
"Janji apa itu om?" Tanya Wangi penasaran.
"Janji jika kamu lahir nanti kami akan menikahkanmu dengan Galih ketika kalian berdua dewasa kelak." Jawaban Ridwan langsung membuat Wangi terperanga nyaris tak bisa berucap.
"A ap apa?!"
Wangi benar-benar terlihat sangat terkejut dan langsung menatap ke arah papanya seolah ingin mendapat jawaban yang pasti dari perkataan Ridwan tadi.
"Pa... Benar apa yang dikatakan oleh om Ridwan barusan?" Tanya Wangi pada papanya yang kemudian langsung diangguki.
"Jadi selama ini benar apa yang dikatakan Dino jika Wangi mau...dijodohin sama Galih?" Ujar Wangi memastikan sekali lagi.
"Lho... Dino tahu?" Tanya Rendra membeo dan langsung menengok ke arah Dino yang tengah asyik menikmati kukis coklat yang tersaji di atas meja.
"Kok bisa? Dino, kamu beneran tahu?" Tanya Rendra yang ditujukan pada Dino.
"Tahu dong pa... Dino enggak sengaja aja denger obrolan papa sama mama pas di meja makan malam-malam, tapi mbak Wangi dikasih tahu gak percaya sih... Ya udah." Jawab Dino dengan tenang sambil tetap mengunyah kujis coklatnya.
Jantung Wangi langsung berdegup kencang setelah apa yang barusan ia dengar. Bukan karena dia senang karena sudah dijodokan dengan Galih, namun lebih ke arah bingung bagaiama harus menanggapi berita tiba-tiba ini.
"Nak Wangi... Maaf, mungkin terdengar sangat tiba-tiba dan mendadak bagi kamu, tetapi bagi kami moment seperti ini sudah kami tunggu lebih dari dua puluh tahun lamanya. Tante dan om berharap kamu bisa menerima pinangan kami nak." Ucap Ratna sambil menggenggam erat jemari Wangi. Dia sungguh sangat berharap Wangi dapat menerima harapannya untuk menjadi istri Galih kelak.
"Sayang... Apapun jawaban kamu kami akan berusaha menerimanya dengan hati yang lapang. Karena apapun itu kebahagian kamu adalah preoritas mama sama papa." Tutur Rina menenangkan hati dan pikiran putri kesayangannya itu.
Setelah dipikir-pikir, Wangi merasa ada yang aneh mengapa hanya dirinya yang terkesan terkejut mendengar kebenaran ini, sementara Galih... Kenapa lelaki itu terlihat sangat tenang seakan tidak terkejut sama sekali mendengar berita ini padahal hal ini bukan hanya menyangkut kehidupan Wangi saja tapi juga dirinya. Sudah jelas Galih tidak terpengaruh sama sekali karena dia memang sudah mengetahuinya terlebih dulu karena Rendra sudah mengatakannya jauh-jauh hari.
"Galih, bagaimana dengan Galih? Belum tentu kan dia juga setuju dengan rencana kalian." Tanya Wangi pada semua orang tua.
"Tentu saja Galih juga harus mempertimbangkan jawabannya sama seperti kamu." Jawab Rendra.
__ADS_1
"Tapi mengapa Galih terlihat sangat tenang seakan sudah tahu rencana perjodohan ini dari awal? Atau jangan bilang hanya saya saja yang tidak mengetahuinya?" Tebak Wangi yang langsung disanggah oleh Ridwan.
"Tentu saja anak om sama tidak tahunya dengan kamu, karena om sama sekali tidak pernah membahasnya."
"Tapi Galih sudah tahu semuanya pa." Ridwan langsung tersentak mendengar pengakuan Galih.
"Jadi benar kamu sudah tahu Lih? Tapi kenapankamu diam saja dan tidak menceritakannya pada saya selama ini?" Tanya Wangi yang merasa sedikit kecewa karena selama ini Galih tidak pernah membahas masalah perjodohan mereka pada dirinya.
Sama seperti Wangi, Ridwan dan Ratna selaku orang tua Galih juga merasa terkejut karena pasalnya mereka tidak pernah selakipun menceritakannya pada Galih.
"Bagaimana kamu bisa tahu Galih? Papa dan mama kan tidak pernah sekalipun membahasnya denganmu." Heran juga Ridwan bagaimana sang putra mengetahui perjanjiannya dengan Rendra karena tidak ada yang tahu selain dia, Rendra dan para istri mereka saja.
