
Galih tersenyum setelah membaca balasan pesan dari Wangi.
"Gadis aneh." Gumam Galih dalam hati.
"Galih, sayang... Sini nak kita makan kuenya sama-sama." Panggil mamanya sembari membuka bungkusan kue basah jajanan pasar khas Yogyakarta seperti Legomoro, Yangko, hingga Gethuk pun ada.
"Iya ma..." Jawab Galih sambil menyimpan kembali phonselnya di dalam saku celananya dan kemudian berjalan menghampiri mamanya.
"Sayang ya Dokter Wangi tidak bisa ikut makan bareng kita." Ujar mamanya dengan nada sedih.
"Wangi kan sibuk ma, lagian tadi Wangi kan sudah jelasin." Ucap Galih mencoba menenangkan kekecewaan mamanya.
"Gak tahu tuh mamamu suka baperan, lagian ntar kita bisa undang Wangi dan keluarganya buat makan bareng pas papa pulang dari sini." Sahut Ridwan menimpali sembari menggoda istrinya.
"Ihh papa, memangnya papa ngerti apa artinya baperan?" Bales Ratna sewot pada suaminya.
"Ya tahulah... Suka kebawa perasaan." Balas Ridwan tidak mau kalah, sementara Ratna hanya bisa memanyunkan bibirnya ke arah suaminya. Dan Galih yang melihat tingkah laku kedua orang tuanya yang masih suka olok-olokan bak anak kecil hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
"Oh ya Lih, kamu sudah akrab banget ya sama Dokter Wangi? Soalnya kalian berdua saling memanggil nama saja pas mama dengar tadi." Tanya mamanya setengah penasaran.
"Biasa saja kok ma, soalnya dia gak suka kalau dipanggil mbak katanya seperti manggil mbak-mbak tukang jamu, dipanggil Dokter katanya terlalu formal soalnya kami seringnya ketemu di luar jam kerja dia." Ungkap Galih menjelaskan pada mamanya.
"Ohh gitu ya... Bagus deh." Ujar Ratna lirih.
"Kenapa ma?" Tanya Galih yang mendengar samar-samar cicitan mamanya.
"Ahh nggak kok, bukan apa-apa." Jawab Ratna seketika sambil tersenyum kaku.
Galih terdiam sejenak...
"Ma, aku mau ke Mushola dulu ya, mau sholat dzuhur." Kata Galih kemudian.
"Lho... Gak makan kue dulu?" Tanya mamanya.
"Nanti saja ma." Jawab Galih sembari melangkah keluar dari ruang inap papanya.
"Pa, kenapa lagi anakmu itu? Kok aneh gitu sikapnya?" Ujar Ratna menanyakan pada suaminya.
__ADS_1
"Aneh gimana? Cuma mau sholat saja, sudah jangan baper terus." Sahut Ridwan masa bodoh.
"Huhh bicara sama papa itu bikin kesel!" Ucap Ratna setengah merajuk, sementara Ridwan suaminya hanya mengabaikannya sambil asyik memakan bubur sumsum yang Galih belikan tadi.
Sementara itu Galih langsung menuju Mushola yang ada di Rumah Sakit tersebut. Mengambil air wudlu lalu segera menunaikan kewajiban sholat dzuhur. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya dia menyelesaikan sholatnya. Dia keluar dari dalam Mushola namun tak langsung meninggalkan tempat itu. Galih justru duduk di teras Mushola dan tatapan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Haahhh...."
Galih menghela napas panjang. Dirinya teringat sesuatu yang pernah Komandanya Rendra alias papanya Wangi katakan padanya malam itu. Malam ketika dirinya mengantar Wangi pulang setelah mengetahui hubungan papanya dengan Komandannya, serta malam dimana dirinya merasa kurang enak badan dan Wangi memberinya obat.
.
.
Flash Back....
Malam itu setelah memastikan Wangi masuk ke dalam rumah Galih segera melajukan mobilnya untuk kembali ke asramanya. Namun baru akan memasuki gerbang asrama sang Komandan yaitu Rendra papanya Wangi menelponnya dan memintanya untuk menemuinya di depan mini market yang berada tidak jauh dari asrama. Galih pun akhirnya memutar arah mobilnya menuju mini market yang dimaksud Komandannya itu.
Sesampainya di sana ternyata sang Komandan belum sampai dan Galih menunggunya di tempat duduk payung yang ada di halaman mini market tersebut hingga sepuluh menit kemudian Rendra datang menghampirinya. Galih yang melihatnya langsung berdiri dari duduknya.
"Siap Ndan! Baru saja." Jawab Galih tegas.
"Sudah santai saja, kita tidak sedang bertugas, panggil saja saya om. Kamu pasti sudah tahu kan kalau saya dan papamu itu sahabat lama?" Kata Rendra sambil memosisikan dirinya untuk duduk.
"Siap, sudah Ndan." Jawab Galih.
"Santai Lih... Panggil om saja jika di luar begini." Kata Rendra sekali lagi untuk menegaskan.
"Ba baik Ndan, ehm... Om." Jawab Galih yang masih merasa canggung dengan permintaan Komandannya tersebut.
