
"Wita?"
"Mas Galih?"
"Kamu kok bisa di sini?" Tanya Galih yang ternyata orang yang dia kenal itu adalah Wita yang tak lain dan tak bukan merupakan adik kandung dari mendiang Sinar mantan tunangannya.
"Lho Galih? Kita malah ketemu di sini, tadinya saya mau nunggu kamu di lobby lho." Sapa Wangi yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
"Wangi?" Galih dikejutkan untuk ke dua kalinya dengan kedatangan Wangi.
"Kok kamu kaget gitu sih?" Tanya Wangi heran melihat wajah Galih yang segitu kagetnya.
"Ng nggak... Bukan gitu, habisnya kamu tiba-tiba datang dari belakang saya." Sahut Galih entah kenapa jadi tergagap.
"Oh gitu... Eh maaf ini siapa ya?" Tanya Wangi sambil mengamati pakaian yang dipakai Wita.
"Emm... Kamu anak Koas kan?" Tebak Wangi ketika melihat jas putih mirip jas dokter namun sedikit ada perbedaannya.
"Iya kak, kakaknya kok tahu?" Jawab Wita yang sedikit penasaran dengan Wangi.
"Kenalin, saya Wangi Prameswari, salah satu Dokter Residen spesialis bedah umum tahun ke tiga." Kata Wangi dengan memperkenalkan dirinya pada Wita.
"Ya ampun... Maaf Dok, saya tidak tahu." Ucap Wita segera setelah tahu jika wanita cantik di hadapannya itu merupakan salah satu dokter di Rumah Sakit itu.
"It's okey, soalnya saya juga sudah lepas jas karena sudah mau pulang. Oh ya nama kamu siapa?" Tanya Wangi kemudian, sementara Galih hanya diam melihat interaksi kedua perempuan di hadapannya.
"Perkenalkan nama saya Perwita Sekar Arum, ini hari pertama saya menjadi Koas di sini." Wangi langsung terperanga sambil tersenyum setelah mendengar nama lengkap Wita.
"Waahh... Nama belakang kamu artinya sama lho dengan nama saya. Wangi dan Arum artinya sama-sama harum." Ujar Wangi dengan mimik yang antusias.
"Hehe... Iya benar Dok." Jawab Wita yang merasa senang bertemu Wangi, dokter cantik calon spesialis bedah umum, salah satu spesialis jurusan yang dia minati ketika nanti melanjutkan ke Strata Dua.
__ADS_1
"Bay the way... Kalian saling kenal?" Akhirnya pertanyaan tersebut keluar juga dari mulut Wangi yang membuat keduanya sedikit kalang kabut bak kekasih yang ketahuan selingkuh.
"Ah itu..." Belum juga Wita melanjutkan ucapannya langsung dipotong oleh Galih.
"Iya, kami saling kenal. Jadi Wita ini adalah adik dari teman saya waktu masih sekolah di Semarang." Terang Galih yang saat ini tidak ingin mengungkit kenangannya dengan Sinar dan itu bisa langsung dipahami oleh Wita.
"Iya Dok, itu benar. Sebenarnya ini adalah pertama kalinya saya bertemu lagi dengan mas Galih sejak mas Galih tugas ke Papua, setelahnya kami tidak pernah lagi bertemu karena saya berkuliah di Surabaya, ini pun jika saya tidak ambil Koas di sini mungkin kami tidak akan pernah ketemu." Kata Wita memperkuat keterangan Galih. Entah mengapa dimata Wita, Galih ingin menutupi kenangan masa lalunya bersama kakak perempuan Wita yaitu Sinar. Dalam pandangan Wita mungkin kenangan Galih bersama Sinar adalah masalah pribadinya yang tidak perlu diketahui oleh orang lain.
"Oh begitu... Terus..."
"Wang, sebaiknya kita balik sekarang deh... Soalnya ada yang harus saya kerjakan di Batalyon setelah ini." Galih langsung memotong ucapan Wangi dan mengalihkan pembicaraan ke arah lain karena sepertinya penyakit keppo Wangi tidak akan berhenti di sana.
"Ya ampun... Bilang dong dari tadi Lih, saya kan jadi gak enak sama kamu. Sorry ya Wita, next time kita sambung lagi." Ujar Wangi yang untungnya percaya saja dengan alasan yang dibilang Galih.
