
"Galih..." Panggil Wangi dengan hati-hati.
"Iya, ada apa?" Jawab Galih sambil menengok sebentar ke arah Wangi dan kembali lagi fokus ke arah jalanan.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Wangi yang sedikit khawatir dengan pria di sampingnya itu.
"Sudah baikan, terimakasih." Jawabnya singkat.
"Kamu tidak lupa minum vitamin yang saya berikan kan?" Tanya Wangi lagi memastikan.
"Tidak." Bukan Galih jika bicaranya tidak irit, membuat Wangi membuang napasnya pasrah.
"Galih, saya boleh tanya gak?" Ujar Wangi sambil menyerongkan sedikit tubuhnya agar dapat melihat Galih yang sedang fokus menyetir di sampingnya.
"Silahkan." Sahut Galih.
"Mmm... Pagi ini sebelum kamu berangkat untuk jemput saya, kamu ketemu papa saya apa tidak?" Tanya Wangi.
"Iya." Jawab Galih.
"Papa saya bilang sesuatu ke kamu apa tidak?" Tanya Wangi penasaran.
"Maksudnya gimana ya?" Galih kurang ngeh apa yang dimaksudkan oleh Wangi tentang sesuatu.
"Ya... Misalnya tentang yang terjadi kemarin di Rumah Sakit." Ujar Wangi hati-hati dengan perkataannya.
"Ohh... Soal itu komandan memberi saya ijin hari ini untuk menjaga orang tua saya di Rumah Sakit." Ungkap Galih.
"Hanya itu saja?" Tanya Wangi seakan kurang puas dengan jawaban Galih.
"Ya, itu saja." Jawab Galih tegas.
"Papa tidak menjelaskan tentang yang lainnya? Misal kalau papa kamu dengan papa saya saling kenal?" Wangi masih saja mengorek keterangan dari Galih yang tidak ia dapatkan dari papanya pagi ini.
"Komandan hanya menjelaskan jika papa saya dengan beliau adalah sahabat lama semasa sekolah dulu, mereka berdua sengaja menyembunyikan hubungan pertemanan mereka karena profesionalisme saja." Penjelasan Galih barusan sedikit menjawab rasa penasaran Wangi, meski di hati Wangi tetap merasakan jika ada yang masih disembunyikan oleh papanya. Tentu saja Ridwan yang merupakan papa dari Galih juga ikut andil dalam permainan kedua papa itu.
"Oh... Begitu ya." Balas Wangi antara lega dan kecewa? Enatahlah... Mungkin karena Wangi merasa masih ada rahasia di balik semua itu.
"Papa gak menyinggung soal...." Wangi tidak meneruskan kembali ucapannya dan hanya melirik sekilas ke arah Galih.
"Soal apa?" Tanya Galih yang sedikit heran kenapa wanita di sebelahnya itu tidak meneruskan ucapannya.
"Ah bukan apa-apa, lupain aja." Ujar Wangi seketika yang membuat Galih mampu mengerutkan dahinya. Galih merasa heran mengapa pagi ini Wangi banyak menanyakan sesuatu tentang komandannya itu. Terbersit dibenak Galih mungkin antara anak dan bapak itu sedang ada sedikit masalah, namun Galih enggan untuk bertanya karena antara dirinya dan Wangi tidak memilik hubungan yang dekat selain hubungan kerja.
"Duh hampir saja aku menanyakan soal perjodohan, bisa-bisa aku malu sendiri." Batin Wangi.
Setelah itu hanya ada kesunyian diantara mereka berdua di dalam mobil itu hingga mobil yang mereka kendarai berhenti di parkiran Rumah Sakit Universitas.
"Kamu turun sekalian kan?" Tanya Wangi ketika dirinya hendak keluar dari mobil.
__ADS_1
"Iya, hari ini mungkin saya seharian akan ada di Rumah Sakit." Jawab Galih mengungkapkannya pada Wangi.
"Okey, kita masuknya barengan saja." Ujar Wangi, lalu merekapun keluar dari mobil dan berjalan beriringan memasuki Rumah Sakit tersebut.
