
Hari Wangi terlihat lelah, sebenar bukan karena pekerjaannya yang membuatnya begitu lelah, tetapi Wangi lelah mendengar gosib tentangnya dan lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari beberapa rekannya tentang kebenaran gosib tersebut. Seperti saat ini...
"Wang, aku mau konfirmasi ke kamu tentang rumor yang beredar belakangan ini, apa benar kamu itu adalah menantunya donatur terbesar Rumah Sakit ini?" Tanya Erika disela-sela makan siang mereka di kantin Rumah Sakit.
"Huuhh..." Wangi meletakkan sendok makannya dan menghela napas lelahnya.
"Memangnya kamu pernah terima undangan pernikahan aku apa?" Tanya Wangi balik pada Erika.
"Ya enggak sih..." Jawab Erika sambil nyengir kuda.
"Nah... Itu berarti aku belum menikah dan bukan menantu siapa-siapa." Sahut Wangi menanggapi pertanyaan menyebalkan dari Erika. Sebenarnya Erika tidak salah juga, dia kan hanya mengkonfirmasi perihal rumor yang beredar dikalangan pegawai Rumah Sakit, hanya saja ini sangat tidak nyaman untuk Wangi rasakan, dia jadi tidak bisa menikmati pekerjaannya seperti biasa karena agak risih dengan pemberitaan yang sudah dilebih-lebihkan meski berita tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun sejak kapan Wangi jadi berstatus istri orang? Wangi hanya bisa gedek-gedek saja mendengarnya.
"Tapi rumor yang beredar begitu lho Wang... Kamu gak ingin konfirmasi?" Kata Erika.
"Buat apa? Itu kan masalah mereka yang percaya dengan rumor tidak pasti itu. Aku bukan artis, jadi nggak perlu berdiri di tengah podium dan membawa mix untuk mengumumkan dan meluruskan gosib yang beredar. Yang ada aku yang capek sendiri, ntar malah timbul gosib baru kalau aku lagi pencitraan. Iiehh... Ogah!" Ujar Wangi sambil bergidik lalu mengambil lagi sendoknya dan melanjutkan makan siangnya.
"Iya juga sih... Kamu kan bukan orang penting." Ujar Erika membenarkan.
"Nah itu kamu ngerti." Sahut Wangi sembari mengunyah makanannya.
"Eh, tapi tentang kamu yang pacaran sama anak donatur itu benar kan Wang? Wahh... Kamu jadian sama cowok cakep and tajir masa gak nyebar sesajen buat aku sih?" Tanya Erika dengan wajah penasarannya.
"Dasar! Emang kamu demit minta sesajen? Haha..." Sahut Wangi sambil tertawa.
"Sialan! Cantik gini dibilang demit, eh tapi benar kan kamu jadian sama itu cowok?" Erika menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum jahil pada Wangi, dia masih tidak gentar sebelum Wangi menjawab pertanyaannya.
"Emm... Gimana ya? Menurut kamu gimana?" Alih-alih menjawab pertanyaan Erika, Wangi justru menggodanya dengan menanyakan balik pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Ihh kok malah bercanda sih Wang, aku serius tau..." Rengek Erika yang terlihat tidak sabar mendengar jawaban Wangi.
"Males ah jawabnya, kamu kan salah satu ratu gosib, ntar kamu sebarin kemana-mana." Ujar Wangi yang membuat Erika geram karena tidak mendapat jawaban yang pasti dari Wangi.
"Yaelah... Masa gak percaya sih sama teman sendiri." Keluh Erika yang mendapat cekikikan tawa dari Wangi.
Belum sempat mereka menyelesaikan makan siang yang tersisa, tiba-tiba suara darurat dari pusat informasi Rumah Sakit berbunyi.
"Code Blue! Code Blue UGD, Code Blue UGD!"
Seketika Wangi dan Erika menghentikan makan siangnya, lalu berlari menuju ruang UGD dengan sekuat tenaga. Sesampainya di sana, ruang UGD tersebut sangat ricuh dengan rintihan serta tangisan para orang yang berada di dalam sana. Entah apa yang terjadi Wangi dan Erika melihat banyak sekali korban dengan luka-luka di tubuhnya. Sepertinya mereka adalah korban kecelakaan, tapi ini sungguh banyak hingga memenuhi ruang UGD.
