Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 61 Josep dan Si Uler Keket?


__ADS_3

"Galih... Kita nikahnya gak perlu nunggu aku lulus ya? Karena aku juga sudah cinta sama kamu." Dan Galih pun tersenyum.


"Apapun buat kamu." Jawab Galih.


"Tapi... Seperti yang aku katakan ke kamu kalau aku tidak mau jadi pasangan yang egois. Kerjaan dan kuliah S-2 kamu itu bukanlah hal yang mudah, pasti butuh tenaga dan pikiran yang ekstra agar spesialis kamu cepat selesai juga. Kalau kita menikah sekarang yang ada kamu akan lebih sibuk karena ngurusin rumah tangga kita, belum lagi kalau kita langsung punya anak, pasti akan lebih repot." Galih menghentikan sejenak ucapannya seraya menatap Wangi yang terlihat sedang memikirkan omongan Galih.


"Sayang... Aku bilang begini bukan berarti aku tidak ingin cepet-cepet nikah sama kamu, ini karena aku tidak ingin kamu terlalu repot dengan kesibukan kamu sekarang ini. Saat ini saja kamu sudah sibuk bukan main, gimana nanti kalau kita menikah sekarang? Masa pengantin baru masih sibuk dengan kerjaan kuliah dan kerjaan profesi? Terus waktu buat sama aku gimana?" Terang Galih selanjutnya.


"Hmm... Bilang saja kalau kamu masih mau pacaran dulu." Sahut Wangi sambil mencubit gemas pipi Galih. "Tapi ada benarnya juga kata kamu, pasti akan sulit membagi tugas antara keluarga dan kegiatanku saat ini yang masih stabil karena belum menyelesaikan Strata Dua ku. Ntar yang ada malah berantakan dan aku jadi tidak bisa ngurus kamu." Lanjut Wangi setelah memikirkan ada baiknya mendengarkan ucapan Galih. Membangun sebuah keluarga kan tidak semudah membangun rumah-rumahan dari pasir laut, apalagi jika ada ombak yang tiba-tiba datang menerjang apabila bangunannya tidak kokoh maka akan langsung runtuh seperti rumah-rumahan pasir tersebut. Jadi mendengarkan perkataan Galih adalah hal yang bagus.


"Terimakasih sudah menunggu, ini pesanannya." Kata seorang pelayan yang datang membawakan nampan berisi pesanan Galih dan Wangi lalu meletakkannya di meja mereka.


"Terimakasih." Kata Galih setelah pelayan tersebut selesai menata menu makanan yang dia pesan.


"Sama-sama, permisi." Sahut si pelayan rumah makan sebelum meninggalkan meja Galih dan Wangi.


"Dimakan dulu sayang, nanti waktu istirahat kamu keburu habis." Kata Galih sambil menyodorkan sepiring nasi putih dan semangkuk sayur brongkos yang dipesan Wangi tadi.


"Iya, kamu juga selamat makan." Sahut Wangi seraya meraih mangkuk sayur brongkosnya dan menuangkan di atas nasi putih dengan sendok sayur. Galih pun juga mulai menikmati gurame bakarnya. Mereka pun menikmati makan siang dengan sesekali berceloteh tentang apa saja dengan senyum yang tergambar di bibir mereka.


Disela-sela makan siang mereka, tidak sengaja Wangi melihat sesorang yang tidak asing di matanya. Seorang lelaki yang duduk di meja yang agak jauh dari tempat duduknya, dia sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang tidak asing pula untuk Wangi. Keduanya terlihat sedang menikmati makanan sambil berbincang dan menebar senyuman satu sama lain.


"Sayang, itu bukannya teman kamu yang pacarnya teman aku itu ya?" Ujar Wangi sambil menunjukkan kepada Galih ke arah lelaki yang dia maksud. Galih pun langsung menengok dan melihat kearah yang dimaksudkan Wangi tersebut.

__ADS_1


"Lho itu kan Josep? Dengan siapa dia? Itu bukan teman kamu kan yang?" Tanya Galih setelah melihat siapa lelaki yang ditunjukkan Wangi padanya yang ternyata adalah Josep pacar Laras teman sekolah Wangi dulu.


"Nah itu dia yang aku maksudkan sayang... Dia itu kan pacarnya teman aku Laras bahkan setahu aku mereka berencana mau menikah tapi kok sekarang dia sama si uler Keket Wulan itu sih??" Sahut Wangi yang juga meninggalkan tanda tanya di benaknya.


