Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 92 Termakan Jebakan Wangi


__ADS_3

Setelah makan malam di pantry Rumah Sakit, Wangi dan Zahara duduk-duduk di halaman Rumah Sakit. Mereka berdua terdiam sesaat hingga Zahara berbicara duluan...


"Emm... Wang, Kata bang Elias tadi kamu kamu dan Galih sembunyi di balik tembok parkiran depan, ngapain?" Tanya Zahara penasaran.


"Oh itu? Itu tadi pas lagi jalan gak tahunya ada lebah yang terbang ke arahku terus Galih bantuin buat sembunyi dulu sampai lebahnya pergi hehee..." Jawab Wangi memberi alasan dan beeharap Zahara bakalan percaya.


"Duhh... Kak Elias tahu aja sih soal tadi sore, emang mata iblis dia, kalau lagi ngapa-ngapain selalu ketahuan dulu sama dia." Wangi mengumpat dalam hati.


"Serius? Kamu yakin?" Tanya Zahara seakan tidak percaya.


"Ya, ya yakin." Jawab Wangi sambil mengalihkan pandangannya dari Zahara. Ketara sekali jika dia merasa canggung waktu menjawab.


"Kamu bohong kan? Kamu pasti melihat sesuatu kan?" Zahara tidak semudah itu percaya, masalahnya gestur yang diperlihatkan Wangi itu memperlihatkan jika dia sedang gugup.


"Melihat sesuatu? Misalnya?" Nah... Bukan Wangi kalau gak bisa memutar balik keadaan. Sekarang ganti Zahara kan yang jadi gelagapan.


"Aa...emm... Misalnya lagi ngintip sesuatu?" Jawab Zahara.


"Nigintip sesuatu? Misalnya?" Tanya Wangi dengan memasang wajah yang seakan-akan memang tidak tahu. Dia beraharap kali ini Zahara yang akan mengaku duluan.


"Mengintip orang misalnya?" Sahut Zahara ragu-ragu.


"Orang? Siapa?" Wangi masih saja tidak mau kalah.


"Arrgghh... Sudahlah ngaku saja tadi sore kamu lihat aku sama Romero kan?!" Akhirnya Zahara kalah juga dan mengaku pada Wangi padahal yang seharusnya mengaku kan Wangi karena dia yang ngintip tanpa ijin.


"Owh... Jadi kamu sama Romero tadi sore? Tapi gak pengen ada orang lain yang melihat? Kalian pasti ada apa-apanya kan?" Tebak Wangi langsung dengan senyum tengil ditambah dia sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda Zahara.


"Kamu sengaja kan jebak aku kayak gini? Wahh... Kemampuanmu ini seharusnya dipergunakan untuk mengintrogasi musuh." Ujar Zahara sambil bertepuk tangan.


"Aku kan cuma bertanya dan kamu menjawabnya, tapi terimakasih atas pujiannya hehe..." Sahut Wangi dengan terkekeh senang.


"Haahh... Seharusnya aku tahu jika antek-anteknya bang Eli sama liciknya dengan dia." Ujar Zahara sambil menghela napas.

__ADS_1


"Hahaha... Aku ini bukan antek-anteknya kak Elias, tapi aku korbannya yang belajar dari dia." Sahut Wangi sambil bercanda.


"Iya deh terserah, btw kamu dan Galih lihat aku sama Romer sampai mana? Kalian dengar apa saja?" Tanya Zahara panasaran dan harus memastika Wangi dan Galih tahu sampai mana.


"Kalian bertengkar, terus kamu nangis sampai kalian berdua berpelukan?" Jawab Wangi dengan nada tanya diakhir berharap Zahara akan mengakui sesuatu yang belum sempat Wangi dan Galih dengar tadi sore.


"Haahh..." Zahara menghela napas sambil menutup wajahnya sendiri dengan tangan saking malunya.


"Itu namanya kalian berdua melihatnya dari awal sampai akhir...!" Seru Zaharu dengan masih menutup wajahnya.


"Yaahh... Begitulah, sebenarnya kenpa kalian sampai segitunya sih?" Tanya Wangi penasaran.


Mendengar pertanyaan Wangi, Zahara kemudia membuka tangan yang menutupi wajah cantiknya yang merona.


