
Wangi merogoh saku jas putihnya ketika merasa ada suara getaran dari phonsel yang ia kantongi. Saat mengeceknya ternya itu pesan WhatsApp dari Galih.
Galih:
Sayang... Mungkin beberapa hari ini aku tidak ada di markas dan akan sulit dihubungi. Kamu baik-baik ya di tempat kerja, hati-hati juga dan jangan ceroboh.
^^^Wangi:^^^
^^^Memangnya kamu mau kemana?^^^
Galih:
Ada tugas penting yang harus aku lakukan, gak jauh kok, gak lama juga dan aku akan segera kembali. Kamu jangan kangen aku ya... Karena aku jauh lebih kangen kamu.
^^^Wangi:^^^
^^^Dasar gombal! Pokoknya kamu hati-hati juga, jangan sampai lecet waktu kembali!^^^
Galih:
Hahaha... Iya sayang...
"Haahh... "
Wangi menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke punggung kursi kerjanya. Dan tak lama kemudian Zahara juga melakukan hal yang sama, menghela napas panjang seperti Wangi. Kelakuan dua dokter cantik itu membuat Dokter Rio yang berada bersama mereka merasa heran.
"Kalian berdua kenapa sih? Sama-sama lagi ada masalah ya?" Tanya Dokter Rio pada Wangi dan Zahara.
"Antara ada dan gak ada sih..." Jawab Zahara, sementara Wangi hanya mengangguk membenarkan jawaban Zahara.
"Dokter Wangi juga gitu?" Dokter Rio bertanya pada Wangi dan Wangi hanya mengangguk saja.
"Kalian para perempuan bisa kompakan gini ya?" Ujar Dokter Rio sambil geleng-geleng kepala dan terkekeh kecil.
"Pasti masalah lelaki." Tebak Dokter Rio.
"Kok tahu?" Sahut Wangi begitu saja.
"Aha... Jadi benar masalah lelaki? Padahal saya cuma asal nebak saja haha..." Tawa Dokter Rio setelah mereka berdua memakan umpannya. Sementara Wangi menekuk mukanya sambil cemberut. Dia sedikit kesal karena Dokter Rio menjahilinya.
"Dokter Rio ternyata reseh juga." Ujar Wangi kesal.
"Haha... Saya cuma bercanda, kalau begitu saya keluar dulu bikin minuman hangat, kalian mau juga?" Tawar Dokter Rio dengan bibir yang masih tersenyum.
"Tidak." Jawab Zahara dan Wangi bersamaan menolak tawaran Dokter Rio.
__ADS_1
"Oh.. O, okey..." Sahut Dokter merasa canggung dan lekas bangkit dari tempat duduknya berjalan ke arah pintu sambil bergumam.
"Perempuan kalau lagi sensi serem banget." Gumam Dokter Rio sambil bergidik ngeri.
Sepeninggalan Dokter Rio, di ruang dokter hanya tinggal Wangi dan Zahara yang sama-sama terdiam hingga keduanya menengokkan kepala saling bertatapan.
"Galih pergi bertugas kan?" Tanya Zahara.
"Romero juga?" Tanya Wangi balik dan Zahara pun mengangguk.
"Menurutmu kemana mereka pergi? Karena Galih tidak mengatakan apapun selain berpamitan kalau dirinya ada tugas keluar." Tanya Wangi, mungkin saja Zahara mengetahuinya.
"Tidak, Romero juga tidak mengatakan kemana mereka pergi bertugas, tapi katanya mereka tidak akan lama dan akan segera kembali." Jawab Zahara.
"Itupun yang dikatakan oleh Galih, tapi kenapa perasaanku mengatakan jika ini ada hubungannya dengan pasien yang bernama Ali itu." Kata Wangi sambil mengerutkan keningnya seakan sedang berpikir.
"Kenapa kamu berpikir demikian?" Tanya Zahara.
"Karena tadi pagi Galih dan Romero pergi ke ruang inap Ali untuk menanyakan sesuatu pada pria itu." Jawab Wangi.
"Kalau begitu dugaanmu bisa saja benar." Ujar Zahara.
"Semoga tugas mereka berjalan lancar, aku ingin masalah ini cepat selesai. Meski ini bukan urasan kita tapi tetap saja ini sangat mengganggu pikiranku." Ujar Wangi yang langsung diangguki oleh Zahara.
"Iya, akupun demikian." Sahut Zahara.
"Kau benar." Sahut Wangi.
...****************...
Setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya tim Elang yang dipimpin oleh Damar senior Galih dan Romero disana tiba di tempat tujuan mereka. Umar yang wajahnya kearab-araban karena memang keturunan Arab sudah mengenakan kostum sebagai penduduk lokal untuk penyamarannya menjadi penduduk desa di sana bersama dua orang tenrara Lebanon yang juga sedang menyamar. Mereka bertiga menduduki titik yang kemungkinan akan dilewati oleh para penjahat itu. Sedangkan Galih, Romero dan tentara lainnya bersiap di tempat mereka masing-masing dan mengintai dari kejahuan.
