
Wangi sudah mengira jika Laras datang ke Rumah Sakit tempatnya bekerja jika bukan karena masalah kesehatan mungkin ada hubungannya dengan apa yang dia dan Galih lihat di rumah makan lesehan dua hari yang lalu.
"Emm... Maaf ya Laras, sebelum itu kamu mau tidak bicara dulu sama aku?" Wangi berusaha membujuk Laras untuk berbicara sebentar dengannya sebelum menjadikan masalah itu bertambah runyam dan malah menjadi pembicaraan yang kurang enak didengar di lingkungan Rumah Sakit.
"Tapi Wang, aku harus bertemu dengan dokter wanita itu sekarang juga karena ada sesuatu yang penting untuk aku bicarakan dengan dia." Tolak Laras yang berusaha kekeh untuk bertemu dengan Wulan.
"Iya aku ngerti, tapi kamu temenin aku dulu makan siang, sekalian ada yang ingin aku omongin juga sama kamu." Wangi pun tidak mau kalah ngototnya.
"Tapi Wang..." Laras tidak sempat untuk menolak lagi karena tangannya langsung digelandang Wangi begitu saja menuju pintu keluar.
"Sudahlah ikut saja dulu, yuk!" Ujar Wangi dengan menggandeng tangan Laras dan menuju pintu keluar Rumah Sakit.
Dengan tangan yang masih menggamit lengan Laras, Wangi mengarahkan jalan mereka di sebuah kedai makan rawon langganannya yang tak jauh dari Rumah Sakit.
"Kita bicara di sini saja ya Ras? Sekalian aku mau ngisi perut dulu, sekalian kamu juga." Ujar Wangi pada Laras.
"Aku sudah makan, kamu saja Wang." Tolak Laras.
"Tidak usah bohong, aku tahu pasti kamu belum makan juga." Terka Wangi dengan yakinnya.
"Kamu tahu dari mana kalau aku bohong? Aku beneran sudah makan Wang..." Sahut Laras berusaha menepis dugaan Wangi.
"Terlihat jelas di wajah kamu, dan aku tahu betul jika sedang ada masalah kamu pasti enggan untuk makan atau melakukan hal-hal yang lainnya." Jawab Wangi tepat sasaran membuat Laras tidak dapat mengelak lagi.
"Masalah boleh ada tapi perut gak boleh kosong, jika kamu tidak makan dari mana kamu mendapat tenaga untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah kamu?" Kata Wangi menasehati teman baiknya tersebut.
"Iya benar kata kamu Wang, beberapa hari ini aku tidak makan dengan benar." Akhirnya Laras membenarkan apa perkataan Wangi.
"Ya sudah, sekarang kamu ingin pesan apa? Di sini ada rawon dan soto daging yang enaknya jangan diragukan lagi rasanya." Tanya Wangi seraya merekomendasikan menu makanan yang terenak di kedai tersebut.
"Apa saja Wang, samain saja dengan pesanan kamu." Sahut Laras pasrah karena memang sedang tidak enak makan makanan apapun, tapi seperti apa yang dikatakan oleh Wangi, dia tetap perlu tenaga untuk menghadapi masalahnya saat ini.
"Okey, aku pesankan dulu, kamu cari tempat duduk saja buat kita." Laras langsung mengangguk dan mencari tempat duduk untuknya dan Wangi.
__ADS_1
Seusai mengatakan pesanannya kepada ibu penjual di kedai tersebut, Wangi segera menyusul Laras yang sudah duduk duluan di tempat duduk yang dia pilih tadi dengan membawa dua botol air mineralukuran sedang.
"Ini kamu minum dulu, tadi sebelumnya sudah aku pesankan soto daging dan es jeruk manis." Kata Wangi sambil menyodorkan sebotot air mineral untuk Laras dan membuka satu botol yang lain untuk dia minum sendiri. Laras menerima botol air mineral yang diberikan Wangi dan langsung membuka tutup botolnya lalu kemudian meneguknya.
"Nahh sekarang kamu sudah lebih tenang kan?" Tanya Wangi setelah Laras meneguk hampir setengah isi air mineralnya.
"Iya, makasih ya Wang..." Sahut Laras sambil menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kamu bisa ceritakan ke aku kenapa kamu ingin bertemu dengan Wulan?" Wangi kembali menanyakan keperluan Laras bertemu dengan Wulan setelah Laras dirasa lebih tenang meski Wangi sudah bisa menebak kenapa teman baiknya itu ingin bertemu dengan si uler Keket Wulan.
Laras menghela napasnya sebelum dia menjawab pertanyaan Wangi.
"Aku hanya ingin bertanya pada wanita itu apa hubungan dia dengan Josep tunangan aku." Jawab Laras dengan sekali tarikan napas karena mengatakan kecurigaannya pada kekasihnya itu adalah suatu hal yang berat.
"Kamu... Kenapa kamu berfikir jika Josep punya hubungan dengan Wulan? Tapi... Kok Josep bisa kenal dengan Wulan sih?" Wangi mencoba bertanya dengan hati-hati.
"Aku juga kurang tahu pasti bagaimana mereka bisa kenal Wang, aku tidak sengaja melihat ada panggilan telpon dari wanita yang bernama Wulan di ponsel Josep, awalnya aku tidak terlalu menghiraukannya tapi dia terus menelpon waktu Josep sedang berada di kamar mandi, jadi mau tidak mau aku mengangkatnya namun belum sempat aku mengangkatnya panggilan telpon itu terputus. Setelah itu dia mengirimkan beberapa pesan, karena penasaran aku membuka pesan itu." Laras menghentikan sejenak ucapannya.