"Aku, bang Eli dan Romero adalah teman sekolah dari SD sampai SMP, kami bertiga berteman baik, kemudian kami berdua melanjutkan ke SMA Taruna tanpa bang Eli yang memang tidak tertarik bersekolah di sana. Kamu tahu sendiri kan jika bang Eli dulunya cabby banget haha... Di sanalah hubungan kami berkembang, dari sahabat jadi pacar. Awalnya hubungan kami baik-baik saja hingga kami lulus kemudian Romero masuk ke TNI AD dan aku masuk ke Universitas Kedokteran. Papa yang awalnya biasa-biasa saja karena tahunya kami cuma teman akhirnya tahu hubungan kami lebih dari itu dan mulai protektif. Papa mulai menyindir perihal status. Dia yang hanya tentara biasa dengan pangkat Serda waktu itu dan aku yang sebagai calon dokter menurut papa aku itu tidak setara. Papa yang awalnya baik saat kami berdua masih menjadi teman mulai berubah. Meski Romero bukan dari keluarga kaya raya tapi dia juga bukan dari keluarga miskin, keluarga mereka tidak bernah kekurangan apapun. Hanya saja papa mempunyai ketakutan tersendiri jika harus melepas anak perempuannya untuk lelaki lain. Papa berharap lelaki yang akan menjadi pasangan aku paling tidak berada satu level yang samu atau setingkat lebih baik dariku untuk urusan penghasilan. Hingga pada akhirnya Romero merasa terhina dan berkecil hati. Tapi waktu itu kami masih bertahan hingga aku memutuskan untuk bergabung dalam militer sebagai tentara dokter. Setelah tujuh bulan pendidikanku sebagai anggota TNI medis aku langsung mendapat pangkat Letda dan membuat Romero semakin rendah diri. Padahal aku melakukan itu semata-mata untuk membuktikan ke papa kalau aku tidak ingin dipisahkan dengan Romero. Lalu Romero memutuskan hubungan kami sebelum keberangkatannya ke Lebanon." Ungkap Zahara dengan nada sendu.


"Kok mirip ya sama kisah aku?" Batin Wangi.


"Waktu itu aku masih dalam stady spesialis, aku sedih dan marah waktu itu. Dan kamu tahu apa kata papaku?" Tanya Zahara seperti main tebak-tebakkan.


"Apa?" Sahut Wangi.


"Cuma segitu perjuangan dia buat mendapatkan kamu? Papa kira dia bisa bertahan sampai lama." Jawab Zahara menirukan kata-kata papanya.


"What?! Sekarang aku tahu mulut pedasnya kak Elias itu mirip siapa." Ujar Wangi.


"Ternyata papa hanya menguji seberapa seriusnya Romero sama aku. Tapi karena papa yang ngujinya gak pakai hati dan Romero yang hatinya lemah jadi beginilah hubungan kami." Terang Zahara.


"Jadi kamu sengaja nih ceritanya datang ke sini buat tugas sekalian buat jemput doi?" Tanya Wangi dan Zahara mengangguk.


"Untungnya kami berdua sekarang sudah baikan. Seperti yang kamu dengar sendiri tadi sore." Kata Zahara sambil tersenyum.


"Enggak tuh... Emang sih aku dan Galih lihat kalian sedang apa, tapi kami berdua gak bisa mendengar apapun yang kalian bicarakan karena posisi kami terlalu jauh dari kalian. Tapi makasih ya kamu sudah cerita ini ke aku." Ungkap Wangi dengan wajah tersenyum. Seketika Zahara terbengong membatu mendengar pengakuan Wangi barusan.

__ADS_1


"Ja.. Jadi sebenarnya kalian berdua gak dengar apa-apa sedari awal?" Tanya Zahara memastikan.


"Dari awal kan aku bilang melihat apa yang kalian lakukan tapi aku kan gak bilang jika aku juga mendengar obrolan kalian." Jawab Wangi sok polos.


"Astaga... Jadi aku masuk jebakan kamu untuk kedua kalinya?!" Dengan santainya Wangi hanya mengangkat kedua bahunya.


"Astaga... Ternyata kamu sama liciknya dengan Elias." Ujar Zahara sambil geleng-geleng kepala.


"Pfftt... Terimakasih pujiannya." Sahut Wangi sambil menahan tawanya.


"Aku lagi gak muji kamu!!" Seru Zahara kesal.


"Haha... Iya, iya... Tuh, si cowok lemah sudah datang sama... Cowok lemah yang lainnya." Ujar Wangi sambil memberikan kode pada Zahara dengan dagunya jika ada seseorang yang datang dari arah samping Zahara.


Zahara pun menengok dan di sana ada Romero yang tengah berjalan menghampirinya bersama Galih.


Zahara mengarahkan pandangannya kembali ke arah Wangi dan bertanya...


"Galih juga sama lemahnya dengan Romero?" Tanya Zahara setengah berbisik.


"Mereka satu spesies." Jawab Wangi ambigu namun bisa langsung ditangkap maksudnya oleh Zahara.


"Haahh... Mereka berdua harus segera mendapat perawatan." Sahut Zahara yang langsung diangguki oleh Wangi.


"Setuju!" Sahut Wangi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2