Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 86 Martabak Manis Yang Dirindu


__ADS_3

"Malam ini aku akan kenalin kamu ke teman-teman medis yang bertugas di Rumah Sakit Indobatt ini. Oh ya Wang, tadi itu kamu dari mana saja?" Tanya Zahara pada Wangi ketika mereka berdua berjalan.


"Dari mana apanya maksud kamu?" Tanya Wangi kurang ngeh.


"Itu... Kamu kan tadi pergi duluan, terus aku nyusul ke sini tapi kamunya gak ada, kata mereka katanya kamu belum datang." Terang "Zahara.


"Owh... It itu tadi aku ke kamar mandi dulu hehe..." Jawab Wangi gelagapan. Kan gak mungkin dia bilang kalau tadi ketemu sama Galih. Malu.


"Kamar mandi yang mana?" Tanya Zahara.


"Kamar mandi dekat asrama." Jawabku sekenanya.


"Yaelah Wang... Di dalam sini kan ada, kenapa mesti jauh ke sana sih? Dekat dapur kantin juga ada." Ujar Zahara.


"Ya tadi kan habis makan aku mampir ke asrama dulu buat ambil HP yang ketinggalan jadi sekalian saja." Pungkas Wangi memberi alasan agar Zahara tidak curiga dan tanya-tanya lagi.


"Kamu kepo banget sih jadi orang! Mau Wangi ke kamar mandi asrama kek, kantin jek, Rumah Sakit kek... Itu kan urusan dia yang penting gak pipis di balik semak-semak." Seloroh Elias sambil tersenyum smirk ke arah Zahara.


"Eli..!!" Seru Zahara geram pada kembarannya.


"Emang kakak pikir aku ini kucing yang suka pipis sembarangan?!" Seru Wangi kesal.


"Kucing saja masih pilih-pilih tempat buat pipis, nggak seperti..."


"Eli diem gak?!" Seru Zahara sambil menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Elias.


"Upss!! Ya ampun... Zahara kamu pernah ya?" Ujar Wangi stengah terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Eng, enggak kok Wang... Eerrgh!! Awas kamu El!" Zahara membantahnya dan langsung menatap tajam ke arah Elias yang menahan tawanya.


"Nah... Kita sudah sampai, di sini tempatnya." Ujar Zahara sambil membuka pintu yang bertuliskan Ruang Staff di depannya.


Zahara lekas membuka pintunya dan di dalam ternyata sudah banyak orang.


"Kawan-kawan aku membawa anggota baru kita, mungkin sebagian dari kalian sudah mengenalnya." Ucap Zahara pada rekan-rekan kerjanya.


"Selamat datang Dokter Wangi dan Dokter Elias, kita sudah saling menyapa tadi tapi belum sempat berkenalan. Saya Rio, dokter umum di sini." Ucap Rio memperkenalkan diri.


"Senang bertemu lagi Dokter Rio" Jawab Elias sambil menjabat tangan Rio yang diikuti oleh Wangi yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Saya Muara, dokter anastesia yang ikut operasi tadi siang." Ujar Muara.


"Ah iya, kita sudah saling mengenal tadi, senang ketemu lagi Dok." Kali ini Wangi yang berbicara.


"Hai, saya Gibran dokter umum juga. Di samping saya ada Maya, Myta, Roy dan Faisal, mereka berempat perawat di sini dan ada beberapa staff perawat lainnya yang sedang bertugas di ruang jaga pasien." Ucap Gibran memperkenalkan diri sambil memperkenalkan staff lainnya dan merekapun saling menyapa satu sama lain.


"Maaf, apa kalian semua ini anggota militer?" Tanya Wangi dengan hati-hati.


"Iya, kami semua adalah anggota TNI khusus bagian medis. Biasanya jika di malam hari begini hanya para anggota TNI medis saja yang bertugas dan para sukarelawan akan ada jika dibutuhkan." Ucap Gibran memberi keterangan.


"Oh begitu..."


Prok! prok!


"Sudah-sudah kenalannya, nah...sekarang kita mulai pesta penyambutannya, oh ya sebentar lagi Dokter Lukman, suster Anne, perawat Shaka dan perawat Toto akan menyusul, kita siapkan dulu makanan, nih!" Ujar Zahara.


"Mereka datang juga?" Tanya Wangi.


"Tentu saja, sukarelawan medis yang datang ke sini berarti mereka juga anggota keluarga Rumah Sakit Indobatt meski mereka hanya sebentar di sini." Terang Zahara.


