Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 108 Operasi Penangkapan Raja Kalajengking #5.Soledat


__ADS_3

"Hai tampan... Boleh aku duduk di sini?" Tanya wanita bernama Soledat itu sambil menyandarkan tubuhnya di meja bar dengan gaya menggoda. Galih meliriknya sekilas dan membiarkan wanita itu duduk di sampinya.


"Terserah." Jawab Galih yang sebenarnya agak risih dengan kedatangan wanita itu. Tapi bagaimanapun dia harus bersikap profesional, bagaimanapun ini termasuk dalam misinya, siapa tahu wanita tersebut dapat membantunya mengorek sedikit informasi.


"Tampan... Apa kamu sendirian datang kemari?" Tanya Soledat dengan suara yang dibuatnya semenggoda mungkin.


"Tidak, aku bersama sopirku." Jawab Galih acuh.


"Lalu dimana dia?" Tanya Soledat lagi.


"Di mobil." Jawab Galih singkat.


"Astaga... Kamu pria yang dingin, tapi aku suka. Tampan, siapa namamu? Aku Soledat, wanita tercantik di sini." Tanya Soledat sambil mengenalkan namanya yang dilebih-lebihkan.


"Buatku wanita tercantik di dunia ini setelah ibuku adalah Wangi." Kata hati Galih.


"Kenapa kau ingin tahu?" Tanya Galih.


"Karena orang setampan kamu pasti wanita manapun ingin memanggil namamu, ya...meski aku tidak keberatan memanggilmu 'Tampan'..." Jawab Soledat dengan kata-kata rayuannya.


"Jika aku memberitahukan namaku, apakah kamu akan melakukan apa yang aku inginkan?" Tanya Galih mencoba memanfaatkan keadaan, memanfaatkan wanita itu meski dia sedikit risih dengan gestur dan cara bicara Soledat yang berusaha merayunya.


"Tentu saja kalau itu pria tampan sepertimu..." Jawab Soledat sambil tersenyum menggoda meraih gelas minuman milik Galih dan meneguknya dengan gaya yang dibuat sensual. Tapi sayang Galih tidak tertarik sama sekali, dia hanya membutuhkan informasi wanita bernama Soledat itu.


"Panggil saja aku Mark. Apa kamu sering datang ke sini?" Galih memberikan nama palsu sambil menanyakan sesuatu pada Soledat.


"Selain tampan ternyata namamu juga bagus. Aku setiap hari ada di sini karena aku bekerja di sini." Jawab Soledat.


"Bekerja? Tapi kamu terlihat seperti menganggur dengan pakaian seperti itu." Kata Galih sambil memicingkan matanya.


"Ya ampun... Selain tampan ternyata kau lelaki yang polos Mark." Ujar Soledat sambil terkekeh.


"Aku bertugas menyambut dan menemani tamu yang sendirian sepertimu. Bukankah lebih menyenangkan ditemani wanita cantik sepertiku daripada duduk sendiri seperti ini?" Lanjutnya sambil memainkan gelas minuman yang ada di tangannya.


"Yahh... Kurasa tidak buruk." Sahut Galih yang membuat Soledat tersenyum merasa dirinya akan dapat menaklukkan hati Galih.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa kamu ingin bersenang-senang denganku hari ini Mark? Kita bisa pindah tempat yang lebih menyenangkan, di sini membosankan!" Ujar Soledat sambil mengbaskan rambutnya.


"Aku tahu kamu ke sini bukan hanya sekedar minum kan? Kamu bisa bersenang-senang di sini dan jika beruntung kamu bisa pulang dengan banyak uang." Lanjut Soledat.


"Aku sudah punya banyak uang." Sahut Galih arogan.


"Tentu saja aku tahu itu, maka dari itu kamu ke sini untuk bersenang-senang dengan uangmu itu." Ujar Soledat sambil melirik ke arah koper hitam yang Galih letakkan di bawah kakinya.


"Tapi dengan uang sebanyak itu dan penampilan tampanmu ini, tidak mungkinkan kamu hanya main di kelas rendahan seperti yang ada di dalam sana?" Tambahnya lagi.


"Memangnya ada tempat lain selain di sana?" Tanya Galih pura-pura tidak tahu.


"Tentu saja, ada tempat yang lebih berkelas untuk pria tampan beruang sepertimu. Dan kamu hanya bisa membawaku ke sana, karena aku tidak melayani tamu yang bermain di tempat rendahan di sana." Jawab Soledat sambil menjuk pintu Kasino dengan dagunya.


"Namamu Soledat kan? Kenapa kamu memilih bekerja di tempat seperti ini, bukankah ada temapt lain yang lebih baik?" Tanya Galih sedikit penasaran kenapa wanita sepertinya lebih memilih menjadi wanita penghibur bukan lainnya yang lebih bermartabat.


