
Malam harinya sesuai pemberitahuan dari Komandan Pasukan, ada acara makan bersama untuk menyambut kedatangan para relawan. Meskipun setiap malam atau bahkan setiap jam makan tiba para pasukan tersebut akan makan bersama, tapi makan malam ini sedikit berbeda. Bedanya mereka di sini akan melakukan makan malam sekaligus melakukan perkenalan dengan para relawan yang baru datang karena bagaimanapun mereka akan bekerja bersama dan mungkin akan bertemu setiap harinya. Jadi makan malam ini bisa dibilang sebagai malam pengakraban antara anggota relawan baru dan anggota Pasukan Garuda. Mereka kedepannya akan bekerjasama dalam naungan yang sama yaitu UNIFIL PBB. Makan malam kali ini rencananya akan digunakan Galih untuk mendapatkan informasi mengenai Wangi. Kedatangan Wangi saja sudah membuat Galih hampir mati berdiri saking terkejutnya, apalagi melihat Wangi yang terlihat sangat akarab, bukan akrab lagi tapi sangat dekat dengan salah satu relawan pria yang Galih ketahui itu adalah teman satu kerjaan dengan Galih. Elias yang begitu tampan tentu membuat hati Galih ketar ketir jika wanita pujaannya itu mempunyai hubungan yang spesial dengan dokter muda nan tampan tersebut. Dua tahun bagi Galih bukan waktu yang singkat, dua tahun waktu yang cukup buat seseorang untuk move on dari masa lalunya dan membuka lembaran yang baru. Bisa jadi kan jika Wangi mengalami hal semacam itu juga... Itulah yang sempat dipikirkan oleh Galih. Nah... Makan malam inilah yang akan menjadi kesempatan buat Galih untuk mengorek kejelasan hubungan Wangi dan Elias, karena biasanya dalam acara perkenalan terkadan akan ada pertanyaan nyeleneh yang akan diajukan oleh para anggota yang iseng. Anggap saja malam ini keisengan Galih yang tersembunyi keluar lagi karena adanya Wangi di sini.
"Maaf Dokter Wangi, apa Dokter tidak merasa kalau sedari tadi ada yang memperhatikan Dokter?" Tanya suster Anne sambil berbisik.
"Ngerasa sih... Tapi biarin saja tidak usah dipedulikan." Sahut Wangi cuek sambil memasukkan sesendok sup hangat ke dalam mulutnya.
"Dok, Dokter Wangi beneran sudah putus dengan doi?" Tanya suster Anne lagi.
"Kok suster Anne tanyanya begitu?" Wangi penasaran kenapa suster Anne bertanya seperti itu.
"Soalnya sedari tadi saya perhatikan mantan Dokter Wangi itu berusaha mendekati dan berusaha mengajak bicara, namun Dokternya saja yang menghindar gitu." Jawab suster Anne.
"Emang kelihatan ya?" Tanya Wangi.
"Banget!" Jawab suster Anne tegas.
"Hehee..." Ehh Wangi-nya malah nyengir kuda gitu mendengar jawaban suster Anne.
"Mau ngajak balikan kali Dok." Seloroh suster Anne.
"Husstt!! Ngawur aja." Sahut Wangi langsung.
"Ya kan bisa jadi, hati dia siapa yang tahu." Sahut suster Anne balik.
"Apa mungkin Galih berusaha ngajak balikan aku seperti yang dikatakan suster Anne barusan? Ah nggak! Gak mungkin!! Lelaki keras kepala macam dia masa mau ngajak balikan begitu saja?" Batin Wangi menerka-nerka dan langsung menepis apa yang ia pikirkan sejenak.
Wangi sengaja melirik ke arah tempat Galih duduk, dan tanpa sengaja ternyata Galih juga sedang memperhatikan Wangi. Wangi yang terlanjur kaget langsung memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Tadi Galih sadar gak ya jika aku sengaja lihat dia? Mana mata kami sempat bertemu lagi. Dasar Wangi bodoh, bodoh, bodoh!! Ngapain juga lihat-lihat dia segala?!" Dalam hati Wangi merutuki kebodohannya.
Sementara itu Galih yang menyadarinya langaung tersenyum smirk melihat Wangi salah tingkah setelah mata mereka bersirobok.
"Tadi itu dia baru saja melihat ke arahku kan? Pakai malu-malu segala, pfftt..." Ujar Galih dalam hatinya yang hampir benar-benar mengeluarkan tawanya.
__ADS_1
"Imut." Gumam Galih kemudian sambil tetap mengarahkan pandangannya pada Wangi.
"Lih, kau kenapa senyam-senyum sendiri? Waraskah kau?" Tanya Ucok teman setimnya di Indobatt tiba-tiba yang mendapati Galih yang mesam-mesem sendiri.
"Erhmm... Apaan sih Cok? Gak ada apa-apa kok." Sahut Galih yang langsung salah tingkah karena kepergok si Ucok.
"Lahh... Kau pikir aku buta apa? Aku lihat kau tadi senyum-senyum sendiri bak orang gila, aku saja yang lihat kau itu sampai merinding. Nih kau lihat bulu kuduku masih merinding gara-gara senyum kau itu." Ujar Ucok sambil memperlihatkan bulu di lengan tangannya yang berdiri karena merinding.
