Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 57 Melepasmu


__ADS_3

"Iya, saya menyukai kamu Wangi Prameswari."


Akhirnya kata-kata ajaib itu keluar juga dari mulut Elias. Elias sudah muak untuk menyimpannya lebih lama lagi. Dia tidak berharap banyak setelah ini, bahkan Elias tidak berharap sama sekali Wangi akan menerima pernyataan cintanya karena Elias sudah tahu apa jawabannya. Dia hanya berharap akan terlepas dari bayang-bayang Wangi yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Mungkin setelah ini hati Elias akan menjadi lebih ringan meski harapannya bersama Wangi tidak terwujud. Dia hanya ingin melepaskan perasaannya terhadap Wangi dengan hati yang lapang tanpa membawa beban luka lagi di hatinya, maka dia juga akan dapat melangkah maju dan menemukan kebahagiaannya sendiri meski setelah ini dia yakin hubungan pertemanannya dengan Wangi tidak akan sama lagi seperti dulu. Tidak apa-apa, itu adalah resiko yang harus dia ambil dan Elias siap untuk itu.


Wangi terlihat shock dan terdiam sesaat kemudian tiba-tiba dia tertawa dengan wajah kakunya.


"Ha..ha..hahaa... Nggak lucu Dok bercandanya, Dokter Elias itu gak cocok buat bercanda seperti ini. Dokter Elias itu cocoknya serius, jutek, cool dan..."


"Saya serius Wangi, saya tidak bercanda." Mendengar namanya disebut tanpa ada embel-embel kata Dokter didepannya membuat Wangi langsung terdiam tanpa meneruskan ucapannya yang sempat terpotong. Baru kali ini Elias benar-benar memanggil namanya saja dan Wangi tersadar jika sekarang ini Elias benar-benar tidak sedang bercanda.


Wangi terdiam, berdiri kaku menatap lurus ke arah Elias. Jantungnya berdebar. Bukan, bukan karena dia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Elias, hanya saja jantung Wangi berdebar hebat karena terkejut dengan pernyataan Elias yang tiba-tiba. Wangi masih berharap jika Elias sedang bercanda saja, namun melihat bahwa Elias bukanlah orang yang seperti itu membuat Wangi jadi bingung harus berbuat apa?


"Sejak kapan?" Wangi bertanya dengan mata yang tetap lurus menatap Elias.


"Sejak awal pertama pertemuan kita." Jawab Elias dengan jujur. Sudah tidak ada gunanya dia menutupinya lagi.


"Kenapa? Kenapa Dokter Elias tidak pernah jujur dengan saya?" Tanya Wangi yang begitu penasaran kenapa Elias tidak pernah jujur akan perasaannya yang sesungguhnya terhadapnya.


"Apa jika saya berkata jujur dari awal ke kamu akan merubah keadaan saat ini?" Wangi kembali merasakan kebingungan, dia tidak menyangka Elias bakal memutar balik pertanyaannya dan sekarang Wangi bingung harus memberi jawaban apa?


"Entahlah... Saya tidak tahu, hanya saja saat ini saya tidak dapat menerima perasaan Dokter, karena saya sudah memiliki kekasih. Maaf..." Dengan perasaan sesal dan berat Wangi menjawab pertanyaan Elias.


"Jika saat ini kamu tidak bersamanya, apa kamu akan merubah pandangan kamu terhadap saya dan menerima saya?" Tanya Elias sekali lagi untuk meyakinkan perasaan Wangi dan meyakinkan dirinya sendiri jika sudah tidak ada harapan lagi baginya.

__ADS_1


"Enatahlah, yang pasti selama ini saya tidak ada perasaan apa-apa terhadap Dokter Elias, bagi saya Dokter adalah orang yang baik meski sering membuat saya jengkel, Dokter tak lebih hanyalah senior yang selalu menjadi panutan saya tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Sekali lagi saya minta maaf Dok." Jawaban Wangi kali ini sudah mampu menjawab pertanyaan yang berkecamuk di hati Elias.


"Buat apa kamu meminta maaf? Bukan kesalahan kamu jika kamu tidak mencintai saya, perasaan seseorang siapa yang mampu memaksakannya? Ini semua salah saya, saya yang terlalu pengecut dalam waktu yang begitu lama." Ucap Elias dengan nada yang begitu terdengar sedih.