"Hahh! Kamu pikir wanita sepertiku bisa bekerja dimana? Aku tidak punya keahlian apapun kecuali tubuhku ini. Lagipula aku sudah terlanjur terjebak di sini. Aku tidak bisa lari lagi." Terang Soledat.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Galih lagi, entah kenapa dia jadi lebih penasaran terhadap Soledat. Tapi bukan berarti dia tertarik dengan wanita itu, baginya hanya Wangi yang dapat melumpuhkan hatinya.


"Aku mempunyai hutang pada bos di sini yang cukup besar untuk melunasi biaya operasi adik perempuanku yang sedang sakit. Untuk melunasinya aku harus bekerja melayani tamu-tamu VIP yang datang ke sini." Jawab Soledat yang entah mengapa mau saja menjawab pertanyaan Galih, padahal itu cukup privasi baginya.


"Tak ada pilihan, jika aku menolak mereka akan membawa adikku juga. Dia keluargaku satu-satunya, aku tidak akan membiarkan itu." Mendengar jawaban Soledat, Galih merasa iba, mengingatkannya pada Ali yang terlibat dengan mafia di sini karena ingin membahagiakan adiknya.


"Maaf, aku tak bermaksud..."


"Tidak apa-apa. Awalnya memang sulit bagiku, tapi kini aku sudah terbiasa. Ini pertama kalinya ada orang yang menanyakan hal ini padaku, biasanya mereka tidak pernah perduli sama sekali. Dan entah mengapa aku mau menceritakan ini padamu. Mungkin kamu adalah tamu tersopan yang pernah aku layani." Kata Soledat sambil tersenyum.


"Maka dari itu tuan Mark yang tampan... Maukah kamu membawaku naik ke atas? Karena hari ini aku sangatlah kesal karena salah satu tamuku yang sama tampannya sepertimu meski lebih tampan kamu sih...telah direbut oleh Lorena si ular itu!" Gerutunya yang kembali kesal mengingat teman kerjanya itu.


"Lorena?" Tanya Galih membeo.


"Ah.. Dia bekerja juga sepertiku, tapi dia sangatlah menyebalkan!" Jawab Soledat mengerucutkan bibir merahnya.


"Apalagi beberapa hari ini aku tidak bisa bekerja dengan full time seperti biasanya karena harus merawat gadis keci yang mungkin akan berakhir juga di sini." Lanjutnya.

__ADS_1


"Gadis kecil?" Galih membeo.


"Upss!!" Soledat langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Sepertinya dia sudah keceplosan.


"Ah... Maksudku adikku yang sedang sakit." Ujar Soledat mencoba meralat ucapannya meski Galih tahu gadis yang dimaksud Soledat bukanlah adiknya, tapi kemungkinan itu adalah Erisha adik perempuan Ali. Galih yakin itu. Dan itu menjadi titik terang untuk Galih.


Galih tersenyum smirk, seperti menemukan suatu ide di kepalanya.


"Bila ada seseorang yang mau membantumu keluar dari polemik hidupmu yang rumit itu, apakah kamu mau menerimanya?" Tanya Galih seakan bermain teka-teki.


"Tentu saja! Meski tubuhku sudah kotor tapi aku ingin hidup berdua dengan adikku dengan rasa damai. Aku ingin memberi contoh yang baik untuknya. Tapi bukankah itu sulit?" Kata Soledat yang sudah tidak ingin berharap lagi seperti dulu.


"Semuanya bisa terjadi jika berusaha dan ada orang yang membawamu keluar dari sini." Kata Galih setengah berbisik.


"Siapa? Kamu?" Tanya Soledat seakan tidak percaya.


"Mungkin..." Jawab Galih sambil tersenyum dan itu cukup membuat hati Soledat luluh.


"Apa aku juga harus memuaskanmu jika aku ikut bersamamu sebagai bayarannya?" Tanya Soledat.


"Kamu pikir aku orang seperti apa? Aku tak butuh itu semua." Sahut Galih.


Soledat terdiam sesaat seakan memikirkan tawaran Galih yang menggiurkan.


"Apakah seterusnya aku bisa hidup damai bersama adikku?" Tanya Soledat memastikan sekali lagi.


"Tentu saja jika itu yang kamu mau. Sebagai bayarannya kamu cuma harus membantuku saat ini. Bagaimana Soledat?" Kata Galih meyakinkan Soledat.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang tuan Mark?" Tanya Soledat sambil tersenyum, menandakan dia menerima tawaran Galih.


"Kamu cukup menunjukkan jalan menuju tempat tertinggi di atas kelas VIP di tempat ini." Jawab Galih.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2