"Lapor Elang! Burung Pipit sudah ada di sarang." Umar melaporkan pada Damar jika dirinya sudah berada diposisinya dengan alat komunikasi mereka yang tersembunyi.
"Laporan diterima!" Jawab Damar.
"Burung Hantu siap!" Lapor Galih.
"Gagak siap!" Lapor Romero.
Dan yang lainnyapun sudah melapor pada Damar jika semuanya sudah siap pada posisi mereka masing-masing.
"Semua laporan diterima!" Jawab Damar.
Di sana mereka menggunakan nama-nama burung sebagai julukan mereka. Elang untuk Damar sebagai pemimpin di tim mereka saat ini. Burung Pipit untuk Umar yang sedang menyamar sebagai rakyat biasa. Galih menggunakan nama Burung Hantu dan Gagak untuk Romero sebagai pasukan pengintai dan penembak jitu.
__ADS_1
Hari semakin sore, mereka cukup lama berdiam di tempat pengawasan mereka masing-masing dan akhirnya apa yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Sebuah mobil polisi milik opsir itu datang dengan satu mobil jip hitam di belakangnya. Dari mobil polisi keluarlah opsir polisi yang sama yang pernah di temui oleh Damar dan Galih pada waktu lalu di kasus perampokan mobil pengiriman. Dia datang bersama lima orang berpakaian preman tanpa seragam yang keluar dari mobil jip. Mereka berjalan mendekati kerumunan penduduk yang sedang asik berbincang sambil menikmati secangkir kopi panas di teras rumah mereka.
"Permisi, maaf mengganggu waktu santai kalian. Saya hanya ingin bertanya apakah diantara kalian tahu orang yang bernama Ali?" Tanya si opsir itu pada penduduk yang sedang bersantai di teras rumah mereka.
"Ali? Ali yang mana? Karena banyak orang bernama Ali di sini." Jawab salah satu dari mereka.
"Dia masih muda." Jawab opsir tersebut.
"Ada tiga anak muda bernama Ali di sini, salah satunya bahkan masih sekolah." Jawab penduduk yang lain.
"Apa kamu punya fotonya?" Tanya penduduk lainnya lagi.
"Hei... Apa kalian punya fotonya?" Tanya si opsir pada orang-orang yang datang bersamanya, namun mereka semua menggeleng.
"Kalau kalian tidak bisa menunjukkan fotonya itu akan sulit mencarinya." Ujar salah seorang penduduk.
"Ah... Aku baru ingat jika dia punya adik perempuan bernama Erisha." Kata salah seorang berambut keriting yang datang bersama si opsir.
"Oh, yang itu? Tapi mengapa kalian mencarinya? Apa dia melakukan kesalahan?" Tanya penduduk di sana.
"Dia sudah mencuri barang berharga milik seseorang di kota." Jawab opsir.
"Astaga! Itu mengejutkan, kami mengenalnya sebagai pemuda yang baik dan pekerja keras." Kata salah satu penduduk yang disertai wajah terkejutnya.
"Sifat asli manusia siapa yang tahu? Jadi, apakah kalian mau menunjukkan dimana rumahnya?" Tanya si opsir.
"Tentu saja, kami akan menunjukkan dimana rumahnya." Jawab salah seorang penduduk yang sebenarnya itu adalah Umar yang menyamar bersama dengan tentara Lebanon lainnya.
"Kalian semua tidak perlu mengantar kami, cukup salah seorang saja." Kata si opsir.
"Tentu saja kami harus ikut, karena kami harus melihat dengan mata kepala kami sendiri jika si Ali yang itu benar-benar seorang kriminal." Sahut seorang penduduk lainnya yang merupakan tentara Lebanon yang menyamar.
"Baiklah... Itu bukan masalah bagi kami." Jawab si opsir sambil melirik ke arah teman-temannya yang merupakan anak buah Scorpion.
"Kalau begitu mari kami antar." Umar beranjak dari duduknya namun sebelum itu dia sudah meninggalkan tanda dengan gerakan tangannya pada pasukan pengintai yang bersembunyi. Gerakan itu adalah kata sandi yang ia gunakan ketika akan melakukan sesuatu dan itu hanya bisa dibaca oleh anggota tim mereka. Dan untungnya Umar yang fasih dalam bahasa masyarakat Lebanon mempermudah penyamarannya tanpa dicurigai pihak lawan.
"Semuanya bersiap! Burung Pipit dan kawanannya mulai bergerak dengan enam serangga bersenjata yang dibawanya." Kata Damar mengomando timnya dari balik tempat persembunyiannya.
"Siap, Elang!" Jawab mereka serentak.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....