Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 111 Kecemasan Para Wanita


__ADS_3

Saat ini di markas Indobatt, Wangi terus merasa cemas dengan keadaan Galih yang tidak ada kabar apapun setelah pesan di WhatsApp yang terakhir dikirim oleh Galih.


"Perasaanku kok gk enak ya? Galih gak apa-apa kan? Mana phonselnya mati lagi." Gumam Wangi seraya jalan mondar-mandir di depan Rumah Sakit Indobatt.


"Wang, bisa gak kamu duduk saja? Kepalaku yang sudah pusing tambah pusing lagi lihat kamu mondar-mandir kayak setrika rusak gitu!" Gerutu Zahara yang juga ada di sana bersamanya. Kedua wanita itu kebetulan ada dinas malam dan keduanya sama-sama merasa cemas karena pasangan mereka masing-masing tidak dapat dihubungi ataupun menghubungi mereka sejak kabar terakhir pagi tadi saat keduanya berpamitan lewat pesan.


"Aku gak bisa tenang Ra..." Sahut Wangi dengan wajah cemasnya.


"Kamu pikir aku tidak cemas juga? Tapi kita harus bisa berpikir dengan tenang dan berdo'a agar semuanya baik-baik saja." Ujar Zahara berusaha menenangkan Wangi padahal dalam hatinya juga dia kepikiran Romero terus.


"Aku juga berharap seperti itu." Sahut Wangi.


"Lalu kita harus bagaimana? Ali bilang mereka sangat kejam dan memiliki anak buah yang begitu banyak sekelas mafia!" Tanya Wangi sambil mendudukkan dirinya di sebelah Zahara.


"Mafia itu masih dugaan Ali saja, info sebenarnya kan kita belum tahu. Inikan misi rahasia yang tidak diketahui siapapun, termasuk kita yang tidak ada sangkut pautnya, siapa tahu mereka cuma penjahat kelas kakap biasa saja. Lagian militer kita lebih kuat dari mereka. Jadi singkirkan pikiran aneh di otakmu itu!" Kata Zahara.


"Ya... Benar juga sih... Tapi tetap saja aku cemas." Ujar Wangi.


"Ini pasti pertama kalinya kamu tidak mendapatkan kabar dari Galih. Aku saja sering tidak mendapat kabar dari Romero." Ucap Zahara.


"Curhat buk...? Itu kan karena kalian memang sedang saling menghindar satu sama lain." Ejek Wangi.

__ADS_1


"Tetap saja, saat dia sedang melakukan tugas di daerah peebatasan yang susah signyal aku selalu kepikiran. Tapi aku selalu percaya jika dia akan selalu kembali. Karena priaku itu kan lelaki yang tangguh..." Ungkap Zahara yang sedikit memuji Romero sambil mengingat wajah kekasinya itu dengan bibir yang tersenyum.


"Waahh... Apakah baru saja kamu memuji Romero di depanku? Padahal beberapa waktu yang lalu kamu memakinya dan akan membunuhnya setelah dia kembali nanti hanya karena phonselnya mati. Ckck... Kamu memang wanita yang plin-plan!" Sindir Wangi sambil geleng-geleng kepala.


"Ckk... Jangan ingatkan itu lagi!" Sahut Zahara sambil berdecak kesal jika mengingat hal tadi.


"Lalu... Haruskah kita mencari tahu saja? Kita bisa bertanya pada yang lainnya. Pasti mereka tahu." Tanya Wangi lagi.


"Peecuma! Mereka tidak akan memberi tahu karena setiap tugas yang mereka jalankan ada aturan tersendiri bagi setiap pengembannya." Jawab Zahara.


"Tapi kamu kan bisa mencari tahu karena kamu juga bagian dari Indobatt." Ucap Wangi.


Zahara menggeleng...


"Huuff..." Wangi mendengus pasrah. Dia mengerti betul dengan apa yang dijelaskan oleh Zahara. Tidak ada jalan lagi untuk mengetahui kabar Galih ataupun Romero selain menunggu. Berdo'a saja jika para lelaki mereka itu dalam keadaan baik-baik saja dan pulang dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun.


"Sudahlah... Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini. Jalan satu-satunya adalah menunggu." Ucap Zahara sambil menepuk-nepuk pundak Wangi.


"Yahh... Kau benar." Sahut Wangi sambil menganggukkan kepalanya.


"Mau kopi? Kita tunggu saja sambil ngopi." Ajak Zahara menawarkan untuk membuatkan kopi sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Boleh juga, aku rasa aku butuk kafein untuk menenangkan pikiranku." Jawab Wangi meng-iyakan. Namun baru sedetik Wangi beranjak dari duduknya ada sebuah sirene peringatan untuk pasien darurat.


'Code Blue... Code Blue..!!'


Triling...triling...


Dr. Rio is calling...


Phonsel Wangi dan Zahara berbunyi bersamaan. Mereka berdua saling bertatapan dan tanpa aba-aba lagi keduanya lekas berlari masuk ke dalam Rumah Sakit menuju ruang IGD. Di sana semua dokter dan perawat telah berkumpul.


"Siap-siap menerima pasien dari luar! Ada dua pasien dalam keadaan darurat!" Ucap Dokter Gibran memberi perintah. Lalu seketika Wangi dan Zahara saling bertatapan mata. Dalam hati mereka berteriak...


"Galih..!"


"Romero..!"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2