Ketika Wangi dan Galih berjalan disalah satu lorong Rumah Sakit itu mereka tanpa sengaja bertemu beberapa tim dari Dokter Sandy, dua diantaranya adalah sahabat Wangi sendiri yaitu Erika dan satunya lagi rival Wangi yang biasa Wangi panggil si Uler Keket, siapa lagi kalau bukan Wulan.
Wangi sebenarnya ingin menyapa seadanya dan melewati mereka saja, namun Dokter Sandy yang ternyata ada diantara para timnya sengaja menghentikan langkah Wangi dan otomatis Erika, Wulan serta dokter residen yang lainnya ikut berhenti pula. Alhasil Galih yang berjalan disamping Wangi pun refleks ikut menghentikan langkahnya bersamaan dengan Wangi.
"Selamat pagi Dokter Wangi." Sapa Dokter Elias dengan senyum ramahnya.
"Selamat pagi Dok." Balas Wangi dengan ramah pula.
"Maaf mengganggu sebentar, ada yang ingin saya sampaikan kepada Dokter." Ucap Dokter Sandy.
"Oh begitu ya? Sebentar ya Dok?" Kemudian Wangi segera mengalihkan pandangannya ke arah Galih dan berbicara lirih kepada lelaki itu.
"Kamu duluan saja, nanti saya pasti nyusul buat periksa keadaan papa kamu." Galih pun mengerti dan pergi setelah menganggukkan kepala kepada Wangi dan beberapa dokter yang ada di sana.
"Maaf, Dokter Sandy ingin membicarakan apa ya?" Tanya Wangi setelah kepergian Galih dari sana.
"Saya hanya ingin minta tolong saja." Ucap Dokter Sandy.
"Minta tolong apa ya Dok?" Wangi sedikit heran karena tumben-tumbennya Dokter Sandy meminta tolong padanya.
"Saya minta tolong cek keadaan Dokter Elias, beliau sedang demam dan sekarang tengah beristirahat di kamar istirahat para dokter." Permintaan Dokter Sandy itu sontak membuat Wangi dan dokter residen yang ada di sana terkejut.
"Lebih tepatnya Dokter Elias belum pulang sama sekali dari tadi malam." Ungkap Dokter Sandy.
"Kok bisa? Bukankah kemarin bukan jadwal beliau untuk tugas jaga ya." Kata Wangi mengingat-ingat.
"Itu karena tadi malam ada korban kecelakaan yang datang membutuhkan operasi darurat, sementara Dokter Residen di bedah umum hanya ada tiga orang yang dapat membantu, itupun masih tahun pertama dan mereka sudah menagani korban-korban yang lainnya, sementara senior mereka yang lainnya masih sibuk di ruang operasi. Dan kebetulan Dokter Elias masih ada di tempat pada waktu itu, jadi mau tidak mau kami harus meminta tolong sebagai asisten dokter di ruang operasi. Karena operasinya lumayan sulit dan tidak mungkin kami meminta dokter residen tahun pertama untuk melakukannya." Jelas Dokter Sandy panjang lebar dan Wangi hanya memasang telinganya untuk mencerna penjelasan seniornya itu.
"Baik Dok, nanti saya cek keadaannya Dokter Elias." Ucap Wangi mengiyakan permintaan Dokter Sandy.
"Kalau Wangi tidak mau biar saya saja Dok yang merawat Dokter Elias." Celetuk Wulan tiba-tiba dengan gayanya yang manja membuat teman-teman dokter yang lainnya geleng kepala.
"Ya elah ni bocah mulai lagi, yang ada Dokter Elias tambah girap-girap kalau kamu yang ngerawat." Seloroh Erika yang seketika membuat gelak tawa di sekitarnya. Sementara Wulan hanya bisa melotot dengan muka sebal ke arah Erika. Erika sih cuek saja sambil menjulurkan lidahnya ke arah Wulan si Uler Keket.
"Ya sudah kalau begitu terimakasih, Dokter Wangi silahkan lanjut bertugas, kami permisi dulu." Pamit Dokter Sandy yang kemudian melangkah meninggalkan Wangi diikuti oleh dokter-dokter junior lainnya.
Namun Erika dan Wulan ternyata tidak ikut serta pergi mengikuti senior kepala tim di tim mereka itu.
