Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 35 Koas Baru


__ADS_3

Elias mengendarai mobilnya meninggalkan parkiran Rumah Sakit dengan perasaan yang menyakitkan, namun untung saja pikiran Elias saat ini masih terbilang waras. Elias masih membesarkan hatinya jika mungkin saja apa yang dia atau Profesor Wigih lihat tentang Wangi dan lelaki yang bersamanya itu adalah tidak seperti apa yang dia sangka saat ini. Namun tetap saja di sepanjang perjalanan ini Elias masih saja kepikiran yang membuatnya kehilangan konsentrasinya dalam menyetir dan....


Ciiitt....!


"Aaaaaaagh... !!


Sebuah teriakan terdengar dari luar sana, membuat Elias tiba-tiba mengerem mendadak mobilnya hingga berhenti dan hampir saja jidatnya terbentur stir mobilnya.


"Astaghfirullah... Hah..hah..."


Jantungnya berdetak begitu cepat yang membuat Elias menahan napasnya dan mulai terengah-engah setelahnya. Setelah mengatur napasnya sejenak, dia mulai mendapatkan kewarasannya kembali lalu Elias buru-buru keluar dari dalam mobilnya.


"Maaf mbak, mbaknya baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Ternyata Elias yang sedang melamun ketika menyetir tadi hampir saja menabrak seorang wanita yang hendak menyebrang dan saat ini wanita tersebut duduk bersimpuh di jalanan tepat di depan mobil Elias karena saking shock-nya. Beruntung Elias mengerem mobilnya tepat pada waktunya sehingga wanita itu tidak tertabrak mobil Elias. Hanya saja kejadian barusan membuat beberapa orang pengendara berhenti menanyakan keadaan mereka dan beberapa orang juga memperingatkan agar hati-hati waktu menyetir atau menyebrang jalan.


Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Elias. Mungkin karena masih shock, dia hanya diam dan terengah-engah sambil memegangi dadanya dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh yang gemetar. Elias yang kebingungan akhirnya membantu wanita itu berdiri dan menuntunnya untuk menepi ke jalanan lalu mendudukkannya pada kursi pedagang kaki lima yang kebetulan ada di dekat sana.


"Mbak, tolong tunggu sebentar di sini, saya mau menepikan mobil saya dulu." Ujara Elias pada wanita tersebut yang diangguki pelan tanpa suara oleh wanita itu. Elias pun langsung berlari kecil menuju mobilnya dan tidak berselang lama ia pun kembali ke tempat wanita itu duduk setelah memarkirkan mobilnya dengan benar.


Elias menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja ia beli dari pedagang kaki lima tempat mereka menumpang duduk saat ini.


"Ini mbak diminum dulu supaya lebih tenang." Ucap Elias. Wanita itupun langsung menerima air mineral yang diberikan Elias untuknya dan langsung meneguknya.


"Terimakasih." Akhirnya wanita muda yang mungkin lebih muda dari Elias itu bersuara setelah selesai minum.


"Mbaknya tidak perlu berterimakasih, disini saya yang salah, karena kelalaian saya hampir menabrak mbak. Maafkan saya ya mbak?" Tutur Elias merasa bersalah dan menyesali kecerobohannya.


Wanita itu menggeleng.


"Terimakasih, maksud saya terimakasih sudah mengerem mobil anda tepat pada waktunya, kalau tidak saya akan menghantui masnya setiap hari." Ujar wanita muda itu yang terdengar sedikit sarkas pada Elias namun dengan ekspresi yang santai tanpa penekanan, tapi itu sudah cukup membuat Elias tambah merasa bersalah.


"Sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya." Kata Elias dengan perasaan menyesal.


"Iya saya maafkan karena masnya sudah minta maaf secara tulus, tapi lain kali hati-hati ya mas, padahal saya tadi sudah menyebrang di zebra cross tepat lampu penyebrangannya menyala lho..." Kata wanita muda itu mengingatkan.


"Iya mbak, tadi saya kurang fokus." Jawab Elias dengan perasaan yang tidak enak.


"Nah itu tambah bahaya lho... Bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain, pokoknya masnya lain kali lebih bijak saat berkendara." Wanita muda itu kembali menasehati Elias yang merasakan kecanggungan.


"Iya mbak, terimakasih sudah memaafkan dan mengingatkan saya." Balas Elias sungguh-sungguh dengan perasaan malu akan kecerobohannya.