"Saya..." Belum sempat Galih melanjutkan omongannya untuk menjelaskan kepada semua orang namun Rendra menahannya.
"Aku yang memberitahu Galih semua." Ungkap Rendra pada semua orang.
"Papa..."
Ucapan Wangi dan juga Ridwan tertahan bersamaan ketika Rendra melanjutkan ucapannya.
"Sebelumnya aku minta maaf Wan karena aku mendahului kamu untuk berkata yang sebenarnya. Tapi itu semua aku lakukan agar salah satu dari mereka ada yang berpikiran waras dan tidak menimbulkan perdebatan sengit di pertemuan ini. Apalagi aku tahu bagaimana sifat keras kepalanya anakku jika mendengar rencana kita ini. Dan lagi alasanku bercerita pada Galih lebih awal agar dia dapat memikirkan jawaban yang tepat saat pertemuan ini tiba. Jadi toling kamu harap maklum Wan." Kata Rendra menjelaskan alasannya, dan sepertinya Ridwan mengerti maksud Rendra lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi, bagaimana jawaban kamu Galih?" Tanya Rendra.
"Pa, kok Galih duluan yang beri jawaban? Papa tidak ingin tahu jawaban Wangi terlebih dahulu?" Ujar Wangi melayangkan protesnya.
"Tentu saja papa ingin tahu tapi papa lebih penasaran dan ingin tahu jawaban Galih terlebih dahulu, barulah papa akan mendengar jawaban kamu." Ucap Rendra tegas.
"Tapi pa..."
__ADS_1
"Sstt...! Dengar dulu jawaban Galih." Wangi langsung mengatupkan bibirnya dengan rasa sedikit kesal. Namu sedetik kemudian Wangi berpikir tidak ada salahnya jika mendengar jawaban dari Galih dulu. Paling tidak itu akan menjadi acuan dan pertimbangan untuk keputusannya nanti.
"Jadi, bagaimana Lih?" Rendra mengulang pertanyaannya pada Galih.
Galih megedarkan pandangan matanya bergantian ke semua orang di sana dan berhenti ketika matanya jatuh di hadapan Wangi.
"Saya menerimanya."
Semua orang terperanga mendengar jawaban Galih. Bahkan Ridwan dan Ratna terkejut, tidak menduga kalau putranya itu memberikan jawaban sesuai harapan mereka. Padahal Ridwan sedikit menduga jika Galih mungkin akan menolak pada awalnya mengingat jika selama ini Galih belum bisa move on dari Sinar.
Sementara Wangi lagi-lagi jantungnya berdetak lebih cepat ketika mendengar jawab dari mulut Galih.
"Aku tidak salah dengar kan? Galih menerima perjodohan ini?" Wangi bertanya-tanya dalam hati seakan dia tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Galih.
"Sayang... Kamu serius kan dengan ucapan kamu?" Tanya Ratna hanya untuk memastikan jika putra satu-satunya itu tidak menolak perjodohannya dengan Wangi.
"Galih serius dengan keputusan Galih ma..." Jawab Galih benar-benar serius.
"Beneran lho... Kamu tidak boleh menarik kembali ucapan kamu!" Tegas mama Ratna.
"Iya ma." Jawab Galih pasti.
"Tapi Lih, bukannya kamu pernah cerita jika kamu masih belum bisa melupakan dia." Yang dimaksud Wangi tentu saja Sinar.
"Seperti kata kamu, jika kenangan itu seperti album foto yang selalu tersimpan dalam ingatan, bukan untuk dilupakan namun bukan juga untuk selalu diingat karena hidup terus berjalan, jika saya tidak bisa keluar dari kenangan masa lalu maka hidup saya ke depannya akan hancur. Dan seperti kata kamu juga jika takdir kehidupan manusia sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa dan saya sadar menyalahkan diri sendiri terlalu larut bukan hal yang benar. Dan saya yakin jika dia juga menginginkan saya hidup bahagia. Maka dari itu saya menerima perjodohan ini dengan kamu. Sekarang tinggal bagaimana jawaban kamu Wangi? Maukah kamu berjalan berdampingan dengan saya?" Tanya Galih pada Wangi setelah mengutarakan apa yang seharusnya dia katakan.
"Saya...."
Bersambung...
__ADS_1