"Duduk Lih, eh tunggu... Lebih baik kamu belikan dulu kopi di mini market ini sekalian beberapa camilan, soalnya kita bakalan ngobrol cukup lama. Ini uangnya." Kata Rendra sambil merogoh dompet yang ada di dalam saku celananya.
"Pakai uang saya saja om." Tolak Galih.
"Jangan, kan saya yang ajak kamu ke sini." Ujar Ridwan namun Galih tetap menolaknya.
"Tidak apa-apa om, saya ada." Galih yang tetap menolaknya membuat Rendra menyerah.
__ADS_1
Galih pun masuk ke dalam mini market dan membelikan kopi pesanan Komandannya dan kacang kulit serta wafer sebagai camilan ringannya, sementara dia memilih membeli susu beruang mengingat tubuhnya yang terasa kurang vit. Setelahnya ia kembali ke tempat Rendra duduk dengan membawa kopi cup yang masih mengepul beserta belanjaan lainnya.
"Ini kopinya om." Galih meletakkan kopi panas itu tepat di hadapan Rendra sambil menaruh sebungkus kacang kulit dan wafer.
"Lho kamu tidak ngopi sekalian Lih?" Tanya Rendra yang tidak melihat kopi milik Galih.
"Saya minum ini saja om." Jawab Galih sambil menunjukkan susu beruang yang dibelinya tadi.
"Ohh..." Balas Rendra.
Ridwan menyeruput kopinya pelan-pelan dan hati-hati karena masih sangat panas.
"Lih... Ada yang ingin saya sampaikan kepadamu, tapi tolong kamu dengarkan saya dulu sampai akhir, mungkin apa yang akan saya katakan nanti membuatmu terkejut atau tidak nyaman." Ucap Rendra yang mulai berbicara serius.
"Baik om, akan saya dengarkan sampai akhir." Balas Galih yang mulai merasakan penasaran di hatinya.
"Begini Lih... Kamu pastinya sudah tahu kan jika saya dan Ridwan papamu itu adalah sahabat lama?" Galih mengangguk sebagai jawabannya.
"Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku SMP hingga kami SMA pun kami tetap satu sekolah. Papamu yang berasal dari keluarga yang cukup mampu memilih melanjutkan kuliah jurusan bisnis demi meneruskan bisnis keluarga, sementara saya yang memang sejak sekolah bercita-cita menjadi tentara memilih mendaftar menjadi anggota TNI setelah kami lulus dari SMA. Meski demikian kami berdua tidak pernah berhenti berkomunikasi dan sesekali bertemu jika kami sedang ada waktu luang. Hingga masing-masing dari kami menikah dan Ridwan memilih pindah ke Jakarta untuk meneruskan bisnis orang tuanya. Kalau tidak salah waktu itu usia kamu belum genap dua tahun dan saat itu pula istri saya sedang mengandung Wangi." Rendra menghentikan ceritanya sejenak dan mengambil kopinya untuk dia minum kembali. Setelahnya dia melanjutkan kembali ceritanya.
"Sebelum kalian pergi ke Jakarta malam sebelumnya kami berkumpul untuk makan malam sekalian Ridwan ingin berpamitan. Namun ada satu hal yang ingin dia minta pada saya agar persahabatan ini tetap terjalin. Kamu tahu apa yang papamu minta dari saya?" Galih menggeleng tanda bahwa dia tidak tahu.
"Wangi." Ucapan Rendra itu seketika membuat Galih terperanga, dia sangat terkejut dan merasa apakah dia salah dengar?
"Wangi om? Maksudnya?" Galih masih kurang paham dengan ucapan Rendra.
"Entah apa yang ada dipikaran Ridwan pada waktu itu, namun papamu sangat yakin jika anak yang sedang dikandung istri saya adalah anak perempuan. Dan Ridwan ingin kalian menikah jika kelak sudah dewasa." Galih dibuat semakin shock dengan ucapan Rendra sang Komandan.
"Dan om menyetujuinya?" Tanya Galih dengan raut wajah yang sulit untuk diungkapkan.
Rendra mengangguk...
"Iya, saya pikir waktu itu Ridwan hanya bercanda dan saya mengiyakan agar dia merasa senang. Maklum, papamu yang merupakan anak tunggal menjadikan saya dan dia seperti saudara sendiri. Dia terlihat sedih ketika kami harus berpisah sehingga saya mengiyakannya. Setelah sekian lama kami berdua jadi jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing hingga saya mendapat kabar darinya yang mengatakan bahwa dirinya sakit keras dan sedang menjalankan perawatan di Rumah Sakit Universitas tempat Wangi bekerja. Dan ketika saya menemuinya sebelum operasi itu, Ridwan papamu menagih janji perjodohan antara kamu dan Wangi yang saya kira hanya candaan dia semata." Ungkap Rendra yang membuat Galih tidak bisa berkata apa-apa lagi saking speechless-nya.
"Sekarang saya ingin bertanya, bagaimana keputusan kamu Galih?"
Bersambung....
__ADS_1