"Maaf mbaknya ada yang luka? Kita bisa ke Rumah Sakit untuk memeriksanya." Tawar Elias pada wanita muda itu namun sang wanita menggeleng tanda menolak tawaran Elias.

__ADS_1


"Tidak perlu, saya baik-baik saja, saya tadi cuma kaget saja, sekarang sudah baikan kok." Ujar wanita muda itu menolaknya.


"Lalu mbaknya sekarang mau kemana? Biar saya antar." Tawar Elias lagi karena merasa tidak enak pada wanita itu.


"Maaf saya harus menolaknya karena kita kan tidak saling kenal, saya tidak biasa satu mobil sama orang asing kecuali dengan supir angkot atau supir taksi online." Kata penolakan dari wanita muda itu langsung membuat Elias melongo. Sekilas wanita muda di hadapannya itu persis seseorang yang dia kenal, orang yang selalu menolaknya disaat wanita-wanita di luar sana memujanya.


"Kenapa kepikiran Wangi lagi sih disaat seperti ini?" Dalam hati Elias merutuki dirinya sendiri.


"Haha... Saya cuma bercanda kok, masnya jangan tegang gitu dong... Tapi sungguh saya tidak perlu diantar, tempat tinggal saya dekat kok dari sini cuma jalan kaki saja, lagian tadi saya menyebrang jalan mau ke toko buku yang di sana itu." Kata wanita muda itu menjelaskan sambil menunjuk ke arah toko buku yang tidak jauh dari tempat mereka bicara saat ini.


"Ohh... Begitu ya..." Ujar Elias sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Emm... Kalau begitu saya pergi dulu ya mas." Pamit wanita itu sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Ah iya mbak, hati-hati." Balas Elias.


"Masnya yang harus berhati-hati." Kata wanita tersebut membalas kembali ucapan Elias. Elias hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala kemudian wanita itu benar-benar pergi dari hadapannya. Sementara itu Elias masih menatap wanita itu dari belakang sampai wanita muda tersebut membelokkan langkahnya memasuki sebuah toko buku yang dia maksudkan tadi. Setelahnya Elias melangkah pergi menuju mobilnya dan pergi dari sana.


Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk dari phonsel Elias ketika lelaki itu sedang menyetir. Elias mengabaikannya, mengingat barusan dia hampir saja menabrak seseorang dan dia tidak ingin mengulang kecerobohannya hanya untuk mengintip isi pesan dari phonselnya yang entah dari siapa itu.


Elias baru membuka phonselnya ketika dia baru saja memarkir mobilnya di area parkir apartemennya. Dan itu sungguh membuat hatinya yang baru saja lebih tenang kembali berdesir. Pesan tersebut ternyata dari Wangi.


"Malam Dok, tadi Dokter Elias ke Rumah Sakit untuk cari saya? Ada perlu apa ya Dok? Oh ya, terimakasih untuk makanannya." Begitulah isi dari pesan Wangi tersebut.


"Iya, kebetulan lewat saja lalu mampir." Balas Elias dan hanya dibalas lagi dengan "Oh" saja oleh Wangi.


Tidak ingin berpikir terlalu larut Elias segera keluar dari mobilnya dan masuk melalui lif untuk menuju ke unit apartemennya yang berada di lantai lima. Sesampainya dia langsung memfokuskan diri untuk berkutat lagi dengan laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi yang terpenting dari itu adalah agar pikirannya tidak kembali lagi memikirkan Wangi.


.


.


Keesokan harinya Elias datang ke Rumah Sakit dan bekerja seperti biasanya. Saat dia tiba di Rumah Sakit Elias sudah tidak mendapati Wangi di ruang kerja mereka karena Wangi pada saat itu sudah pulang ke rumahnya tepat jam piketnya selesai. Ada rasa lega di hati Elias, terus terang dia mungkin akan merasa canggung jika mengingat hatinya yang kalut tadi malam kala memikirkan Wangi bersama lelaki lain selain dirinya.


Phonsel di saku jas dokter Elias berbunyi, terlihat itu panggilan dari UGD, tanpa pikir panjang Elias mengangkatnya.


"Hallo Dokter Elias, ada pasien gawat darurat karena kecelakaan, kami membutuhkan anda sekarang juga." Kata seorang perawat yang bertugas di UGD dari sambungan telponnya.


"Baik, saya segera ke sana, tolong cek dulu alat vitalnya, siapa yang ada di sana?" Ujar Elias seraya bertanya.


