Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 39 Galih Kena Gendam


__ADS_3

"Hmm ahh.... Segarnya..." Wangi meneguk es dawetnya dengan mata yang berbinar seakan itu adalah sesuatu yang membuatnya senang. Ya, hanya dengan segelas es dawet saja sudah membuat pikiran yang semrawut dan hati yang kusut menjadi ringan dan adem seadem dinginnya es dawet yang bikin segar otak yang ruwet. Sesederhana itulah pemikiran Wangi. Daripada memikirkan hal-hal yang memusingkan yang membuat otak panas mending menstimulasi otak dengan melakukan hal-hal yang membuat hati tenang seperti melakukan hal yang disukai, memakan makanan yang manis untuk merubah mood menjadi lebih baik. Ya... Seperti es dawet yang diminum oleh Wangi saat ini, buktinya selain mengurangi rasa haus juga bisa membuat hati yang sepet berubah jadi manis.


"Gimana? Enak dan seger kan es dawetnya? Apalagi jika ditambahi dengan buah nangka dan kue serabi." Ujar Wangi pada Galih yang duduk di sebelahnya yang juga menikmati segelas es dawetnya.


"Iya." Jawab Galih singkat dengan canggungnya, bukan apa-apa tapi itu dikarenakan rasa malunya yang sudah salah paham dengan Wangi tadi. Tidak biasanya dia melakukan kebodohan yang membuatnya sampai malu seperti itu. Sedangkan Wangi menanggapinya dengan santai seakan tengah mengoloknya. Ciri khas ketengilan Wangi banget. Dan Galih sadar akan hal itu, makanya dia begitu malu saat ini.


"Eeegrrkk... Opss!! Keceplosan! Hehe..." Tiba-tiba suara sendawa Wangi membuat suasana yang awkward langsung menjadi ambyar.


"Pfftt... Huahahaa..." Pecah sudah tawa Galih.


"Hahaha..." Wangi pun jadi ikut menertawakan dirinya sendiri.


"Jadi kamu bisa menertawakan saya juga Lih...hmm?" Tawa Galih langsung mereda seketika saat Wangi menyindirnya.


"Ehmm..." Cuma dehaman yang keluar dari bibir Galih karena salah tingkah.


"Ya baguslah, paling tidak mukamu sekarang sudah tidak lagi seperti benang kusut seperti tadi."


Galih menoleh menatap Wangi ketika wanita di sampingnya itu berujar tentangnya dan langsung memutuskan tatapannya ketika mata mereka saling beradu beberapa saat.


Galih masih terdiam, namun Wangi masih melanjutkan ucapannya.


"Saya tidak tahu apa yang membuatmu merasa resah saat ini, cuma bisa menebak-nebak saja apa penyebabnya, hanya saja itu bukan wilayah saya untuk ikut campur, tapi jangan jadikan itu suatu kelemahan bagi hidup kamu karena semakin kamu lemah akan semakin mudah kamu dihancurkan oleh masalah yang mengekangmu." Ucap Wangi seraya mengaduk-aduk gelas es dawetnya yang tinggal sedikit.


"Memangnya kamu tahu penyebabnya?" Tanya Galih yang penasaran akan jawaban Wangi kali ini.


"Entahlah... Mungkin karena gadis itu? Koas baru itu, siapa namanya? Arum?" Jawab Wangi.


Deg!!


Galih tidak menyangka dibalik sikap santai Wangi ternyata dia adalah wanita yang lumayan peka. Mungkin karena Wangi wanita yang sulit ditebak jalan pikirannya.


"Ahh saya hanya ingat kalau nama belakangnya mempunyai arti yang sama dengan nama saya." Lanjut Wangi.


"Perwita, namanya Perwita tapi saya dan keluarganya biasa memanggilnya Wita." Sepertinya Galih mulai goyah karena tebakan Wangi tidak sepenuhnya salah, meski Wangi tidak tahu persis apa yang benar-benar dipikirkan oleh Galih sehingga terlihat seperti mayat hidup tadi.


"Ah ya benar! Perwita." Sahut Wangi setelah mengingatnya.


"Jadi benar karena dia? Oh maaf, kamu tidak perlu menjawab atau menjelaskannya jika kamu tidak ingin." Kata Wangi dengan cepat karena merasa tidak enak saja mengorek permasalah orang lain.


Galih menggelengkan kepalanya...


