
"Baiklah, saya juga menyetujuinya, saya menerima kamu sebagai calon suami saya."
Galih menghembuskan napas lega setelah mendengar jawaban Wangi. Dia tidak tahu pasti apa arti rasa lega yang dia rasakan, yang pasti Galih merasa seolah-olah beban di hatinya terangkat begitu saja. Namun belum lama Galih merasakan kelegaan itu, Wangi tiba-tiba melontarkan kata-kata yang mencengangkan.
"Tapi dengan dua syarat."
"Sya, syarat?!" Galih membeo, dia terkejut sampai bingung harus berkata apa selain menirukan kata 'syarat' yang diucapkan Wangi.
Wangi mengangguk dengan mata yang tak lepas menatap Galih.
"Apa itu? Jika saya bisa, saya akan penuhi syarat itu." Kata Galih seraya berharap jika syarat yang diajukan oleh Wangi bukanlah hal yang tidak masuk akal yang tidak bisa ia lakukan. Mengingat terkadang Wangi selalu melakukan hal-hal yang diluar jalan pikirannya membuat Galih sedikit was-was.
"Pertama, kita akan menikah jika saya sudah menyelesaikan pendidikan spesialis saya." Kata Wangi mengutarakan syarat pertamanya pada Galih.
"Baik, saya setuju." Syarat pertama langsung disetujui oleh Galih.
"Lalu syarat kedua?" Tanya Galih kemudian.
"Syarat keduanya saya hanya akan menikah denganmu jika kamu sudah benar-benar mencintai saya dengan tulus." Galih langsung terperanga, dia tidak memikirkan jika syarat Wangi yang kedua adalah meminta hal semacam itu.
"Lalu? Lalu jika saya belum bisa mencintai kamu, apa kamu masih tidak akan mau menikah denganku?" Tanya Galih pada Wangi, dia penasaran apa kira-kira jawaban Wangi.
"Galih... Saya selalu menginginkan pasangan yang juga mencintai saya, saya bukan seorang pemaksa yang memaksakan orang lain untuk menerima saya, buat apa hidup bersama jika hanya saya saja yang mencintai kamu?" Ucap Wangi mengutarakan isi hatinya.
"Kamu mencintai saya?" Pertanyaan Galih yang tak terduga tersebut membuat Wangi kelabakan salah tingkah.
"Aduh! Apa aku tadi salah ngomong ya? Pertanyaan Galih gitu amat?" Wangi ngedumel dalam hatinya, merutuki mulutnya yang mudah keseleo itu.
"Bukan! Bukan itu maksud saya, untuk saat ini masih belum, mungkin nanti?" Jawab Wangi dengan nada gugup yang ketara.
"Tapi bagaimana jika saya yang jatuh cinta tapi kamu tidak?" Tanya Galih yang penasaran dengan jawaban Wangi.
"Dua tahun, saya hanya memberi waktu sampai dua tahun saja sampai saya menyelesaikan pendidikan saya, jika sampai batas waktu itu kita masih belum bisa mencintai satu sama lain kita bisa mengakhiri perjodohan ini." Jawab Wangi yang tidak bisa diduga oleh Galih. Galih terdiam sejenak memikirkan kata-kata Wangi.
"Baiklah saya setuju, tapi saya juga punya satu syarat. Saya ingin selama dua tahun ke depan tidak boleh ada orang ketiga di dalam hubungan kita." Pinta Galih untuk syaratnya.
__ADS_1
"Tentu! Saya juga setuju tentang hal itu." Jawab Wangi menyetujui permintaan Galih.
"Terimakasih." Ucap Galih dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Sama-sama." Balas Wangi dengan senyum yang tak kalah mengembangnya.
"Jadi? Kita sekarang resmi pacaran?" Tanya Galih yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.
"Pacaran?" Wangi mengulang pertanyaan Galih dengan mata terbelalak, dia tidak berpikir kata-kata itu terucap dari bibir Galih.
"Ya, karena hubungan ini tidak pantas jika kita sebut sebagai teman bukan?" Kata-kata Galih tersebut memang benar adanya, karena hubungan antara Galih dan Wangi kini sudah melibatkan hati mereka. Terlebih keluarga merekalah yang turut andil dari awal untuk menyatukan mereka. Jadi benar jika hubungan mereka berdua tidak patut jika dibilang hanya sekedar teman saja. Apalagi setelah persyaratan dari keduanya disepakati, bila ingin hubungan keduanya berjalan lancar memang harus ada status yang jelas antara Galih dan Wangi.