"Saya pulang dulu ya Wit, lain kali kita bicara." Ucap Galih berpamitan pada Wita.
"Baik mas, saya tunggu." Sahut Wita dengan senyum hampanya.
"Mereka kok aneh ya? Seperti ada yang disembunyikan, sebenarnya apa yang ingin mereka bicarakan?" Terbersit pertanyaan dalam hati Wangi. Ternyata Wangi tak sepolos itu untuk tidak bisa merasakan kecanggungan diantara Wita dan Galih, hanya saja Wangi pura-pura bego saja di hadapan keduanya karena memang itu bukan urusan dia untuk ikut campur.
Aku pulang....
Tanpa dendam....
Kusalutkan kemenanganmu...
Galih yang terkejut karena merasakan gendang telinganya yang berdengung hampir saja menginjak rem mobil dengan mendadak.
"Akh... Volumenya kenceng banget ini Wang! Telinga saya sakit." Seru Galih menyuarakan protesnya pada Wangi. Kemudian Wangi langsung mengecilkan volume musik di mobilnya sekecil mungkin.
"Sudah kembali ke kehidupan nyata mas?" Sindir Wangi yang membuat Galih mengerutkan dahinya karena kurang paham dengan apa yang dimaksud Wangi.
__ADS_1
Wangi menghela napas panjang.
"Dari tadi itu kamu ngelamun terus, bengong ngelihat jalanan. Saya kan sudah pernah bilang jangan ngelamun waktu menyetir, bisa bahaya!" Ucap Wangi yang sedikit geram.
"Maaf." Ucap Galih menyadari kesalahannya.
"Saya tidak tahu apa yang mengganggu pikiran kamu, tapi saya harap itu tidak akan mempengaruhi jalan pikiran kamu yang waras." Teguran dari Wangi itu sedikit banyak menyadarkan pikiran Galih jika sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Iya, saya minta maaf." Galih sekali lagi mengatakan kata maaf dan Wangi kembali menghela napas.
"Bisa berhenti di depan sana gak?" Tiba-tiba Wangi meminta Galih untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan membuat Galih langsung panik. Galih mengira jika Wangi saat ini sedang marah pada dirinya. Jika itu benar tamatlah riwayatnya kalau sampai sang komandannya tahu, bisa kena omel dia.
"Kamu mau ngapain Wang? Sebentar lagi kan sudah nyampai rumah." Tanya Galih dengan nada paniknya.
"Sudah... Berhentiin dulu mobilnya, cepet!" Nada bicara Wangi yang terlihat kesal membuat Galih semakin gelagapan.
"Wang, kamu marah ya sama saya? Saya minta maaf, saya gak akan ngelamun lagi waktu menyetir, tolong jangan marah." Kembali Galih berusaha membujuk Wangi agar wanita itu tidak ngambek lagi.
"Berhentiin gak?!" Seru Wangi dengan setengah menggertak, membuat Galih tidak dapat berbuat apapun selain menghentikan mobilnya.
Setelah mobil berhenti Wangi langsung melepas sit belt-nya.
"Yuk turun!" Ajak Wangi pada Galih.
"Wang, ini bentar lagi sampai rumah, saya masih bisa menyetir, saya gak akan ngelamun lagi jadi tidak perlu kamu gantiin." Cerocos Galih yang entah kenapa jadi banyak bicara gara-gara Wangi yang sedang ngambek.
"Apaan sih kamu? Saya cuma mau ngajak kamu minum es dawet di depan sana itu, sekalian beli martabak manis yang ada di sebelahnya." Tunjuk Wangi pada gerobak penjual es dawet dan martabak yang ada tak jauh dari tempat mobil mereka berhenti.
"Haa??!" Tiba-tiba Galih mendadak cengo dan tidak dapat berkata apapun.
"Saya haus, lagi pengen banget minum es dawet, cepetan yuk!" Wangi langsung keluar dari mobilnya meninggalkan Galih yang masih terbengong di dalam mobil karena saat ini pikirannya tiba-tiba kosong karena pemikiran bodohnya.
__ADS_1
"Ha.. ha.. hahahaa... Astagaaa. Dasar Wangi!"
Bersambung....