Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 59 Makan Siang Berdua


__ADS_3

Wangi segera melangkah keluar dari dalam lift ketika pintu lift terbuka. Sepertinya dia tidak sabar untuk segera menemui Galih, mungkin dengan adanya Galih disisinya saat ini mampu membuatnya melupan kejadian bersama Elias tadi pagi. Ketika dia sudah berada di lobby Rumah Sakit, di sana ada Galih yang menunggunya dan tersenyum ketika pandangan mereka bertemu.


"Tumben di jam segini kamu ada di sini? Kamu nggak sibuk?" Tanya Wangi ketika dia sudah berada di hadapan Galih.


"Kebetulan baru saja nganter teman yang lagi sakit, tadinya dia dilarikan ke Rumah Sakit TNI tapi dia harus dirujuk di sini." Jelas Galih.


"Memangnya sakit apa?" Tanya Wangi.


"Tadi pagi dia tiba-tiba pingsan, ketika diperiksa ada masalah pada syaraf otaknya, Rumah Sakit kami tidak dapat menangani karena kurangnya peralatan dokter syaraf terbaik ada di Rumah Sakit ini." Galih kembali menerangkannya pada Wangi.


"Berarti dari tadi kamu ada di sini dong..Kok gak kasih tahu aku sih?" Ujar Wangi bertanya.


"Emm... Mungkin sekitar dua jam yang lalu? Maaf gak kasih kabar karena aku pikir kamu juga pasti lagi sibuk." Jawab Galih sembari meraih tangan Wangi dan menggenggamnya.


"Iya juga sih... Dari pagi aku lumayan sibuk." Sahut Wangi mengingat aktifitasnya setengah hari ini.


"Sibuk ngurus masalah Dokter Elias juga sih.." Lanjutnya dalam hati.


"Ya sudah, kita keluar sekarang ya? Kamu pasti sudah lapar kan?" Ajak Galih kemudian yang langsung diangguki oleh Wangi. Mereka pun keluar menuju mobil Wangi yang diparkir di parkiran Rumah Sakit.


"Memang gak papa teman kamu tinggal seperti ini?" Tanya Wangi pada Galih ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Gak papa... Ada Jarno yang tinggal di sana menemaninya. Lagian tadi aku pamit buat beli makan untuk Jarno juga, jadi gak papalah sekalian ketemu kamu." Ujar Galih sambil tetap fokus menyetir.


"Owhhh..." Sahut Wangi sambil manggut-manggut sendiri.


"Tadinya aku juga mau pesan makan lewat gofood, soalnya lagi malas keluar hehe..." Lanjut Wangi.


"Jadi kalau aku tidak ajak kamu, kamu bakalan gak keluar gitu?" Tanya Galih sambil menyetir.


"Iya males mau jalan keluar, capek." Sahut Wangi dengan memasang tampang melasnya.


"Duuhh kasihan.... Sabar ya sayang, nolong orang itu kan pahalanya banyak." Ucap Galih seraya mengelus-elus kepala Wangi dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap fokus memegang stir mobil.


"Oh ya, maaf aku terpaksa bawa mobil kamu, soalnya musti bawa beberapa barang keperluan teman aku yang sakit itu sedangkan tadi dia di bawa ke Rumah Sakit Universitas dengan ambulance." Kata Galih.


"Iya, tidak apa aku ngerti kok, btw... Kita mau makan dimana?" Tanya Wangi.


"Enggak jauh kok, bentar lagi juga sampai." Jawab Galih.

__ADS_1


Dan benar, tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah makan lesehan bernuansa pedesaan. Galih segera memarkirkan mobil begitu mereka sampai.


"Di sini makanan khas Jawa Tengah ada semua, aku tahu kamu suka makanan khas daerah daripada makanan khas barat atau Cines food, jadi aku yakin kamu bakalan suka." Kata Galih sedikit menerangkan tentang menu yang ada di rumah makan tersebut.


"Kamu sering ke sini?" Tanya Wangi sambil menunjuk ke arah tempat tersebut.


Galih menggeleng... "Ini yang pertama aku kesini dengan kamu, hanya saja ini rekomendasi dari seorang teman, katanya enak." Ujar Galih.


"Owhh.... Berarti ini yang pertama buat kita berdua dong." Sahut Wangi dengan wajah yang berbinar.


"Iya, karena aku ingin memulai semua yang baru pertama kali dengan kamu." Ucap Galih sambil menyelipkan anak rambut Wangi yang tergerai mengenai pipinya. Dan Wangi pun menyambut dengan senyuman hangatnya.