"Itu salah satunya, tapi sebenarnya kami tidak ada masalah apapun, hanya saja masalah itu ada pada saya." Pernyataan Galih yang ambigu itu membuat Wangi mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Maksud kamu... Oh ya ampuuunn! Jangan bilang kamu cinta bertepuk sebelah tangan dengan dia?" Dengan ekspresi terkejut Wangi menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Uhukk.. uhuukk!!" Galih pun langsung terbatuk karena keselek ludahnya sendiri. Itu adalah tebakan terkonyol yang terlontar dari mulut Wangi.


"Ya ampun Lih... Kamu sampai keselek begini, nih minum dulu." Wangi dengan lugunya langsung menepuk-nepuk punggung Galih lalu menyodorkan gelas es dawet milik Galih yang tinggal separuh untuk diminum lelaki itu. Tak pikir panjang Galihpun meminumnya, bukannya tambah enakan malah terasa serik tenggorokannya karena terguyur rasa manis es dawet. Apes memang punya calon istri yang cerdas tapi rada sableng. Ehh calon istri? Memangnya Galih berpikir demikian tentang Wangi? Entahlah...


"Udah enakan?" Tanya Wangi dengan polosnya.


"Hem.. ehemm... Lu lumayan." Jawab Galih sambil menahan rasa gatal di tenggorokannya.


"Huff... Syukur deh." Ujar Wangi lega.


"Kamu kok mikirnya sampai segitunya?" Tanya Galih setelah rasa gatal di tenggorokannya mereda.


"Gitu giman?" Tanya Wangi yang tiba-tiba jadi loading.


"Oohh... Tentang kamu yang bertepuk sebelah tangan?" Lanjutnya setelah tahu dimana arah pembicaraan Galih.


"Ya... Nebak saja, soalnya habis ketemu perempuan itu wajah kamu langsung seperti wajah-wajah orang yang sedang patah hati." Jawab Wangi kumudian.


"Memangnya wajah orang yang patah hati itu seperti apa?" Tanya Galih yang merasa apa yang dipikirkan Wangi itu aneh-aneh saja.


"Ya seperti kamu... Terlihat sedih meski tersenyum ketika melihat dia, selain itu tingkah kamu tadi terlihat jelas canggungnya padahal kalian kan sudah kenal lama. Dulu waktu Riko patah hati gelagatnya sama persis dengan kamu." Jawab Wangi dengan percaya dirinya.


"Haha... Kamu itu pintar, cerdas tapi suka aneh ya mikirnya." Galih tertawa sambil geleng-geleng kepala mendengar persepsi Wangi barusan.


"Memang benar jika saya merasa sedih dan ada penyesalan ketika saya bertemu lagi dengan Wita. Tapi bukan karena saya pernah jatuh cinta dengannya, tapi karena...." Galih menjeda sebentar perkataannya.


"Karena kami hampir menjadi keluarga. Kakak perempuan Wita adalah mantan tunangan saya." Mendengar pengakuan Galih tersebut membuat jantung Wangi terasa terhenti seketika.


Deg!!


"Galih pernah punya tunangan?" Batin Wangi bergumam.


"Terus... Kenapa kamu dan dia berpisah?" Tanya Wangi dengan hati yang gamang.


"Itu karena salah saya." Jawab Galih ambigu.


"Salah kamu? Memang apa yang kamu lakukan? Apa kamu selingkuh? Atau jangan-jangan...." Ucapan Wangi terhenti di tenggorokkan.


"Jangan-jangan benar apa kata Dino jika papa dan om Ridwan merencanakan perjodohan Galih dan aku, lalu membuat Galih terpaksa memutuskan pertunangannya dengan kekasihnya? Ya Tuhan... Kenapa jadi begini? Masa aku jadi orang ketiga sih?!" Kembali terbersit pikiran-pikiran aneh di otak cantik Wangi yang belum tentu benar adanya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh lagi deh..." Sergah Galih ketika dia mulai bisa menebak apa yang dipikirkan Wangi. Tentu saja hal yang diluar akal sehat pikirannya.

__ADS_1


"Hah? Saya gak mikir yang aneh-aneh kok." Kilah Wangi.


"Ckk.." Galih berdecak dan mulai bercerita.


"Sinar Purbaningrum. Itu namanya, wanita sederhana yang selalu terlihat bersinar seperti namanya ketika dia tersenyum. Kami sudah saling mengenal sejak bangku SMP. Saya memutuskan melamarnya sebelum kepergian saya ke Papua karena tugas. Dua tahun saya di Papua banyak hal yang terjadi di sana. Kurangnya signyal komunikasi membuat kami jadi jarang bertukar kabar terlebih setelah aksi baku tembak di Papua menyebabkan beberapa dari kami yang bertugas terluka, saya pun sempat tersesat di hutan dan terputus komunikasi dengan kesatuan. Saya pun dinyatakan hilang dan meninggal di sana." Wangi terhenyak mendengarnya, Galih menghela napasnya dan menghentikan sejenak ceritanya.