"Dokter Elias juga tidak salah, seperti kata Dokter hati sesorang siapa yang mampu mengendalikannya?" Ujar Wangi yang mungkin akan sedikit menghibur hati Elias, meski itu tidak mungkin untuk saat ini.


"Huufft... Sekarang saya lega karena sudah mengatakan semuanya kepadamu. Saya harap setelah ini kita masih saling berteman dan tolong jangan hindari saya, bagaimanapun kita ini adalah kolega." Kata Elias yang memperlihatkan senyum tulusnya. Baru kali ini Wangi melihat senyum Elias yang begitu lepas tanpa beban dan Wangi baru sadar jika dia pernah melihat senyum Elias yang seperti ini dulu ketika mereka masih bersekolah.


"Tentu saja Dok, bagaimana saya bisa menghindari Dokter Elias yang selalu merepotkan saya dengan segala macam tugas?" Jawab Wangi dengan sedikit bercanda sembari tersenyum.


"Hehmm... Saya tidak akan melakukannya lagi." Ujar Elias sembari tersenyum.


"Saya anggap itu sebuah janji." Balas Wangi dan Elias terlihat mengangguk.


"Wangi tunggu!" Seru Elias ketika Wangi berbalik dan hendak melangkah pergi. Wangi pun menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Elias dengan alis yang terangkat seakan menanyakan 'ada apa'?


"Apa kamu bahagia dengannya?" Tanya Elias memastikan jika Wangi benar-benar bahagia dengan pilihannya.


Wangi tersenyum lalu kemudian menjawab...


"Ya, saya bahagia."


"Selamat, semoga kamu akan selalu bahagia." Ucap Elias dengan tulus mesti masih terdengar sedih disetiap katanya.

__ADS_1


"Terimakasih, saya permisi dulu Dok." Elias mengangguk dan Wangi pun pergi meninggalkan Elias sendiri di rooftop Rumah Sakit.


"Haahh... Akhirnya aku benar-benar melepas cinta pertamaku seperti ini, ternyata tidak buruk juga." Tutur Elias pada dirinya sendiri sambil menghela napas berkali-kali.


Dilain sisi Wita ternyata juga berada di sana menyaksikan dan mendengar semua pengakuan Elias kepada Wangi dari awal hingga akhir. Wita tidak berniat untuk menguping bahkan meliahat adegan yang terlihat bak drama Korea romansa yang sering dia lihat. Sebenarnya Wita sejak awal sudah berada di rooftop tersebut sebelum Elias dan Wangi datang. Wita datang ke Rumah Sakit masih terlalu pagi dan dia memutuskan untuk menikmati secup cappuccino di rooftop sebelum bertugas. Tapi tidak disangka dia harus menyaksikan semua kejadian tadi. Tadinya Wita tidak berniat untuk bersembunyi, tapi dia spontan saja bersembunyi setelah mendengar pintu rooftop terbuka dan melihat siapa yang datang dan akhirnya dia terjebak di sana, bersembunyi diantara pot-pot besar tanaman yang ada di sana.


"Duuhh... Kenapa aku harus tahu tentang ini semua sih? Dan kenapa Dokter Elias tidak langsung pergi juga sih...padahal Dokter Wangi sudah pergi dari sini, terus mau sampai kapan aku ngumpet seperti ini? Bisa-bisa aku kena tegur sama Dokter pembimbing aku." Gerutu Wita dalam hatinya.


Tiba-tiba Wita merasakan ada yang merambat di tangannya.


"Ini apa sih geli-geli gitu?" Gumamnya begitu lirih, namun apa yang Wita lihat ditangannya adalah seekor ulat daun yang sedang merambat di punggung tangannya. Sontak perempuan itu berdiri dari jongkoknya dan berteriak sehingga membuat Elias yang merenungi nasibnya dikejutkan oleh teriakan Wita.


"Aarrghh...!! Hiiee... Ulat! Ulat!! Tolong ada Ulat!!" Teriak Wita sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan membuat cup cappuccino di tangannya jatuh hingga tumpah.


"Wita?!"


Wita langsung terdiam mendengar namanya disebut, dirinya langsung sadar jika saat ini dia sudah ketahuan oleh Elias.


"Ha.. Hallo Dokter Elias." Sapa Wita sambil tersenyum kaku yang dipaksakan.


"Kok kamu ada di sini?" Tanya Elias curiga.


"Mati aku!!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2