"Terimakasih ya sayang..." Ucap Wangi dengan tatapan hangatnya.


"Ya sudah, kita turun yuk?! Nanti kamu malah kelamaan keluarnya. Wangi pun mengangguk dan mereka berdua keluar dari mobil lalu berjalan bergandengan memasuki rumah makan lesehan tersebut.


Setelah memilih tempat duduknya, mereka memilih menu makanan dari buku menu yang dibawa oleh pelayan rumah makan.


"Kamu pilih saja apa yang kamu suka." Ucap Galih pada Wangi.


"Bingung mau pilih yang mana, terlalu banyak menunya dan kebanyakan kesukaanku semua hehe..." Sahut Wangi dengan ringisannya.


"Husst ngawur! Mana aku habis semuanya, ngaco kamu yang." Ujar Wangi sambil mencubit pinggang Galih gemas.


"Ya kalau kamu tidak habis biar aku yang habiskan." Balas Galih sambil terkekeh kecil.


"Emang kamu tidak masalah makan bekas yang aku makan?" Tanya Wangi sedikit penasaran dengan jawaban Galih.


"Gak masalah." Jawab Galih tegas tanpa ragu.


"Nggak jijik gitu?" Tanya Wangi lagi.


"Ngapain jijik? Kamu kan calon istri aku, lagian nyisain makanan itu tidak baik." Jawab Galih sambil menoel gemas hidung mancung Wangi. Mendengar jawaban Galih tersebut membuat hati Wangi menghangat dan senyumnya pun ikut mengembang.


"Hehe... Calon istri ya?" Gumam Wangi yang terlihat merona di pipinya.


"Sudah cepat pilih, biar tidak terlalu lama." Kata Galih.


"Iya... Aku pilih sayur brongkos sama urap-urap dan minumnya es sinom saja, oh ya tambah air mineral juga." Kata Wangi yang langsung di catat oleh pelayan rumah makan.

__ADS_1


"Kalau saya gurame bakar sama urap-urap dan minumnya es beras kencur." Sambung Galih yang juga memilih menu makanannya.


"Sudah saya catat pesanannya, ada tambahan lagi?" Tanya si pelayan.


"Nanti tolong tambah satu porsi nasi rames dibungkus dan satu es beras kencur ya mbak." Jawab Galih menyebutkan pesanannya untuk Jarno.


"Baik mas, mohon ditunggu sebentar ya..." Balas si pelayan yang kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Haaahh..." Tiba-tiba Wangi menghela napas panjangnya dan meletakkan kepalanya di pundak Galih. Matanya terpejam dan terlihat begitu lelah.


"Capek banget ya sayang?" Tanya Galih sembari mengusap-usap kepala Wangi dengan sayang. Sepertinya mengusap-usap kepala Wangi akan menjadi kebiasaan baru buat Galih.


Wangi mengangguk dengan kepala yang masih menempel di pundak Galih dan matanya oun masih terpejam.


"Gak apa-apa kamu tidur saja sebentar sambil nunggu makanannya datang." Ucap Galih lembut.


"Maunya sih gitu tapi gak bisa bener-bener merem." Sahut Wangi dengan nada manjanya.


"Kenapa? Kamu sedang ada masalah di Rumah Sakit?" Tanya Galih seakan ikut merasakan resah di hati Wangi.


"Galih... Kamu pernah gak dapat pernyataan cinta dari seseorang?" Tanya Wangi tiba-tiba.


"Pernah." Jawab Galih tanpa pikir panjang dan langsung membuat Wangi menegakkan kepalanya seraya membuka matanya lebar-lebar menatap Galih.


"Serius?! Kapan? Sebelum atau sesudah kita jadian?" Tanya Wangi begitu memberondong.


"Dulu, waktu pagi-pagi beli sarapan di warungnya bu Win mamanya Riko, ehh ada gadis kecil yang langsung bilang cinta ke aku." Jawab Galih seraya tersenyum jahil.


"Iihh Galih... Serius?!" Seru Wangi yang sedikit malu memingat akan hal itu dimana ketika pertama kali dia bertemu dengan Galih. Sedangkan Galih justru tergelak tawanya.


"Haha... Kenapa? Ada yang nembak kamu di Rumah Sakit?"


Deg..!!


Tebakan Galih tepat sasaran.


"Galih sayang... Kamu bukan cenayang kan?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2