"Berlebihan kau Cok." Sahut Galih.
"Hei gimana gak merinding aku? Kau kan termasuk yang jarang mengumbar senyum seperti itu kecuali sedang bercanda dengan anak-anak dan menyapa pribumi di sini. Kalau senyum-senyum sendiri begitu kau jadi aneh Lih. Antara gila dan orang yang lagi kasmaran itu beda tipis." Ujar Ucok.
"Ehh tunggu! Kau gak lagi kasmaran kan?" Tanya Ucok setelahnya.
"Nggak usah mikir dan nanya macem-macem, lanjut makan saja sana." Sahut Galih yang enggak menjawab pertanyaan dari Ucok.
"Ah kau ini, ini juga lagi makan." Sahut Ucok sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Tak lama setelah itu acara intipun dimulai. Satu persatu relawan yang datang memperkenalkan dirinya dan menjawab pertanyaan yang diajukan orang yang lainnya. Hingga tiba saatnya Wangi.
"Perkenalkan nama saya Wangi Prameswari, saya dokter spesialis bedah umum dari Rumah Sakit Universitas di Yogyakarta." Ucap Wangi memperkenalkan dirinya.
"Nah... Siapa yang ingin bertanya pada Dokter Wangi?" Tanya sang Komandan pasukan dan benar saja langsung ada yang mengacungkan tangannya ingin bertanya tapi itu bukan Galih.
"Apa tujuan Dokter Wangi bergabung sebagai anggota relawan di tempat yang bisa dikatakan rawan seperti di sini?" Tanya salah satu anggota Pasukan Garuda di sana.
"Selain saya ini suka dengan tantangan dan mencari pengalaman baik dalam hidup saya maupun pekerjaan saya, bisa dibilang ini adalah panggilan jiwa saya selaku makhluk Tuhan. Saya ingin membantu sekiranya apa yang bisa saya lakukan di sini." Mendengar jawaban Wangi yang begitu memuaskan semua orang di sana sontak bertepuk tangan.
"Ada lagi yang ingin bertanya?" Mendengar itu Galih langsung berdiri dari tempat duduknya dan mangangkat tangannya.
"Saya!" Seru Galih dengan satu tangannya yang terangkat.
Deg!!
__ADS_1
Jantung Wangi seakan berhenti sejenak setelah mendengar nama Galih di telinganya.
"Silahkan Sertu Galih." Kata sang Komandan mempersilahkan Galih untuk bertanya. Sementara Wangi terlihat was-was menghadapi pertanyaan dari Galih entah tentang apa itu.
"Apa anda sudah memiliki pasangan? Ah maksud saya kekasih, tunangan atau bahkan suami?"
Mendengar pertanyaan dari Galih itu beberapa orang di sana ada yang bersorak 'Huuu...' sedangkan beberapa orang yang benar-benar mengenal Galih lebih dekat hanya bisa melongo sambil menatap heran ke arah Galih. Dan ekspresi Wangi selaku orang yang ditanyai tak jauh beda dengan orang-orang yang melongo heran tadi.
"Silahkan Dokter menjawabnya agar rasa penasaran Serka Galih terjawab." Ucap Komandan Pasukan.
"I iya, siap Komandan!" Sahut Wangi sampai terbata-bata.
"Duhh nih orang tanya hal seperti ini di depan umum lagi. Apa sih maunya Galih?!" Gerutu Wangi dalam hatinya yang kesal.
"Saya masih single dan sementara hanya akan fokus dengan pengabdian saya di sini." Jawab Wangi dengan tegas.
"Jadi Dokter Wangi ini masih single tapi yang mau daftar jadi pasangannya harus bersabar dulu karena beliau masih fokus dulu dengan pekerjaannya. Begitu kan Dokter Wangi?" Komandan Pasukan menegaskan sekali lagi bagi para pria yang ada di sana.
"Iya Komandan." Jawab Wangi tegas dengan seutas senyum di bibirnya yang canggung.
"Yaaahhh...." Terdengar langsung suara kor para prajurit yang kecewa hehe...
"Berarti saya masih ada kesempatan kan?" Tanya Galih tiba-tiba.
"Hahh?!" Wangi terkejut.
"Kesempatan yang saya lewatkan dulu akan saya bayar sedikit demi sedikit mulai sekarang." Semua orang di sana ternganga. Ucapan Galih sontak membuat orang-orang di sana bertanya-tanya, ada hubungan apa antara dirinya dan Dokter relawan cantik ini? Wangi pun yang mendengarnya langsung shock dibuatnya.
"Gila, gila, gila!! Sejak kapan Galih jadi tidak tahu malu seperti ini? Apa aku saja yang malu?" Rutuk Wangi dalam hatinya, dia benar-benar malu dengan ulah Galih sampai tidak dapat bicara sepatah katapun.
"Ahh, aku baru ingat! Dia kan pacar kamu yang waktu itu!" Seru Lukman tiba-tiba dan langsung saja Wangi menatap tajam ke arah Lukman yang langsung membungkam mulutnya sendiri ketika melihat pelototan Wangi ke arahnya.
"Duuhh... Ini lagi mulutnya! Aku jahit saja habis ini!!" Rutuk Wangi yang menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...