"Ngapain kalian masih disini? Dokter Sandy sudah jalan noh..." Ujar Wangi yang heran dengan dua teman sableng dan genitnya itu.
"Aku sih masih ada perlu bentar sama kamu, gak tahu ni anak ngapain ngikutin aku." Ujar Erika.
"Aku nggak suka di sana hanya ada junior-junior yang nyebelin, aku nunggu kamu saja jalannya." Kata Wulan seenaknya.
"Idiihh... Emangnya mereka juga suka sama kamu, aku saja nggak!" Sahut Erika sewot.
__ADS_1
"Bodo! Terserah aku!" Balas Wulan cuek.
"Udah deh... abaikan saja dia, yang ada kamu malah gatel-gatel lagi, kamu mau bilang apa?" Ujar Wangi.
"Sialan!" Umpat Wulan namun hanya diabaikan saja oleh Wangi dan Erika.
"Wang, yang sama kamu tadi siapa?" Tanya Erika.
"Yaelah... hanya mau tanya itu saja? Kirain ngomongin apa." Sahut Wangi.
"Soalnya anak-anak pada banyak yang lihat kalau kamu sering diantar jemput oleh cowok pakai mobil kamu sendiri, aku juga beberapa kali pernah lihat dan cowok yang ada di mobil kamu itu sama persis sama cowok yang kamu bawa itu tadi." Ungkap Erika.
"Masa sih sampai segitunya kalian merhatiin aku? Duhh... Terharu deh aku." Sahut Wangi dengan ekspresi pura-pura terharu.
"Lebay...!" Seru Wulan dan Erika bersamaan.
"Ihh... Kalian berdua kompakan, pffft..." Wangi terkekeh geli melihat dua temannya itu.
"Ihh jijay...!" Seru mereka lagi dengan bersamaan.
"Tuh kan...Kalian itu kompak, haha..." Seloroh Wangi yang kembali terkekeh.
"Eh uler! Mending kamu diem dulu deh!" Sentak Erika pada Wulan. Wulan pun hanya melengos dengan wajah sebalnya.
"Pfftt..." Wangi masih saja menahan tawanya.
"Udah deh Wang jangan ketawain mulu, mending buruan jawab pertanyaan aku tadi, keburu nugas nih." Pinta Erika.
"Ya sudah sono pergi kerja dulu, ntar kena semprot Dokter Sandy tahu rasa." Wangi masih enggan menjawab keingin tahuan Erika itu.
"Udah jawab aja kali." Ujar Erika yang masih saja kekeh.
"Anak temannya papa aku, puas?!" Jawab Wangi tegas.
"Masa sih? Cuma itu saja?" Erika masih saja merasa curiga dan kurang puas dengan jawaban Wangi.
"Halahh... Paling juga cowok baru, setiap hari saja diantar jemput pakai mobil kamu sendiri. Kalau sudah ada yang baru mending jangan godain Dokter Elias deh..." Celetuk Wulan dengan sewotnya.
"Lha... Ngapain bawa-bawa Dokter Elias coba? Embat saja kalau mau, ambil-ambil saja sana Dokter Eliasnya. Sudah deh aku mau lanjut kerja, pusing nanggepin kalian berdua." Wangi pun langsung pergi meninggalkan Wulan dan Erika yang mesih berdiri di tempat yang sama.
"Ehh tunggu Wang, aku masih..." Kalimat Erika terhenti setelah Wangi tidak menghiraukannya.
"Kamu sih... Disuruh diem dulu ya diam! Pergi kan tuh anak." Ujar Erika geram pada Wulan.
"Kok jadi aku yang salah?! Sudah deh aku mau nyusulin Dokter Sandy." Wulan dengan tanpa rasa bersalahnya pun pergi meninggalkan Erika.
"Woyy... Keket! Main pergi begitu saja, tadi katanya mau nungguin, kok aku malah ditinggal sih?!" Erika pun lalu pergi mengejar Wulan yang sudah dulu berjalan di depannya. Beruntung lorong Rumah Sakit pada waktu itu sedang sepi jadi tidak ada orang yang mendengar perdebatan kecil mereka.
Bersambung....
__ADS_1