Tidak ingin berpikir terlalu panjang, karena keselamatan korban adalah nomor satu saat ini, Wangi dan Erika langsung membantu pekerjaan dokter-dokter lain yang sudah ada di sana. Elias ternyata sudah ada di sana juga.
"Ternyata Dokter Elias sudah datang duluan." Batin Wangi sambil melihat sejenak ke arah Elias yang sedang menangani pasien.
Wangi melihat saat ini banyak selali dokter yang turun tangan karena banyaknya korban yang berdatangan hingga para Koas juga ikut membantu meski hanya menangani pasien yang mengalami luka ringan saja.
"Iya pak saya tahu, tahan sebentar ya pak... Ini lukanya cukup dalam dan perlu dijahit." Ucap Wangi pada sang pasien.
"Apa?! Dijahit Dok?! Sama jarum suntik saja saya takut apalagi ini malah mau dijahit, saya ngeri Dok..." Rengek si pasien dengan wajah yang sudah pucat pasi karena kepalang rakut duluan sebelum diapa-apain.
"Tenang pak... Nanti saya bius local biar tidak terasa sakit, kalau dibiarkan terbuka bisa-bisa lukanya akan inveksi dan malah tambah parah, bapak ingin sembuh kan?" Terang Wangi dengan sabar memberi pengertian pada pasien tersebut.
"Saya ngerti Dok... Tapi dibius kan juga disuntik, saya kan takut jarum suntik." Ucap pasien tersebut dengan muka pucatnya.
"Tidak sakit kok pak... Lebih sakitan dicubit istri ketimbang disuntik, rasanya cuma digigit semut, jadi bapak tidak perlu takut." Kata Wangi sambil bercanda agar si pasien tidak merasa tegang.
__ADS_1
"Tetap saja digigit semut rasanya sama sakitnya." Wangi hanya bisa tersenyum dengan menahan emosinya, menemukan pasien yang suka ngeyel itu tidak sekali dua kali namun tetap harus sabar menghadapinya.
"Bapak kenapa bisa terluka seperti ini?" Tanya Wangi mengalihkan pembicaraan.
"Kami lagi membangun gedung, tapi tiba-tiba bangunannya runtuh, saya yang kebetulan berada di atas ikut jatuh. Untung saya bisa pegangan tiang tapi tangan saya sobek terkena material reruntuhan." Jawab si pasien menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya.
"Alhamdulillah bapak masih diberi keselamatan meski harus terluka. Bapak ini hebat lho... Masih kuat ikut bangun gedung padahal sudah tidak muda lagi." Puji Wangi yang membuat pasien jadi malu salah tingkah.
"Ah Dokter bisa saja...hehee..." Kata si bapak malu-malu.
"Nah sekarang saja akan mulai menjahit lukanya ya pak?" Ujar Wangi yang langsung membuat si pasien bapak tersebut berubah pucat pasi melihat Wangi yang sudah siap dengan jarum dan benang di tangannya.
"Jangan Dok! Saya takut..." Rengek pasien tersebut.
"Ini tidak sakit kok, coba bapak rasakan..." Wangi menekan-nekan di area pinggiran lengan pasien yang terluka.
"Tidak sakit sama sekali kan?" Tanya Wangi dengan senyum di bibirnya.
"Lho... Kok saya tidak merasa apa-apa ya Dok? Padahal area situ tadi nyeri sekali jika dipegang." Ucap si pasien yang merasa heran sendiri.
"Itu karena saya sudah membiusnya terlebih dahulu jadi bapak tidak merasakan sakit." Ungkap Wangi yang membuat si bapak melongo.
"Hahh?! Sudah disuntik bius Dok? Kok saya tidak ngerasa ya?" Wangi tertawa kecil melihat keheranan pasien tersebut. Tentu saja pasien itu tidak ngerasa waktu Wangi menyuntiknya karena dia tengah asyik diajak ngobrol dengan Wangi sebagai salah satu cara pengalihan fokus pasien.
"Tidak sakit kan? Saya kan sudah bilang tidak akan sakit, lebih sakitan kena gosib tetangga, sakitnya di hati." Ujar Wangi berusaha bercanda lagi.
"Ah Dokter bisa saja... Kalau begitu saya siap dijahit Dok, lebih bagus lagi jika Dokter menjahit juga mulutnya orang yang suka bergosib itu." Ujar bapak pasien yang ikut menanggapi Candaan Wangi.
__ADS_1
"Hahaa... Siap laksanaken!"
Bersambung...