
"Siap-siap menerima pasien dari luar! Ada dua pasien dalam keadaan darurat!" Ucap Dokter Gibran memberi perintah. Lalu seketika Wangi dan Zahara saling bertatapan mata. Dalam hati mereka berteriak...
"Galih..!" Seru Wangi dalam hati.
"Romero..!" Seru Vianty tertahan ditenggorokannya.
Tiga jam sebelumnya di Kasino Scorpion...
"Gagak siap kembali berburu!" Kata Romero yang kini telah kembali dapat berkomunikasi dengan Galih.
"Selamat datang kembali. Bagaimana dengan wanita itu?" Tanya Galih di seberang sana.
"Mungkin kini sedang bermimpi di atas tpukan uang" Jawab Galih.
"Bagus. Bagaimana dengan kejutannya?" Tanya Galih entah apa yang mereka maksud dengan 'kejutan'.
"Semua sudah terpasang indah di tempatnya." Jawab Romero ambigu.
"Bersiaplah! Aku akan menuju sarang Kalajengking. Oh ya, aku dapat partner yang bagus. Bekerjasamalah dengannya dengan baik." Kata Galih.
"Oh kupu-kupu yang tadi? Dasar kau Burung Hantu yang licik, kau hutang penjelasan padaku kawan!" Sahut Romero dengan senyum smirk yang tidak bisa dilihat Galih dan hanya dengusan kecil yang terdengar di sana.
"Tiga puluh menit lagi kupu-kupu akan datang padamu. Ada layanan kamar untuk VIP, tunggu di sana dan bawa wanita pemimpimu itu." Kata Galih. "Dan ahh..!! Jangan macam-macam karena Macan betina di rumah sangatlah ganas." Lanjut Galih memperingatkan Romero jika Zahara akan mencabik-cabiknya kapan saja jika dia berulah.
"Sialan! Kau pikir aku ini apa?!" Maki Romero.
__ADS_1
"Kau hanya burung saat ini." Jawab Galih santai.
"Dasar kau juga bu..."
Bip!
Galih langsung memutuskan komunikasinya sebelum Romero kembali memakinya.
"Dasar Burung Hantu gila!" Maki Romero dalam hati dan langsung pergi keluar dari toilet dan kembali ke tempat Lorena yang kini sudah benar-benar teler. Seperti apa yang diperintahkan Galih, Romero memapah Lorena menuju kamar khusus yang tersedia untuk tamu VIP yang ingin melakukan kesenangan. Kalian pasti tahu apa maksudnya itu kan...?
Sementara itu Galih dan Soledat melenggang masuk ke ruang Kasino VIP yang tidak jauh dari lantai diskotik.
"Anda ingin bermain tuan?" Tanya penjaga di sana.
"Maaf sebelumnya jika kami kurang sopan. Silahkan masuk tuan." Ucap salah seorang penjaga.
"Nah... Gitu dong dari tadi..." Lagi-lagi Soledat yang menyahutinya sementara Galih hanya diam saja menyimak. Kemudian Soledat menarik Galih untuk masuk dengan gaya yang posesif.
"Eh, apa lelaki itu bisu? Dari tadi dia diam saja dan hanya Soledat yang menjawab." Tanya salah satu penjaga pada sesama teman penjaganya setelah Galih dan Soledat masuk ke dalam ruang Kasino.
"Entahlah, orang kaya memang begitu, tidak mau repot termasuk dalam hal berbicara." Jawab temannya.
"Iya, ya... Seperti boss kita. Banyak diam tapi juga banyak memerintah." Sahut penjaga itu.
Di dalam ruang Kasino, seperti biasa Galih memindai keadaan sekitar dengan matanya yang awas dengan gaya senatural mungkin untuk tidak dicurigai.
__ADS_1
"Selamat datang tuan... Ada meja khusus yang ingin anda duduki untuk bermain?" Tanya seorang pramusaji lelaki yang mungkin bertugas sebagai pemandu.
"Tidak perlu, dia datang bersamaku jadi biar aku yang memandu selaligus menemaninya." Lagi-lagi Soledat yang menjadi juri bicara Galih dan Galih bersyukur akan hal itu, ternyata Soledat lumayan dapat diandalkan.
"Baiklah Soledat, aku serahkan tuan ini padamu." Jawan lelaki pemandu itu.
"Terimakasih August... Aku akan memanggilmu jika perlu. Ayo tampan... Kita bersenang-senang." Balas Soledat pada lelaki yang dia panggil dengan nama August itu. Dan August mengangguk setuju sbelum Soledat menarik lengan Galih untuk menjauh dari August.
"Permainan kartu ini ada tiga tahap dan di tahap terakhir mereka bisa menantang Boss kami jika mereka mau. Karena uang yang mereka bawa akan lebih banyak lima kali lipat jika berhasil melngalahkan Boss kami." Terang Soledat sambil setengah berbisik pada Galih.
"Aku akan memenangkannya dan melawan Boss-mu itu. Dan kamu tidak lupa apa tugas kamu pada saat itu kan?" Sahut Galih sambil mengngitkan tentang rencananya pada Soledat.
"Tentu saja, aku belum terlalu tua untuk lupa tentang hal yang penting." Jawab Soledat.
"Bagus! Kalau begitu kita maulai dengan meja yang di sana." Tunjuk Galih.
"Pilihan yang bagus tampan..." Balas Soledat dengan tersenyum puas.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1