"Terus?" Sahut Wangi yang tidak sabar mendengar kelanjutan cerita dari Laras.
"Tidak biasa bagaimana maksud kamu?" Tanya Wangi seolah tidak mengerti apa yang dimaksud Laras.
"Dia menulis chat dengan mesra seolah dialah kekasih Josep dan Josep pun menanggapinya dengan mesra pula, aku harus bagaimana Wangi?? hiks..." Laras terisak lirih, emosinya meluap begitu saja tidak dapat ditahan lagi. Wangi mengusap-usap bahu Laras seraya menenangkan teman baiknya yang sedang terluka hatinya itu.
"Laras... Jika menangis itu dapat sedikit mengurangi rasa sesak di dadamu maka menangislah, tapi setelah itu kamu jangan menangis lagi, air mata kamu terlalu berharga untuk dihabiskan hanya karena seorang yang menyakitimu." Ucap Wangi seraya menyodorkan sekotak tissue untuk Laras. Laras menerimanya dan menyeka air matanya. Tangis Laras mereda, hanya tersisa sesenggukan lirih nyaris tak terdengar. Sesaat kemudian pesanan soto daging dan es jeruk manis mereka datang.
"Lebih baik sekarang kita makan dulu, menangis juga butuh tenaga kan?" Ucap Wangi seraya bercanda.
"Hahh... Dasar kamu!" Sahut Laras sambil tersenyum masam sementara Wangi hanya membalasnya dengan cengiran sambil menyendok soto dagingnya.
"Enak kan? Makan yang banyak Ras, kalau aku sedang sebal bawaannya selalu pengen makan, karena marah-marah bikin perutku menjadi lapar." Ujar Wangi yang baru menyedot es jeruk manisnya.
"Pfft.. bisa aja kamu." Sahut Laras seraya tertawa lirih.
__ADS_1
"Nah gitu dong... Senyum, jangan terlalu kamu buat beban, karena terkadang apa yang kamu lihat belum tentu sama seperti apa yang kamu pikirkan." Ucap Wangi menasehati.
"Iya Wang, kamu benar." Sahut Laras yang sepertinya sudah mulai mengerti mungkin apa yang dia pikirkan tentang Wulan dan Josep selama ini tidak seburuk itu.
"Ya sudah, lanjut makan yuk?!" Laras tersenyum dan mengangguk, mereka akhirnya kembali menikmati soto daging di hadapan mereka dengan lahap sampai semuanya habis tak tersisa.
"Alhamdulillah.... Sudah kenyang hehe... Nah, aku mau tanya nih sama kamu Ras, kamu sudah menanyakan hal ini atau membicarakan hal ini dengan Josep belum?" Tanya Wangi setelah perut mereka selesai terisi.
Laras menggeleng dengan wajah yang terlihat galau.
"Belum Wang, aku takut mendengar jawaban Josep, dia tahu aku membuka pesan dan membaca isi chat dia dengan Wulan tapi dia diam saja tanpa menjelaskan apapun ke aku dan itu justru membuat aku takut karena dia bertindak seolah-olah tidak ada apa-apa." Ungkap Laras pada Wangi.
"Aduh gimana ya? Aku tidak mungkin juga bilang ke Laras kalau aku dan Galih sempat melihat Josep dan Wulan makan berdua beberapa hari yang lalu, ntar masalahnya tambah runyam, fakta hubungan mereka juga belum jelas lagi. Takut salah omong aku." Gumam Wangi dalam hatinya.
"Laras, kalau menurut aku kamu jangan gegabah dulu untuk bertemu dengan Wulan, mending kamu bicarakan ini dulu dengan Josep, siapa tahu mereka memang tidak ada hubungan apa-apa. Jadi salah jika kamu melabrak Wulan duluan tanpa ada penjelasan dulu dari Josep, hubungan kalian kan terjalin berdua bukan sendirian, jadi selesaikan berdua dulu barulah kamu menghadapi Wulan." Ucap Wangi yang kembali mencoba menasehati Laras.
"Laras... Jangan sampai karena kecerobohan kamu dibuat malu, bicarakan baik-baik dulu dengan Josep ya?" Lanjut Wangi seraya menggenggang tangan Laras memberi semangat untuk teman baiknya itu.
"Sekali lagi kamu benar Wangi, aku masih berstatus tunangan bukan istrinya, jadi bila di tengah jalan dia berubah pikiran itu adalah hak Josep, aku tidak dapat memaksanya." Ujar Laras dengan memasang wajah pasrahnya.
"Yang sabar ya Ras, aku akan dukung semua keputusan kamu asal itu yang terbaik buat kamu." Ucapa Wangi.
"Terimakasih yang Wang, kamu teman yang baik." Ucap Laras seraya memeluk Wangi dengan perasaan yang lebih baik.
Tidak lama kemudian ada sepasang pelanggan yang masuk di kedai soto daging tersebut dan sontak membuat mata Laras tercengang karena terkejut.
"Josep?! Kok kamu ada di sini? Wanita ini siapa?" Ya, ternyata sepasang pelanggan kedai yang baru datang itu adalah Josep dan...
"Wulan?" Gumam Wangi lirih namun masih terdengar jelas di telinga Laras.
"Owh... Jadi wanita ini yang namanya Wulan?" Sahut Laras sinis.
"Sayang... Kamu kok bisa ada di sini?" Hanya pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Josep dengan gelagat yang terlihat panik tanpa menjawab pertanyaan Laras tadi.
__ADS_1
"Aduh!! Bisa perang dunia ke tiga kalau begini jadinya. Semoga tidak ada piring atau gelas yang melayang di sini." Gerutu Wangi dalam hati dengan kecemasannya.
Bersambung...