"Kamu kenal dengan wanita itu juga yang?" Tanya Galih yang diangguki langsung oleh Wangi.


"Dia Dokter Residen dengan spesialis dan tahun yang sama dengan aku." Jawab Wangi.


"Jadi wanita itu dokter juga di Rumah Sakit yang sama dengan kamu?" Wangi kembali menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Galih.


"Terus hubungan Josep dengan teman kamu baik-baik saja kan?" Tanya Galih lagi.


"Aku tidak tahu yang, soalnya setelah Laras keluar dari Rumah Sakit kami belum bertemu kembali, dia juga tidak menghubungiku setelah itu. Ya... Aku pikir mereka baik-baik saja, memangnya Josep tidak pernah bilang apa-apa sama kamu Lih?" Galih menggelengkan kepalanya, karena sejak kejadian dulu di Rumah Sakit setelahnya Josep tidak membicarakannya lagi dengan Galih dan Galih menganggap masalah temannya itu dengan kekasihnya sudah teratasi.


"Kok kamu dari tadi maggil wanita itu dengan sebutan uler Keket sih yang?" Tanya Galih penasaran.


"Soalnya kalau dekat-dekat dia rasanya pengen nggaruk karena gatal." Sahut Wangi sambil bereaksi geli menggaruk-garuk tangannya sendiri.


"Hahh?! Kok bisa gitu?" Tanya Galih yang semakin tidak mengerti dengan bahasa absurd Wangi itu.


"Di dalam angkatan kami dia itu terkenal genit dengan lelaki terutama lelaki yang tampan dan famous di kampus atau di Rumah Sakit kami. Tidak hanya itu, dia juga terkenal dengan mulutnya yang ringan, dia wanita yang sombong yang seakan dialah yang terbaik. Pokoknya banyak yang tidak suka dengan sifatnya itu." Ungkap Wangi menjelaskannya pada Galih.


"Sejelek itu ya reputasi dia?" Tanya Galih.

__ADS_1


"Iya, setidaknya sebagai wanita tapi sebagai dokter dia lumayan bisa diandalkan, maka dari itu kami tidak terlalu mempermasalahkan sifat genitnya itu asal tidak ada masalah dengan tugas keprofesiannya sebagai dokter." Jawab Wangi yang dibalas anggukan mengerti dari Galih.


"Ya sudah mending kita tidak usah ikut campur dulu masalah mereka, lagian hubungan Josep dan dokter wanita itu belum jelas statusnya apa, terus antara Josep dan Laras juga kita tidak tahu kelanjutan hubungan mereka gimana. Jadi sayang... Lebih baik kamu diam saja dulu, nanti biar aku yang cari tahu kebenarannya." Ucap Galih sambil mewanti-wanti Wangi agar jangan ikut campur dulu dengan masalah hubungan percintaan temannya sebelum ada kejelasan yang pasti dengan apa yang dia dan Galih lihat sekarang ini.


"Iya iya... Aku gak akan bilang ke Laras kalau aku lihat kekasihnya sedang berduaan sama si uler Keket itu, tapi mungkin aku nanti akan hubungi Laras buat tanya kabarnya dia aja karena perasaan aku gak enak nih." Jawab Wangi yang terlihat sedikit cemas dengan Laras.


"Iya terserah kamu jika itu membuatmu lebih tenang." Sahut Galih seraya memainkan rambut panjang Wangi.


"Sayang, kamu sudah selesai makannya? Kalau sudah kita balik sekarang?" Tanya Galih pada Wangi.


"Kayaknya iya deh yang... Ini sudah mau habis jam istirahatku." Jawab Wangi sambil melihat ke arah jam tangannya.


"Ya sudah yuk!" Ajak Galih sambil mengulurkan tangannya pada Wangi untuk membantunya berdiri dari duduknya dan Wangi pun menyambutnya dengan senang hati uluran tangan kekasih tercintanya itu.


"Yuk!" Sahut Wangi setelah tangan mereka berdua saling tertaut dan kemudian meninggalkan rumah makan itu dengan saling bergandengan tangan.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil tiba-tiba Galih teringat sesuatu sebelum menjalankan mobilnya.


"Ngomong-ngomong sayang, lelaki yang menyatakan cintanya kepada kamu itu siapa namanya?"


"Aduh! Kok ingat lagi sih?" Batin Wangi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2