Jawab Wangi dan Galih pun langsung menaruh beberapa sambal goreng daging di atas piring nasi Wangi.


"Sayurnya mau apa? Ada ca kangkung, urap-urap kembang turi atau tumis kembang pepaya?" Tawar Galih lagi.


"Wahh tumis kembang pepaya sepertinya enak, pahit-pahit pedas manis asin." Sahut Wangi sambil tersenyum senang mendapati salah satu menu favoritnya.


"Ternyata kamu doyan yang agak pahit-pahit juga ya..." Ujar Galih sembari menaruh tumis kembang pepaya di atas piring nasi Wangi.


"Iya dong... Ini bagus lho buat kesehatan, antioksidan, meningkatkan imunitas dalam tubuh, melindungi saluran pencernaan dari bakteri, juga dapat mengontrol tekanan darah." Sahut Wangi sambil menerangkan manfaat bunga pepaya bagi tubuh.


"Iya iya percaya bu Dokter... Sudah makan gih." Ujar Galih sambil menoel sekilas hidung mancung Wangi dan interaksi mereka berdua tanpa sadar tidak luput dari perhatian orang tua mereka masing-masing.


"Makasih ya, kamu juga makan gih... Lho kok belum ambil?" Tanya Wangi yang melihat piring Galih yang masih kosong.


"Erhmm.. Ya ambilin dong Wang... Masak Galih tadi yang ambilin kamu? Kebalik dong..." Ucap mama Rina yang menyindir anaknya.


"Ehh... Jangan! Biar Wangi saja, Wangi ambilin gih!" Titah sang mama Rina.


"Tidak apa-apa jeng Rina, jarang lho Galih sweet kayak gitu, mirip papanya dulu waktu jaman pacaran suka gitu kayak Galih, ya itung-itung latihan memanjakan istri jeng..." Wangi hampir menumpahkan kuah rawon yang hendak di tuangkannya di atas piring Galih setelah mendengar ucapan mamanya Galih tersebut.


"Sayang hati-hati, panas ya? Biar aku saja." Ujar Galih yang sigap menahan piring yang di bawa Wangi sehingga insiden kuah rawon tumpah yang memalukan tidak terjadi.


"Gak apa-apa kok, hanya saja tanganku agak licin." Sahut Wangi mengelak.


"Ini gara-gara mama sih... Lha wong Galih-nya yang mau sendiri ngambilin makan buat aku, eh sekarang urusannya jadi merambat kayak gini." Gerutu Wangi dalam hati.


"Makasih ya sayang..." Ucap Galih lirih ketika Wangi menaruh piring nasi rawon lengkap dengan sambal goreng daging, sambal terasi dan taburan kecambah mentah di hadapan Galih.


"Sama-sama sayang." Balas Wangi lirih pula, malu jika terdengar para orang tua. Tapi yang namanya ibu-ibu lihat anak dan calon mantunya mesra di hadapan mereka sukanya mau godain terus.


"Duuhh... Senangnya lihat mereka mesra begitu." Seloroh Ratna yang begitu senang melihat anak dan calon menantunya akur begitu.

__ADS_1


Sementara itu Dino anak kecil satu-satunya di sana hanya dapat menghela napas panjang melihat para orang tua yang bersikap alay menurutnya itu.


"Haddaahh... Kalau gini kapan makanan ini akan habis? Ckckk..." Batin Dino dalam hati sambil menikmati tusukan sate paru yang dimakan bersama kuah rawon yang segar.


Semuanya menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah keluarga Admaja dengan perasaan yang bahagia. Mereka saling bercerita, berbicara ini dan itu disela-sela aktifitas makan malam mereka. Selesai makan malam mereka kembali lagi ke ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa kue yang tersaji di sana sambil membicarakan sesuatu.


"Galih, nak Wangi... Bagaimana hubungan kalian berdua?" Tanya Ridwan pada kedua sejoli itu.


"Baik-baik saja pa." Sahut Galih.


"Benar begitu nak Wangi?" Tanya Ridwan lagi lebih ke Wangi seakan memastikan jika putranya itu melakukan hal yang baik pada putri sahabatnya itu.


"Benar om... Selama ini hubungan kami lancar-lancar saja, Galih juga baik kok sama Wangi." Jawab Wangi jujur apa adanya, karena memang sejauh ini tidak ada hal yang serius yang mengganggu hubungannya dengan Galih.


"Syukurlah kalau gitu..." Ujar Ridwan lega.


"Om hanya ingin memastikan sekali lagi apa nak Wangi merasa terbebani atau terpaksa dengan perjodohan ini? Jika iya, tidak apa-apa katakan saja." Ucap Ridwan dengan nada yang lembut namun juga tegas.


Wangi menggelengkan kepalanya...


"Tidak sama sekali. Memang awalnya Wangi sempat terkejut tapi sekarang saya justru bersyukur telah dipertemukan dengan Galih." Ungkap Wangi yang langsung mendapat hadiah genggaman tangan Galih setelah lelaki itu mendengar pengakuannya. Merekapun saling bertatapan sejenak dengan senyum dibibir mereka.


"Saya juga begitu pa, terimakasih papa sudah memilihkan Wangi sebagai jodoh saya." Ungkap Galih ikut mengutarakan isi hatinya.


"Alhamdulillah...." Sahut semua orang di sana dengan wajah yang sama-sama sumringah.


"Kalau begitu sudah tidak ada yang dikhawatirkan lagi jika kalian berdua saling menerima satu sama lain." Ucap Ridwan menjeda sejenak perkataannya seraya menatap sejenak wajah Rendra seakan menanyakan sesuatu dari tatapan matanya. Seakan mengerti Rendra pun menganggukkan kepalanya pada Ridwan.


"Tujuan kami berkumpul di sini bukan hanya untuk sekedar makan malam dan bersilaturahmi saja melaikan ada hal yang lainnya, yaitu tenatang acara pertunangan kalian." Ungkap Ridwan.


"Pertunangan?" Tanya Galih dan Wangi bersamaan.


"Iya, pertunangan kalian berdua." Ridwan menegaskan kembali.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2