"Ah, benar juga katamu." Sahut Wangi yang kemudian menjadi canggung tiba-tiba. Keduanya kembali terdiam.
"Ehm... Jadi kita sekarang pacaran?" Galih mengulang kembali pertanyaannya, namun wajah Wangi berubah cemberut.
"Bagaimana bisa dibilang pacaran jika kamu belum pernah menembakku dengan benar. Saya jadi ragu jika dulu kamu pernah melamar seseorang." Ujar Wangi dengan sewotnya.
Galih mengulum senyumnya, dia tahu persis apa yang dimaksud dan diminta Wangi darinya.
"Ehm...ehm..." Galih berdeham, mencoba menormalkan suaranya karena terus terang dia ingin sekali tertawa melihat wajah lucu Wangi saat pura-pura merajuk.
"Wangi... Mungkin saya bukanlah lelaki yang sempurna seperti lelaki impian kamu, tapi saya berharap kamu bisa mengisi kekurangan saya ini dalam waktu yang lama. Saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan buat kamu tapi saya berjanji akan mencari kebahagiaan itu bersama kamu. Jadi, Dokter Wangi Prameswari... Maukah kamu menjadi kekasih saya?" Wangi tertegun mendengar kata-kata indah dari mulut Galih.
"Apakah Galih yang sebenarnya ini adalah perayu yang ulung? Kenapa dia mendadak bisa jadi romantis begini ya?" Ujar Wangi dalam hati.
"Pfft..." Wangi menahan senyumnya kemudian dia berkata, "Ya, saya bersedia."
Jawaban Wangi tersebut membuat Galih langsung mengembangkan senyumannya.
"Sekarang kita benar-benar jadian." Ucap Wangi seraya tersenyum dengan tangan yang masih saling menggenggam satu sama lain.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain lalu sedetik kemudian mereka saling tertawa bersama.
"Hahahaaa."
__ADS_1
"Kok kamu tertawa sih?" Tanya Wangi sambil berusaha untuk tidak tertawa lagi.
"Kamu sendiri kenapa tertawa?" Tanya Galih balik.
"Entahlah... hanya saja aku merasa kita seperti remaja yang baru saja puber. Dan kamu, aku baru tahu jika kamu pandai merayu." Ujar Wangi seakan mengolok Galih.
"Benarkah? Saya rasa kita memang seperti remaja puber, tapi Wangi... Barusan kamu mengganti kata 'Saya' menjadi 'Aku'?" Kata Galih yang membalas menggoda Wangi membuat dokter cantik itu tersipu malu karena kalah telak.
"A.. emm.. itu.. Karena status kita sekarang sudah berubah, jadi akan aneh kalau kita bicara terlalu formal." Terang Wangi dengan terbata.
"Pfft... Jadi sekarang kita manggilnya satu sama lain 'Aku Kamu' nih?" Tanya Galih dengan senyum jahilnya.
"Kamu kok jadi jahil begini sih? Sudah tahu nanya!" Sahut Wangi dengan sedikit dongkol karena Galih menggodanya.
"Bukannya kebalik? Siapa yang jahil?" Galih mencoba mengelak.
"Ya kamulah!" Sahut Wangi ketus dengan memanyunkan bibirnya sehingga semakin terlihat lucu di mata Galih.
"Hahaa..." Galih akhirnya tertawa juga.
"Nah sekarang malah ketawa, kamu jadi aneh deh akhir-akhir ini, kaya bukan Galih." Ujar Wangi yang menjadi heran dengan Galih yang akhir-akhir ini jadi murah senyum hingga tertawa seperti ini.
"Memangnya aku dulu seperti apa di mata kamu?" Tanya Galih seraya menatap wajah cantik Wangi yang natural.
"Dulu kamu itu lebih diam dari ini, dengan wajah yang selalu kaku tanpa ekspresi, jangankan tersenyum lebar seperti ini, ngomong saja seadanya, itupun kalau nggak diajak bicara duluan kamu gak bakal ngajak ngobrol lebih dulu. Dasar manusia es!" Ungkap Wangi jujur.
"Oh ya? Aku separah itu ya?" Tanya Galih tidak percaya jika dirinya dimata Wangi terlihat seperti itu.
"Iya, parah! Juga suka gak peka." Tambah Wangi lagi.
"Tapi meski seperti itu kamu pernah menyatakan cinta ke aku kan?" Goda Galih sambil tersenyum jahil.
"Kapan aku seperti i..**..tu..." Ucapan Wangi tersendat seakan mengingat suatu yang menjadi aibnya.
"Galiiihhh....!!"
__ADS_1
"Hahahaa...."
Bersambung....