Mendengar ucapan dan penjelasan Zahara Wangi menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih karena mereka semua sudah menerima dia dan juga para relawan medis lainnya selama enam bulan kedepan di sana, begitu pula Elias.


"Oh.. ini dari suami pasien yang baru melahirkan tadi, dia memberikannya sebagai ucapan terimakasih karena dia tidak mampu untuk membayar perawatan istrinya. Dia membawanya cukup banyak, katanya panen jagung dari kebunnya tahun ini melimpah, mungkin nanti Dokter Lukman dan lainnya juga membawanya soalnya tadi masih banyak yang belum dibakar, sebagaian koki akan memasaknya buat lauk kita besok." Terang Zahara.


"Dia kan memang tidak perlu membayarnya, fasilitas kesehatan di sini gratis untuk siapa saja yang membutuhkan." Ucap Myta.


"Kami sudah kasih tahu tapi dia tetap ingin memberikannya sebagai rasa terimakasih dan rasa syukurnya karena anak dan istrinya selamat." Elias menambahkan.


"Kalau begitu ini rejeki kita hehe..." Sahut Rio.


Tak berselang lama terdengar ketukan pintu.


Tok..tok..tok...


"Masuk..." Ujar Gibran menjawab ketukan pintu tersebut, dan kemudian masuklah Lukman, Anne, Shaka dan Toto dengan membawa sesuatu di tangan mereka.


"Ah... Akhirnya kalian datang juga." Ujar Zahara.


"Wahh... Kalian bawa apa saja? Banyak banget dan baunya hmm... Sepertinya enak?" Tanya Muara sambil sedikit mengendus-endus sesuatu yang ada di tangan Anne.

__ADS_1


"Ah ini... Martabak manis." Jawab Anne.


"Martabak manis?" Sahut Wangi dengan wajah seakan tidak percaya, dia akan menemukan makanan kesukaannya di situ.


"Iya martabak manis, maaf ini tadi yang membuat kita lama karena harus menunggu ini matang." Ucap Anne.


"Hmm... Pasti Sertu Galih yang membuatnya." Ucap Roy.


"Galih yang buat?!" Tanpa disadari Wangi langsung berseru demikian dan membuat teman-teman barunya langsung mengarahkan pandangan padanya.


"Eeh.. Itu..maksud saya beneran Sertu Galih yang membuatnya? Bukannya koki?" Ujar Wangi yang mengulang pertanyaan dengan sedikit canggung.


"Dia sering membuatnya jika sedang senggang, katanya ini akan mengobati rindunya pada Tanah Air, dan kebetulan stok kacang almon kita di sini banyak, ada kismis anggur juga yang bingung akan dibuat apa karena terkadang penduduk asli sini suka memberikannya pada kami soalnya hanya itulah yang mereka miliki di kebun mereka. Jadi Sertu Galih yang suka sekali dengan martabak akan membuatnya jika lagi senggang." Terang Roy panjang lebar.


"Benar itu Wang, tadi kami berempat lihat sendiri kok dia buat ini." Lukman membenarkan dan Anne pun juga mengangguk.


"Ini kan makanan kesukaanku, sejak kapan Galih bisa bikin martabak? Kok aku gak tahu ya?" Batin Wangi.


"Ya sudah gak usah lama-lama, kita nikmati saja rejeki kita hari ini. Sekali lagi selamat datang untuk para angggota medis baru kita, mohon kerjasamanya." Ucap Gibran.


"Wahh... Ini benar-benar enak, tak kusangka Sertu Galih pintar bikin martabak manis." Ujar Shaka dengan mata berbinar merasakan manis legitnya martabak manis bikinan Galih.


"Oh ya ada titipan dari Sertu Galih." Ujar Anne setelah mengingatnya.


"Titipan apa?" Tanya Zahara penasaran.


"Ini yang rasa coklat keju dengan kismis khusus buat Dokter Wangi." Mendengar ucapan Anne barusan langsung membuat Wangi yang baru saja meneguk air minum tersedak.


"Uhuk..uhukk!!"


"Ya ampun Wang... Pelan-pelan napa minumnya." Ujar Zahara sambil menepuk-nepuk punggung Wangi.


"Ehm... Kayaknya... Alasannya bukan karena rindu Tanah Air deh, tapi rindu yang dirindu.." Sahut Elias sambil mengulum senyumnya.


"Ehh, siapa?" Tanya para senior medis di sana.


"Emm...."


Belum sampai Elias membuk mulutnya lagi, Wangi sudah mengirimkan tatapan tajam ke arahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2