"Lalu Sinar... Apa setelah itu dia menikah dengan orang lain?" Tanya Wangi dengan hati-hati tidak ingin melukai hati Galih.


Galih menggeleng, "Bukan, awalnya saya juga berpikir demikian, jika itu benar mungkin saya tidak akan semenyesal ini, tapi nyatanya Sinar pergi bukan karena itu. Dia meninggal. Dia meninggal karena menunggu saya." Kali ini pengakuan Galih membuat Wangi benar-benar tidak bisa berucap lagi, dia hanya menutup mulutnya sambil menatap Galih yang berubah merah raut wajahnya seakan menahan kemarahan dan juga penyesalan di hatinya.


"Sinar terguncang setelah mendengar kematian saya. Dia jadi susah makan, susah tidur sampai menolak apapun makanan yang masuk di tubuhnya, dokter mendiaknosa terkena liver akut sampai akhirnya dia tidak bisa ditolong lagi." Galih memejamkan matanya, setiap kali mengingat hal itu hati Galih hancur, tapi entah mengapa kali ini Galih tidak meneteskan air matanya lagi. Apa sedikit demi sedikit hati Galih sudah bisa menerima dan melepaskan kenangannya bersama Sinar?


Tiba-tiba sesuatu yang hangat menyentuh punggung tangan Galih, ternyata itu adalah tangan Wangi yang menyentuhnya.


"Kamu tidak salah, di dunia ini tidak ada seorangpun manusia yang tahu kapan datangnya maut. Hanya saja Tuhan terkadang menyisakan kesedihan atau penyesalan bagi mereka-mereka yang ditinggalkan dengan cara yang berbeda-beda pula. Dan selebihnya tergantung manusia itu sendiri bagaimana mereka menyikapi rasa sedih dan sesal itu. Mau tetap terpuruk atau melangkah maju untuk hidup yang lebih baik? Begitupun kamu, hanya kamu sendirilah yang tahu apa yang kamu inginkan untuk hidup kamu. Kenangan itu tidak akan hilang Lih, mereka seperti album foto yang sesekali kita ingat dan kita kenang, tapi yang namanya hidup kan harus tetap lanjut. Tidak usah buru-buru kaya lagunya Kotak "Pelan-pelan Saja" hehe..." Ujar Wangi panjang lebar, entah ada angin apa dokter gaje itu bisa ngomong sebijak itu. Galih pun yang mendengarkan jadi merasa takjub dengan kejutan-kejutan yang diberikan Wangi.


"Terimakasih ya... Ternyata kamu bisa lebih dewasa daripada saya, tapi..." Galih menjeda ucapannya.


"Tapi apa?" Tanya Wangi sambil menaikkan alisnya dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


"Tapi sampai kapan tangan kamu ada di...sini." Ucap Galih dengan mengkodenya lewat pandangan mata.


"Ataghfirullah...! Maaf, gak sengaja keterusan hehe..." Seloroh Wangi dengan muka saltingnya yang terlihat lucu.


"Ehm..." Galih hanya berdeham saja.


"Eh jangan salah paham lho! Saya tidak ada maksud apa-apa sama kamu." Seru Wangi yang merasa sedikit malu akan kenakalan tangannya yang traveling di punggung tangan Galih.


"Saya kan tidak bicara apa-apa." Sahut Galih yang sebenarnya menahan untuk agar tidak tertawa. Dan akhirnya semuanya terselamatkan oleh abang penjual martabak manis.


"Ini mbak pesanannya sudah jadi." Kata sang penjual martabak manis yang sebelumnya sudah dapat pesanan dari Wangi.


"Oh iya bang terimakasih, semuanya berapa?"


"Lima puluh ribu mbak." Jawab si penjual.


"Yang bayar masnya ini ya bang..." Ujar Wangi sambil menunjuk ke arah Galih. Galih pun sontak kaget karena tahu-tahu ditodong buat bayar martabak manis.


"Haa??!" Galing melongo.


"Sekalian juga es dawetnya kamu yang bayar, itu hukuman kamu karena bengong saat sedang nyetir."


Setelahnya Wangi berlenggak meninggalkan Galih dengan tagihan es dawet dan martabak manisnya.

__ADS_1


"Haah... Ini namanya aku kena gendam." Gumam Galih dengan senyum smirk-nya.


Bersambung...


__ADS_2