"Di sini hanya ada Koas dan Dokter Erika, saya sudah memanggil Profesor Wigih karena keadaan pasien sangat parah tapi Profesor sedang melakukan oprasi yang akan selesai sekitar tiga puluh menit lagi, jadi beliau menyarankan untuk menghubungi Dokter Elias." Terang si perawat.

__ADS_1


"Baik, saya masih jalan ini, sebentar lagi sampai." Ujar Elias sambil berlari kecil dan menyeret Sandy untuk ikut dengannya ketika ia tanpa sengaja berpapasan dengannya, bahkan Sandy tidak sempat mengeluarkan suaranya ketika ia hendak menyapa Elias.


"Hei... Mereka kan hanya memanggilmu kenapa aku juga ikut kau seret?" Protes Sandy yang tetap tidak bisa menolak ajakan Elias.


"Sudahlah, apa salahnya membantu seorang teman dan seorang pasien yang membutuhkan pertolongan?" Sergah Elias dan Sandy pun hanya bisa memutar bola matanya jengah dan mengikuti langkah Elias yang cepat itu tanpa ingin membantahnya lagi.


Sesampainya di Ruang UGD betapa kagetnya Elias ternyata pasiennya tidak cuma satu orang melainkan lima orang dan dua dari mereka mengalami luka yang cukup serius. Sementara di sana hanya ada dua dokter residen tahun ke tiga dan tiga koas tanpa dokter senior sebagai pendamping.


"Apa-apaan ini?! Bukan hanya satu melainkan lima pasien?" Elias langsung menatap garang perawat yang menghubunginya tadi.


"Maaf Dok." Ucap perawat tersebut yang sepertinya mengetahui kesalahannya.


"Untung aku mengajakmu juga San." Ujar Elias sembari melangkah menuju ke salah seorang pasien yang sedang ditangani seorang Koas.


"Heii... Kau tidak mengajakku tapi menyeretku El." Sahut Sandy sambil menghampiri pasien yang ditangani oleh Erika.


"Dokter Sandy, saya senang dokter datang, pasien dalam keadaan setengah sadar, bahu kirinya robek dan sepertinya kakinya juga patah, kita bisa memastikannya jika sudah cek rontgen." Terang Erika.


"Bagaimana alat vitanya?" Tanya Sandy.


"Semuanya bagus Dok." Jawab Erika.


"Bagus, sementara itu kita hentikan pendarahannya sebelum menjahit luka robeknya." Ujar Sandy yang diangguki oleh Erika dan mereka berdua langsung melakukan tugasnya dengan seksama.


Sementara itu Elias mengecek satu persatu pasien yang lainnya hingga sebuah seruan terdengar dari seorang Koas perempuan.


"Dokter tolong, pasien mengalami kejang-kejang!" Mendengar teriakan itu Elias langsung berlari menghampiri. Tanpa melihat siapa Koas perempuan yang berteriak tadi, Elias langsung memeriksa dan melakukan pertolongan secepatnya untuk pasien yang kejang tersebut.


Setelah semua terkendali, Elias kembali menggerutu.


"Kenapa seoarang Koas dibiarkan bertindak sendiri di UGD? Dimana dokter pendamping kalian?" Tanya Elias geram tanpa melihat Koas perempuan tersebut dan tetap sibuk mengecek lagi pasien di hadapannya, si Koas perempuan juga tidak melihat Elias dengan benar karena terlalu takut untuk menatap senior yang sedang marah itu.


"I itu... Tadi ada Dokter Alfa yang mendampingi kami namun dua jam yang lalu ada panggilan darurat yang memanggil beliau." Jawabnya dengan terbata.


Elias yang memutar badannya untuk menghadap ke Koas perempuan tersebut langsung mengatupkan mulutnya kembali ketika hendak mengatakan sesuatu. Ekspresi wajahnya menyiratkan keterkejutan.


"Kamu?" Hanya itu yang keluar dari mulut Elias ketika melihat Koas perempuan itu dengan jelas. Dan Koas perempuan itu langsung menoleh ke arah Elias setelah mendengar pertanyaan ambigu Elias.


"Kamu?" Si Koas perempuan ikut membeokan pertanyaan yang sama ketika melihat wajah Elias sambil menunjuk ke arah senior galaknya itu.


Ya, si Koas perempuan ternyata adalah wanita muda yang hampir tertabrak oleh Elias tadi malam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2